Married By Incident

Married By Incident
Aqiqah



Acara aqiqah Aileen putri keluarga Dev dan Yudha dipersiapkan dengan sangat megah. Tenda mewah berdiri di halaman Gallery hadiah ulang tahun Dev dari kakek Baskara, dengan didominasi warna putih dengan rumbai soft pink. Di depan ada stage yang dipersiapkan untuk duduk keluarga Yudha, dan dilengkapi dengan keranjang bayi untuk tidur Aileen.


"Nha.., tambah imut kan opa? Ini titipan dari Tiara untuk cucan kita Aileen." Sonya dengan senyum cerah memasangkan bando dari kain yang lucu ke atas kepala Aileen.


"Apa Oma bilang barusan..., Cucan??? Apa itu?" tanya Burhanuddin yang mendampinginya istrinya memangku Aileen. Dev sedang bersiap berdandan di kamarnya, dan tampak beberapa orang sudah mempersiapkan diri mereka.


"Ih opa..., biar sudah punya cucu 3, ya harus update dong. Biar bisa mengikuti pembicaraan cucu kita nantinya. Itu akronim pa.. Cucu Cantik."


"Ma.., ternyata rumah kak Dev banyak ya? Disini enak, udaranya segar dan tidak bising. Lihat dari balik tenda itu ma.., puncak gunung Merapi terlihat jelas. Bagus banget ma." Rendra mengagumi rumah kakaknya.


"Iya ini.. hadiah dari kakek buyutnya Aileen Om Rendra.. untuk kakakmu Dev." Burhanuddin menanggapi perkataan putra ketiganya.


"Om Rendra..., temani Zidan mau? Zidan mau ambil kepik mas di pinggir sana, tapi kata Mommy harus ada temannya. Tidak boleh hanya dengan Vian sendiri." Zidan tiba-tiba mengajak Rendra menemaninya.


"Apa perginya sama opa saja, mau?" tanya Burhanuddin sambil mengelus kepala cucunya.


"Opa disini saja menemani Aileen dan Oma. Kami maunya sama Om Rendra."


"Ya sudah.., sana temani keponakanmu Rendra! Mereka maunya sama kamu, tidak mau ditemani dengan yang tua."


"Ayok.., dimana tempatnya? Om belum tahu.." Rendra menggandeng kedua putra Dev, satu di tangan kanan dan satunya di tangan kiri.


"Rendra..., jangan lama-lama ya pergi mainnya, beberapa tamu sudah pada datang. Siapa tahu acara sudah akan dimulai." Sonya berpesan pada Rendra.


"Iya ma.., ini ga banyak tangkapnya. Yang penting mereka sudah dapat saja."


Melihat Dev dan Yudha sudah berada di stage, Burhanuddin dan Sonya segera menghampiri mereka.


"Sudah mau dimulai acaranya nak Yudha?"


"Iya pa.., tapi Pratama baru mengatur penjemputan anak-anak yatim dari pondok pesantren. Ada dua pondok pesantren yang belum datang perwakilan mereka. Nanti papa sama Mama duduk di sebelah sini ya, sambil ikut menjaga si twins." Yudha menjawab pertanyaan papa mertuanya.


"Rendra kemana ma, kok tidak kelihatan?" tanya Dev.


"Baru menemani Vian sama Zidan, katanya mencari binatang kepik atau apa tadi. Mama malah lupa.'


"Iya kepik mas ma.., yang biasa menempel di tanaman krangkong. Seringnya di pinggir sawah hidupnya. Ma.. Aileen ditidurkan di keranjang bayi saja, lagi tidur kan?"


"Tidak apa-apa Dev, mama gendong saja dulu. Mama bingung mau membantu apa, semuanya sudah ada yang mengaturnya."


"Ya sudah.., tapi jangan capai-capai ya ma. Dev tinggal ke dalam dulu ya sebentar."


"Iya nak."


Dev kembali masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Yudha berjalan ke depan menyapa para ustadz penanggung jawab santri yatim, yang membawa santri-santrinya kesini.


Di dekat meja penerima tamu, sedang mengobrol Kakek Baskara dan Andrew sambil duduk. Di belakangnya ada Bianca dan Reno yang memang sudah menyiapkan untuk datang di acara ini. Reno sengaja tetap berada di kota ini sambil menemani istrinya, karena mereka segera ingin memiliki buah hati seperti pasangan Dev dan Yudha.


****************


Tangis kebahagiaan banyak menetes dari mata para tamu, saat ustadz dan para santri membacakan doa setelah acara pemotongan rambut dan pemberian nama untuk Aileen. Keluarga inti dan teman akrab mendapatkan kesempatan untuk melakukan acara tahalul dan meniup Aileen, dan untungnya selama acara, Aileen tertidur. Jadi acara bisa berjalan dengan lancar.


"Tama..., mana Kinan, kok aku belum melihatnya dari tadi?" Dev menanyakan istrinya Pratama.


"Maaf Nyonya Muda.. Kinan sedang hamil muda, jadi suka mual kalau ketemu orang banyak. Tuh.., dia lagi menyendiri di teras paviliun." jawab Pratama sambil menunjuk ke arah teras.


"Iyakah? Sudah berapa bulan usia kehamilannya?"


"Meskipun susah, ya tetap harus dipaksa. Kinan diajak ke dalam saja, kasihan. Biar dia istirahat saja di kamar."


"Baik Nyonya Muda.., terima kasih atas perhatiannya."


Dev dengan digandeng Yudha, berkeliling menyapa para kolega yang hadir. Karena khawatir kecapaian, selesai acara pengajian, Aileen langsung dibawa masuk oleh baby sitter.


"Bianca.., Reno... terimakasih. Kalian datang juga akhirnya kesini." Dev mencium pipi kiri dan kanan Bianca, sedangkan Yudha menyalami Reno.


"Pasti dong..., masak keponakan aku diadakan acara, aunty sama uncle tidak datang. He .he..he.."


"Kemana Om Andrew? Tadi sepertinya aku lihat dari stage."


"Keluar tadi sama Pak Baskara. Sepertinya ke arah luar, tadi sekilas aku lihat."


"Biarkan saja, jika dua sahabat itu sudah ketemu. Kita masuk juga ga akan nyambung."


"Bianca.., Reno.. ayo kalian makan! Aku mau menyapa tamu-tamu yang lain. Jika kamu lelah Bia, atau rencana mau honeymoon.. di belakang banyak kamar kosong." bisik Dev di telinga Bianca.


"Siappp Dev..., biar suamimu iri ya.. Ha..ha..ha ., masih forbidden kan?" sahut Reno.


Yudha tersenyum kemudian menggandeng tangan istrinya, kemudian berpindah gantian menyapa tamu yang lain. Setelah menyapa para tamu, Dev mengajak Yudha menghampiri para santri.


"Hai .. terima kasih ya atas doanya untuk putra putri Tante." Dev menyapa mereka, sambil melambaikan tangannya.


"Kami juga sangat berterima kasih dengan pak Yudha dan keluarga, karena Bapak ini menjadi donatur tetap pada pondok pesantren kami Ibu." ustadz penanggung jawab menjawab sapaan Dev.


"Itu sudah menjadi kewajiban kami pak Ustadz. Mari lho.. santri-santrinya diajak menikmati hidangan ala kadarnya pak."


"Sudah pada kekenyangan mereka, ya maklum pak, tidak setiap hari mereka di pondok bisa makan seperti ini."


"Ah pak ustadz bisa saja bicaranya. Semua makanan itu sama pak, yang penting rasa syukur kita akan Rizki selalu kita tanamkan."


"Iya Bu Dev.., anda benar."


"Ya sudah.. dibuat nyaman ya pak. Nanti jika sudah merasa capai, langsung menghubungi Pratama saja. Biar dikondisikan."


"Siap pak Yudha, Bu Dev . sekali lagi terima kasih."


Setelah capai berkeliling dan menyapa para tamu, Yudha dan Dev kembali ke arah depan.


"Daddy.., Mommy... Zidan sudah capai. Boleh masuk ke dalam?" Zidan dan Vian langsung memeluk mereka.


"Boleh.., tapi betul-betul istirahat lho ya. Jangan main PS atau game dulu, tidak sopan!" pesan Dev.


"Kalau ke pinggir sawah boleh Momm? Belum puas, tadi sama Om Rendra cari kepiknya."


"Boleh.., tapi ingat jangan jauh-jauh."


"Baik terima kasih Mommy, Daddy. Ayo Om Rendra temani kami!"


Yudha tersenyum melihat keakraban putra-putranya dengan adik Dev yang paling bungsu.


*************