Married By Incident

Married By Incident
Dua Jagoan



Di luar ruangan bersalin, semua orang menunggu dengan wajah dipenuhi ketegangan. Duduk, berdiri, jalan dengan pikiran kalut dilakukan Yudha berulang-ulang. Semua orang bisa melihat siksaan yang dialami Yudha. Dia tangguh menghadapi apapun, tapi dia akan kesakitan dan tersiksa jika melihat rasa sakit dialami oleh istrinya.


Sedangkan di atas tempat tidur, Dev berjuang dengan dibantu dokter dan perawat. Dia merasakan kesakitan yang luar biasa, yang baru kali ini dia rasakan. Bahkan dia hampir pingsan kehabisan tenaganya.


"Mamaku bisa melalui semua untuk melahirkan aku, aku juga harus bisa melahirkan cucunya dengan selamat di dunia." berpikir perjuangan ibunya dalam melahirkannya, menimbulkan semangatnya baru bagi Dev.


Ketika rasa sakit dan mulas datang lagi, Dev memegang kedua lututnya, dan dengan sekuat tenaga dia mengejan sambil berusaha menahan rasa sakit.


"Ayo Bu Dev...., jangan berhenti mengejan. Ayok terus, ambil nafas keluarkan," dokter terus memandu Dev untuk mengeluarkan bayinya.


"Dokter sepertinya Bu Dev mengalami proses persalinan Anteparthum Haemorraghe atau kalau istilah Jawa Wat Kidang. Itu terbukti kantung ketubannya masih utuh." bisik perawat pada dokter.


"Iya siapkan gunting untuk memecahkan kantungnya, biasanya kepala bayi akan mengikut di belakangnya. Itu biasa terjadi untuk model persalinan seperti ini." sahut dokter.


Dengan cekatan perawat dan dokter bekerja sama, dan setelah memecahkan kantong ketuban dengan gunting, dokter segera menarik kantong tersebut keluar.


"Ayo Bu Dev...sedikit lagi. Aku sudah melihat kepala bayinya, ayok dorong keluar, tahan nafas, lepaskan." seru dokter menyemangati Dev.


Tiba-tiba seperti ada mukjizat, ribuan sakit yang bergabung menjadi satu, yang baru saja dirasakan Dev, semuanya hilang tanpa sisa sedikitpun. Sayup-sayup Dev mendengar tangisan bayi di telinganya.


"Jalur rahim Bu Devina mengalami robek tingkat satu. Segera jahit untuk merapikannya kembali." dokter memberikan perintah pada perawat.


Sesaat kemudian, pintu ruang persalinan terbuka dari dalam. Yudha segera menghambur ke dalam diikuti Pratama dan Baskara.


"Mana keluarga inti ibu Devina," tanya perawat jaga malam.


"Saya kakeknya," jawab Baskara.


"Selamat cucu anda sudah melahirkan dengan selamat baik ibu dan bayinya. Saat ini baru dipotong tali pusarnya."


"Bagaimana istriku, apakah aku boleh menemuinya." Yudha tidak sabar menunggu jawaban langsung merangsek ke dalam menghampiri Dev.


Melihat istrinya penuh dengan keringat, Yudha meneteskan air mata sambil menyeka keringat yang membasahi tubuh istrinya.


"Tenanglah sayang, semua sudah berlalu dan semuanya baik-baik saja." Dev menenangkan Yudha, tapi dia juga tidak menyadari air mata bahagia juga membanjir keluar dari matanya.


"Jangan memelukku sayang, tubuhku kotor banyak darah dan keringat." bisik Dev merasakan pelukan dan ciuman tanpa henti dari suaminya.


"Aku tidak peduli, kamu sudah berjuang hidup dan mati untuk melahirkan anak itu." jawab Yudha yang tanpa merasakan jijik sama sekali, menciumi Dev.


"Mohon maaf mana bapak bayi-bayi ini, siapa yang akan meng adzan ninya?" tiba-tiba perawat mengingatkan hal penting pada mereka.


Dua orang perawat datang menghampiri mereka dengan membawa bayi di tangan masing-masing. Semua terkejut termasuk Dev melihat dua bayi mirip dan lucu yang diantarkan perawat.


"Bayi-bayi ini?" Yudha terkejut dan menunjuk ke arah bayi itu satu persatu.


"Iya pak, selamat ya. Ibu Dev sudah melahirkan dua bayi kembar yang lucu-lucu. Tapi bapak ini agak aneh, kebanyakan orang melahirkan, yang dicari adalah bayinya, tapi bapak malah mencari ibu dan melupakan bayinya." kata perawat mengucapkan selamat dan juga meledeknya.


Baskara segera mendatangi Yudha, kemudian mengangkat kedua lengan cucunya.


"Tolong letakkan bayi-bayi masing-masing disini mbak." Baskara mengarahkan perawat untuk menaruh bayi di masing-masing lengan Yudha.


Yudha kebingungan merasakan kulit lembut yang diletakkan di kedua lengannya. Dia belum menyadari bahwa statusnya hari ini sudah berubah menjadi seorang ayah, dan besar tanggung jawab untuk menjaga mereka ke depannya.


Dengan suara serak dan gemetar, Yudha melantunkan adzan dan Iqamah di telinga kedua bayi itu. Semua orang di ruangan merinding dan meneteskan air mata haru.


Setelah semuanya, perawat mengambil kembali kedua bayi untuk dimandikan.


"Untuk plasentanya bagaimana bapak, mau dibersihkan disini atau di rumah." tanya perawat.


"Saya kuburkan di rumah saja mbak, tolong siapkan." sahut Baskara.


"Yudha, kamu temani Dev. Kakek akan mengurus plasenta anak-anakmu. Pratama... pulang dan istirahatlah nak. Kamu juga seharian belum istirahat, biar mereka saat ini dijaga pengawal-pengawal di luar." Baskara membuat pengaturan, kemudian keluar untuk mengurus plasenta bayi.


Pratama berjalan menghampiri Dev dan Yudha.


"Selamat Nyonya Muda, anda luar biasa menjadikan saya seorang uncle sekaligus dengan dua ponakan lucu. Saya sudah tidak sabar untuk mengajari mereka ilmu bela diri." kata Pratama mengucapkan selamat sambil bergurau.


"Selamat juga Tuan Muda, atas amanah baru yang jauh lebih berat daripada menjalankan perusahaan. Saya ijin pulang duluan." Pratama juga mengungkapkan selamat pada Yudha.


Yudha langsung berdiri kemudian memeluk erat Pratama sebentar kemudian melepaskannya kembali.


"Terima kasih saudaraku atas semua pengertian dan pengorbananmu." ucap Yudha terharu.


Pratama tidak menjawab, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


"Daddy...., badanku lengket dan bau. Menyingkirkan, aku saja tidak taha dengan bau badanku sendiri." kata Dev berusaha meminta suaminya menjauh.


"Tunggulah sebentar aku akan membantumu membersihkan badan." Yudha segera meninggalkan Dev keluar ruangan.


Tidak berapa lama Yudha sudah kembali membawa baskom yang berisi air hangat, dan washlap. Kemudian dia meletakkan baskom diatas kursi, dan setelah mengunci pintu dia bermaksud membersihkan keringat dan darah yang masih menempel di tubuh Dev.


Dengan penuh kelembutan, Yudha menggosok tubuh Dev dengan menggunakan washlap. Setelah selesai dia kembali memakaikan baju ganti pada istrinya. Dengan penuh kasih sayang, Yudha memberikan ciuman dalam di dahi istrinya.


"Kamu pasti lelah, ayo istirahatlah. Aku akan menjagamu disini." kata Yudha.


"Aku mau Daddy disisiku. Ayo istirahat bersama-sama." kata Dev meminta Yudha untuk ikut istirahat bersamanya. Dia tidak tega melihat suaminya yang lebih tersiksa batinnya menunggu proses persalinan.


"Aku khawatir akan menyenggol lukamu." ucap Yudha.


"Aku tidak apa-apa sayang, aku sudah sembuh, jahitan dua di jalur lahir ada di dalam. Jangan khawatir kamu akan menyenggolnya, kecuali kalau kamu sudah tidak sabar untuk segera menengoknya." sahut Dev menggoda suaminya, meskipun akhirnya berakhir dia sendiri yang memerah pipinya.


Tanpa banyak bicara, Yudha langsung menempatkan dirinya di samping Dev. Kemudian dia memeluk Dev dari samping, dan tidak lama keduanya tertidur.


Dua perawat yang memasuki kamar Dev dan bermaksud membersihkan pasien, terkejut melihat pasiennya sudah bersih dan tidur dengan nyaman di pelukan suaminya.


"Pasangan yang aneh, bayinya dicuekin, malah ibunya yang diurus." bisik salah satu perawat.


"Hush...jangan keras-keras, kamu tidak tahu apa bagaimana tatapan dia kemaren yang hampir bisa membunuh orang." sahut satunya lagi.


"Tapi so... sweet banget. Aku mau kalau masih ada stock pria yang seperti itu."


Akhirnya kedua perawat itu kembai ke ruang jaga.


********