
"Apa tujuanmu melecehkan tamu wanita di kamar mandi." security mengintrogasi Andre di ruang keamanan.
"Melihat penampilanmu, kamu bukan orang yang tidak memiliki uang untuk menyewa wanita penghibur dan membawanya ke ranjang." sahut security satunya.
Andre tetap terdiam dan hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong. Dia tidak memiliki keinginan untuk membela dirinya sama sekali. Hari ini dia hanya ingin menemui Dev, mengajaknya bicara, dan memberi jawaban atas banyak pertanyaan yang telah disiapkan di kepalanya. Pertemuannya tidak sengaja dengan Reno dan Sasa seperti memberikan pukulan telak di ulu hatinya.
#Flashback On
"Andre, berhentilah mengejar Dev, kamu tidak pantas untuknya." ucap Sasa memperingatkan untuk tidak kembali mendekati Dev
"Dev saat ini sudah bahagia dengan suami yang sangat menyayanginya." Reno menambahkan.
"Harusnya aku yang memiliki kesempatan besar untuk mendekati Dev, menyembuhkan dan memenangkan hatinya untukku. Tapi aku adalah laki-laki, yang siap mengalah untuk kebahagiaan wanita yang aku sayangi."
"Hati Dev terlalu suci untuk diberikan kepada laki-laki bejat sepertimu."
"Suami???," Andre tersenyum sinis mendengar mereka menyebut kata suami.
"Siapa suaminya, rumahnya, identitasnya?Kalian tidak tahu dan tidak mengenalnya bukan? Aku tidak mudah dibohongi seperti kalian semua. Aku tidak bodoh."
"Kalau Dev memang wanita yang sudah bersuami, untuk apa dia menutup indentitasnya. Dev tidak akan dengan mudahnya melupakan aku, dia akan kembali padaku." ucap Andre dengan penuh percaya diri.
"Bohong atau tidak, itu bukan urusanmu lagi Andre. Aku hanya memintamu untuk pergi menjauhinya. Tahu dirilah kamu Ndre, Dev tidak akan menerima bekas orang lain." Reno berbicara keras dan menyadarkan kondisi Andre saat ini.
"Kenapa aku merasa tidak mengenalmu lagi Ndre. Kita bersahabat bertahun-tahun lamanya. Tetapi mengapa kamu berubah menjadi orang yang menakutkan ku." kata Sasa sedih melihat sahabatnya sari SMA.
"Sa.. mengertilah. Aku yakin kamu memahami aku Sa."
"Aku menyayangi, mencintai Dev sepenuh hati dengan segenap jiwaku. Bahkan dari dulu aku selalu memberi tahumu hanya Dev yang akan mendampingi aku sebagai istri dari anak-anak kita nanti."
"Tapi apakah kamu tidak sadar kalau kamu telah mengkhianatinya, kamu berjanji tetapi kamu sendiri yang sudah membatalkan janji itu."
"Pengkhianatan mu telah melukainya Ndre. Hingga akhirnya Dev mengambil keputusan singkat menikah dengan seseorang yang belum jelas asal-usulnya." ucap Sasa sedih.
Sampai saat ini Sasa belum mengetahui identitas diri suami Dev sahabatnya. Dia dan Reno berpikir sendiri tentang suami sahabatnya. Melihat kemegahan dan kekayaan yang dimilikinya, mereka berpikir sahabatnya menikahi pengusaha yang sudah berumur dan bahkan mungkin bisa menjadi istri kedua.
"Untuk itu Sa, aku tidak ingin mengorbankan perasaan wanita yang kucintai. Aku akan membawanya kembali Sa. Aku berjanji akan menebus semua perlakuanku padanya. Tolong bantu bantu Sa," Andre memohon pada Sasa.
Bahkan dia sudah tidak mempedulikan harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Sasa dan Reno tidak memberikan jawaban, dan malah pergi meninggalkannya.
#Flashback off
"Bagaimana keadaannya, apakah sudah diketahui motif pelecehan yang dia lakukan." tanya kepala keamanan hotel pada anak buahnya.
"Belum mau berbicara pak pelakunya, sepertinya dia sedang tertekan."
"Atau kita serahkan ke kantor polisi."
"Jangan dulu, kalau polisi sampai tahu, tidak akan baik untuk nama baik hotel kita. Kita akan dituduh tidak memberikan perlindungan pada tamu hotel."
"Siap pak."
"Tring...tring...," tiba-tiba ponsel Andre berbunyi.
"Selamat malam,"
Selamat malam, ini siapa? Kenapa ponsel tunanganku bisa ada padamu." terdengar suara perempuan.
"Kebetulan, kamu mengenal dekat dengan tersangka. Silakan urus tunangan anda di ruangan keamanan hotel sekarang. Tersangka tidak bersedia bekerja sama dari tadi." tegas security kemudian menutup panggilan telepon.
*****
Pratama dengan muka tegang menahan emosi mendatangi ruang keamanan hotel. Mengingat kondisi istri Yudha hatinya ikut merasa sakit, dia kembali ingat wajah polos adiknya. Di tengah selasar hotel, Pratama berpapasan dengan Yudha. Dia mengetahui tujuan bossnya kemudian menghadangnya agar kembali menemani Dev.
"Boss, kenapa Nyonya Muda ditinggal sendirian di kamar."
"Biar saya yang menyelesaikan urusan ini, akan sangat berbahaya bagi kredibilitas bos dan Nyonya Muda kalau wartawan sampai tahu berita ini,"
"Saya yang akan bertindak boss, temani Nyonya Muda saja di kamar."
Akhirnya Yudha menerima tawaran Pratama, kemudian melangkahkan kakinya ke batik corner di depan lobby hotel. Setelah memilihkan baju untuk dikenakan Dev sementara, Yudha kembali ke kamar hotel. Dia membenarkan ucapan Pratama, saat ini istrinya lebih membutuhkan perhatiannya.
*****
"Berani kamu menyentuh Nyonya Muda seujung kuku saja, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi mu." ancam Pratama sambil mencengkeram leher Andre.
Andre tetap diam dan menatap mata Pratama dengan tajam.
"Identitas apa yang dimiliki suami Dev," Andre bertanya dalam hati.
Melihat tidak ada respon dari Andre, Pratama melayangkan pukulan ke wajah Andre. Luka pukulan Yudha yang tadi belum mengering, saat ini ditambahi dengan pukulan Pratama. Seperti yang terjadi di toilet, Andre tidak mengelak dan membalasnya.
"Aaaaaa, hentikan jangan pukuli tunanganku." terdengar teriakan suara perempuan dari belakang Pratama.
Pratama menarik tangannya kembali, kemudian dengan garang menatap perempuan di belakangnya. Terlihat Donna Putri pak Hendarto bercucuran air mata melihat keadaan Andre.
"Kamu urus dia, atau aku yang akan menyeretnya ke kantor polisi."
"Dan sekali lagi aku peringatkan kamu, jangan berani lagi mendekati Nyonya Muda. Jika kamu mendekatinya, aku tidak segan-segan untuk menghabisi bahkan menghilangkan nyawamu." ancam Pratama.
"Aku akan melaporkan penganiayaan ini ke kantor polisi. Apakah kamu tidak tahu siapa aku." teriak Donna menantang Pratama.
"Siapa kamu bagiku tidaklah penting. Silakan hubungi pihak kepolisian, aku tidak perlu capai-capai menjebloskan laki-laki bejat ini ke penjara." kata Pratama sambil berjalan meninggalkan mereka.
Donna menangisi keadaan Andre, kemudian menelpon kakaknya Wijaya untuk membawa Andre ke rumah sakit. Donna meminta penjelasan dan keterangan dari pihak keamanan hotel, karena Andre hanya terdiam tidak mau memberikan keterangan apapun. Donna sangat terpukul mendengar cerita perbuatan Andre dari penuturan petugas keamanan. Setelah Donna menandatangani surat pernyataan atas nama Andre, pihak keamanan hotel bersedia melepaskan Andre.
Sesaat kemudian Wijaya datang dan menemui mereka.
"Apa yang terjadi dengan Andre, Don," tanya Wijaya melihat penampilan berantakan calon adik iparnya. Donna hanya diam tidak mau menjawab pertanyaan dari kakaknya. Pilihan diam saat ini adalah keputusan yang terbaik, karena dia juga memahami karakter keras yang dimiliki kakaknya.
Wijaya sangat menyayangi Donna adik satu-satunya, dan dia juga tahu kalau adiknya sangat mencintai Andre. Tanpa banyak bicara, Wijaya kemudian memapah Andre dan segera membawanya ke mobil. Donna tertunduk lesu dan mengikuti kakaknya ke mobil.
Mereka terdiam di dalam mobil, Wijaya fokus pada kemudi dan melajukan mobilnya menuju IGD rumah sakit. Sedangkan Donna kemudian mengambil ponselnya, kemudian melakukan panggilan kepada pak Gunawan untuk mengkondisikan mobilnya yang terparkir di hotel.
*****