
Ghiffa's point of view
Pagi harinya dokter memeriksa kembali keadaan Ayana. Menurut diagnosa, Ayana mengalami gejala PSTD. Untungnya hanya gejala. Ayana hanya perlu menghindar sementara waktu dari segala sesuatu yang mengingatkannya pada kejadian kelam itu. Itu artinya Ayana harus dijauhkan dari Ghaza.
Siang harinya mereka kembali ke rumah di lantai 2 di kafe itu. Ghiffa memapah Ayana hingga ke kamar dan menyelimuti sang istri.
"Sekarang kamu istirahat ya." Ghiffa menyentuh pipi Ayana dengan lembut.
"Aku gak apa-apa, A. Aku gak harus istirahat terus." ucap Ayana.
"Gak boleh. Kamu harus istirahat hari ini. Gak denger tadi kata dokter?" Ghiffa mewanti-wanti, "Aku udah telepon Belva. Dia bentar lagi kesini."
"Emang Aa mau kemana?"
Ghiffa akan menemui sang ayah. Rupanya kabar dirinya memukul Ghaza sudah sampai pada sang Ayah. Tapi Ghiffa tidak mungkin mengatakan itu pada Ayana untuk sekarang, sebisa mungkin Ayana harus menjauhi segala sesuatu yang akan mengingatkannya pada Ghaza.
"Aku mau ke sekolah, dong. Kata kamu aku gak boleh bolos 'kan." Dustanya.
"Tapi ini udah telat banget, A. Gak apa-apa emang?" tanya Ayana.
"Lebih baik telat daripada gak masuk sama sekali 'kan. Jadi aku cuma ketinggalan jam pertama aja." Ghiffa bangkit dari posisi duduknya di samping Ayana, lalu mengecup puncak kepala Ayana. "Kamu istirahat ya. Aku mau siap-siap dulu ke sekolah."
Ghiffa segera bersiap dan memakai seragamnya agar Ayana percaya bahwa ia benar-benar akan pergi ke sekolah. Tak lama Belva datang sehingga Ayana kini sibuk mengobrol dengan Ayana di balkon lantai dua.
Ghiffa melambai sejenak pada Ayana dari tempat parkir sebelum ia memasuki mobilnya. Beberapa saat kemudian ia sudah berada di jalan menuju rumah kediaman Airlangga.
Mobil sport abu-abu milik Ghaza sudah terparkir di depan rumah mewah itu. Ghiffa memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Ghaza, kemudian berjalan memasuki rumah.
Di ruang kerja sang Ayah kini mereka berada. Musa duduk di belakang meja kebesarannya. Kedua matanya menatap kedua putranya bergantian yang berdiri menghadap padanya.
"Gimana wajah kamu?" Tanya Musa pada Ghaza.
"Udah gak apa-apa, Pah." Jawab Ghaza.
Musa beralih pada Ghiffa, menatapnya bengis, "Ini perbuatan kamu?"
Tanpa rasa takut Ghiffa menjawab, "Iya. Dia pantas dihajar." Ghiffa menoleh pada Ghaza sambil kembali menahan emosinya yang sudah setipis tisu itu.
"Berani sekali kamu memukul seorang wakil presiden direktur?!" Bentak sang ayah. "Kamu sudah benar-benar menjadi bagian dari geng gak jelas itu. Semua hal kamu timpali dengan kekerasan. Dua kali kamu menyerang Ghaza seperti ini. Kamu kira Papa akan tetap diam?!"
"Aku gak akan mukul kalau anak kesayangan Papa ini gak jadi orang brengs*k." ucap Ghiffa lantang, Ghiffa menatap Ghaza penuh benci, "Dia udah sentuh istri aku, Pah."
Musa menatap Ghaza tak percaya, "Kamu masih mendekati pembantu itu?! Kamu tidak mendengarkan peringatan Papa?!" Nada bicara Musa meninggi.
"Aku cinta sama Ayana." tegas Ghaza.
Sontak Ghiffa menoleh dengan hati yang panas pada Ghaza. Ia melihat sang kakak menatap sendu pada sang Ayah. Tak pernah ia melihat seorang Ghaza yang biasanya selalu meninggikan dagunya dengan dada terbusung, kini justru terlihat begitu putus asa.
BRAK!!
Musa menggebrak meja, "KAMU SUDAH GILA?!" bentaknya seraya bangkit dari posisi duduknya. "Papa sudah peringatkan kamu, Ghaza, jaga kehormatan keluarga Airlangga!"
"Apa yang salah dengan jatuh cinta pada seorang perempuan, Pah? Aku akan tetap mempertahankan Melcia di posisi tingginya, bahkan aku akan membawanya lebih tinggi lagi! Tapi izinkan aku mencintai Ayana dan menjadikan dia istri aku, Pah." ucap Ghaza.
Ghiffa benar-benar tak habis pikir, "Aya itu istri gue! Jangan harap lo bisa ngerebut Aya dari gue karena gue gak akan pernah ngebiarin itu terjadi!"
"Ini bukan obsesi, Pah. Aku benar-benar mencintai Ayana. Aku gak bisa berhenti mikirin dia."
"Papa gak peduli dengan Ghiffa! Dia menikah dengan siapapun Papa gak peduli! Tapi kamu? Kamu harus mempertahankan kemurnian kehormatan keluarga kita!" Musa menatap Ghaza dengan begitu marahnya.
"Kenapa, Pah?! Papa juga menikahi perempuan miskin itu! Bertahun-tahun! Kenapa aku gak bisa menikahi Ayana?!" balas Ghaza.
"Ayana itu sudah menikahi adik kamu!"
"Mereka masih bisa bercerai, Pah."
"GHAZA!!" teriak Musa murka. "Apa kamu akan mengecewakan Papa seperti ini?!"
"Selama ini aku gak pernah mengecewakan Papa. Papa tahu sekali aku selalu berada di posisi paling atas. Sejak aku kecil kapan aku gak membuat Papa bangga? Tapi kali ini, aku minta maaf pada Papa, aku harus mengecewakan Papa untuk yang pertama kali."
"Tidak bisa, Ghaza! Jangan pernah mengulang kesalahan Papa! Apa yang harus Papa katakan pada Kakek kamu jika Papa bertemu dengannya setelah Papa mati nanti?! Sudah cukup Papa melakukan satu kesalahan besar, tapi kamu jangan pernah mengecewakan Papa! Papa akan carikan kamu seorang perempuan, yang sepadan dengan kita. Yang cocok menjadi pendamping kamu! Jika perlu kamu kembali saja pada Olivia!" Musa masih kukuh pada prinsipnya.
"Ayana itu sepadan dengan kita, Pah! Papa jangan lihat hanya latar belakangnya, tapi lihat pribadi dan fisiknya! Papa gak lihat waktu ulang tahun aku? Orang-orang terpesona sama Ayana. Dia juga bisa berbicara dengan baik di depan umum. Dia amat sangat cocok buat jadi pendamping aku yang seorang wakil presiden direktur! Dia sempurna, Pah!" Ghaza tak kalah kukuh dengan sang Ayah.
Ghiffa benar-benar tak bisa berkata-kata sekarang. Ghaza benar-benar jatuh sedalam itu pada pesona sang istri. Sebelumnya Ghaza tak pernah seperti ini. Ia tak pernah membiarkan siapapun membuatnya bertekuk lutut, apalagi seorang wanita. Ghaza tak pernah menggubris perempuan-perempuan yang mendekatinya dengan serius. Sering kali malah ia hanya mempermainkannya. Setelah perempuan itu jatuh cinta, ia akan meninggalkannya, seperti yang dilakukannya pada Olivia.
Namun mengapa Ghaza yang begitu hebat itu sekarang justru bertekuk lutut dan secara suka rela menyerahkan hatinya pada seorang gadis sederhana dan lugu bernama Ayana?
"SUDAH CUKUP!" Musa mulai jengah dengan sikap Ghaza. "Kamu harus melupakan gadis miskin itu! Jika tidak, Papa akan membuat kamu memilih. Gadis itu atau Melcia."
Sontak baik Ghaza ataupun Ghiffa terperangah, Musa tidak main-main.
"PAH! Papa selalu bilang Melcia adalah milik aku! Suatu hari aku akan gantikan Papa di posisi Presiden Direktur!"
"Kalau gitu kamu harus segera menentukan pilihan. Lebih penting mana bagi kamu, Melcia ataukah gadis itu?" Musa sudah final dengan keputusannya.
"Pah, izin berbicara." ucap Ghiffa yang sejak tadi terdiam mendengar perdebatan itu.
"Apa lagi yang ingin kamu katakan?!" Bentak Musa.
"Aku mau saham aku dikembalikan ke aku." ucap Ghiffa.
"Tau diri lo! MELCIA ITU PUNYA GUE! Nol koma sekian persenpun, gak akan gue biarin lo memilikinya!" Teriak Ghaza seraya menghampiri Ghiffa dan mencengkram kerahnya.
"GHAZA!" teriak Musa. Mendengar peringatan dari sang Ayah, perlahan Ghaza melepaskan tangannya dan mundur menjauh dari sang adik, tapi tatapannya masih sama, dikuasai amarah.
"Selama ini aku gak pernah mau saham itu." Ucap Ghiffa, "Aku yakin papa juga tahu sekali tentang itu. Aku juga yakin Papa tahu kalau aku selalu ngalah sama dia. Tapi kali ini aku gak bisa diem aja. Papa boleh gak peduli sama aku, Papa bedain aku, itu terserah. Tapi kalau dia udah berani ngusik Ayana, aku gak akan diem aja. Aku gak akan pernah lepasin dia. Kalau Ghaza ngotot buat ngerebut Ayana dari aku, maka aku juga akan ngerebut hak aku."
"Hak lo?" Ghaza tertawa meremehkan.
"Iya, hak gue." Ghiffa masih menatap sang kakak. "Lo jangan lupa, darah Musa Airlangga ada di dalam tubuh gue." ucap Ghiffa mengulangi kata-kata sang Ayah waktu itu.
"Lo jangan mimpi untuk mendapatkan Melcia! Lo itu cuma anak haram!" bentak Ghaza.
"Ghaza." Musa menegur Ghaza, kemudian mengalihkan pandangannya pada Ghiffa, "Sudah Papa bilang, kamu bisa meminta berapapun pada Papa. Tapi tidak dengan Melcia."
"Kenapa emangnya? Aku selalu ngalah selama ini. Ghaza bisa ngerebut apapun dari aku, dan Papa selalu diem aja. Kenapa aku gak boleh rebut apa yang dimiliki Ghaza?" tantang Ghiffa, " Sebenernya aku juga gak mau dapetin Melcia. Sekedar jadi pemegang sahamnya juga aku gak butuh. Aku bukan orang serakah kayak Papa dan juga Ghaza. Tapi aku gak akan diem aja kalau Ghaza mau rebut Ayana dari aku. Makanya sekarang aku juga akan ngerebut sesuatu yang berharga bagi Ghaza. Sekarang terserah kalian, lepasin Ayana, atau aku bakal terus bikin keributan dan mastiin aku mendapatkan saham aku lagi."