The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 119: Bertemu Ghaza Lagi



Aku dan Belva kini ada di sebuah mall. Ada 2 orang anggota Centaur Squad yang sudah menjadi alumni yang mendampingi kami, Hari dan Indra namanya. Aku tidak akan ngeyel lagi seperti sebelumnya. Kemanapun aku pergi aku akan menerima dengan senang hati pengawalan dari para anak buah Ghiffa. Jadilah kini aku dan Belva berjalan-jalan di Mall, dengan dua orang berwaspada di belakang kami.


Hari ini aku akan mencari kado untuk Ghiffa yang berulang tahun besok.


"Lo mau ngasih apa buat suami lo?" Belva bertanya sambil kami melihat-lihat di depan etalase sebuah toko.


"Gak tahu, Bel. Bingung. Kamu ada ide gak?" Tanyaku.


"Apa ya? Gimana kalau Helm? Dia 'kan anak motor." Belva menyarankan.


"Tapi aku gak suka kalau dia balapan. Nanti kalau dikasih helm dia malah tambah semangat buat balapan."


"Lo kok gak suka? Cowok suka motor itu keren loh, apalagi katanya si Ghiffa jago banget balapan. Hampir selalu menang." ucap Belva semangat.


Aku mencebikkan mulutku, "Balapan itu bahaya, Bel. Waktu itu aku sekali-kalinya nonton Aa balapan. Dan aku udah cemas banget selama nungguin dia. Gimana kalau dia jatoh? Gimana kalau terjadi apa-apa kayak waktu itu?"


"Iya deh kalau gitu jangan kasih yang bikin dia jadi tambah semangat buat balapan. Terus apa dong?" Belva terlihat kebingungan.


"Nah itu!" Saat aku tak sengaja mengedarkan pandanganku, aku melihat sebuah toko olahraga.


"Ayo Bel, kita kesana." Aku segera menyeret Belva menuju sebuah toko yang menjual barang-barang olahraga.


Aku mulai melihat-lihat barang-barang yang dipajang di toko itu, hingga aku sampai di bagian yang memajang perlengkapan untuk futsal. Aku mulai memilih beberapa buah sepatu futsal. Hingga perhatianku tertuju pada sebuah sepatu dengan dominan warna kuning yang diproduksi oleh sebuah brand terkenal. Aku segera meminta kepada pelayan toko untuk membawakanku nomor yang sesuai dengan kaki Ghiffa.


"Sepatu futsal?" Tiba-tiba saja Belva berada di sampingku setelah ia sebelumnya berkeliling toko tersebut.


"Iya, Bel. Aa 'kan suka futsal. Biar dia mau ikut futsal lagi makanya aku beliin sepatu."


"Kemarin-kemarin perasaan lo bilang dia udah mulai futsal lagi?"


"Iya waktu itu doang. Kesininya dia gak pernah ikutan lagi. Makanya daripada dia ikut balapan, lebih baik dia ikut futsal lagi."


"Ide bagus. Kalau lo yang nyuruh pasti dia bakal ikutan lagi deh, Na." ujar Belva setuju.


Aku mengangguk semangat. Senang sekali karena Belva satu pendapat denganku. Kemudian pelayan toko membawakan nomor yang aku minta dan aku segera membayarnya. Kemudian kami pergi ke sebuah toko kado dan meminta mereka untuk membungkus kado untuk Ghiffa, sekaligus membeli ornamen-ornamen pesta untuk menghias acara ulang tahun besok. Setelah itu aku dan Belva memutuskan untuk makan siang dulu, dan pulang setelah makanan kami habis.


Kami sudah berada di sebuah eskalator turun sekarang. Saat sedang akan turun satu lantai lagi sebuah suara memanggilku. "Ayana!"


Spontan aku dan Belva menoleh ke sumber suara. Nafasku tiba-tiba saja sesak, jantungku berdebar tak terkendali, seluruh tubuhku mulai gemetar, dan air mataku berjatuhan. Kilasan kejadian itu berputar dalam benakku tanpa dapat aku cegah. Rasanya suasana menjadi begitu mencekam bagiku. Segera saja aku memeluk Belva yang ada di sampingku, mencari rasa aman.


Kenapa aku harus bertemu Ghaza disini?! Apa yang dilakukannya disini?! Apa dia mengikutiku?!


"Ngapain lo disini?!" Teriak Belva dengan galak. "Pergi lo dari sini! Jangan ganggu Ayana!" Belva segera membawaku dengan aku yang masih dipeluknya.


"Lo mau apa?! Jangan sampai gue kasar sama lo!" Teriak salah satu diantara Indra dan Hari. Aku tak tahu suara siapa, yang jelas diantara mereka berdua mencoba memperingatkan Ghaza yang sepertinya mencoba untuk mendekat. Aku tak mau melihatnya hingga aku terus menenggelamkan wajahku di pundak Belva.


"Ayana, Saya hanya ingin bicara sebentar saja." Suara Ghaza semakin membuat bulu kudukku meremang,


"Pergi!!" teriakku histeris. "PERGI!!"


"Ayo, Na, kita pergi dari sini." Belva yang juga panik segera membawaku dan kami berlari menuju lift.


Benar-benar tidak bisa.


Tak henti-hentinya aku menangis di dalam lift hingga kami berada di rumah lagi. Belva menyarankan aku meminum obat itu lagi. Aku pun setuju, karena cemasku ini tak kunjung mereda juga. Tak lama aku merasakan kantuk yang luar biasa, yang sering kali aku rasakan akhir-akhir ini setelah meminum obat itu. Kemudian beberapa saat aku sudah tak bisa mentolelir mataku yang kian berat dan kemudian aku pun terlelap.


Tidak tahu berapa lama aku tidur, tapi saat aku terbangun aku melihat lampu tidur di nakas sudah menyala, gorden juga sudah ditutup. Kepalaku terasa pening setiap kali bangun. Sungguh aku benar-benar tidak suka mengkonsumsi obat itu.


"Sayang, udah bangun?"


Aku membalikkan tubuhku yang menghadap ke arah jendela, dan mendapati Ghiffa seperti biasa, sudah duduk di sampingku.


Aku mengangguk, "Aa udah pulang sekolah?" Ghiffa sudah menggunakan pakaian santainya. "Ini jam berapa?"


"Udah dari tadi sore, Sayang. Sekarang udah jam 8 malam. Kita ke kafe yuk. Aku punya surprise buat kamu."


Surprise?


"Surprise apa, A?" tanyaku penasaran.


"Ayo ikut aja." Ghiffa membantuku bangkit dan membimbingku menuju kafe.


Saat sampai disana, seorang gadis kecil berlari ke arahku dan menyapaku, "Teteh!"


"Asha!" Aku segera memeluk Asha yang berlari ke arahku. "Kok bisa ada disini, Sha?"


Kemudian ayahku yang duduk di depan Om Lucas, menghampiriku. "Neng, udah bangun?" Beliau memelukku erat sekali. Aku melihat matanya agak memerah.


Akupun balas memeluknya, "Udah, Pak. Kok bisa ada disini? Maaf ya Bapak dateng Neng malah tidur."


Ayahku melepaskan pelukannya, "Bapak tadi ikut Mang Agus nganterin sayuran. Sekalian Bapak kesini nengokin kalian. Asha pengen ikut jadi Bapak ajak aja."


"Bapak kenapa gak bilang dulu. Tahu gitu Neng gak akan tidur."


"Gak apa-apa, Bapak belum lama nunggu kok."


Kamipun kembali ke meja itu dan mengobrol beberapa saat, sambil aku menyantap makan malamku. Asha dan Ayahku sendiri sudah makan saat mereka baru sampai tadi sore. Begitu juga dengan Ghiffa dan Om Lucas. Kami mengobrol hal-hal biasa, mengenai banyak hal di desaku. Ayahku terus berbicara mengenai ibuku, Anis, dan juga warga desaku yang selalu penuh dengan cerita-cerita lucu. Tanpa sadar kamipun larut dalam obrolan itu.


Hingga setelah pukul 10 malam Asha mengatakan kalau ia mengantuk. Aku mengantarkan Asha dan ayahku ke kamar sebelah kamarku dan Ghiffa untuk beristirahat.


Aku dan Ghiffa juga beristirahat di kamar kami. Sebelum pulang, aku sempat bertanya pada Om Lucas mengenai kado dan ornamen pesta, katanya aku tidak perlu khawatir karena semuanya akan dikerjakan oleh karyawan kafe. Seketika aku lega mendengarnya.


Karena sejak tadi siang aku tidak sempat mandi, badanku rasanya lengket sekali. Jadi aku mandi beberapa saat. Setelah menggunakan handuk, tak sengaja aku melihat ke arah kaca, aku melihat pipiku dan beberapa bagian tubuhku seperti agak menggembung. Akupun mengeluarkan alat timbang badan yang tersimpan di bawah konter wastafel kamar mandi.


Sontak aku berteriak saat berdiri di atas alat timbang badan itu.


"Sayang?! Kamu kenapa?" Ghiffa segera membuka pintu kamar mandi dengan wajah yang cemas.


"Aa... Aku naik 5 kg!!" Teriakku lagi. "Dalam seminggu aku naik 5 kg!!"