The Bad Boy And His Nanny

The Bad Boy And His Nanny
Bab 83: Pertama Kali



"Udah dong, Yang. Kamu 'kan bisa pulang lagi nanti." Ghiffa terlihat khawatir karena kini kami sudah di jalan tol pun tangisku tak mau berhenti.


"Sedih banget liat Bapak, Ghif." ucapku sesengkukan.


"Minggu depan pulang lagi ke Lembang mau?" Ghiffa menawarkan.


Aku mengangguk.


"Ya udah sekarang berhenti nangisnya nanti kamu pusing terus sakit kepalanya." Ghiffa mengelus kepalaku karena cemas.


Aku berusaha menguasai emosiku. Ghiffa benar, minggu depan aku masih bisa pulang ke Lembang. Sekarang aku harus mempersiapkan hari-hariku ke depannya karena masalah sudah menungguku.


Beberapa jam kemudian kami sampai di cafe milik Ghiffa. Di depan sudah berdiri seorang laki-laki mungkin usianya sekitar pertengahan 30an. Kedua lengannya dipenuhi tato. Namun wajahnya begitu ramah.


Ghiffa turun dari kursi kemudinya dan membantuku turun dari kursi penumpang. Ia segera membopongku ke arah pintu depan cafe, laki-laki itu menghampiri kami dan mengikuti Ghiffa yang membawaku ke salah satu meja.


"Yang, ini Om Lucas." Pria bernama Lucas itu mengulurkan tangannya dan aku menyambut tangannya.


"Ayana, Om." ucapku.


"Ini yang namanya Aya? Imut banget. Gak nyangka Ghiffa yang sangar bisa takluk sama cewek mungil kayak gini." pujinya. Aku hanya tersenyum menanggapi pria ramah itu.


"Makanya jangan berani macem-macem sama Istri gue, dia yang ngendaliin kadar kesangaran gue sekarang." Ujar Ghiffa.


Apa sih dia sampai mengatakan itu pada Om Lucas.


"Iya bakal gue peringatin anak-anak buat selalu jagain dan hormatin permaisurinya Yang Mulia Alghiffari, ketuanya Centaur Squad." seloroh Om Lucas.


"Ketua?" Mataku mengerjap beberapa kali dan merinding mendengarnya.


"Iya, Yang. Dasar aja anak-anak jadiin aku ketua mereka." Ujarnya seraya menggaruk alisnya.


"Dari awal dia masuk udah keliatan kok kalau dia bakal jadi ketua Centaur Squad yang selanjutnya, Ayana." Ujar Om lucas, "Akhirnya sekarang gue bisa tenang nitipin anak-anak sama lo." Om Lucas menepuk pundak Ghiffa beberapa kali.


"Emang sebelumnya ketuanya siapa?" tanyaku.


"Dewa, Yang."


"Dewa yang kelas 12? Kenapa dia gak jadi ketua lagi?" Aku sempat mengetahui anak kelas 12 yang bernama Dewa itu. Dia sering kali terlibat masalah, hampir seperti Ghiffa namun tidak terlalu sangar dan cenderung lebih sopan kepada guru.


"Iya udah waktunya aja ganti pemimpin." ujarnya singkat tidak ingin membahas hal ini lebih jauh denganku.


Aku menatap Ghiffa khawatir. Apa yang terjadi selama dua minggu aku di tidak berada disini? Setahuku Ketua Centaur Squad biasanya adalah anak-anak yang paling ditakuti di SMA Centauri. Tidak heran juga sebenarnya jika Ghiffa menduduki posisi itu.


Sebelumnya Ghiffa sudah berubah jauh lebih baik. Aku sedikit cemas jika Ghiffa akan kembali seperti dulu. Apalagi dia sekarang adalah suamiku. Ayahku juga sangat khawatir Ghiffa tidak bisa jadi sosok suami yang membimbingku. Ghiffa bersikap sesopan itu saja belum bisa membuat ayahku terkesan, apalagi jika ayahku tahu kalau Ghiffa adalah ketua dari geng anak-anak badung, apa yang akan terjadi?


"Kenapa Yang? Mukanya kok cemberut gitu?" tanya Ghiffa.


"Hah?" Aku tersadar dari lamunanku, "Gak apa-apa."


"Kayaknya istri lo cape. Udah bawa dia istirahat dulu aja." Om lucas menatapku. "Kalau pengen cemilan atau kopi bilang aja sama Om ya."


"Bilang sama Om?" Ghiffa mengulangi ucapan Om Lucas, "So sweet banget sih lo ngomong sama bini gue."


"Protes aja sih lo. Kalau gak ada izin dari gue, lo gak akan bisa kawin, Nj*ng!" Om Lucas pura-pura akan menjitak kepala Ghiffa.


Ghiffa malah tertawa cengengesan menanggapi Om Lucas. Kemudian kami pamit dan Ghiffa membawaku ke rumah Ghiffa, atau rumah kami sekarang, yang terletak di atas markas Centaur Squad.


Ghiffa langsung membawaku ke kamar dan mendudukkanku di tepi tempat tidur di salah satu kamar di rumah itu. Ghiffa segera mengunci pintu dan menghampiriku.


"Di bawah sepi, gak ada anak..."


Rasanya sungguh luar biasa dan terasa berbeda dari sebelumnya, mungkin karena sekarang aku berciuman dengan suamiku sendiri.


Perlahan akupun membalas permainan bibirnya di bibirku. Kedua tanganku meremas rambut hitamnya. Tubuhku berdesir aneh seketika seraya ciuman kami yang semakin dalam.


Ghiffa melepaskan bibirnya beberapa saat dan menatapku dalam-dalam, "I miss you, Baby."


Senyum tipis terkembang di bibirku. Kembali kutautkan bibirku pada bibir Ghiffa. Seketika sensasi aneh yang ku rasakan sebelumnya, terus muncul dan semakin membuncah.


Sebenarnya aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku sempat mempelajari mengenai masa suburku. Dan jika perkiraanku benar, sekarang aku sedang tidak dalam masa subur. Jadi kali ini aku membiarkannya, tak ingin menahannya.


Aku sudah sangat mengenal Ghiffa. Hasr*tnya mudah sekali terbangun. Sekarang aku sudah menjadi istrinya, Ghiffa pasti tidak akan menunggu apapun lagi. Bahkan permintaan ayahku untuk tidak dulu melakukan hubungan itu sepertinya tidak akan terlalu dianggap olehnya. Maka sekarang akanku biarkan suamiku ini untuk menjam*hku sepuas hatinya, menebus dua minggu kami tak bertemu.


Sebetulnya aku begitu gugup. Bagaimanapun ini adalah yang pertama bagiku. Tapi aku tetap harus melakukannya,  tanda bahwa aku menunaikan tugasku sebagai istri.


Di tengah bibirnya yang terus bermain di bibirku, tangannya menggapai kardigan yang aku kenakan dan melepasnya keluar dari kedua tanganku, dan kaos yang aku kenakan ia tarik ke atas hingga terlepas melewati kepalaku. Kemudian Ghiffa meraih kancing celana jeans yang aku kenakan, perlahan menarik turun resletingnya dan menarik celana itu turun dan keluar dari kedua kakiku.


Tangannya meraih kaitan punggungku dan seketika kedua bukitku terbebas dari penahannya. Segitiga yang menutupi inti tubuhku juga tak luput dari lucutannya. Hingga kini tak ada sehelai benangpun yang menempel di tubuhku.


Sungguh aku malu sekali! Sontak kedua tanganku bersilang menutupi bukit kembarku. Namun Ghiffa segera meraih tanganku yang menghalangi pemandangan indah yang sedang dipandangnya.


Tubuhku yang sudah polos ini ditatapnya, setiap inci tanpa terkecuali. "You are so beautiful." lirihnya. Membuat bulu di sekujur tubuhku meremang. Detak jantung dan nafasku terus menderu. Ujung jari-jari Ghiffa mulai menyentuh perlahan leherku, terus ke bawah, ke puncak bukit kembarku, membuat tubuhku merasakan desiran aneh.


Ghiffa kembali menautkan bibirnya di bibirku, perlahan turun ke daguku, dan menjelajahi leherku, inci demi inci hingga tanpa sadar d*sahan lolos begitu saja dari bibirku.


Ku nikmati setiap sentuhan Ghiffa pada tubuhku. Tanganku menelusup, bergerak spontan ke dalam kaos Ghiffa.


Sepertinya hasr*t sudah menguasaiku juga.


Tiba-tiba saja aku begitu ingin menyentuh tubuh suamiku itu. Hingga Ghiffa menghentikan aktivitasnya sejenak dan melepaskan kaos yang digunakannya, juga ripped jeans yang dikenakannya.


Kini tubuh polos Ghiffa terpampang nyata di depan mataku. Aku memfokuskan pandanganku pada wajahnya, tak berani melirik tubuhnya apalagi benda yang berada di bawah sana.


Ia membaringkan tubuhku di tempat tidur dan kembali mencumbuku hingga ke setiap kulitku. Aku terkesiap saat tangan Ghiffa akhirnya menelusup ke bagian inti tubuhku yang telah membanjir.


Ghiffa menatapku dan mengusapkan ibu jarinya pada pipiku, "Kamu siap?"


Aku mengangguk pasrah.


Ghiffa mengucapkan sesuatu di telingaku, seperti sebuah doa. Hingga aku tersadar itu sepertinya doa untuk melakukan hubungan suami-istri.


Tawaku terkembang begitu saja, sangat tidak menyangka Ghiffa sampai mempelajari doa itu.


"Kok ketawa?" tanya Ghiffa heran.


Aku mengatupkan bibirku seraya menggelengkan kepalaku.


"Malah ketawa pas aku berdoa," dumelnya.


"Maaf." cicitku.


"Sebagai hukuman bakal aku bikin kamu gak bisa ketawa buat beberapa menit ke depan." Ujarnya seraya bersiap memulai penyatuan kami.


Kata-katanya membuatku menelan salivaku. Tegang sekali.


"Aku masuk ya. Tahan, katanya yang pertama kali bakal kerasa sakit sedikit. "


Kemudian sesuatu menembus inti tubuhku dengan perlahan, dan...