The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 24: Menyadari Perasaan



Aku bisa merasakan lidah Ghiffa masuk ke dalam mulutku dan membelit lidahku. Tengkukku masih dicengkram olehnya. Ujung hidung bangirnya menyentuh pipiku, dan nafasnya berhembus hangat di sekitar bibirku.


Aku mulai mendapatkan kembali kesadaranku setelah sebelumnya tubuhku terasa sangat kaku, tak mampu bergerak. Ku coba mendorong tubuh Ghiffa sekuat tenaga, namun aku tak mampu. Tenaganya terlalu kuat.


"Tuan mmmhh...!" Aku coba mengeluarkan suaraku, namun sia-sia. Bibirnya menutup jalan keluar suaraku.


Setelah puas bermain di bibirku, bibirnya menelusuri daguku, dan turun ke leher.


Mulutku kini terbebas dari lum*tan itu, segera aku berteriak. "Tuan! Tolong lepaskan! Apa yang Tuan lakukan?!" Aku berteriak sebisaku dengan nafas menderu.


Seperti tak mendengarku, Ghiffa mencumbui leherku hingga ia sampai di satu titik kemudian menghisapnya kuat-kuat. Nafasku tak beraturan, jantungku sudah kepayahan, dan tanganku mulai pegal setelah berkali-kali gagal mendorong kedua pundaknya yang begitu kekar untuk menjauh dariku.


"Tolong..Tuan.." Isakku, sebutir air mata lolos dari sudut mataku, aku merasa begitu tidak berdaya.


Ghiffa melonggarkan serangannya, hingga akhirnya aku bisa lepas dari belenggunya. Ku tutup bibirku dengan punggung tanganku, dan tanganku yang lain memegang leherku. Masih bisa kurasakan bekas hisapannya yang begitu kuat di leher bagian kiriku. Air mata pun sudah membanjir di pipiku.


Aku segera masuk ke dalam cottage dan menuju ke salah satu kamar. Aku menangis sejadinya. Pertanyaan yang sama terus memenuhi kepalaku. Kenapa? Ada apa dengan Ghiffa? Kenapa ia melakukan itu padaku? Apa ia begitu tersinggung dengan ucapanku? Tapi apakah harus ia sampai melakukan ini padaku?


Aku biarkan tangisku pecah. Ku biarkan Ghiffa mendengarnya. Aku terima perlakuannya terhadapku selama ini, tapi yang baru saja dilakukannya benar-benar tidak bisa ku terima.


Tok..tok..tok..


"Ay, buka pintunya." ucapnya dengan nada rendah. "Sebentar aja, gue mau ngomong."


"Tuan mau apa?!" teriakku dari balik pintu, "Saya minta tuan pergi!"


Pintu terbuka begitu saja. Aku lupa tidak menguncinya tadi. Aku beranjak dari sisi tempat tidur, mencoba waspada padanya.


"Jangan mendekat!" larangku.


Ghiffa tidak menggubrisku, ia malah terus melangkah, semakin dekat padaku. Aku terus melangkah mundur menjaga jarakku dengan Ghiffa. Namun tubuhku menyentuh tembok. Tidak ada lagi jalan untuk kabur.


"Tuan, tolong. Lepaskan saya! Maafkan saya, saya tidak akan mengatakannya lagi." Aku menangkupkan kedua tanganku penuh penyesalan. Jika saja aku tahu bahwa ia akan begitu tersinggung dengan ucapanku, aku tidak akan pernah mengatainya seperti tadi.


Ghiffa meraih tanganku dan menarikku masuk ke dalam pelukannya.


"Maaf." lirihnya.


Kedua tanganku yang bersiap mendorong dadanya agar menjauh dariku seketika terpaku.


"Maafin gue udah kasar sama lo barusan." Kurasakan bibir Ghiffa berada di pundakku dan kedua tangannya masih melingkar di sekeliling tubuhku.


Ucapannya terdengar sungguh-sungguh, ada sesal yang menyeruak dari kata maaf yang Ghiffa lontarkan. Pelukannya juga terasa begitu hangat dan membuatku... nyaman, seakan hatiku tanpa sadar menerima permintaan maaf itu.


Ah, ada apa denganku ini?


"Kapan lo bisa sadar sih, Ay?" gumamnya.


Sadar untuk apa?


"Maksud Tuan apa?" tanyaku.


Ia tidak menjawab.


"Sebenarnya Tuan ini kenapa? Kenapa Tuan seperti ini pada saya? Apa Tuan begitu tersinggung dengan kata-kata saya barusan? Kalau begitu saya minta maaf. Saya tidak akan melakukannya lagi."


Aku mendorong tubuhnya menjauh dariku, ku usap kasar pipiku yang basah. "Tapi saya mohon Tuan, jangan melakukan hal seperti ini lagi. Saya bisa salah paham."


Ghiffa sudah membuka mulutnya, akan mengatakan sesuatu, namun aku segera memotongnya, "Saya memang ART Tuan, saya bertugas melayani Tuan, tapi anda tidak bisa berbuat seperti ini. Saya kecewa pada Tuan. Tuan tidak bisa menghormati saya. Maka dari itu saya tidak bisa ada disini lebih lama. Saya izin pamit. Saya akan pulang sekarang."


Aku meraih tas selempang milikku dan segera berjalan melewati Ghiffa yang masih mematung. Aku tidak tahu akan bagaimana aku pulang, yang pasti aku hanya ingin pergi dari sini terlebih dahulu. Aku tidak bisa berada di dekat Ghiffa setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku tidak menyangka ia akan melakukan hal itu padaku. Jika aku salah, kenapa ia tidak memarahiku seperti biasanya saja? Kenapa malah seperti ini?


Akhirnya aku berjalan di jalanan yang sudah sepi itu. Lampu yang ada sangat remang, juga tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Aku berusaha untuk waspada. Walaupun aku sangat cemas ada orang yang mungkin berniat jahat berjalan ke arahku, atau 'sesuatu' yang menggangguku, aku tetap mencoba memberanikan diriku dan melangkahkan kakiku dengan cepat hingga ke ujung jalan dimana jalan besar yang lebih ramai berada. Mungkin disana akan ada ojek online yang sengaja mangkal menunggu order masuk.


Tiba-tiba aku mendengar suara mobil dari arah belakang. Mendengarnya membuatku semakin cemas. Aku memegang erat tas selempangku dan mempercepat langkahku dengan perasaan takut. Mobil itu berhenti di depanku. Mobil merah dengan dua pintu di kedua sisinya yang sudah sangat familiar bagiku.


Ghiffa keluar dari mobil itu dan berjalan ke arahku. Aku begitu lega saat melihatnya. Walaupun baru saja ia melakukan hal yang menakutkan bagiku, namun berjalan sendirian di jalanan yang remang dan sepi seperti ini sungguh lebih menakutkan.


"Masuk." titahnya.


Aku bergeming.


Ghiffa menghela nafas menahan jengkelnya. Ia menarik tanganku dan membukakan pintu untukku. Aku tidak punya pilihan lain selain masuk kedalam mobilnya.


Kemudian mobil Ghiffa sudah bergabung di jalanan malam yang sudah sangat lengang. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Aku memilih diam, begitu juga Ghiffa, memfokuskan pandangannya ke jalanan.


Sesampainya di apartemen aku langsung masuk ke kamarku dan menguncinya. Aku membaringkan tubuhku di kasur dan berusaha untuk tidur dan tidak memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Namun saat aku menutup mataku, kilasan Ghiffa yang mencumbuku dengan kasarnya justru berputar begitu saja bak sebuah trailer sebuah drama. Begitu jelas dan nyata.


Aku membuka mataku dan merasakan jantungku kembali berdegup kencang. Semakin aku mencoba untuk menghilangkannya, semakin aku mengingatnya.


Tangan Ghiffa yang menyentuh tengkukku, bibirku, daguku, dan leherku, semua masih bisa aku rasakan dengan sangat jelas. Anehnya aku merasa tidak semarah tadi. Yang aku rasakan kini justru... berdebar.


"Kamu kenapa sih, Ay?" Ku sentuh bibirku yang masih bisa merasakan hangatnya bibir Ghiffa.


Karena kejadian barusan, aku mulai menyadari ada yang berbeda dengan Ghiffa. Yang dilakukan oleh Ghiffa bukanlah sesuatu yang lumrah dilakukan oleh seorang majikan pada ART-nya, tapi lebih seperti laki-laki pada perempuan yang disukainya.


Kilasan-kilasan kejadian saat ia menciumku pertama kalinya di danau itu, lalu memintaku untuk menciumnya setiap hari, berputar begitu saja seakan menjadi trailer selanjutnya dari 'drama' yang sedang aku lakoni. Walaupun kata-kata kasar dan menyebalkan sering terlontar darinya, dibalik itu, ia sering kali menunjukkan perhatian-perhatian kecilnya tanpa aku sadari. Hal itu membuatku mau tidak mau berpikir sesuatu yang mungkin saja Ghiffa rasakan terhadapku.


Aku mulai bertanya-tanya apakah Ghiffa menyimpan rasa terhadapku?


Masa sih?


Aku tidak mau mempercayainya. Hal itu sangat tidak mungkin terjadi antara kami yang memiliki dunia yang berbeda. Aku disini di kamar pembantu yang kecil dan pengap, dan Ghiffa di kamar mewah dan nyamannya disana.


Seorang Ghiffa menyukai aku? Yang benar saya, Ayana! Aku memperingatkan diriku sendiri.


Hal lain yang aku sadari adalah entah sejak kapan aku tidak lagi merasa kesal saat melayani semua kebutuhan Ghiffa. Saat mencuci, menyetrika, memasak untuknya, aku baru sadar, aku tidak lagi merasa terpaksa melakukannya, bahkan aku dengan senang hati melakukannya.


Bahkan bukan hanya senang hati, aku bahagia bisa melakukannya.


Aku sering secara tidak sadar menunggunya pulang. Saat mendengar pintu terbuka, aku begitu terlonjak bahagia karena akhirnya bisa melihat Ghiffa lagi, seakan aku merindukannya saat kami tidak saling bertemu karena kegiatan kami masing-masing.


Juga saat aku menemaninya tidur di setiap malam sambil duduk di sofa di samping tempat tidurnya, tanpa sadar, aku tidak pernah lagi merasa keberatan melakukannya. Bahkan aku sering kali tidak langsung beranjak dari posisiku padahal aku tahu Ghiffa telah terlelap. Aku menikmatinya. Aku senang memandangnya yang memejamkan mata dengan damainya.


Apa aku mulai menyukainya?


Apa-apaan sih kamu, Ay? Sadar! Kamu punya Zayyan!


Mengingatnya membuat aku kembali merasa bersalah pada pacarku itu. Apakah yang sudah aku lakukan bisa dikatakan selingkuh ya? Mencium Zayyan saja aku belum pernah, namun setiap hari aku mencium laki-laki lain, walaupun itu hanya tangannya saja, berciuman dengan Ghiffapun sudah beberapa kali. Meskipun bukan mauku, tapi tetap saja aku merasa mengkhianatinya.


Brak..brak..brak..


Aku tersadar dari lamunanku karena suara ketukan pintu yang khas itu. Siapa lagi kalau bukan Ghiffa yang melakukannya.


"Ay, buruan lo ke kamar gue! Gue gak bisa tidur." Ghiffa menggedor pintu kamarku.


Aku berjalan menuju pintu, "Tuan harus belajar tidur sendiri mulai sekarang!" Tegasku dengan berteriak agar dia bisa mendengarku. Aku tidak bisa lagi menemaninya setelah kejadian tadi. Aku tidak mampu mengabaikan perasaanku yang sudah aku sadari dengan sangat jelas terbagi dua pada Zayyan, dan juga pada tuan mudaku itu.


Aku harus menjauhinya, tidak bisa aku membiarkan perasaan ini tumbuh lebih besar lagi. Dunia kami terlalu berbeda. Sungguh aku tidak bisa lagi berada di dekatnya.