
Ghiffa menghentikan motornya di pinggir sebuah jalan di kampung sebelah, dimana kanan kirinya terdapat banyak penjual berbagai jajanan kaki lima, pakaian, mainan, sayuran, dan buah-buahan berjajar hingga ke ujung jalan itu.
"Ini pasar tonggeng?" tanya Ghiffa seraya membuka kaca helmnya, dan memerhatikan ke arah kerumunan pembeli dan penjual yang sibuk bertransaksi.
"Iya. Kamu sama Asha liat-liat aja. Aku tunggu di pos kamling itu ya." Aku menunjuk ke pos kamling yang berada di dekat parkiran motor.
"Kenapa namanya pasar tonggeng? Daerah ini namanya Tonggeng?" Tanya Ghiffa penasaran, seraya menurunkan Asha yang duduk di depan Ghiffa, di tangki motor miliknya.
Aku tertawa mendengar Ghiffa penasaran. "Jelasin, Sha." perintahku pada adik bungsuku.
"Soalnya orang-orang yang beli di pasar ini belinya sambil nonggeng kayak gini (Bahasa Indonesia: nungging)." Akupun terbahak melihat adikku sampai mempraktikkannya. Kemudian ada seorang ibu yang sedang memilih-milih pakaian yang memang dijajakan di bawah, tanpa meja hanya beralaskan terpal. Ibu itupun sedikit menungging saat akan meraih salah satu pakaian yang dijajakan di atas terpal. Ghiffa ikut terbahak melihatnya.
Ghiffa menoleh ke arahku, "Namanya er*tis banget."
"Ih nggak ah. Kamu aja itu otaknya ngeres." ucapku.
Ghiffa turun dari motornya dan membawa tubuhku turun dari jok belakang dan memapahku ke arah pos kamling.
"Kamu yakin mau nunggu disini aja? Aku gendong aja ya." Ghiffa menawarkan.
"Gak usah. Kamu sama Asha aja. Aku nunggu disini. Beli semua yang bikin kamu penasaran ya, biar Bapak percaya kamu lagi nugas."
Ghiffa tidak memaksaku karena Asha segera membawanya pergi menembus kerumunan orang-orang. Aku pun membuka ponselku sambil menunggu mereka kembali.
Iseng aku membuka instagram. Sudah cukup lama aku tidak membukanya. Ku buka inbox dan membaca kembali chatku dengan Hyuga disana. Chat-chat itu membuatku cengar-cengir sendiri. Tak pernah menyangka kini aku sudah berpacaran dengan teman mayaku ini.
Aku baru sadar bahwa aku tidak pernah melihat instagram asli milik Ghiffa. Akupun mulai mencari akunnya. Aku mendapatkannya dan membukanya. Tidak ada foto atau apapun disana. Tapi followersnya mencapai 90 ribu, hampir seratus ribu!
'Banyak sekali padahal yang dia follow hanya sekitar 200 akun', gumamku dalam hati.
Akunku saja hanya memiliki sekitar 800 pengikut. Tapi tidak heran sih, dengan foto profil Ghiffa yang memakai seragam dan duduk di kap mobil sport merahnya sambil menatap dingin ke kamera saja sudah sangat mengundang perhatian orang yang melihatnya.
Ada sorotan story yang disimpan Ghiffa. Aku men-tap-nya dan disana hanya ada satu foto, yaitu fotonya bersama Max dan Theo, juga anggota Centaur Squad lainnya.
Iseng aku melihat-lihat akun yang diikuti oleh Ghiffa, salah satu dari akun itu ada yang menarik perhatianku, akun itu sepertinya milik Olivia.
Benar saja. Akun ikut milik mantan pacar Ghiffa, Olivia.
Akun Olivia sangat ramai. Ia cukup sering memposting foto. Followersnya juga lebih banyak dari followersnya Ghiffa, hampir mencapai sejuta. Beberapa kali ia meng-endorse beberapa produk. Makanan, minuman, hingga pakaian. Akunnya sangat kentara sekali menunjukkan bahwa ia seorang selebgram. Sama seperti akunnya Belva. Belva juga sering mengendorse berbagai produk, followersnya saja sudah jutaan.
Aku terus menscroll ke bawah, namun tidak aku temukan akun milik Ghaza. Aku kira karena mereka pernah bertunangan mungkin mereka saling memfollow di instagram. Tapi sepertinya Olivia sudah tidak memfollownya. Padahal aku cukup kepo, ingin melihat seperti apa akun seorang wakil presiden direktur.
Saat terus menscroll ke bawah aku malah melihat foto Ghiffa dan juga Olivia. Mereka melakukan selfie. Ada beberapa foto mereka saat aku menscrollnya ke samping. Mereka terlihat sangat akrab. Olivia membuat caption untuk foto itu, bareng si Ghiffa.
Walaupun terlihat sekali mereka hanya berteman. Namun hatiku cukup berdenyut nyeri melihatnya.
'mereka cuma temenan, Ay.' ucapku pada diriku sendiri.
Saat mendongak aku melihat sesosok laki-laki yang aku kenal. "Kang Fahri?"
"Gak nyangka ketemu Ayana disini. Apa kabar?" Sapanya seraya duduk di sampingku.
Dia adalah kakak kelasku waktu SMA. Selama 3 tahun aku menjadi siswi SMA, aku tak pernah berhenti dijodohkan dengannya. Tidak hanya oleh teman-teman terdekatku, tapi oleh satu sekolah bahkan guru-guru. Fahri duduk di kelas 12 saat aku duduk di bangku kelas 10. Dia adalah Ketua OSIS saat itu. Sejak pertama masa orientasi, dia sudah menunjukkan ketertarikannya padaku. Tapi aku justru tidak pernah menggubrisnya.
Setelah ia luluspun, gosipku dengannya masih saja berhembus. Orang-orang begitu menungguku untuk bisa menyambut perasaan Fahri, seorang Ketua OSIS, kesayangan para guru dan idola para siswa. Tapi tak pernah bisa aku mengabulkan keinginan mereka, karena aku memang tidak pernah ada rasa padanya.
Fahri memang seorang anak yang baik, tampan, dan memiliki masa depan yang cerah. Setelah lulus saja ia langsung diterima di salah satu Institut terbaik di Bandung jurusan teknik sipil melalui jalur prestasi. Tapi entah mengapa aku tidak pernah menaruh rasa padanya.
"Baik, Kang. Kang Fahri sehat?" tanyaku.
"Sehat. Kakinya kenapa Ayana?" Ia melihat ke arah kakiku.
"Kecelakaan, Kang." ujarku.
"Ya Ampun. Cepet sembuh ya." Ucapnya terlihat khawatir.
"Makasih, Kang." Ucapku.
"Ayana sama siapa? Kok sendirian?" Tanyanya.
"Sama..." aku agak bingung menjawabnya. Orang tuaku dan juga orang tua Fahri saling mengenal satu sama lain. Tidak mungkin aku mengatakan pada Fahri aku datang bersama dengan pacarku. "Adik aku." jawabku akhirnya. Tidak salah 'kan? Aku memang datang bersama Asha.
"Oh. Sama Asha apa Anis?" tanyanya.
"Sama Asha." ucapku singkat.
"Oh gitu. Lagi jalan-jalan ya dia. Kasian dong Ayana sendirian. Kang Fahri temenin, ya." ucapnya menawarkan diri. Sepertinya ia masih ingin mengobrol denganku. Aku ingin menolaknya tapi rasanya tidak sopan juga jika mengatakan tidak usah. Akhirnya aku tidak menjawab apapun.
"Ayana, Akang beberapa minggu lalu ke Jakarta loh. Akang sempet berkunjung ke perusahaan real estate di Jakarta. Tadinya pengen ngajakin Ayana ketemu, tapi Akang gak punya nomornya. Boleh gak akang minta nomor kamu lagi soalnya akun Akang yang dulu gak bisa dibuka gitu. Jadi banyak kontak yang hilang."
Aku mencium bau-bau modus dari cara Fahri meminta nomorku. Mengingat dulu ia begitu berambisi dalam mendekatiku, aku jadi sedikit tak nyaman dengan sikapnya ini.
"Nomor aku ya...?" Aku bingung bagaimana cara menolaknya.
"Aya!" Suara Ghiffa begitu menggelegar dari jarak sekitar 10 meter dari tempatku berada. Kedua alisnya menyatu, matanya menatap tajam padaku.
Mati deh. Ghiffa pasti ngamuk. Apalagi Fahri duduk cukup dekat denganku.
Ghiffa berjalan terburu ke arahku dengan kedua tangannya menenteng banyak keresek.
"Siapa ini Ayana?" tanya Fahri saat Ghiffa hampir sampai di dekat kami.
Ghiffa menatap Fahri dengan tajam, seraya menjawab. "Gue cowoknya dia. Lo siapa?!"