
Yudha menurunkan Dev tepat di depan gedung kantor yang biasa digunakan untuk menurunkan direksi atau tamu-tamu perusahaan. Dev sudah meminta Yudha untuk menurunkan di depan gerbang, tapi suaminya tidak mengijinkan.
Security perusahaan dengan sigap bergegas membukakan pintu Porsche Cayman, dan dengan ramah menyapa Dev. Mereka bersikap hormat kepada Dev. Dev tidak tahu jika mereka diberikan uang kopi oleh Pratama untuk mengawasi dan menjaga keamanan istri bossnya.
"Aku kerja dulu ya Yudh." pamit Dev dan menyalami Yudha sambil mencium tangannya.
"Ya hati-hati, jaga diri baik-baik"
Setelah memastikan istrinya masuk gedung kantor, Yudha menjalankan mobilnya.
"Selamat pagi Icha..." seperti biasanya Dev menyapa petugas receptions.
"Selamat pagi Dev..., aduh bahagianya yang sudah menaklukkan isi dunia," jawab Icha dengan ekspresi yang agak dingin.
"Harus donk, semangat pagi." sahut Dev sambil mengangkat dan mengepalkan tangannya.
Dev tidak menyadari sikap sinis yang ditunjukkan Icha. Dia selalu cuek easy going menanggapi setiap stimulus dari lingkungannya. Apalagi suasana hati Dev setelah kebersamaan dengan suaminya, sangat bagus sehingga hal-hal kecil tidak dia pedulikan.
Sesampainya di ruangan, Dev sedikit terkejut karena semua rekan kerja satu timnya sudah datang hanya dia yang datang belakangan. Tanpa ada kecurigaan, Dev menyapa rekan-rekannya.
"Pagi semua....ada angin apa ini rekan-rekan ku yang kece pagi ini sudah siap bertempur semua." seru Dev.
Melihat kedatangan Dev, Koko langsung menarik tangan dan membawanya ke ruang diskusi kemudian mendudukkan Dev di kursi. Rekan-rekan setimnya semua ikut duduk di ruang diskusi. Dengan tatapan bingung Dev melihat keanehan rekan-rekannya pagi ini.
"Ini aku mau diapakan. Bisa habis kita kalau pak Gunawan tahu, pagi-pagi bukannya langsung aktivitas malahan ngajak rumpi." protes Dev.
"Jelaskan pada kami Dev, biar jelas duduk perkaranya." ucap Bertho.
"Iya Dev, jadi kalau ada yang membicarakan mu di belakang, kita bisa melakukan klarifikasi." sahut Ocha.
"Sebentar... sebentar... ini menjelaskan apa, klarifikasi masalah apa." tanya Dev bingung.
"Kamu belum tahu?"
"Satu gedung ini dari kemaren sore membicarakan mu, kemana aja kamu Dev. Punya ponsel itu dimanfaatkan, jangan hanya dipakai teleponan doank." sahut Ocha kesal.
Kemudian Dev mengambil ponsel dari dalam tasnya, kemudian membuka WhatsApp grup. Matanya tiba-tiba terbelalak membaca diskusi para karyawan memojokkannya. Ada yang mengatakan penampilannya sesuai dengan tingkah lakunya. Setelah merayu putra investor, dengan mudah berganti ke laki-laki lain.
Yang lebih mengejutkan lagi, ada unggahan rekaman CCTV yang memperlihatkan Dev sedang berpelukan dan dicium keningnya oleh Yudha di lobby.
"Mati aku, kenapa kemaren aku tidak terpikirkan jika di kantor semua terkoneksi oleh CCTV." batin Dev dengan memerah pipinya.
Tapi kemudian dia mengambil nafas panjang, dan berpikir bagaimana dia bisa terlepas dari rasa ingin tahu teman-temannya.
"Sudah dibaca Dev, sekarang bagaimana penjelasanmu." kepo Koko.
Dev tersenyum malu kemudian memutuskan untuk menjelaskan kepada rekan-rekannya.
"Tidak ada yang perlu aku klarifikasi rekan-rekan."
"Aku wanita lajang, sama seperti kalian yang lajang kan suatu saat akan mencari pasangan."
"Laki-laki di dalam rekanan CCTV itu juga pria lajang, bukan pasangan orang lain. Wajar kan kalau kami menjalin satu kedekatan, apakah ada larangan untuk itu." jelasnya sambil tersenyum.
"Aku tidak pernah peduli dengan privacy kalian, kalian mau pacaran, mau ciuman atau mau apa saja, aku tidak pernah mau tahu dan peduli selama mereka tidak menyinggungku."
"Tapi Dev..., sepertinya itu bukan Dev yang aku kenal." sahut Rissa.
"Ini masih aku Devina Renata teman-teman."
"Setiap apa yang aku lakukan, aku sudah pasti akan mempertimbangkan terlebih dahulu. Dampak positif maupun dampak negatifnya. Yang penting kalian percaya padaku."
Rekan-rekannya terdiam, dalam hati mereka membenarkan perkataan Dev.
"Aku tidak pernah merayu Tuan Wijaya. Kalian bisa melihat kan, apakah aku terlihat sedang merayu dia."
"Tidak sih, tapi melihat ekspresi marahnya saat kamu berpelukan dengan laki-laki itu,." sahut Ocha.
"Ocha..., tuan Wijaya memang sudah dua kali mendekatiku dan selalu berusaha untuk mengantarku pulang. Dan kebetulan pasanganku selalu memergoki. Yah, untuk menghentikan Wijaya terus mendekati aku maka pasanganku melakukan semua itu."
"Sudah ya penjelasannya, Ayuk kerja...kerja..." Dev beranjak dari kursi menuju kubiknya.
Seperti biasa, dia kembali fokus pada tugas dan tanggung jawabnya tanpa mempedulikan omongan yang berseliweran menyudutkannya.
******
"Jum.at malam Minggu depan, penandatanganan perjanjian kerjasama akan segera kita agendakan Dev. Bapak harap kamu segera memberikan jawaban atas tawaran kemaren." pak Gunawan memanggil Dev untuk datang ke ruangan Direksi.
"Seperti sudah saya sampaikan kemaren pa Gun, mohon maaf saya tidak bersedia Bapak." jawab Dev.
"Kenapa Dev, apakah karena pak Wijaya."
Dev menatap pak Gunawan. Dengan penuh kearifan beliau mengangguk kemudian berbicara.
"Bapak ini orang tua Dev, bapak tahu jika pak Wijaya itu menaruh hati padamu. Bapak tidak akan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan kantor. Semua harus dipisahkan secara profesional."
"Putra yang akan ditempatkan sebagai salah satu Direksi di perusahaan ini oleh Tuan Hendarto bukan pak Wijaya, tetapi putrinya. Maka kita memutuskan, kamu yang akan menjadi Kepala Divisi sehingga sesama perempuan lebih mudah untuk berkolaborasi." pak Gunawan menjelaskan dengan hati-hati.
"Bolehkah saya menyela Bapak." Dev bermaksud memotong perkataan pak Gunawan.
"Sebenarnya bukan Pak Wijaya sebagai alasan bagi saya untuk menolak tawaran promosi ini Bapak."
"Saya bekerja karena saya cinta dan sangat menyukai pekerjaan ini. Jika saya naik pada posisi tersebut, maka waktu saya akan banyak tersita untuk mengelola itu semua."
Saya ingin memiliki waktu untuk diri saya sendiri Bapak." jawab Dev tegas.
"Apakah karena laki-laki itu Dev," tanya pak Gunawan tersenyum.
Dev menganggukkan kepala, kemudian menatap pak Gunawan.
"Bapak tahu siapa laki-laki itu Dev."
"Tidak ada para pelaku usaha di kota ini yang tidak mengenal Andhi Yudha Baskara. Seorang pengusaha muda yang bertangan dingin, arogan, dan tidak segan menunjukkan kekuasaannya." ucap pak Gunawan.
"Melihat pak Yudha bisa impulsif melakukan padamu di depan umum, saya sebagai orang tua bisa menyimpulkan bagaimana perasaannya padamu."
"Pak Yudha ingin menunjukkan status kepemilikannya pada pak Wijaya. Saya dapat memahami itu."
"Bapak tidak marah, karena saya teman-teman di perusahaan ini jadi heboh membicarakan saya di belakang." Dev berkata dengan suara lirih.
"Itu privacy kamu dan pak Yudha Dev. Bapak tidak akan marah."
"Teman-teman di perusahaan ini mungkin hanya terkejut. Dev yang biasanya cuek, tidak peduli, tidak pernah ada kabar kedekatan menjalin hubungan dengan laki-laki, tiba-tiba bertindak seperti itu di tempat umum."
"Apalagi laki-laki yang menjadi pasangan adalah laki-laki yang diimpikan semua wanita di kota ini untuk menjadi pasangannya."
"Terimakasih pak Gunawan atas pengertian Bapak." Dev kembali menghaturkan terima kasih kepada atasannya.
"Baiklah Dev, saya rasa cukup. Kembalilah ke ruangan."
"Baik pak, Dev permisi. Selamat siang."
Dev meninggalkan ruang Direksi, dan kembali menyelesaikan semua tugas-tugasnya.
*****