Married By Incident

Married By Incident
Menerbangkanmu



Dev berjalan perlahan meninggalkan ruang kubiknya setelah mengirimkan pesan kepada pak Sholeh untuk menjemput. Dia ingin segera sampai di rumah sebelum suaminya pulang, sehingga bisa menyambutnya. Di depan pintu ruangan, Jay sudah berdiri dengan kedua tangan berada di dalam sakunya. Sepertinya Jay sengaja menunggu kepulangannya.


"Dev... langsung pulang atau masih ada acara yang lain." tanya Jay.


"Mr. Jay..., sekarang aku akan langsung pulang ke rumah, jadi mohon jangan menggangguku ya.'


"Masak hanya basa basi bertanya saja tidak diperbolehkan Dev,"


"Tolong jaga reputasiku di kantor. Aku tidak mau menjadi bahan gunjingan, dipikir mereka aku merayumu." bisik Dev sambil memelototi Jay.


"He...he... saya pikir kamu itu cuek tidak peduli sekitarmu Dev. Ternyata kamu masih peduli dengan reputasi." ledek Jay.


"Jangan khawatirkan itu, mereka tidak akan berani membicarakan kamu di belakang. Kan kita hanya berbicara, meskipun berdua, kita berada di ruang publik bukan sengaja mencari tempat yang sepi."


"Aku antar pulang ya." Jay tetap bersikukuh berusaha mendekati Dev.


"Aku sudah dijemput sopir Jay, dan aku harus tepat waktu sampai di rumah. Please ...tolong jangan ganggu aku ya." pinta Dev sambil berjalan meninggalkan Jay, dan tidak mempedulikannya lagi.


Tetapi bukan Wijaya namanya kalau langsung berbalik arah. Meskipun dibiarkan Dev, dia tetap membarengi langkah Dev menuju keluar perusahaan.


****


Sesampainya di lobby Dev terpana melihat wajah tampan dengan rahangnya yang tegas sedang menyambutnya dengan senyuman manis. Tanpa memberi kabar sebelumnya, Yudha memberikan surprise menunggu Dev di lobby dengan sabarnya, tanpa melihat statusnya sebagai seorang CEO PT.Globe .Tbk. Aura kesombongan dan kekuasaan seakan menghilang darinya setelah melihat wajah cerah istrinya.


#Flash back


"Boss, barusan saya mendapat telepon dari security PT. Kalingga." Pratama melaporkan berita yang baru diterimanya dari security tempat Dev bekerja."


Untuk memudahkan pengawasan, Pratama membayar security PT. Kalingga untuk memberikan informasi tentang keamanan istri bossnya.


Yudha seketika menghentikan aktivitasnya, dan beralih mendengarkan Pratama.


'Laki-laki yang waktu malam di ****lake Resort bermaksud untuk mengantar Nyonya Muda pulang, dari pagi ada di kantor tempat Nyonya Muda bekerja boss." Pratama menjelaskan.


"Wijaya anak Hendarto maksudmu." jawab Yudha dan seketika mukanya tampak kesal.


"Mungkin boss, saya tidak tahu namanya."


"Ok, hubungi pak Sholeh, hari ini aku yang akan menjemput istriku di kantor." perintah Yudha cepat.


Pukul 15.00 Yudha langsung meninggalkan perusahaan menuju tempat Dev bekerja. Dia rela menunggu lama di lobby, karena tidak mau ada laki-laki yang mencoba mendekati istrinya.


*****


"Kamu ada disini? Kenapa tidak memberi tahu kalau akan menjemput." Dev menghampiri suaminya kemudian menyalami dan tidak lupa mencium tangan.


Yudha seketika menyambut istrinya, kemudian memegang bahunya dan memberikan ciuman di kening Dev. Sontak Dev bermaksud mendorong suaminya karena dia masih sadar saat ini mereka ada di lobby kantor. Teman-teman di tempat Dev bekerja belum ada yang mengetahui jika temannya itu sudah menikah. Membaca gelagat istrinya, Yudha malah memeluk erat Dev dengan menatap penuh ejekan kepada Jay.


"Dimana pak Sholeh."


"Pak Sholeh sedang tidak enak badan, tadi menghubungi Pratama memberi tahu kalau sore ini tidak dapat menjemputmu."


"Mana mungkin pak Sholeh berani menghubungi asistenmu yang ga punya hati itu. Bilang aja kalau ini modus kalian berdua." gerutu Dev manyun.


Yudha tertawa gemas melihat bibir manyun istrinya, andai mereka di rumah atau di mobil sudah habis bibir menggemaskan itu.


Jay terkejut dan terpana menatap interaksi mereka dengan muka merah menahan emosi. Sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya, Dev yang judes dan terkesan cuek bisa memberikan suguhan kemesraan dengan laki-laki di depan matanya.


Tak berapa lama.


"Maaf Jay aku sampai mengabaikanmu. Sampai sini saja ya ngantarnya, kebetulan aku sudah dijemput." kata Dev malu.


"Ok no matter. Hati-hati ya Dev, banyak laki-laki saat ini yang suka mengambil kesempatan." jawabnya sambil melirik Yudha.


Yudha tersenyum angkuh sambil tetap merangkul pundak istrinya. Sesekali dia mencium kening istrinya. Kemudian mereka meninggalkan Jay di lobby, melangkah menuju mobil


*****


Di dalam mobil, Yudha tetap menggenggam tangan istrinya.


"Kenapa kamu kekanak-kanakan Yudh hari ini." protes Dev pada suaminya.


"Lho harusnya kamu bahagia dong sayang, suamimu yang sibuk ini masih meluangkan waktu untuk menjemputmu."


"Tapi Khan kita sudah berjanji, kita tidak akan mempublikasikan pernikahan kita sebelum aku memberi tahu papaku bahwa kita sudah menikah."


"Tapi kapan waktu itu akan datang Dev."


"Aku tidak akan sedikitpun membiarkan laki-laki lain memiliki niat lebih mendekati istriku."


"Tunggu sebentar lagi Yudh. Dua Minggu lagi adalah hari meninggalnya mamaku."


"Nanti kita akan menemui papaku setelah aku mengenalkan kamu pada mama," kata Dev sedih karena tiba-tiba mengingat mamanya yang telah tiada.


"Baiklah tidak usah bersedih. Aku akan meminta Pratama untuk mengatur semuanya, sehingga kita tinggal berangkat."


"Dev,..., aku bahagia bersamamu." tiba-tiba Yudha menarik kepala Dev dan mendekapnya.


Kemudian dia memberikan kecupan mesra di kening Dev, dan seperti biasanya kecupan itu menjalar ke seluruh wajah Dev. Terakhir bibir Yudha sudah mengeksplorasi bibir Dev, hingga istrinya kehabisan nafas. Selain bibir, tangan Yudha ikut bergerak mencoba menjelajah di bagian tubuh Dev yang lainnya.


"Yudh...., sudah kondisikan tanganmu. Ingat kita berada di dalam mobil, aku tidak mau tiba-tiba ada Satpol PP datang menangkap kita." Dev melarang Yudha untuk bertindak lebih jauh.


Yudha tertawa geli membayangkan mereka berdua di bawa ke Satpol PP untuk diadili dan dimintai keterangan.


"Ha.ha..ha.., tapi aku pingin sekali-kali mencobanya Dev. Kita berdua diarak ke kantor Satpol PP, tanpa mereka tahu bahwa kita pasangan suami istri."


"Ga lucu, sudah Ayuk jalankan mobilnya."


"Ha...ha..ha..., istriku tambah cantik dan menggemaskan kalau sedang ngambek." Yudha semakin keras tertawa, sambil membawa mobilnya melesat di jalanan.


"Pelan-pelan Yudh bawa mobilnya. Kita bisa terbang." seru Dev.


"Aku ingin segera sampai di rumah sayang. Aku baru horny. Sekarang terbang pakai mobil dulu, sebentar lagi aku akan menerbangkan mu." teriaknya sambil tertawa.


"Dasar mesum, piktor, pikiran kotor."


"Tapi mesumku halal sayang. Dan aku hanya bisa mesum dan berpikiran kotor kalau dekat denganmu."


"Semua yang ada di dirimu, membuatku ingin selalu memakanmu." Yudha tambah ngelantur tidak jelas bicaranya.


Sedangkan Dev hanya tersipu malu dan menutup kedua telinganya agar tidak mendengar ocehan suaminya. Yudha semakin tertawa keras melihat penampilan istrinya yang selalu tampak imut di matanya. Hasrat warisan purba Yudha mulai meronta-ronta untuk berlari keluar.


*****