Married By Incident

Married By Incident
No Pacaran



"Mau tetap disini sampai besok, pulang ke rumah, atau jalan-jalan sayang," Yudha bertanya dengan suara lirih kepada Dev.


"Sebentar Yudh..., lagi mager." kata Dev lesu.


Saat ini Dev sedang meletakkan kepala di dada Yudha, sambil tangan kanannya merangkul tubuh suaminya. Tangan kanan Yudha merangkul tubuh istrinya sambil sesekali mengelus kepala Dev. Kejadian semalam betul-betul menguras energinya. Membayangkan kebesaran hati suaminya saat menyelamatkannya dari kegilaan Andre, menjadikan rasa sayang Dev kepada Yudha semakin bertambah.


Tiba-tiba Dev memiliki ide gila untuk membalas perawatan yang diberikan suaminya. Tanpa basa-basi jari jemari Dev tiba-tiba memainkan benjolan kecil hitam kemerahan di dada Yudha. Secara perlahan telapak tangan Dev digosokkan di benjolan kecil itu naik turun untuk membangkitkan suaminya.


Yudha yang pada dasarnya memiliki banyak warisan kekayaan manusia purba yang terpendam di tubuhnya, hanya memejamkan mata menikmati setiap tarian tangan istrinya. Matanya mulai berkabut, tetapi dia tetap tidak bergeming untuk membalas Dev. Tidak puas hanya memainkan jari-jarinya, Dev tiba-tiba naik ke atas tubuh Yudha. Bibirnya berlarian naik turun menikmati setiap potongan roti kotak di tubuh Yudha, dan sang pemilik hanya bisa memejamkan matanya.


Surprise akhir sangat mengejutkan keduanya, saat sang Business woman menjadi leader memimpin pertemuan dengan melakukan hentakan di atasnya.


Melihat Dev terkulai lemas di sampingnya, Yudha tersenyum puas meskipun pagi ini menjadi objek permainan istrinya. Perlahan Yudha beranjak meninggalkan ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Tangannya menyalakan kran, dan mengisi bath up dengan air hangat. Setelah merasakan suhu hangat yang pas dengan tangannya, Yudha melangkah keluar dan menghampiri Dev di atas ranjang.


Menggunakan satu tangan, dengan sigap, Yudha menarik selimut yang membungkus tubuh istrinya dan melemparkannya ke lantai. Setelah memberikan kecupan singkat di kening Dev, Yudha mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di dalam bath up.


Dengan penuh kelembutan, Yudha memandikan istrinya. Dev selalu pasrah dan menikmati semua perlakuan Yudha terhadapnya.


*****


Setelah satu jam berlalu, pasangan suami istri itu menikmati sarapan pagi di restoran. Yudha membuka-buka surat kabar Ke******an **k*at untuk mencari berita bisnis, sedangkan Dev menikmati pancake dengan lelehan sirup maple. Tiba-tiba Dev teringat akan ponselnya.


"Yudh.., dari semalem aku ga pegang ponselku. Kamu lihat tidak, karena ponselnya aku matikan karena semalem aku mau fokus pada acara."


Yudha tidak menjawab tapi mengulurkan tasnya. Dev menerima tas kemudian membukanya, dan matanya berbinar melihat ponselnya disimpan oleh suaminya.


Dev menekan tombol ponselnya untuk menghidupkan power, dan begitu ponsel menyala suara nada getar tidak berhenti.


Yudha menaruh surat kabarnya kemudian memperhatikan istrinya.


"Ribuan pesan masuk ke chattmu, tidak perlu dibaca. Clear chat semua yang tidak perlu." ucap Yudha khawatir kalau pesan-pesan yang masuk mengingatkan Dev akan kejadian semalam.


"Iya aku tahu," jawab Dev.


"Kita jadi pulang atau nambah semalam disini sayang," tanya Yudha.


"Pulang aja Yudh, aku capek." sahut Dev asal.


"Memangnya kalau di rumah kamu tidak capek ya, jangan khawatir nanti gantian aku pemimpinnya." ucap Yudha sambil senyum-senyum.


Dev baru sadar akan pikiran ngelantur suaminya, pipinya bersemu merah, dan berakhir dengan mencubit pinggang Yudha. Melihat tatapan dari sekitarnya, Dev baru sadar kalau dia berada di tempat umum, kemudian dia menarik tangan suaminya untuk mengajak pulang.


******


"tring....tring...," ponsel Dev tiba-tiba berdering. Dev menggulirkan notifikasi tanda terima panggilan WhatsApp grup masuk.


"Haiiii team selamat siang," Dev menyapa teman-temannya dan ternyata empat orang teman kantornya sudah join di panggilan bersama.


"Sampai pegel aku nulis chat di WhatsApp di read aja gak sampe sekarang, kemana aja kamu Dev," ucap Icha.


"Sama boooo, aku juga," Cory ikut menimpali.


"Mungkin kalo ponselku bisa ngomong, aku dah dimarahi karena dial terus, tapi hanya dijawab mesin "nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif," kata Koko.


"Berarti cuman aku donk ya no action," kata Bertho.


Dev tersenyum manis melihat wajah segar teman-teman yang semalam dia tinggalkan.


"Sorry ya semalem, aku ada urusan mendadak, ga sempet pamitan lagi," ucap Dev merasa bersalah dengan teman-temannya.


"Waktu aku pergi, gimana acaranya, lancar?"


"Lancar donk, kan ada Koko," kata Koko sambil menepuk dadanya.


"Dev..., semalem ada mas-mas ganteng ninggal kartu nama dia maksa bawa clutch punyamu."


"Aku dah berusaha minta bantuan security hotel untuk menghentikannya, tapi sialan... security tidak mau menangkapnya, malah ramah sama dia Semprul kan." kata Icha.


"Ga pa pa, aku memang minta tolong Pratama untuk mengambilkan."


Dev tersenyum sendiri membayangkan Pratama pusing di keroyok empat orang.


"Dia siapa Dev? pacarmu apa, dia assistant manager di PT. Globe Tbk." tanya Cory.


"Bukan, dia temanku."


"Tapi kenapa dia menyebutmu sebagai Nyonya Muda?"


"Dev .., jawab aku jujur ya. Kamu menikahi Tuan-tuan kaya tapi sudah tua ya?" tanya Bertho.


"Ha....ha...ha...," Dev tertawa ngakak mendengar pertanyaan polos Bertho.


"Kok malah ketawa sih Dev, menurut hematku sih daripada kamu menikahi atasan si ganteng itu, ya Pratama namanya yang sudah tua, buncit walaupun kaya, mendingan kamu menikahi asistennya." kata Cory polos.


Mendengar omongan teman-temannya, Dev terus tertawa sampai perutnya sakit. Yudha melihat sekilas istrinya, dia ikut tersenyum kemudian mengambil air mineral di sisi kanannya. Kemudian dia membuka segel botol dan menyodorkan kepada Dev.


"Minumlah dulu, kurangi tertawanya nanti kamu tersedak." ucap Yudha lembut.


Mendengar suara lembut laki-laki di samping Dev, teman-temannya menjadi semakin heboh.


"Dev... siapa yang ada di sampingmu yang barusan memberimu air minum." kepo Koko.


"So sweet....kalau masih ada stock yang sama, sisihkan untukku Dev," kata Icha.


"Di sampingku ada suamiku yang buncit, tua, gendut dan keriput." kata Dev sambil terus tertawa.


Yudha yang duduk di sampingnya ikut tertawa mendengar jawaban istrinya.


"Ayolah Dev .. tunjukkan wajah pacarmu." desak Cory.


"Teman-teman aku tidak punya pacar, tapi aku punyanya suami. Kelamaan pacaran, banyak mengundang setan, banyak dosa. Makanya langsung saja menikah, ga perlu pacaran," ucap Dev.


"Yah, terserah apa sebutannya Dev, jangan bikin kami jadi arwah penasaran yang selalu menghantuiku selamanya." kata Icha.


Dev mengitarkan video ke sekeliling mobil, sambil bergaya nge-vlog.


"Guys... saat ini aku Devina Renata baru melakukan perjalanan dengan orang paling tampan sedunia meskipun tua, buncit dan keriput. Orang tampan ini adalah suamiku guys.. jangan pernah mencoba untuk merebutnya dari sisiku."


Dev melakukan zoom ke wajah suaminya, perutnya dan diakhiri dengan tertawa ngakak.


Video call yang tadi ribut dengan ledekan dan candaan tiba-tiba menjadi hening seketika. Mereka sangat terkejut dan terkesima melihat wajah tampan yang muncul di layar ponselnya, wajah CEO yang menjadi incaran para sosialita.


"Kok jadi bengong kalian semua." tanya Dev heran.


"Dev.., sampaikan permohonan maaf kami pada suamimu ya Dev...besok Senin kita harus bicara. Aku leave dulu, bye see u." Icha langsung leave dari video call, kemudian diikuti dengan teman-temannya yang lain.


*****