Married By Incident

Married By Incident
4 Laki-laki Tangguh



"Bia...., kamu jahat banget ya sama aku. Bisa-bisanya kamu menutupi jika Sasa sudah menikah dengan Ivan?" Dev menyemprot Bianca begitu dia kembali ke kantor pada sore harinya.


"Hadeh Dev, sorry banget. Jujur Dev, aku kelupaan ngasih tahu kamu. Kalo pas hari H nya sih, aku taat sama suamiku Reno. Dia pesan sama aku, belum boleh ngasih tahu ke kamu Dev. khawatirnya kamu langsung terbang lagi ke Australia. Kemarin kan si twins masih kecil banget." dengan muka bersalah, Bianca meminta maaf pada Dev.


"Kok kamu sudah tahu Dev, darimana informasinya kamu dapat?"


Dev heran dengan pertanyaan Bianca, karena barusan dia ketemu dengan Reno. Kok Bianca bertanya seperti itu, padahal Reno bilang, tadi malam baru sampai di kota ini, apakah Reno tidak pulang ke rumah, atau Bianca yang sengaja merahasiakannya.


"Kok kamu malah bengong Dev? What happend?" tanya Bianca heran.


Dev langsung duduk di samping Bianca, niat untuk memarahinya tiba-tiba hilang karena ekspresinya yang tampak tidak tahu apa-apa.


"Bianca, please be honest, tell me everything!" Dev meminta Bianca bercerita padanya dengan jujur, apa yang dialami dalam rumah tangganya dengan Reno.


"Kamu bicara apa De, aku harus jujur tentang apa? Lagian yang bertanya kan aku, kenapa sekarang malahan kamu yang interogasi aku sih?"


"Ada apa yang terjadi dengan rumah tanggamu Bia? Tolong ceritakan padaku, semoga kita bisa memikirkan solusi bersama-sama!" Naura langsung to the point menanyakannya pada Bianca.


Bianca tampak terkejut, kenapa tiba-tiba Dev menanyakan hal tersebut. Bianca terdiam, air mata tiba-tiba menggenang di kelopak matanya. Dev membiarkannya, kemudian memeluk erat tubuh rekan kerjanya itu. Setelah beberapa lama, mereka berpelukan, Dev mengambil tissue dan menghapus air mata Bianca.


"Kami baru pisah ranjang Dev, maaf aku tidak bisa dan sampai hati menambah masalah padamu."


"What your mean Bianca? What's the matter between you two, have a good talk?" Dev menanyakan permasalahan apa yang sedang menimpa mereka, dan meminta mereka membicarakan dengan baik-baik.


Bianca menganggukkan kepala, kemudian dengan terisak dia kembali berbicara pada Naura.


"Reno lebih mengutamakan keluarganya daripada aku Dev, aku belum bisa menerimanya. Dia sering meninggalkan aku sendiri di kota ini, padahal harusnya dia juga menyadari jika aku berada disini sendiri. Papa lebih sering berada di Jakarta dan ke luar negeri. Aku merasa diduakan."


Dev mengambil nafas, kemudian sambil memegang kedua bahu Bianca, dia berbicara.


"Bianca, berumah tangga itu bukan hanya menyatukan antara kita dengan pasangan kita, Tetapi bahkan keluarga inti, maupun keluarga jauh ikut kita satukan. Reno merupakan laki-laki, dan laki-laki selamanya adalah milik ibunya, Tetapi bukan berarti pula, Reno kemudian mengabaikanmu sayang. Coba nanti aku bicara dengan Reno."


Bianca memandang mata Dev, dan melihat Dev tersenyum.


"Jadi pelan-pelan kamu harus mencoba untuk memaklumi hal tersebut. Dan juga perlu kamu ingat Bia, saat ini Reno masih memiliki tanggung jawab mengembalikan dana yang diinvestasikan Yudha untuknya. Aku yakin, bukan maksud Reno mengabaikan kamu, kesampingkan rasa egois dan ingin memiliki Reno secara utuh sayang." tambah Dev lagi.


"Darimana kamu tahu apa yang aku alami Dev? Apakah Reno bercerita padamu?" tanya Bianca pelan.


Dev menggelengkan kepalanya.


"Reno tidak bercerita padaku Bia. Bahkan barusan aku ketemuan dengan Reno dan Sasa di **bon Ndalem Resto, Reno pun menutupi ada masalah apa antara kalian berdua. Tetapi saat kamu tidak tahu jika anak itu sudah berada di kota ini dari semalem, aku curiga ada masalah diantara kalian berdua."


"Reno sudah pulang?" tanya Bianca sambil memandang ke arah Dev.


"Iya, temuilah dia Bia! Bicarakan masalah kalian dengan baik-baik, tidak perlu kamu merasa malu dan ragu. Itu jika kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga kalian, aku tidak boleh campur tangan banyak untuk urusan kalian."


"Aku akan mencobanya Dev, tapi tolong jangan tinggalkan aku ya! Tetap dampingi aku, aku jujur belum mengenal Reno dengan baik, tidak seperti kamu yang sudah sangat mengenalnya dengan dekat."


"Yakinlah Bianca, Tuhan akan membantumu."


 


**********************************


 


Ketika membuka pintu, Dev terkejut melihat suaminya Yudha sedang berbaring di sofa dalam ruang kerjanya. Perlahan dia berjalan menghampiri Yudha, dia meletakkan telapak tangannya di muka Yudha untuk mengetahui suaminya tidur atau tidak. Tetapi dengan cepat, Yudha memegang tangannya kemudian menarik Dev dan mendudukannya di pangkuan.


"Main kemana saja Momm, hampir satu jam suamimu ini tertidur menunggu istrinya yang dolan pada jam kantor." kata Yudha sambil memberikan ciuman ke bibir Dev.


"Dari ruangan Bianca Daddy sayang, tapi sebelumnya dari **bon Dalem sih, ketemu Sasa, Ivan dna Reno."


"Sudah datang itu Reno? Katanya terakhir dengar kabar dari Om Andrew, dia ada di Australia meninggalkan Bianca sendiri disini."


"Wow.., hebat. Ternyata Daddy sekarang sudah mulai ngrumpi ya, Mommy saja barusan tahu dan dapat cerita dari Bianca."


"Hush.., kehebatan Daddy itu hanya untuk Mommy seorang. Mau bukti sekarang?" kata Yudha dengan senyum Smirk.


"Oh tidak perlu sayang. Mommy 1000% percaya kok, suami siapa dulu dong? Pasti hebat, kan suami Devina Renata. he...he...he..."


Yudha memeluk Dv, kemudian dia mulai bercerita.


"Jangan sepelekan perasaan orang tua. Om Andrew cerita sama kakek Baskara, saat Yudha menemani mereka makan malam. Bianca sendiri tidak mau cerita sama Om, tetapi yah mungkin perasaan Om Andrew yang tajam, dia curiga ada masalah dalam kehidupan rumah tangga putrinya."


"Kok Daddy tidak cerita sama Mommy? Kalau tahu dari awal, kan tidak sampai berlarut-larut seperti ini."


"Untuk apa cerita, malahan menambah beban pikiran istriku sayang. Istriku sudah cukup pusing dengan mengurusi 4 laki-laki tangguh di rumah, masih mikirkan perusahaan juga."


"Tapi boleh kan Dadd, jika Dev membantu menyatukan mereka kembali? Bianca sepertinya belum bisa memaknai pernikahan sebenarnya, karena tadi meskipun Dev tidak berjanji mau membantu mereka, tetapi Bianca sempat minta tolong untuk membantu mereka."


"Boleh, tetapi ingat jangan sampai istriku ini memiliki tambahan beban pikiran. Ingat adik si twins yang ada di rahimmu, itu tujuan utama pikiranmu saat ini."


"Terima kasih sayang untuk pengertiannya." dengan cepat Dev memberi hadiah ciuman lembut di bibir Yudha.


"Sayang, mau disini atau di rumah saja?" tanya Yudha sambil senyum-senyum.


Dengan sigap, Dev melepaskan diri dari suaminya, kemudian segera membereskan meja kerjanya. Yudha tertawa kecil melihat tingkah lucu istrinya. Akhirnya dia berdiri, membantu istrinya bersiap-siap pulang. Setelah beres, tanpa rasa canggung, Yudha berjalan keluar sambil merangkul Dev di pinggangnya. Beberapa karyawan yang melihat sikap intim keduanya, tersenyum kemudian berbisik-bisik.


 


 


***********************************