The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 3: Al-ghiffari Airlangga



"Gue pulang jam 10, atau jam 11, bisa juga jam 12. Liat aja nanti. Pokoknya makanan harus udah siap pas gue pulang. Dan inget, gue gak suka makanan dingin. Terus gue risih denger lo manggil nama gue panjang-panjang, cukup Ghiffa aja." ucapnya dengan nada dinginnya.


Kemudian dia meninggalkanku dan berjalan menuju pintu. Aku kembali mendengus kesal. Apalah aku ini yang hanya seorang ART. Padahal besok aku ada kuliah pagi. Aku ingin cepat terlelap, namun aku harus menunggu majikanku itu pulang dan memastikannya makan makanan yang masih hangat, baru aku bisa beristirahat. Benar sekali yang diwanti-wanti bibiku, tuan muda itu memang sangat rewel, resek, dan merepotkan.


Tapi jujur aku terpana saat Ghiffa menatapku. Ditatap orang setampan itu, membuat hatiku entah mengapa sedikit berdebar.


Itu masih manusiawi, 'kan?


Setelah selesai menyiapkan bahan-bahan makanan, aku merebahkan tubuhku di tempat tidur dan aku raih HP yang kuletakkan di atas meja rias itu. Tidak lama sebuah pesan dari Hyuga masuk. Segera aku membukanya.


[Hyuga] : Okay deh kalau gitu kita tukeran foto dulu aja.


[Hyuga] : Ini foto aku. (mengirimkan sebuah foto seorang laki-laki dengan seragam pegawai coffeeshop)


Aku terpana melihatnya. Dia cukup imut. Kulitnya sawo matang, matanya ramah, dan sedikit kurus. Aku kira karena dia seorang yang hobi bermain futsal, tubuhnya akan sedikit berotot.


[Hyuga] : Sekarang kirim foto kamu juga, ya.


Aku sedikit deg-degan. Cukup lama aku memilih foto mana yang akan aku kirim padanya. Aku memilih foto dimana aku terlihat cukup manis, tapi aku tidak jadi mengirimkannya. Aku takut dia kecewa saat melihatku langsung nanti, karena aku menggunakan sedikit filter pada foto itu jadi wajahku sedikit berbeda.


Kemudian aku mencari lagi foto lain, dan aku berniat mengirimkan fotoku yang menampakkan seluruh tubuhku, dari atas kepala hingga kaki. Namun aku tidak percaya diri. Aku sangat pendek. Tinggiku hanya 149 cm, dan tubuhku ini kurus sekali. Bahkan orang-orang yang tidak mengenalku sering menyangka aku masih siswa SMP. Iya SMP, bukan SMA karena tubuhku yang pendek ini. Juga di foto itu terlihat sekali kakiku sangat pendek. Aku kembali mengurungkan niatku untuk mengirimkan foto itu. Akupun kembali mencari foto lain.


Pip..pip..pip..


Terdengar suara pintu apartemen diakses. Apakah Ghiffa sudah pulang? Secepat itu?


'Duh, aku belum memasak apapun untuknya!' Rutukku dalam hati.


Segera kubawa tubuhku menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuknya. Bukankah dia akan pulang paling cepat pada pukul 10 malam?Aku menoleh ke arah jam dinding dan ini baru saja pukul 6.30 malam.


'Dasar ngerjain banget sih tuh anak!' Aku mendumel dalam hati.


Namun perkiraanku salah. Bukan Ghiffa yang mengakses pintu itu. Aku melihat seorang wanita paruh baya yang begitu anggun dengan bibir merah merona, berjalan memasuki ruang tengah. Rambutnya yang panjang tergerai indah menutupi hingga ke dadanya. Wanita itu menatap ke arahku.


"Kamu Ayana? Keponakan Bi Dini?" tanya wanita itu ketika melihatku. Aku kira aku tahu siapa wanita ini.


"Betul, Nyonya. Saya Ayana." Segera aku menjawabnya dengan sopan, sudah bisa dipastikan dia adalah Nyonya Natasha, ibu dari Ghiffa.


"Mana Ghiffa? Panggil dia kesini." titahnya seraya duduk di sofa ruang tengah.


"Ya ampun itu anak. Seudah tinggal sendiri begini 'kan, semakin seenaknya. Jam segini bukannya istirahat di rumah. Malah keluyuran." Omel Nyonya Natasha.


Kemudian aku berinisiatif membuatkan minuman untuknya.


"Gak diangkat lagi. Ini anak bener-bener! Tiap saya telepon pasti direject atau gak diangkat." Nyonya Natasha kembali mengomel sembari mengotak-atik HPnya, mencoba kembali menghubungi sang putra.


"Silahkan diminum dulu, Nyonya." Aku meletakkan sebuah cangkir berisi teh di meja di depan Nyonya Natasha.


Aku berniat kembali ke kamarku saja. Akupun melangkahkan kakiku menuju kamarku di belakang dapur.


"Ayana," panggil Nyonya Natasha ketika aku akan membuka pintu kamarku. Aku membalikkan tubuhku dan bergegas menghampirinya.


"Iya, Nyonya." Aku menautkan kedua tanganku, berusaha bersikap sopan.


"Begini, kamu kan sekarang gantiin Bi Dini. Saya titip Ghiffa sama kamu. Semua kebutuhan dan keperluan Ghiffa tolong kamu yang siapkan. Bangunkan dia setiap pagi saat akan sekolah, siapkan seragam dan sarapan untuknya. Jangan siapkan roti atau susu untuk sarapan, dia punya perut yang sensitif, dia suka mual kalau minum susu pagi-pagi. Bersihkan apartemen ini setiap hari. Dan jangan lupa siapkan makanan untuknya dalam keadaan hangat, dia tidak suka makanan yang sudah dingin. Cek juga kebutuhan kamar mandinya dan keperluan dapur, jika sudah habis segera sediakan. Kamu paham?" ucap Nyonya Natasha panjang lebar.


Okay, instruksinya masih masuk akal.


"Dan," Nyonya Natasha melanjutkan, "Kamu laporkan semua yang terjadi pada Ghiffa dan apapun yang dilakukannya setiap hari. Sekecil apapun itu kamu laporkan pada saya."


"Apa saja yang harus saya laporkan, Nyonya?" Aku membutuhkan detailnya.


"Apapun itu. Seperti kalau dia pulang malam seperti sekarang. Beri tau saya."


"Baik, Nyonya. Saya akan laporkan semuanya pada Nyonya." Aku menyimpan nomor Nyonya Natasha setelah ia meminta nomorku.


"Oh iya, saya hampir lupa." Imbuhnya. "Saya bersyukur kamu yang menggantikan Bi Dini. Saya dengar kamu anak yang pintar dan berprestasi, makanya kamu bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah." Senyum mengembang di bibirku, bangga rasanya dipuji oleh majikanku ini.


"Karena kamu seorang mahasiswi, saya bisa mengandalkan kamu untuk melihat perkembangan akademiknya di sekolah. Kamu tanyakan ia ada tugas atau tidak, ada ulangan atau tidak. Jika dia mengalami kesulitan, bantu dia. Saya mohon ya, Ayana. Saya serahkan pada kamu." Tatapan Nyonya Natasha berubah memohon padaku.


'Ya Tuhan aku kira aku hanya akan membersihkan rumah dan memasak. Sekarang aku paham jobdesk-ku Aku bukan hanya asisten rumah tangga disini. Ini sama saja aku diminta untuk menjadi pengasuhnya Ghiffa! Kenapa tidak sekalian saja, dia memintaku untuk mengajaknya bermain bersama, menidurkan dan memberikan susu sebelum tidur?' ucapku sarkas dalam hati.


"Jangan buat dia kesepian, ya." Nyonya Natasha melanjutkan, "Tolong kamu temani dia, ajak dia ngobrol, dan tanyakan bagaimana ia di sekolah dan kesehariannya setiap hari. Gantikan peran saya ya, Ayana."


Ucapannya barusan membuatku berpikir sepertinya Nyonya Natasha benar-benar bisa mendengar ucapanku barusan yang aku ucapkan dalam hati.


Dan, fix, aku bukan hanya sebagai ART, tapi juga pengasuh dari cowok badung dan manja bernama Alghiffari Airlangga.