The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 97: Cinta itu Tidak Ada



Dalam video


Ghaza menyandarkan ponselnya yang telah mulai merekam di nakas sisi tempat tidurnya. Ia memposisikan ponsel itu agar dirinya yang duduk di sampingku yang terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur itu bisa terlihat dengan jelas.


"Ayana, sebenarnya saya sedikit merasa sedih. Karena setelah susah payah membawa kamu kesini, kamu belum juga sadar dari pengaruh obat bius itu." Ghaza berbicara ke kamera, "Saya ingin mengatakan bahwa sejujurnya saya sangat tidak menyangka melihat kamu di restoran hotel sepagi itu. Itu artinya kalian bermalam bersama di hotel itu 'kan? Kalian terlihat sangat mesra saling menyuapi tanpa memperhatikan sekitar kalian. Jujur saya tidak suka itu."


Tangan Ghaza mulai membelai pipiku, "Kalau kalian sampai bermalam di hotel, berarti kalian sudah melakukan itu juga? Saya betul-betul tidak menyangka. Saya kira kamu adalah gadis desa yang polos, tapi imej itu kini sudah hilang dari pikiran saya. Ternyata kamu sama saja dengan perempuan lainnya. Sampai saya terpikirkan untuk membawa kamu seperti ini."


"Izinkan saya memeriksa tubuh kamu." Ghaza membuka satu persatu kancing blouse yang aku kenakan, hingga seluruh kancing itu terbuka semua. Ghaza menyingkapkan blouse itu ke kanan dan ke kiri, agar ia bisa dengan jelas memandang tubuh polosku.


Ia melihat ke arah kamera, "Lihat tanda-tanda merah ini." Tangannya mulai menyentuh tanda-tanda merah, jejak yang diberikan oleh Ghiffa yang tersebar di dada dan perutku, jejak dari penyatuan kami pada malam sebelumnya.


"Pintar sekali kalian, tidak membuat tanda ini di area leher." Tangannya terus menyentuhku. Hingga ia menelusupkan tangannya ke balik bra yang aku kenakan dan kemudian satu per satu kedua bukit kembarku pun menyembul keluar karena ulah tangannya.


Beberapa saat ia membelai kedua puncak bukit kembarku dengan ibu jarinya. "Kamu punya bukit yang indah, Ayana. Cantik sekali."


"Apa tanda-tanda merah itu ada di bagian bawah juga?" Ghaza berpindah dari posisinya yang duduk di sampingku, dan beringsut agak ke belakang. Ia membuka kancing flare pants yang aku gunakan dan menariknya hingga bagian pahaku.


Ia menatap bagian tubuh bawahku lalu tersenyum sinis, "Kalian benar-benar..." Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidakkah kamu malu, Ayana, Ghiffa itu masih sekolah. Dia masih siswa SMA. Tapi kamu sudah membiarkannya melakukan ini pada kamu. Atau kamu merasakan sensasi tersendiri melakukannya dengan seseorang yang lebih muda dari kamu?"


Tangannya perlahan menyentuh bagian-bagian bawah tubuhku yang juga terdapat jejak dari Ghiffa. "Lalu bagaimana rasanya saat kamu melakukannya dengan Ghiffa? Saya yakin dia belum tertalu berpengalaman. Kamu harus mencobanya dengan saya. Saya jauh lebih berpengalaman. Saya yakin kamu akan lebih puas."


Tatapan Ghaza terus menyapu seluruh tubuhku yang sudah terekspos.


"Baiklah, sudah cukup." Ia kembali memasangkan celanaku seperti semula. "Saya tidak ingin curang. Saya ingin kita melakukannya, tapi kamu harus dalam keadaan sadar. Agar kita bisa sama-sama menikmatinya."


Ghaza mulai merapikan pakaianku dan kembali menyembunyikan bukitku di tempatnya semula, kemudian mengancingkan semua kancing blouse yang tadi dibukanya.


"Ghiffa sekarang sedang mencari-cari kamu. Tapi saya yakin dia tidak akan menemukannya. Sekarang kamu ada di Apartemen saya, kamu bisa datang kesini kapanpun kamu mau. Temui saya disini, atau kamu bisa tinggal disini jika kamu mau. Saya jamin apartemen ini jauh lebih nyaman daripada lantai dua cafe itu."


Ghaza kembali menatap wajahku dan mengusap pipiku. "Bibir kamu tidak memakai polesan tapi berwarna merah muda dan begitu mengundang. Setidaknya saya ingin mencium kamu." Ghaza mendekatkan bibirnya padaku dan menciumku cukup lama. Bibirnya turun mengecup daguku dan menjelajahi leherku. Hingga ia berhenti di satu titik dan setelah beberapa saat ia menjauh.


Ia tatap leherku, "Sekarang kamupun punya tanda merah dari saya. Saya harap kamu akan menghubungi saya segera setelah nanti saya mengirimkan video ini. Ini akan menjadi rahasia kita. Kamu jangan khawatir, saya akan menyembunyikannya dari Ghiffa."


"Baiklah, saya tidak bisa lama-lama." Ia menatap jam tangan yang dipakainya, "Saya harus kembali ke Hotel J, menemui kolega saya dan kembali bekerja. Kita akan bertemu lagi nanti sore. Saya akan segera menemui kamu disini."


Ghaza melambaikan tangannya sekilas, dan mematikan rekaman videonya


Tanganku tak bisa berhenti bergetar, hingga ponselku jatuh begitu saja ke lantai toilet. Pipiku sudah basah sepenuhnya oleh butiran bening yang terus membanjir dari kedua mataku. Aku menatap ke arah cermin di depanku, memiringkan kepalaku dan benar saja, aku mendapati tanda merah di leherku.


Tangisku yang tertahan menggema di toilet itu. Saat itu hanya ada aku di toilet. Aku mencoba meredam suara isak yang terus keluar dari mulutku. Aku tidak ingin Seno dan Victor yang berjaga di luar mendengarku seperti ini dan mereka melaporkannya pada Ghiffa.


Bagaimana ini? Bagaimana ini! Ghaza telah melihat tubuhku, dia menyentuhku!


Aku merasa menjadi perempuan paling kotor. Paling menjijikan! Aku telah membiarkan laki-laki lain selain suamiku sendiri menyentuhku!


Dunia serasa runtuh. Naif sekali aku mengira tidak terjadi apa-apa kemarin. Harusnya aku menyadari itu. Tidak mungkin tidak terjadi sesuatu saat Ghaza berhasil membawaku kemarin.


Ku biarkan isakku yang tertahan berlanjut hingga beberapa menit. Aku butuh mengeluarkan segala emosi yang ku rasakan. Marah, malu, kesal. Semua itu benar-benar memenuhi setiap sudut hatiku sekarang.


Tiba-tiba saja ponselku yang tergeletak di lantai toilet itu bergetar, aku segera meraihnya. Ghaza yang menelepon.


Segera aku mengangkatnya, "Dasar cowok jahat!!" selorohku tanpa menyapanya.


Terdengar tawa Ghaza di seberang sana, "Kamu sudah lihat videonya?"


"Kenapa kamu ngelakuin itu!? Apa yang terjadi setelah kamu mematikan videonya?" pekikku dengan suara tertahan. Masih mencoba agar tak membuat suara bising. Aku tak ingin Seno dan Victor menyadari aku yang sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu masih pura-pura polos, Ayana? Saya belum menyentuh kamu lebih jauh, tenang saja. Seperti yang saya katakan, saya ingin melakukannya dengan kamu dalam keadaan sadar. Tadinya jika kamu tidak memberontak, saya akan membawa kamu dengan baik-baik, tidak sampai dibius seperti kemarin. Jadi kamu bisa tinggal di apartemen saya, menikmati fasilitas yang tersedia disana, menunggu saya pulang bekerja, dan kita lakukan hal yang sama dengan yang kamu lakukan dengan Ghiffa."


"Saya ngelakuin itu sama Ghiffa karena dia suami saya!! Saya bukan seperti perempuan yang kamu pikirkan!!" isakku.


Ghaza kembali tertawa meremehkan, "Kamu masih memainkan permainan suami-istri itu dengan Ghiffa? Kamu benar-benar pengasuh yang baik, mengajak anak majikan kamu memainkan sebuah permainan dengan sangat totalitas." Ujarnya dengan penuh sarkas.


Isakku menguasaiku, aku tak mampu mengucapkan apapun.


"Ayana. Saya tahu saking seriusnya kalian memainkan permainan ini, kalian sampai tinggal bersama di kafe itu. Ghiffa sudah memberikan apa hingga kamu begitu patuh padanya? Saya akan berikan apapun yang lebih dari Ghiffa berikan. Apartemen itu, Saya berikan untuk kamu. Uang bulanan? Saya akan transfer setiap awal bulan, berapapun jumlahnya akan saya berikan. Mobil? Saya akan berikan tipe apapun yang kamu mau. Perawatan, liburan, semua yang kamu mau akan saya berikan. Kamu akan lebih bahagia bersama saya, Ayana. Percayalah." ujarnya dengan angkuh.


Aku menguasai emosiku, kuhela nafasku perlahan dan berkata, "Aku bukan sugar baby ya, Alghazali Airlangga!!" Kuputuskan untuk tidak lagi menyebutnya dengan sebutan 'Tuan'. Sebelumnya aku masih menaruh hormat padanya walaupun sedikit. Tapi tidak lagi kali ini.


Ghaza malah tertawa mendengar ucapanku, "Sugar baby? Rasanya sangat menggemaskan kata-kata itu keluar dari mulut kamu. Kamu masih saja berpura-pura naif. Bukannya kamu juga selama ini adalah peliharaan Ghiffa?"


"Denger baik-baik ya, Ghiffa sangat mencintai saya. Dia tulus mencintai saya! Kami tinggal disana sebagai suami istri yang saling mencintai!"


"Cinta itu tidak ada, Ayana. Cinta itu hanya ilusi. Kamu harus realistis."


"Laki-laki berhati dingin seperti kamu gak akan pernah ngerti! Saya tidak perlu susah payah menjelaskan semuanya. Carilah perempuan lain yang mau menerima hubungan timbal balik seperti yang kamu jelaskan tadi! Karena saya tidak akan pernah menjalin hubungan seperti itu dengan kamu berapapun kamu membayar saya! Tunggu saja, saya pasti akan membuat perhitungan dengan kamu! Sekarang saya tekankan pada kamu, jangan pernah ganggu saya ataupun suami saya lagi!"


"Tidak bisa." ujarnya masih dengan nada yang angkuh.


Tentu saja, Ghaza tidak akan semudah itu menyetujui kata-kataku.


"Setelah Ghiffa membawa kamu kabur dan merusak pintu apartemen saya, apakah saya akan diam saja? Saya akan membuat kamu menjadi milik saya. Terserah kamu menyebutnya apa. Peliharaan, sugar baby, atau apapun itu. Saya pasti akan memiliki kamu sepenuhnya."