
"Ayana, tolong kamu distribusikan buku-buku ini ke kelas 11 ya." suara Bu Sinta, Kepala Perpustakaan membuyarkan lamunanku.
"Tidak ada petugas lain yang sedang kosong ya, Bu?" ucapku hati-hati seraya beranjak dari kursi pojok dekat jendela yang sejak tadi aku duduki di perpustakaan SMA Centauri. Aku tahu mungkin ucapanku kurang begitu sopan. Aku hanyalah tenaga pengganti, tapi berani menawar seperti ini. Namun jujur aku sedang sangat tidak mood untuk datang ke ruang kelas 11 karena itu artinya aku akan bertemu dengan Ghiffa.
"Iya, kebutulan yang lain sedang sibuk mendata buku-buku baru untuk kelas 10 yang akan didistribusikan besok. Kamu lagi ada masalah apa? Kok saya perhatikan akhir-akhir ini sering melamun? Biasanya kamu sigap jika saya meminta kamu mengunjungi kelas 11, karena kamu bisa mengawasi Ghiffa dan melaporkannya pada Bu Natasha."
Aku tersenyum kecut, "Gak apa-apa, Bu. Yang saya dengar dari Bu Listia, guru BKnya Ghiffa, Ghiffa sekarang sudah lumayan berubah dari segi sikap. Dia tidak banyak berulah sekarang."
"Oh begitu, bagus kalau begitu. Bu Natasha pasti senang mendengarnya. Ya sudah kamu segera ya ke kelas 11, distribusikan buku-buku ini." perintah Bu Sinta.
Aku mengiyakan sambil dengan malas membawa troli yang berisi buku yang sudah disiapkan. Semenjak kejadian itu, aku dan Ghiffa tidak lagi bertegur sapa. Ghiffa juga tidak lagi bergantung padaku. Bahkan saat akan tidur ia tidak lagi memintaku untuk menemaninya. Ia tidak pernah lagi memarahiku, ataupun protes mengenai apapun. Kami nyaris tidak pernah berbicara lagi.
Rasanya suasana menjadi sangat mencekam setiap kali Ghiffa ada di rumah.
Ini adalah hal yang seharusnya terjadi sejak awal. Aku hanyalah ARTnya. Dia adalah majikanku. Sudah seharusnya seperti itu, di rumah walaupun aku ada, aku hanyalah pelayan yang siap untuk melayani segala kebutuhannya. Tidak lebih dari itu. Jika harus berbicara maka kami hanya perlu berbicara seperlunya.
Yah, logikaku berkata seperti itu.
Tapi hatiku?
Seperti ada lubang besar dan gelap yang menganga di hatiku. Terasa sangat hampa. Aku rindu Ghiffa memarahiku. Aku rindu Ghiffa menggedor kamarku untuk memintaku melakukan sesuatu. Aku rindu menemaninya sebelum ia tidur. Aku rindu berdebat mengenai banyak hal dengannya. Bahkan aku rindu dia merengek padaku, meminta jatah kecupan setiap harinya.
Aku rindu semua tentangnya.
Katakan saja aku sudah gila, tapi itulah yang aku rasakan. Bahkan rasa ini jauh lebih besar aku rasakan dibandingkan dengan yang aku rasakan pada Zayyan.
Hubunganku dengan Zayyan tidak terlalu baik akhir-akhir ini. Kami jarang sekali bertemu di sekolah, karena memang kami sepakat untuk tidak bertegur sapa saat di sekolah. Di luar sekolah pun aku sudah lelah mengajaknya bertemu yang selalu berakhir dengan penolakkannya. Akhirnya kami sering bertengkar akhir-akhir ini.
Pikiran-pikiran negatif bahkan sering kali hinggap di kepalaku. Aku mulai curiga dengannya yang selalu tidak bisa saat aku memintanya untuk bertemu. Kata-kata Belva waktu itu terus terngiang di kepalaku. Sepertinya memang benar Zayyan sebenarnya bukanlah Zayyan. Pikiranku terus berkenala pada kemungkinan-kemungkinan terburuk, bahkan aku sempat berpikir Zayyan memiliki pacar lain selain aku.
Tidak tahulah. Aku benar-benar lelah memikirkannya!
Tanpa sadar aku melamun sambil mendorong troli berisi buku itu, hingga aku kini sudah berada di gedung utama. Aku berjalan menuju lift dan naik ke lantai 3, dimana ruangan kelas 11 berada. Aku hempaskan pikiran-pikiran mengenai Zayyan dan Ghiffa dari pikiranku dan mulai mendistribusikan buku-buku itu ke kelas-kelas, hingga kemudian aku tiba di kelasnya Ghiffa.
Saat itu sedang istirahat makan siang. Aku menyerahkan buku pada Sheila, sie. Literasi di kelas Ghiffa, pandanganku menyapu kelas itu, tanpa sadar mencari keberadaan Ghiffa. Aku melihatnya duduk di bangku paling pojok. Ia sedang tertidur di mejanya dengan lengan sebagai bantalnya.
"Itu Ghiffa 'kan yang lagi tidur? " tanyaku pada Sheila.
"Iya, Bu. Udah beberapa hari ini dia sering tidur kayak gitu. Tidur mulu kerjaannya kadang dari pelajaran pertama sampai terakhir."
"Serius? Kenapa gak dibangunin?"
"Mana ada yang berani bangunin Ghiffa. Guru-guru aja lebih milih buat biarin dia kayak gitu aja, daripada dia bikin masalah. Apalagi akhir-akhir ini kayaknya mood dia lagi jelek banget."
"Emang dia suka bikin masalah kayak gimana?" tanyaku penasaran.
"Duh, Bu. Ghiffa itu luarnya aja ganteng dan tajir. Tapi bu, kalau udah tahu sikapnya cewek-cewek bakal mundur teratur. Dia itu nyebelin parah! Kalau lagi kumat, dia sering tiba-tiba ngajak ribut siapa aja orang yang ngusik dia. Gak cuma siswa, sama guru yang lagi ngajar aja dia berani ngajak debat. Terakhir tuh tadi pagi bu, kita 'kan lagi mapel Sejarah, Pak Jojo itu 'kan killer abis bu. Dia negur Ghiffa yang lagi tidur, dia minta Ghiffa jawab pertanyaan pak Jojo tentang apa yang baru dijelasinnya. Tapi Ghiffa malah balik debat Pak Jojo coba, Bu! Nyolot banget pokoknya. Debatlah mereka sampe jam sejarahnya selesai! Dia harusnya ke ruang BK tadi pas seudah jam istirahat pertama gara-gara itu, tapi dia masih aja tidur. Kata Bu Listia udah biarin aja dia tidur, kalau udah bangun baru suruh dia ke ruang BK."
Baiklah hari ini ada informasi terbaru mengenai Ghiffa. Aku akan mengobrol dengan bu Listia nanti.
Akupun kembali mendorong troliku dan mendistribusikan buku-buku ke semua kelas 11. Hingga aku tiba di kelas Zayyan, kelas terakhir yang aku kunjungi untuk pendistribusian buku ini. Aku sempat bertanya-tanya, karena aku tidak melihat Zayyan sama sekali. Mungkin ia sedang ke toilet atau kantin. Padahal aku ingin melihatnya sebentar saja.
Ya sudahlah, aku mencoba untuk tidak memikirkannya. Akupun berjalan dan memasuki lift, lalu tidak lama kemudian aku sudah kembali berada di lantai 1. Segera aku kembali ke perpustakaan.
Saat keluar dari gedung utama, tiba-tiba aku melihat sosok yang sangat aku kenal, berjalan terburu ke area belakang gedung lapangan basket indoor. Sosok itu adalah Zayyan. Yang membuatku terkejut dan terasa jantungku diremas kuat adalah Zayyan berjalan dengan menggandeng seorang siswi.
Siapa itu? Mengapa Zayyan menggenggam tangannya? Sontak aku mencoba mengikuti mereka.
Di belakang lapangan indoor, ada sebuah gudang yang jarang didatangi oleh penghuni sekolah, disanalah Zayyan dan siswi itu berada sekarang. Mereka terlihat celingukan dengan tangan yang masih menggenggam. Aku berdiri tidak jauh dari sana, mencoba mendengar percakapan keduanya.
"Kenapa sih kita harus sembunyi-sembunyi kayak gini Beb sekarang kalau ketemu?" ucap siswi itu, merajuk pada Zayyan.
"Maaf ya, Beb. Ada sesuatu pokoknya. Aku janji bakal segera beresinnya. Kamu sabar ya."
"Jangan-jangan kamu punya cewek lain ya?!" suara siswi itu meninggi.
"Nggak, Beb. Pacar aku cuma kamu, kok." Zayyan meraih kedua pipi siswi itu, "Percaya sama aku. Kita 'kan udah pacaran hampir setahun. Gak mungkin aku khianatin kamu."
1 tahun?! Zayyan sudah berpacaran dengan siswi itu selama 1 tahun?
Sosok Zayyan yang selama ini selalu aku sanjung karena begitu lembut dalam memperlakukanku, setia, dan baik hati, pupus sudah. Butiran bening mulai menggenang di pelupuk mataku. Sakit rasanya mengetahui kenyataan ini.
Seakan dibubuhi garam pada luka yang baru saja ditorehkannya, kini aku melihat Zayyan mendekatkan wajahnya pada siswi itu dan mencium kening siswi itu, kemudian mereka berpelukan sangat erat.
Zayyan mencium dan memeluk perempuan lain disaat ia tidak pernah sama sekali melakukannya padaku. Ditambah, ini di sekolah. Ia selalu mengatakan di sekolah kami harus berhati-hati. Bahkan saat aku memegang tangannya waktu itu di depan UKS, ia tidak membiarkanku menggenggam tangannya terlalu lama. Ia juga tidak pernah mencoba untuk membawaku diam-diam seperti ini untuk bertemu.
'Kenapa Ga? Apa aku salah mengartikan perasaan kamu yang aku rasakan sangat tulus? Apa semua yang kamu bilang sama aku itu cuma kebohongan? Apa hanya aku yang merasakan ini semua?' batinku mulai membombardir otakku dengan pertanyaan-pertanyaan sejenis.
Dengan tangan gemetar aku merogoh saku celanaku dan mengambil ponselku. Aku mencoba meneleponnya. Berkali-kali. Namun ia tidak mengangkatnya. Bahkan mencoba melihat siapa yang menelepon saja tidak. Ia masih memeluk siswi itu dengan begitu mesranya.
Aku memutuskan untuk pergi, jika panggilan terakhirku ini tidak juga tersambung padanya. Aku tidak ingin membuat keributan di sekolah ini dengan melabrak Zayyan yang tertangkap basah selingkuh di belakangku. Aku tidak ingin ia terkena masalah, lalu beasiswanya dicabut. Aku tidak tega melakukannya.
Aku merutuki diriku sendiri yang masih saja mempedulikannya di saat ia sudah berkhianat padaku seperti ini. Satu yang pasti, setelah ini aku dan Zayyan selesai.
Diabaikan, aku tidak apa-apa. Diselingkuhi? Tidak. Aku tidak bisa. Tak ada alasan untuk mempertahankan sebuah hubungan ketika sudah tidak ada lagi kesetiaan di dalamnya.
"Halo?" Aku tersentak kaget saat tiba-tiba saja panggilanku pada Zayyan tersambung.
"Loh, ini siapa?" tanyaku keheranan.
"Ini Hyuga, Yang. Kenapa? Kok kamu kayak yang bingung?" aku semakin mengerutkan dahiku. Air mata yang sudah membanjiri pipiku aku seka dengan kasar.
Aku melihat ke arah layarku, dan betul, nomor yang sedang tersambung dengan teleponku adalah nomor Zayyan. Suaranya juga suara Zayyan. Tapi mengapa di saat yang sama aku melihat Zayyan berpelukan dengan perempuan lain?