Married By Incident

Married By Incident
Rasa Puas



Tidak terasa usia kehamilan Dev sudah memasuki tujuh bulan. Pagi itu Dev bersandar di dada Yudha. Dia memandang suaminya dalam jarak dekat dan tersenyum penuh kasih. Laki-laki yang saat datang padanya dengan tawaran pernikahan semu itu, tidak pernah dibayangkannya akan betul-betul menjadi laki-laki pilihan hidupnya. Saat ini menjelma menjadi sosok suami yang sempurna di matanya. Pria yang dinikahinya selalu ada untuk menjaga dan melindunginya kapanpun tanpa dia minta.


"Kenapa tersenyum sendiri sayang." tanya Yudha meletakkan dokumen yang dibacanya, dan beralih memperhatikan istrinya.


"Bukan apa-apa, aku hanya teringat waktu pertama suamiku mengajakku untuk melakukan transaksional pernikahan." kata Dev dengan memandang ke dalam mata suaminya secara langsung dan dekat.


",Apa yang diingat istriku tentang diriku saat itu," tanyanya lembut kemudian menundukkan wajahnya dan memberikan ciuman yang dalam di keningnya.


"Aku hanya mengingat seorang laki-laki yang sombong, berkuasa, dan pemaksa wanita." sahut Dev.


"Saat ini, bagaimana kamu melihatku," tanya Yudha dengan mata menyipit.


Dev tidak menjawab, tapi tangannya diangkat dan diletakkan di belakang kepala suaminya. Dengan pelan, Dev menekan kepala suaminya ke bawah mendekat ke wajahnya, dan tanpa dapat diduga oleh Yudha. Dev menanamkan ciuman dalam pada bibir suaminya. Yudha kaget melihat keagresifan istrinya, karena jarang dia melihat Dev memiliki inisiatif lebih dahulu.


Secara alami naluriah, Yudha mengikuti flow dari ciuman yang diberikan istrinya. Dia tidak mau melepaskannya, bahkan menginginkan sesuatu yang lebih dan lebih dalam lagi. Pembalasan memang lebih bermakna daripada tidak membalas.


Tangan Yudha tanpa disadari Dev sudah masuk ke dalam bajunya, dan dengan lembut mengangkat piyama untuk wanita hamil.yang dia kenakan. Tangan Yudha dengan lembut mengusap punggung istrinya naik dan turun, dan tanpa sadar Dev menikmati setiap rasa yang muncul dari elusan tangan itu.


Dev juga tidak dapat mengingat, sejak kapan rasa itu ada. Setiap tangan Yudha melintasi bagian tubuhnya, dia akan merasakan sesuatu yang gatal, rasa yang kuat, dan rasa berdebar-debar seperti biasanya.


"Aduh," tiba-tiba Dev merasakan tendangan kecil di perutnya. Yudha langsung tersentak mendengar teriakan lirih istrinya.


"Ada apa sayang, apakah si kecil membuat dirimu tidak nyaman." dengan rasa khawatir Yudha meletakkan telapak tangannya di perut Dev.


"Tidak apa-apa, putramu hanya ingin memberikan salam pada Daddy nya." ucap Dev lirih.


Hai jagoan Daddy.., sedang apa di dalam..," katanya sambil menaruh telinga di perut ga Dev. Tangannya tidak henti-hentinya melakukan gerakan naik turun di atas perut.


"Hemmm..., Tuan Yudha yang terhormat, apakah telapak tangannya tidak tahu jalan pulang," kata Dev yang mulai merasakan, tangan yang mengusap perutnya sekarang hanya fokus mengusap dan mengeksplor di satu tempat.


"Wow..., dia mengajakku berjabat tangan sayang, dan sepertinya jagoanku hari ini ingin bertemu dengan Daddy". jawab Yudha tersenyum dan pura-pura tidak mendengarkan Dev.


Kemudian tanpa banyak kata, Yudha duduk tegak, kemudian melepaskan kancing piyama dan melemparkannya ke lantai. Pipi Dev memerah, ketika melihat pemandangan dada bidang dengan roti sobek yang terbuka di depannya. Dengan lembut dan hati-hati Yudha melepaskan piyama yang ada di tubuh Dev, dan membuangnya ke samping.


"Aku akan menengok putra kita sayang." bisik Yudha terdengar seksi di telinga Dev. Semua pengekangan di tubuh Dev tiba-tiba semuanya mengendur, dan dia tidak berdaya menghadapi setiap elusanan, sentuhan lembut suaminya. Tanpa disadari, Dev tersenyum dan menghela nafas merasakan satu kepuasan.


Ya, Dev sangat menyukai pria ini, dan bahkan sangat sangat mencintainya, meskipun kata cinta tidak pernah muncul dari bibir mungilnya. Dengan hati-hati Yudha mulai menggabungkan bagian terdalamnya dengan bagian Dev dengan penuh kelembutan. Meskipun Yudha merasakan ingin memiliki dan menelan seutuhnya, tapi kekhawatiran akan menyakiti istrinya selalu menjadi pengingat batasannya. Akhirnya setelah beberapa waktu berlalu, mereka merasakan kepuasan bersama.


Setelah selesai aktivitas pagi bersama, Dev berbaring lemah kelelahan di pelukan Yudha. Perlahan dia kembali menaruh kepala di dada suaminya, dan penuh kasih Yudha mengusap kepalanya.


"Aturan dari Kemenaker aku bisa ambil cuti saat usia kandunganku delapan bulan. Tapi aku ingin ambil cuti mepet di belakang, sehingga akan lebih lama bagiku menghabiskan waktu di rumah dengan bayiku." jawab Dev menjelaskan.


"Baiklah, tapi kamu harus ekstra hati-hati menjaga kondisi tubuhmu, jangan sampai kamu kelelahan."


"Apakah aku juga perlu menjaga tubuhku agar tidak lelah, dengan menolak aktivitas barusan." kata Dev menggoda suaminya.


" Kalau aktivitas barusan itu bukan kelelahan sayang, tapi kepuasan, apalagi saat ini, aku perlu mengenalkan diri dan menyapa putraku di dalam sana" bisiknya dengan senyum smirk.


Dev hanya bisa mengelus dada berusaha memaklumi akal bulus dan modusnya Yudha.


"Tidak perlu banyak berpikir, ayo bersihkan tubuh. Aku akan membantumu untuk memandikanmu." kata Yudha mengakhiri obrolan pagi mereka.


********


Sementara itu, di bagian lain kota ini, di dalam sebuah kamar. Bukman dan Tiara seperti pasangan suami istri, tanpa memiliki rasa malu terlihat sedang berdua di atas ranjang.


"Bang..., aku tidak dapat menunggu lagim Aku ingin segera dapat membalaskan rasa sakit hatiku." kata Tiara sambil menggelendot manja di atas tubuh Bukman. Bukman menekankan ke bawah tubuh Tiara ke tubuhnya sendiri.


"Iya aku tahu, aku juga baru memikirkan cara untuk bisa membawanya pergi. Tapi pengawal-pengawal itu sedikitpun tidak lengah mengawasinya." Bukman menarik nafas dan terlihat berpikir.


"Tapi, apakah aku masih harus menunggu. Aku harus segera melihat penderitaannya, untuk membalaskan rasa sakit mamaku." ucap Tiara dengan tatap kemarahan.


"Ada cara yang halus, tapi aku khawatir akan dapat berakibat fatal." kata Bukman tiba-tiba.


"Bahkan resiko terparah adalah bayi yang dikandungnya akan bisa terbunuh." lanjut Bukman.


"Apalagi yang kamu tunggu. Eksekusi secepatnya, aku tidak akan pernah merasa puas, jika belum melihat kehancuran hidupnya." kata Tiara berapi-api.


"Baiklah nanti aku pikirkan cara yang halus dan sulit terendus oleh para pengawal yang selalu mengelilinginya." ucap Bukman sambil membalik dengan kasar tubuh Tiara ke ranjang.


"Sekarang puaskan aku dulu, baru kita akan berbicara." bisiknya dan terasa menyeramkan bagi telinga Tiara. Tiara terdiam dan hanya pasrah mengikuti permainan yang dikendalikan oleh Bukman.


Bukman memiliki banyak cara untuk mengendalikan tubuh Tiara agar bereaksi dan mengikuti setiap keinginannya. Rasa dendam Tiara terhadap Dev kakak tirinya, menjadi alasan untuk mencari cara pintas agar bisa membalaskan rasa sakit hati Sonya. Memahami hal ini, menjadi titik lemahnya sehingga dengan mudah dia memberikan tubuhnya hanya untuk memuaskan kesenangan laki-laki hidung belang semata.


*******