The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 111: Waspada pada Ghaza



Sebuah mobil SUV berwarna putih masuk ke area kantor kepolisian. Wajah Ghiffa menegang. Seketika aku sadar mobil itu adalah milik Ghaza. Ia sepertinya diberitahu oleh petugas bahwa motor Ghiffa disita dan baru bisa diambil setelah 24 jam, jadi ia membawa mobil yang bisa membawaku dan Ghiffa.


Benar saja, setelah mobilnya terparkir dengan baik, Ghaza keluar dari mobil itu.


"Nj*ng, ini matahari terbit dari barat apa gimana? Tumben banget abang lo mau repot-repot ngurusin lo. Bener-bener dateng kesini. Gue kira paling si Bang Jo yang dateng." Celetuk Max ketika Ghaza menghampiri kami.


Mataku dan Ghaza bertemu, segera saja aku mengalihkan pandanganku. Ghiffa meraih tanganku dan menggenggamnya erat, begitu juga aku. Aku begitu waspada sekarang jika melihatnya. Trauma sekali rasanya jika sudah melihat wajahnya.


Ghaza sudah menggunakan setelan rumahan, sepertinya ia sudah berada di rumah saat petugas kepolisian menghubunginya. Ia mendekat pada seorang petugas dan mengulurkan tangannya, menyambut tangan petugas yang juga mengulurkan tangan padanya. "Selamat Malam, Bapak-bapak." sapanya.


Beberapa petugas kepolisian yang lain juga langsung menyambutnya. Terlihat sekali mereka begitu hormat pada Ghaza. Mereka mengobrol basa-basi kemudian Ghaza meminta maaf karena sang adik sudah merepotkan.


Kemudian Ghiffa diperbolehkan pulang. Karena para petugas itu terus melihat ke arah kami, Ghiffa yang asalnya begitu enggan, mau tak mau berjalan juga ke arah mobil Ghaza.


Ghiffa membukakan pintu belakang untukku, saat aku sudah masuk dan menggeser dudukku, Ghaza memprotesnya. "Di depan. Gue bukan supir lo."


Aku dan Ghiffa saling menatap, kemudian aku mengangguk dan tersenyum tipis padanya, meminta Ghiffa menuruti sang kakak. Ghiffapun menutup pintu dan masuk ke kursi penumpang depan. Dan beberapa saat mobil Ghaza sudah bergabung di jalanan yang sudah agak lengang itu.


"Turunin gue di depan." ucap Ghiffa.


"Gue anterin ke kafe." sahut Ghaza.


Ghiffa terperangah mendengarnya.


"Gak usah. Turunin di depan aja." Ghiffa bersih keras.


Ghaza menepikan mobilnya, dan berhenti. "Lo turun, tapi Ayana tetep gue anterin sampai kafe." Sontak Ghiffa membeku saat akan membuka handle pintu mobil.


"Lo salah makan?! Aya harus bareng gue, gue suami dia!" bentak Ghiffa.


"Terus lo mau bawa dia pake apa? Ojek online? Tega lo bawa Ayana pakai ojek?" sahut Ghaza meremehkan.


Aku mulai tak nyaman dengan perdebatan mereka, "Gak apa-apa, saya dan Ghiffa turun disini aja. Terimakasih atas bantuannya." ujarku sopan. Aku bersiap membuka handle pintu namun Ghaza malah kembali melajukan mobilnya.


"Lo mau apa, Anj*ng!" umpat Ghiffa emosi.


Ghaza tidak mengatakan apa-apa dan melajukan mobilnya menuju kafe.


"Jangan ke kafe." ucap Ghiffa. "Bawa ke hotel aja."


Ghaza menoleh, "Kenapa? Lo kabur dari rumah?"


"Gak usah kepo." ujar Ghiffa singkat.


"Kirain lo udah lebih dewasa karena lo udah nikah, tapi lo masih aja kayak bocah." ujar Ghaza santai.


"Maksud lo apa?!" tanya Ghiffa emosi, tatapan elangnya tertuju pada Ghaza.


"Lo kabur bawa diri lo sendiri terserah. Lo kabur bawa Ayana? Sampai Ayana harus ngerasain dibawa ke kantor polisi? Sebagai suami lo bener-bener gak bertanggung jawab."


"Gak usah lo ngeguruin gue!" bentak Ghiffa, ia semakin emosi.


Aku segera meraih pundak Ghiffa yang duduk di depanku, menenangkannya. Perlahan bahunya yang sudah naik turun, melemas seraya aku mengusapnya.


"Kalian ikut ke apartemen gue." ucap Ghaza tiba-tiba.


"Ngapain gue sama Aya harus ikut ke apartemen lo?!" tanya Ghiffa masih tidak percaya hal itu keluar dari mulut Ghaza.


Ghaza tidak menjawab lagi, ia fokus saja menyetir tidak menggubris kami yang masih tercengang. Seketika tangan kiriku yang masih berada di pundak sebelah kiri Ghiffa meremas kerahnya.


Tubuhku berubah panas dingin, hingga ke tanganku. Kilasan video itu kembali terlintas di dalam benakku. Rasanya mendengar kata apartemen dan Ghaza secara bersamaan, benar-benar membuat tubuhku secara spontan menjadi merinding dan tidak nyaman.


Ghiffa menyadari tanganku yang meremas kerah jaket kulitnya, Ia menoleh ke sebelah kiri, "Kenapa Yang?" tanyanya lembut. Ghiffa menautkan jari-jarinya ke sela-sela jariku yang sudah mendingin. Syukurlah, hal yang Ghiffa lakukan sedikit membuatku merasa sedikit tenang.


Tenang, Ayana. Terus ku tenangkan diriku sendiri.


Aku semakin mendekat pada kursi penumpang yang Ghiffa duduki, saat melihat Ghaza menoleh ke arahku.


Tak berapa lama kami sampai di apartemen Melcia. Bukan Apartemen Melcia yang sama dengan yang ditinggali Ghiffa waktu itu, namun apartemen Melcia lainnya. Memang, PT Melcia Properti memiliki dua apartemen berbeda. Yang ditinggali oleh Ghiffa memiliki 20 lantai, sedangkan yang ditinggali Ghaza ini memiliki 40 lantai.


Ghaza mematikan mesin mobilnya saat kami tiba di garasi mobilnya.


Ghaza menoleh ke arahku, "Ayo Ayana, kita udah sampai." ucapnya.


"Jaga sikap lo. Dia istri gue." Ghiffa memperingatkan. Mereka kembali bersih tatap, saling melemparkan tatapan yang tajam.


"A, kita nginep di hotel aja." cicitku.


Ghaza mendengar itu, "Ayana, kamu sendiri mengatakan saya ini kakak ipar kamu. Kamu bisa menginap di apartemen saya untuk sementara waktu bersama Ghiffa. Saya jarang menggunakan apartemen itu. Kamu bisa menganggapnya rumah kamu sendiri. Tolong, terima kebaikan saja ini." ucapnya penuh harap.


Ghiffa sepertinya mulai menangkap keanehan dari sikapku yang tak nyaman karena ia menatapku lekat sekali dari bangku depan. Ditambah kata-kata Ghaza barusan pasti membuatnya sedikitnya pasti merasa curiga.


"Kamu kenapa, Yang?" Ghiffa sekarang menatapku khawatir.


Tidak bisa. Aku tidak bisa membuat Ghiffa curiga pada sikapku. Aku sendiri ingin mengubur ingatan itu. Jika aku terus seperti ini, Ghiffa akan curiga dan akan mencari tahu.


"Gak apa-apa, A. Ya udah kita disini aja. Lagian aku udah cape juga pengen cepet tidur."


Wajah Ghiffa melemas, "Ya udah yuk, kita turun."


Akupun membuka handle pintu dan keluar. Segera aku memegang tangan Ghiffa dengan erat. Ghiffa tersenyum penuh tanya, biasanya aku tak pernah membiarkan diriku bergelayut seperti ini pada Ghiffa jika di depan orang lain.


Kemudian kami masuk ke lift dengan posisi Ghiffa di tengah, aku terus memepet pada suamiku dan bersikap waspada.


Beberapa saat kemudian kami sudah berada di lantai 40, di unit yang merupakan tipe penthouse milik Ghaza. Ya, lift itu membawa kami langsung ke dalam unit milik Ghaza. Saat pintu lift terbuka aku begitu tercengang, apartemen ini jauh lebih mewah dari milik Ghiffa.


Terdapat sofa yang begitu besar dan nyaman di tengah2 ruangan luas itu, meja bar di sisi lainnya, dan juga sebuah piano mewah di sebelah sofa itu. Sofa itu menghadap ke sebuah dinding kaca setinggi sekitar 5 meter. Di sebelah kiri juga ada sebuah tangga yang dengan desain yang minimalis namun tetap terlihat mewah menuju lantai dua.


Semua sudut di apartemen ini benar-benar jauh lebih mewah dari apartemen milik Ghiffa.


Tapi bukannya terkagum-kagum melihat apartemen ini, aku justru merasa sangat sedih. Kasih sayang Tuan Musa yang berbeda pada Ghiffa dan Ghaza tergambar jelas dengan dua apartemen ini.


"Ada dua kamar di lantai dua. Silahkan kalian bisa menggunakannya."


Ghiffa mengerutkan dahinya, "Gue sama Aya suami istri. Gak perlu lo nawarin pakai dua kamar."


Ghiffa menatap puas sang kakak dan mulai membawaku menaiki tangga. Aku bisa melihat Ghaza terus menatapku sejak aku memasuki apartemen, tapi aku terus saja menunduk menghindari bersih tatap dengannya.