
Musa's point of view
Natasha dan juga Musa tiba di villa tempat Ghaza dan Ayana berada. Ghaza berdiri menghadap sang ayah dengan tangan tertaut dan wajah tertunduk.
"Sekarang kamu selain pintar mengelola perusahaan, kamu juga pintar mengelabui ayahmu sendiri." sindir Musa yang duduk di sebuah sofa di ruang tengah villa itu.
Ghaza bungkam. Ia tak menyahut sedikitpun.
"Katakan, apa maksud kamu melakukan konferensi pers itu? Kenapa kamu sampai tampil di muka umum dan mengumumkan bahwa kamu akan menikahi Ayana?" Tanya Musa dengan suara yang dingin menusuk.
Natasha sudah sangat gemas. Ia tidak ingin menunggu lagi. "Katakan dimana Ghiffa?!"
Ghaza sedikit terperanjat. Pasalnya sang ayah, Musa Airlangga yang terhormat, sedang berbicara. Tapi kini Natasha yang biasanya sangat menghindari membuat keributan justru menginterupsi Musa yang sedang sangat marah.
Natasha berjalan ke arah Ghaza dan meraih kerah kemeja yang dikenakannya, "Dimana kamu sembunyikan anak saya?!"
Sontak Ghaza melepaskan tangan Natasha dari kerahnya, "Anda sudah makin berani pada saya rupanya?!" sahut Ghaza geram.
"Ghaza!" Musa meninggikan sedikit nada biacaranya, memperingatkan.
Ghaza kembali terperanjat. Biasanya saat seperti ini sang ayah akan berada di pihaknya dan membelanya, sekalipun ia sedang sangat marah padanya. Tapi kali ini ada apa?
"Jawab pertanyaannya, dimana kamu sembunyikan adik kamu?" titah Musa.
Ghaza total tercengang.
"Kali ini Papa sangat kecewa pada kamu. Papa benar-benar tidak paham mengapa kamu harus bertindak sejauh ini. Kamu sembunyikan Ghiffa, kamu rebut istrinya, dan kamu hancurkan nama baik Airlangga. Apa yang ada di dalam pikiranmu itu? Kemana perginya Alghazali yang selalu berkepala dingin, berwibawa, dan berhati-hati dalam bertindak?"
"Aku gak menghancurkan nama baik Airlangga, Pah! Hanya nama Ghiffa saja!" Sanggah Ghaza. "Dan apa ini? Kenapa Papa seperti berpihak pada mereka?!"
"Apa yang salah jika Papa membela istri dan anak Papa? Kamu mengakui atau tidak, yang publik ketahui Ghiffa adalah adik kamu! Dia menyandang nama Airlangga di belakang namanya. Jika ia terkena skandal, maka itu artinya nama baik Airlangga sudah tercoreng juga. Kamu tidak melihat buah dari perbuatan kamu? Nama Airlangga ada dimana-mana sekarang. Bukan dengan berita bisnis yang memberitakan pencapaian perusahaan seperti biasanya, tapi dengan gosip murahan seperti ini. Kamu sudah membuat papa malu! Dan kamu pikir Papa akan diam saja?"
Kedua manik Ghaza menusuk sang Ayah. Ia tidak terima dengan sikap Musa yang membela sang adik.
"Iya. Papa harus tetap diam." Sahut Ghaza dengan tegasnya, "Karena keadaan akan membaik sebentar lagi. Biarkan Ghiffa di luar negeri, dan biarkan aku menikahi Ayana, dan semuanya akan selesai. Seiring berjalannya waktu publik tidak akan membicarakan kita lagi."
"Apa kamu bilang?!" seloroh Natasha, "Saya tidak akan membiarkannya! Ghiffa akan saya bawa pulang ke Indonesia!"
"Tante," Ghaza mencengkram lengan Natasha kuat-kuat, "Sebaiknya anda diam, atau saya juga akan membuat anda pergi dari keluarga Airlangga!"
Natasha segera melepaskan tangan Ghaza dari lengannya, "Tanpa kamu mengusir saya, saya juga sudah meninggalkan kediaman keluarga Airlangga! Saya bukan lagi istri dari Musa Airlangga!"
"Apa?!" Ghaza terkejut sekali.
Natasha menatap sang putra sambung dengan bengis, "Saya datang kesini untuk membuat perhitungan dengan kamu! Kamu tunggu saja pembalasan saya, kamu yang akan saya hancurkan setelah ini!"
"Pah! Papa akan diam aja melihat perempuan tak tahu diri ini bertingkah?!" bentak Ghaza.
Musa mulai jengah, "Sudah CUKUP!" teriak Musa dengan suara yang menggelegar.
Hati seorang Musa kembali mengalami dilema.
Sering kali ini terjadi, di satu sisi ia merasa harus berada di pihak Ghaza. Tapi di sisi lain, ia juga ingin berada di pihak Natasha dan Ghiffa.
Namun akhirnya ia selalu memutuskan untuk mengambil sisi Ghaza dan membiarkan egonya menang. Ia mengabaikan hati nuraninya sebagai seorang suami dan seorang ayah, kemudian mengorbankan perasaan Natasha dan juga Ghiffa.
Tanpa ia sadari prinsipnya itu justru membuatnya menjadi seorang suami dan ayah yang tidak bertanggung jawab. Ghaza juga menjadi semakin pongah karena selama ini Musa selalu ada di pihaknya dan membiarkannya menindas adiknya sendiri dan ibu sambungnya. Hingga Musa merasa enggan untuk menunjukkan kasih sayangnya pada Ghiffa.
Termasuk dalam hal perusahaan.
Prinsipnya itu sudah membuatnya benar-benar mengenyampingkan hak yang seharusnya diterima oleh Ghiffa.
Padahal hati kecilnya selalu mengatakan Ghiffa juga putranya, ia berhak menerima bagian dari semua aset yang dimilikinya. Namun lagi-lagi, ego dan gengsi kembali menguasainya. Bahkan berulang kalipun Natasha menuntut hak Ghiffa, Musa selalu masih saja dilematis.
Hingga Ghiffa yang sudah mulai beranjak dewasa mulai jengah dan memutuskan untuk melepaskan semuanya. Ghiffa bahkan bersih keras tidak ingin bergantung lagi kepada sang Ayah.
Untungnya Musa menemukan cara untuk sedikitnya menghilangkan rasa bersalahnya terhadap Ghiffa dan tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah untuk menafkahi sang putra yaitu dengan cara membantu Lucas mendirikan kafe itu.
Dia memberikan suntikan dana yang dibutuhkan Lucas untuk memperluas kafe itu dan mengatakan pada Lucas bahwa kafe itu harus berdiri atas nama Ghiffa. Biarkan Ghiffa menjadi pemilik semua itu, berapapun biaya yang dibutuhkan akan ia penuhi.
Lucas menyetujuinya dan untuk berjaga-jaga agar Ghiffa tetap mau menerima uang darinya, Musa berpesan untuk tidak mengatakan apapun pada Ghiffa mengenai campur tangannya itu.
Sebetulnya Musa merasa sangat bersalah karena Ghiffa harus hidup 'sederhana'. Menjadi seorang pemilik kafe dengan omset puluhan hingga ratusan juta rupiah tentu sederhana jika dibanding dengan keuntungan perusahaan raksasa yang dimilikinya. Tapi di sisi lain ia bangga, karena dengan segala kesulitan itu Ghiffa justru tumbuh menjadi anak yang mandiri dan juga bertanggung jawab.
Maka dari itu, saat melihat Ghiffa dengan begitu bahagianya mengumumkan pernikahannya bersama gadis bernama Ayana di saat ulang tahun Ghaza, Musa tidak mempermasalahkannya. Walaupun status sosial Ayana jauh dibawahnya, Musa merasa sangat rela.
Ini justru menjadi satu kesempatan yang sangat dinanti-nantinya karena ia bisa memberikan sesuatu untuk menebus segala rasa bersalahnya.
Maka dengan begitu tulusnya, Musa memberikan restu kepada sang putra untuk menikah, meskipun ia tahu usia Ghiffa masih terlalu muda untuk menjalani kehidupan berumah tangga.
Saat melihat Ghiffa tersenyum bahagia atas restu yang ia berikan, Musa begitu lega. Akhirnya ia bisa memberikan sesuatu yang benar-benar Ghiffa inginkan dalam hidupnya.
Tapi ternyata tidak semudah itu masalahnya selesai. Selera Ghaza dan Ghiffa yang kerap kali sama, selalu menjadi akar permasalahan yang terjadi diantara kedua kakak beradik itu.
Sebetulnya, Musa sudah mengendus sesuatu yang tidak beres pada saat melihat Ayana menceritakan mengenai pernikahannya dengan Ghiffa di tengah-tengah acara ulang tahun Ghaza. Ia bisa melihat, wajah Ghaza kentara sekali terlihat sangat tidak nyaman.
Dan spekulasinya ternyata benar.
Namun kali ini, Musa tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Terlebih setelah Natasha mengatakan bahwa ia ingin bercerai.
Ia sadar, bahwa ia sudah sangat salah dengan selalu mengambil sisi Ghaza selama ini. Ia harus berubah. Ia harus menyelesaikan semua kekacauan yang disebabkannya.
Musa berjalan ke arah Ghaza, tangannya berancang-ancang di udara dan kemudian...
PLAK!
Ghaza menatap tak percaya pada sang ayah, dengan tangan berada di sebelah pipinya yang terasa panas. "Papa... mukul aku?" gumamnya.
"Papa sudah salah dalam mendidik kamu." ujar Musa dengan penuh sesal. "Beritahukan dimana Ghiffa maka Papa akan memaafkan kamu."
Ghaza malah menatap sang ayah dengan dingin, "Nggak. Ghiffa akan tetap di luar negeri! Dia tidak akan pernah kembali kesini!"
"Stop Ghaza! Jangan buat Papa harus mengambil keputusan lebih jauh atas perbuatan kamu ini!" Musa memperingatkan.
Tiba-tiba terdengar suara dari sebuah kamar. Suara pintu yang digedor pelan. Sayup-sayup terdengar, "PAH...Tolong...!" dengan suara yang lemah.
Ghaza segera menghampiri pintu itu, dan membentenginya dengan tubuhnya.
"Ayana ada di dalam?! Sejak kapan?!" Tanya Musa, "Kamu mengurungnya?! Ghaza, kamu benar-benar sudah gila!!"