
Tamu undangan diminta hadir pada pukul 18.30, tapi menjelang Maghrib sudah banyak tamu yang berdatangan. Mungkin karena tempatnya agak jauh dari keramaian dan takut tersesat, sehingga saat hari masih terang mereka sudah pada berangkat dari rumah.
"Tamu sudah pada datang, apakah kalian tidak berganti pakaian." tanya Baskara.
"Iya kek, kami juga sudah mempersiapkan baju ganti dari rumah. Nitip si kembar ya kek," kata Dev.
"Ya, pergilah. Kakek yang akan mengawasi cucu-cucu kakek. Gantilah di kamar yang paling ujung. Kamar itu aku persiapkan untuk kalian."
Mendengar perkataan Baskara, Yudha segera merangkul Dev dan mengajaknya ke kamar untuk berganti pakaian.
Malam ini mereka mengenakan baju batik tulis couple. Setelah sekian lama berpakaian longgar semenjak hamil sampai sekarang, Dev mengenakan baju batik dengan model sack dress. Begitu baju melekat di tubuh Dev, pandangan Yudha tidak pernah lepas dari istrinya.
Aturan pola makan dengan nutrisi dan gizi yang di atur oleh ahli gizi, dan pola olahraga stretching, tidak merubah ukuran tubuh Dev. Badannya masih sama seperti saat belum hamil. Namun, karena saat ini Dev masih menyusui, dadanya terlihat lebih kencang dan mont** sehingga memiliki magnet bagi pria yang memandangnya.
"Ada apa, kenapa dari tadi Daddy matanya kemana-mana." tanya Dev yang merasa bingung melihat Yudha yang menatap lekat ke dadanya.
"Hm... kamu tidak merasa kedinginan dengan pakaian seperti itu." Yudha balik bertanya.
"Maksudnya apa, bukankah tadi di rumah, kita sudah sepakat kalau hari ini kita mau pakai batik couple-an. Ayolah, jangan seperti anak kecil." Dev mengingatkan tentang kesepakatan yang telah mereka buat.
"Tapi sepertinya aku berubah pikiran. Kenapa malam ini, badanmu terlihat memiliki se* appeal, dan aku tidak rela tubuh istriku malam ini dipelototi banyak orang." sahut Yudha dengan sifat posesifnya.
"Daddy sayang....., terus malam ini aku harus pakai apa? Jubah, kaftan, atau pakai sarung. Kita tidak persiapan banyak baju sayang. Lagian siapa sih yang berani melirik istri dari seorang Andhi Yudha Baskara," Dev mulai sewot dengan sifat posesif suaminya.
"Sayang..., dengan Vian dan Zidan di sekelilingku apakah orang masih berpikir untuk mendekati ibu-ibu. Tamu kita malam ini kan juga didominasi teman-teman dekat kita, yang kita hampir semua sudah mengenalnya." Dev berusaha memberikan pengertian pada suaminya.
Akhirnya setelah berdebat, Yudha terpaksa mengijinkan Dev mengenakan sack dress berpotongan rendah. Silk scarf ditambahkan sebagai accesories dan penutup lehernya.
********
Banyak tamu yang merasa gemas dengan si kembar identik, dan berusaha untuk menggendongnya. Dev dan Yudha bahkan bisa istirahat tanpa memegang mereka selama acara berlangsung.
"Oh my God...., Cint... kamu kenapa selalu membuatku iri." teriak Sasa yang baru datang dengan didampingi Ivan.
"Jangan keras-keras, apa yang membuatmu iri dariku. Dulu malah aku yang suka iri padamu. Orang tua masih lengkap, uang saku tidak pakai limit, cantik dan banyak lagi yang kamu miliki. Aku bagaikan remahan rengginang jika sedang bersamamu." sahut Dev mengenang jaman mereka masih kuliah.
"Kwkkk... kwkkk, bisa saja kamu Cint. Badanmu sekarang tambah bohay..., seperti Vian dan Zidan tidak pernah hadir dari perut ini." kata Sasa sambil memegang perut Dev.
Sedangkan Ivan segera menjauh, karena pembicaraan kedua sahabat itu seputar topik perempuan.
"Hush...ini kalau pepatah Jawa mengatakan "Jer Basuki Mowo Beyo", yang artinya ada biaya yang harus kita keluarkan untuk mencapai sesuatu. He..he..,"
Kedua sahabat itu tertawa bersama. Sudah lama sepertinya mereka tidak bisa tertawa lepas bersama. Kesibukan masing-masing, yang menghalangi mereka untuk sering bersama.
Dev tiba-tiba melihat eks anggota timnya sewaktu mereka masih di PT. Kalingga. Dev ijin meninggalkan Sasa yang akhirnya bergabung dengan Ivan, dan melangkah menuju ruang depan untuk menemui mereka.
Dev memeluk teman-teman perempuannya satu persatu. Ada Corry, Dewi, dan Sita. Sedangkan pada Bertho dan Koko dia hanya menyalaminya.
"Busyet tambah langsing saja kamu Dev. Setelah melahirkan kamu tidak makan karbo apa." tanya Corry keheranan melihat badan Dev yang semakin bagus.
"Halah... kamu sama saja dengan yang lain Cor. Ini bukti the power of emak-emak, apapun akan dia lakukan agar suaminya tidak berpaling." kata Dev berkelakar.
"ha ..ha...ha...., benar, benar, karena Pelakor selalu di depan ya." sahut Koko.
Sedangkan Bertho hanya senyum menanggapi gurauan teman-temannya.
"Ayok dinikmati makanannya ya, aku akan menemui tamu-tamu yang lain."
Dev meminta ijin pada mereka untuk menemui kolega yang lain. Yudha memberikan isyarat padanya untuk mendekat, karena akan mengenalkannya pada beberapa tim inti PT. Globe Tbk.
"Aduh ini ya Nyonya Andhi Yudha Baskara, imut sekali seperti kedua putranya. Pantesan ada saja alasan pak Yudha kalau diajak keluar sekedar ngopi-ngopi bareng." kata seorang perempuan berusia 40 tahunan.
"Kenalkan saya Dev Ibu, Bapak..," dengan sopan Dev menyalami relasi-relasi Yudha. Setelah mengenalkan diri, Dev meminta ijin untuk berpindah menemui tamu yang lain.
Di pojok dekat drink corner, Dev melihat Bertho berdiri sendiri menatap kosong ke arah tamu-tamu. Merasa tidak enak, Dev menghampiri eks anak buahnya.
"Bertho...,apa yang kamu pikirkan." Dev menepuk bahu Bertho yang sontak mengagetkannya dari lamunan.
"Hai.. Dev, maaf aku tidak melihat kedatanganmu." kata Bertho gugup.
"Tidak perlu sungkan. Bagaimana kabar Icha dan bayi kalian." tanya Dev.
"Mereka baik-baik saja Dev, aku punya rencana untuk mengajak mereka tinggal satu rumah denganku." jawab Bertho lirih.
"Itu bagus Berth, dan memang itu kewajiban kamu sebagai seorang laki-laki dan imam dalam keluarga. Tapi ingat, kamu harus nikahi dulu Icha secara agama. Jika tidak, kamu akan terhitung zina."
Dev mengingatkan kembali pesannya, pada saat dia memutuskan untuk membantu Bertho dan Icha menikah secara hukum dan pemerintah.
"Iya aku mengingatnya Dev. Besok Jum.at jam 10.00, kami sudah meminta ustadz untuk menikahkan kami di masjid Syuha** di Kotabaru." kata Bertho.
"Syukurlah, tapi maaf ya aku tidak bisa hadir. Masih banyak yang akan aku tata dan persiapkan untuk rencanaku ke depan."
"Iya aku mengerti Dev. Kamu dan suamimu sudah banyak membantuku selama ini." ucap Bertho, tapi Dev masih melihat ada permasalahan yang tersirat dari mata Bertho.
"Bertho, jangan khawatirkan tentang rejeki. Semua sudah ditetapkan oleh Sang Maha Memiliki. Bulan depan, Icha ajak untuk menemuiku. Aku ingin mengajaknya untuk bergabung membantuku di PT. Diamond," kata Dev pelan seakan tahu permasalahan yang dihadapi Bertho dan Icha.
Kemudian dia meninggalkan Bertho untuk berkeliling menemui tamu yang hadir. Sedangkan Bertho merasa kaget dan tercengang dengan apa yang baru saja dia dengar. Akhirnya dia bersyukur setelah menyadari semuanya.
********