
Ghiffa's point of view
Motor sport berwarna hijau muda itu terus membelah angin malam. Tangan Ghiffa terus menarik pedal gas di tangannya saat ia mencapai jalanan yang lengang, dan terus mengemudikan motornya tak tentu arah. Yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah melepaskan emosinya. Ia butuh sebuah pelepasan terhadap amarahnya yang membuncah.
'Susah banget bikin kamu ngerti perasaan aku, Ay.' keluhnya dalam hati.
Namun perasaan puas sedikitnya kini bisa ia rasakan. Akhirnya ia bisa memberikan beberapa pukulan pada Ghaza, hal yang sudah lama ia ingin lakukan namun selalu ia tahan. Memberikan pelajaran dan peringatan bahwa kali ini Ghiffa bukan lagi seorang anak laki-laki yang mengidolakan sang kakak, tapi seorang laki-laki yang akan melakukan segalanya untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya. Ghaza boleh mengambil semua yang seharusnya dimiliki Ghiffa, tapi tidak jika itu Ayana. Bagi Ghiffa, Ayana kini adalah hidupnya. Alasan mengapa ia masih merasa beruntung di tengah-tengah kesialan yang terjadi di dalam hidupnya.
Ayana, satu-satunya alasan Ghiffa masih bisa berpikir bahwa Tuhan masih mengasihaninya.
Sejak ia menemukan akun Ayana dan berkomunikasi dengan Ayana sebagai Hyuga, Ghiffa seperti menemukan rumah. Awalnya ia tidak menyangka akan jatuh cinta pada perempuan yang tidak jelas seperti apa rupanya. Namun rasa yang ia rasakan pada Ayana saat itu begitu berbeda dengan rasa yang ia rasakan pada Olivia sebelumnya.
Ghiffa sempat terpesona pada sosok Olivia, Namun saat itu ia sendiri masih ragu rasa apa itu. Ia hanya membiarkan perasaannya mengalir. Namun saat sudah bisa memiliki Olivia, ternyata ia baru sadar bahwa rasa itu bukanlah 'cinta', yang seperti orang-orang katakan. Rasa cinta yang sesungguhnya justru Ghiffa rasakan pada sosok Ayana, yang saat itu tidak ia ketahui apakah benar ada di dunia nyata, atau ada seseorang yang hanya berpura-pura, seperti dirinya yang berpura-pura menjadi sosok Hyuga.
Dan beruntungnya sosok Ayana ternyata betul-betul nyata, bahkan Tuhan mengirimkannya tepat di depan matanya.
Ghiffa memang tidak pernah menceritakan mengenai sakit yang ia rasakan selama ini pada Ayana, tapi kehadiran chat dan suara Ayana melalui telepon, selalu terasa seperti tetesan air hujan di tengah kemarau panjang di dalam hati seorang Ghiffa.
Setiap kali ia merasa hidupnya tidak adil, dia butuh tempat bersandar, maka ia akan masuk ke sebuah dunia yang hanya ada dirinya dan Ayana berada. Kemudian menjadi dirinya sendiri dan sakit yang disebabkan oleh perlakuan kakak dan ayahnya, juga ambisi ibunya sendiri, perlahan akan membaik setelahnya.
Menyejukkan.
Itulah gambaran yang selalu Ghiffa rasakan mengenai kehadiran Ayana di dalam hidupnya. Tidak hanya kesejukkan, bahkan pertemuannya dengan Ayana di apartemennya waktu itu seakan memberikan alasan lainnya bahwa Tuhan ternyata masih begitu menyayanginya.
Tidak hanya menghadirkan tetesan air hujan yang menyejukkan, tapi kehadiran Ayana kini juga menghadirkan pelangi baginya.
Ghiffa memelankan laju motornya, dan perlahan melambat dan akhirnya ia berhenti di bahu jalan di sebuah jembatan. Sebuah pemikiran tiba-tiba saja muncul di dalam benaknya. Pemikiran yang membuatnya seketika menyesal telah meninggalkan Ayana, padahal ia sendiri yang membawanya pergi dari rumah kediaman Airlangga.
Menerima seseorang seperti dirinya bukanlah hal yang mudah bagi seorang gadis berhati murni seperti Ayana, seorang gadis yang bahkan lebih menerimanya sebagai Hyuga. Baru kali ini ada gadis yang justru begitu sulit untuk menerimanya sebagai Alghiffari Airlangga. Bahkan Ghiffa begitu cemburu saat Ayana mengatakan ia lebih berharap bahwa Hyuga adalah Zayyan.
Hingga Ghiffa kini sadar, seharusnya ia tidak meninggalkan Ayana, tapi justru meyakinkan Ayana kembali, lagi dan lagi, hingga Ayana bisa memahami bahwa hubungan mereka memang harus diperjuangkan jauh lebih keras dibandingkan orang lain. Ghiffa harusnya bisa membuat Ayana mengerti bahwa perbedaan seharusnya tidak menjadi penghalang bagi keduanya.
Ah, Ayana benar-benar sudah membuat seorang Ghiffa tergila-gila.
Emosi Ghiffa perlahan mereda. Kini tiba-tiba ia merindukan sosok Ayana. Ghiffa tiba-tiba saja merindukan gadis mungil dengan senyum manis itu. Ia berniat kembali ke markas Centaur Squad, namun saat itu Max meneleponnya. Ia pun mengatakan pada Max agar Ayana menunggunya. Ia akan segera kembali.
Sebelum pulang Ghiffa membeli makanan kesukaan Ayana, kwetiau goreng pedas manis. Ia ingat Ayana belum makan. Begitu juga dirinya. Akan ia tutup hari ini dengan berbaikan dengan Ayana dan makan malam bersama seperti yang selalu mereka lakukan di apartemen. Maka ia pun menepikan motornya di depan sebuah tenda penjual nasi goreng pinggir jalan dan memesan kwetiau untuk Ayana dan nasi goreng untuk dirinya sendiri.
Dulu ketika Ghiffa masih tinggal di kediaman Airlangga, Natasha tidak pernah membiarkannya makan makanan-makanan kaki lima seperti ini. Tapi kali ini makanan-makanan kaki lima menjadi favorit Ghiffa. Ternyata keputusannya untuk turun dari tempat tertingginya adalah keputusan yang tepat, terbukti bahwa ia sekarang menjadi lebih bahagia.
Beberapa saat kemudian, motor Ghiffa sudah terparkir di area Cafe miliknya. Dengan riang ia menenteng keresek berisi nasi goreng dan juga kwetiau untuk Ayana dan berjalan ke arah markas.
"Nj*ng!" Max berlari terburu ke arah Ghiffa. "Mbak Perpus pergi barusan. Dia bawa kopernya."
"Kemana?!" Ghiffa menarik kerah Max, "Gue 'kan bilang lo jagain dia! Kok bisa dia pergi? Sama siapa?" Teriak Ghiffa.
"Dia telepon temennya, terus gak lama temennya dateng bawa mobil dan Mbak Perpus ikut sama dia. Gue udah nyoba buat cegah dia, tapi temennya galak bener. Kalau cowok udah gue gampar, nah ini cewek gak mungkinlah gue kasarin." Max membela diri.
Ghiffa membuka ponselnya dan menelepon Ayana. Namun beberapa kali telepon tersambung, Ayana tidak juga mengangkat teleponnya. Malah nomor Ayana kini tidak bisa ia hubungi.
"SIAL!!" umpat Ghiffa.
Ia menyesal juga karena tidak memiliki nomor Belva. Sekarang ia harus mencarinya kemana?
Kemudian ia teringat Belva adalah kekasih dari Jonathan, sekretaris Ghaza. Ghiffa mencari kontak Zayyan dan menghubunginya, "Zay, gue minta nomornya Bang Jo."
Tak lama Zayyan mengirimkan nomor Jonathan dan segera Ghiffa menelepon Jonathan untuk mendapatkan nomor dan alamat rumah Belva. Awalnya Jonathan sedikit enggan, tapi kemudian ia memberikannya juga setelah Ghiffa menjelaskan duduk masalahnya.
Ghiffa segera melajukan kembali motornya ke rumah Belva. Saat tiba di depan rumah, Ghiffa memijit bel dan tidak lama Belva keluar.
"Aya mana?" tanya Ghiffa to the point.
"Aya gak ada disini." ucap Belva.
"Lo jangan bohong!" Ghiffa mulai tidak sabar.
"Ngapain gue bohong? Aya nelepon gue dan minta gue buat anter dia ke travel. Dia pulang ke Lembang, ke rumah ayah ibunya."
Seketika Ghiffa tertegun, "pulang..?" lirihnya.
"Iya. Katanya dia kangen sama orang tuanya dan adik-adiknya."
Ghiffa segera menunggangi motornya lagi.
"Ghif biarin Aya sendiri dulu." Namun Ghiffa tidak menggubrisnya, "Gue juga mau minta maaf sama lo."
Ghiffa menghentikan tangannya yang sedang memasangkan helm di kepalanya dan menatap ke arah Belva.
"Aya udah cerita kalau gue salah paham tentang Olivia." Ujar Belva penuh sesal.
Ghiffa memakai helmnya dan mulai menyalakan motornya, "Lupain aja. Gue udah biasa disalahpahamin sama orang."
Belva terlihat masih merasa menyesal, "Gue kirimin alamatnya Aya. Siapa tahu lo mau nyusul dia kesana." ucap Belva. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan sebagai tanda permintaan maafnya.
"Gak usah. Gue udah tahu dimana rumahnya. Gue pernah kesana."
"Hah? Serius?"
Kemudian Ghiffa meluncur meninggalkan rumah Belva menuju Cafe. Ia mengganti pakaiannya dan dan mulai mengendarai motornya menuju Lembang. Ghiffa memilih menggunakan motor karena untuk mencapai rumah orang tua Ayana tidak bisa dicapai menggunakan mobil.
Iya, Ghiffa tidak berbohong saat mengatakan pernah ke rumah Ayana. Ia benar-benar pernah pergi ke kampung halaman Ayana.