
Malam ini di sebuah Cluster Residen di area Pande**Marta samping Ringrod Utara, tampak seorang laki-laki dan perempuan sedang duduk berhadapan dan berbincang dengan serius. Bukman dan Tiara terlihat sedang membicarakan Dev yang mengalami insiden di perusahaan, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.
"Bang, saat ini tiba-tiba aku merasa sangat ketakutan."Kata Tiara pada Bukman.
"Hmm..hmm, takut." sahut Bukman.
"Iya Bang, aku takut. Bagaimana kalau besok aku balik ke Palembang lebih dulu." tanya Tiara meminta pendapat Bukman.
"Untuk apa pulang, kamu sudah tidak nyaman tinggal bersamaku? Tunggu aku, satu Minggu lagi kita balik bersama-sama ke sana. Istriku minta aku mengurus perpindahan asset di Musirawas" sahut Bukman.
"Bukan itu bang, aku khawatir insiden Dev akan ikut menyeretku. Mungkin aku akan merasa lebih tenang, jika aku berada disana. Kalau semua sudah terkendali, aku janji akan kembali tinggal bersamamu." kata Tiara dengan tatapan memohon.
"Apa yang kamu khawatirkan. Aku sudah mengatur semuanya dengan rapi. Tidak akan ada bukti yang bisa menyudutkan kita. Orang-orang Dev sendiri yang akan menjadi target pelaku"
"Yakin bang?" tanya Tiara sambil menatap Bukman yang sedang mengaduk gula di cangkir kopinya.
"Sangat yakin. Jika ada yang akan dijadikan tersangka, aku yakin Mijan dan pengawal Dev sendiri yang akan dimintai keterangan oleh penyidik. Ha...ha..ha..., ini namanya senjata makan tuan." kata Bukman tertawa dan sangat yakin dengan pemikirannya.
"Kenapa bisa mereka, dari rekaman kamera CCTV apakah tidak bisa digunakan sebagai pembelaan." Tiara terus mengejar.
"Aku sudah mengkondisikan semuanya. Dua jam setelah kejadian, aku sudah meminta seseorang untuk menghapus rekaman CCTV. Sudahlah, berhenti untuk khawatir." kata Bukman meyakinkan Tiara.
"Yang buat minuman bagian pantry si Mijan, yang antar ke ruangan Dev, pengawalnya sendiri yang bernama Jatmiko. Ya jelaslah mereka berdua yang akan resmi jadi tersangka. Tidak akan ada orang lain yang terlibat dengan minuman itu" Bukman menambahkan.
Tiara diam, meskipun masih ada kekhawatiran tetapi dia mencoba menenangkan hatinya sendiri.
"Bagaimana keadaan Dev sekarang, apakah Abang sudah mendapatkan kabarnya yang terakhir. Aku akan puas jika Dev hancur, sama dengan hancurnya aku, saat tahu statusku di keluarga papa." kata Tiara dengan muka yang tiba-tiba muram.
"Untuk keadaan Dev saat ini, tidak ada sedikitpun informasi yang bisa aku tembus. Sepertinya suami Dev sudah memasang blokade di setiap celah informasi tentang kondisi istrinya." sahut Tiara.
"Tapi kamu jangan khawatir, tetaplah disisiku, maka aku akan membantumu untuk membalaskan rasa sakit hatimu." kata Bukman sambil menarik Tiara untuk duduk di pangkuannya.
"Terima kasih bang, kamu memang bisa untuk diandalkan." kata Tiara sambil memberikan ciuman di pipi Bukman.
"Apa hanya ini yang bisa kamu berikan sebagai tanda terima kasih. Aku menginginkan sesuatu yang lebih dari hal ini," tanya Bukman dengan tatapan mesum.
Tiara tidak menjawab dengan perkataan, melainkan memberikan jawaban dengan tindakannya. Tangannya bergerak cepat melepaskan kancing piyama yang dikenakan Bukman, kemudian menarik tangan Bukman dan keduanya masuk ke dalam kamar.
*******
Sementara itu, Pratama dan seorang penyidik dari Polda yang sengaja didatangkan dan dimintai bantuan sedang menginterogasi Mijan dan tim security dari tempat Dev bekerja, di sebuah bangunan kosong.
"Mohon lepaskan saya pak. Tidak mungkin saya akan tega menyakiti Bu Devina, beliau sangat baik dan suka membantu saya. Tolong pak, anak dan istri saya menunggu saya di rumah. Saya tidak tahu apa-apa," Mijan memohon agar dilepaskan.
"Apakah kamu sudah menjawab apa yang saya tanyakan. Cepat jawab sesuai apa yang ditanyakan," bentak Pratama.
"Waktu itu saya mendapatkan perintah dari Ibu Devina untuk membuat teh panas. Setelah selesai merebus air, saya merasa kompor sudah saya matikan. Tapi begitu teh panas siap, saya mencium bau terbakar dari arah dapur." Mijan bercerita dengan nada ketakutan.
"Lanjutkan," teriak Pratama.
"Saya kemudian keluar mencari bantuan. Untung ada Jatmiko yang siang itu hendak membuat kopi. Akhirnya dia saya mintain tolong untuk membantu saya mengantarkan teh ke meja Bu Devina. Kemudian saya berlari menuju dapur dan segera mematikan kompor." kata Mijan dengan tubuh gemetar.
"Setelah itu saya tetap di dapur tidak kemana-mana pak, sampai terdengar keributan dari para pengawal Bu Devina." lanjutnya lagi.
Pratama diam sebentar, kemudian berbalik dan mendatangi Tim Penyidik dari Polda yang sering didatangkan Yudha untuk membantu penyidikan dan penyelesaian masalah-masalah perusahaan. Salah satu penyidik tampak serius memperhatikan rekaman video saat kejadian, yang berhasil di retas oleh Ersa sebelum dihancurkan oleh orangnya Bukman. Kemudian, tiba-tiba.
"Temukan orang ini." kata penyidik sambil melakukan zoom wajah laki-laki yang memakai masker, kemudian melingkari orang yang dicurigai tersebut.
"Hai, kamu sini." seru salah satu penyidik kepada Mijan.
Dengan ketakutan Mijan mendekat ke meja tempat mereka duduk.
"Siapa orang ini, jangan bilang kamu tidak tahu," seru Pratama sambil mendorong kepala Mijan agar melihat video yang sedang diputar.
"Sepertinya itu sopir pak Bukman pak, salah satu anggota Direksi di perusahaan. Tapi hari itu, pak Bukman tidak terlihat ada di perusahaan. Bisa saja saya salah mengenalinya." jawab Mijan masih dengan ketakutan, takut kalau salah bicara.
Mijan tambah gemetar dan ketakutan, melihat dalam rekaman video, seorang laki-laki dengan mengenakan masker sedang memasukkan bubuk ke dalam cangkir teh yang disiapkan Mijan untuk Dev.
"Pak Tama, Bapak akan bergerak sendiri untuk menangkap orang ini, atau kami bantu menerjunkan tim kami untuk mengejarnya." tanya penyidik tanpa basa-basi.
"Belum ada instruksi lanjutan dari Bos Yudha, akan silent atau terang-terangan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk penyelesaian kasus ini. Bos saat ini baru fokus pendampingan istrinya di rumah sakit" jawab Pratama.
"Tapi ada baiknya, Bapak tetap membantu kami untuk meneruskan penyidikan lebih lanjut. Masalah nanti akan diteruskan pada ranah kepolisian atau ditangani sendiri, nanti kita bicarakan lebih lanjut." panjang lebar Pratama menjelaskan pada tim penyidik kepolisian.
"Siap, kami akan kerahkan tim kami secara diam-diam untuk membantu penyelidikan." kata tim penyidik.
"Kamu kembali ke tempatmu. Jangan harap kamu bisa melarikan diri dari tempat ini, sebelum kamu terbukti kalau kamu tidak bersalah." kata Pratama sambil menunjuk Mijan agar segera menyingkir.
Mijan kembali mundur ke tempatnya awal duduk. Dia berpikir bahwa cara dia menyelamatkan dirinya adalah dengan diam dan menuruti perintah dari Pratama dan orang-orang di sekitarnya.
*******