Married By Incident

Married By Incident
Konfirmasi



Tepat pada pukul 09.10, setelah memastikan semua undangan hadir, pertemuan akhirnya dimulai. Bianca memandu jalannya rapat, sedangkan Dev selaku pendatang baru, memilih untuk mendengarkan terlebih dahulu.


"Baiklah, karena laporan dari sekretaris pada pertemuan hari ini tercatat ada 10 peserta, dan saat ini sudah hadir 11 orang termasuk ibu Devina maka pertemuan kita mulai. Untuk mempersingkat, baiklah kita awali dulu dengan berdoa menurut kepercayaan  dan agama kita masing-masing. Berdoa disilakan,"


Setelah beberapa saat mereka menundukkan kepala, "Berdoa selesai."


"Bapak ibu..., pertemuan hari ini sebenarnya adalah agenda tunggal, yaitu perihal tentang secara resmi Ibu Devina Renata bergabung menjadi Board of Directors menggantikan posisi Bapak Baskara. Sama dengan saya, ibu Devina juga memiliki saham kepemilikan pada perusahaan ini.  Kami berdua sudah berdiskusi, dengan mempertimbangkan berbagai hal, kami sudah mengatur pembagian kewenangan terkait koordinasi antar divisi.Untuk divisi marketing dan human resource, koordinasi ke depan dengan ibu Devina Renata, sedangkan finance dan production dibawah koordinasi saya sendiri." Bianca menyampaikan pengumuman terkait dengan pembagian alur koordinasi antar divisi ke depannya.


"Apakah ada tanggapan atau pertanyaan terkait dengan apa yang barusan saya sampaikan." tanya Bianca pada peserta rapat.


Harnowo mengacungkan telunjuknya ingin mengajukan pertanyaan.


"Silakan pak Harnowo," Bianca mempersilakan Harnowo untuk bicara.


"Terima kasih kesempatan yang diberikan kepada saya, Bu Bianca. Sebelumnya saya sampaikan selamat datang kepada bu Devina Renata, selamat bergabung dengan perusahaan ini." Harnowo menyampaikan ucapan selamat datang pada Dev. Dev mengangguk sambil menangkupkan dua tangan di depan dadanya, sebagai isyarat menjawab ucapan selamat pada Harnowo.


"Kebetulan saya sebagai anggota dari divisi marketing, yang kebetulan saat ini mengalami pergantian alur koordinasi. Sebelumnya kami berkoordinasi dengan Ibu Bianca, tapi saat ini kami berganti untuk berkoordinasi dengan Bu Devina. Untuk langkah ke depan, tim kami harus melanjutkan strategi pemasaran yang sudah kita sepakati bersama dengan Bu Bianca, ataukah kita akan melakukan strategi yang baru. Terima kasih," Harnowo mengakhiri konfirmasinya.


"Terima kasih pak Harnowo. Nanti akan ditanggapi langsung oleh Ibu Devina. Tapi sebelumnya saya akan menyampaikan siapa sesungguhnya bu Devina." kata Bianca sambil tersenyum dan melirik Dev yang duduk di sampingnya.


"Ibu Devina adalah guru saya dalam memimpin perusahaan ini. Sebelum bu Devina resmi bergabung disini, beliau adalah Analyst Team yang merumuskan implementasi dari Five forces konsep Michael Porter, dengan menyesuaikan dengan kondisi riil perusahaan ini. SWOT Analysis yang kita gunakan sebagai langkah awal penyusunan strategi, merupakan karya dari beliau ini. Jadi jangan meragukan capability dari beliau. Baiklah, silakan Ibu Devina untuk menanggapi pertanyaan dari pak Harnowo." Bianca mempersilakan Dev untuk menjawab.


Sambil tersenyum Dev mengawali tanggapannya terhadap pernyataan yang disampaikan Harnowo.


"Terima kasih Ibu Bianca atas kesempatan dan pujian yang telah diberikan pada saya. Kalau tadi Bu Bianca menyampaikan saya adalah gurunya, maka saya menyebut Bu Bianca sebagai mentor dan mitra saya. Terkait dengan pernyataan pak Harnowo, apakah kita akan mebuat strategi baru atau melanjutkan strategi yang sudah ada. Jawaban saya adalah Bisa dua-duanya pak," jawab Dev sambil tersenyum.


"Sebelum kita akan melanjutkan strategi yang sudah ada, kita akan evaluasi terlebih dahulu sejauhmana efektivitas dari strategi yang sudah kita jalankan. Hal ini membutuhkan kerja sama dan partisipasi dari Bapak ibu yang saat berada di Marketing Division. Mohon saya disiapkan progress report tiga bulan terakhir, Nanti kita gunakan sebagai dasar analisa selanjutnya, dan akan kita analisis secara bersama-sama. Akan kita petakan kekuatan dan kelemahan dari strategi yang sudah kita jalankan. Strategi yang masih sesuai dengan kondisi saat ini akan kita jalankan, sedangkan yang sudah tidak efektif akan kita hentikan. Bagaimana pak Harnowo, apakah masih ada yang ingin dikonfirmasi terhadap saya lagi." Dev menjelaskan tentang langkah selanjutnya dalam menangani strategi perusahaan.


"Sangat memuaskan bu Devina atas penjelasannya. Sebagai representasi dari divisi marketing, kami siap menjalankan perintah dan arahan dari Ibu Devina." sahut Harnowo tersenyum puas atas penjelasan dari atasan barunya.


Rapat berlangsung sampai pukul 12.30, Devina dan Bianca dapat memberikan solusi dan arahan yang tepat, pada pertanyaan maupun konformasi dari para peserta rapat.


Karena baru pertama kali Dev meninggalkan si kembar untuk waktu yang relatif lama, Dev minta ijin untuk pulang duluan pada Bianca.


"Kamu tidak perlu sungkan padaku Dev. Perusahaan ini juga milikmu, kamu bebas bertindak disini asalkan tidak membahayakan perusahaan." kata Bianca sambil memegang bahu Dev.


"Salam untuk si kembar ya dari Auntie Bianca," lanjutnya lagi.


"Disampaikan Bia. Vian dan Zidan menjawab kembali salam, dan juga menanyakan kapan Auntie Bia memberikan teman bermain untuk mereka," sahut Dev menggoda Bianca.


 


 


**************


 


Setelah dua puluh menit perjalanan, mobil yang membawa Dev pulang dengan disopiri pak Sholeh sudah sampai di halaman rumah. Dev melihat Porsche Cayman mobil kesayangan Yudha sudah parkir di garasi. Dev mencuci tangan dan kaki menggunakan kran yang ada di halaman depan, dan setelah memastikan kaki dan tangannya bersih dia baru masuk ke dalam rumah.


Di meja makan dapur, Dev melihat dua baby sitter sedang mengobrol dengan Bi Siti.


"Nyonya Muda sudah pulang," ucap kedua baby sitter yang tampak gugup karena mereka terpergok sedang duduk santai dan mengobrol.


Melihat kegugupan mereka, Dev tersenyum kemudian memberi isyarat dengan tangannya agar mereka duduk kembali.


"Kalian juga perlu istirahat. Dimana si kembar," tanya Dev.


"Adik sedang bersama Tuan Muda di kamar Nyonya. Tadi ketika Tuan pulang, Vian dan Zidan langsung diambil oleh Tuan, sehingga akhirnya kami ngobrol dengan Bi Siti karena tidak ada kerjaan lagi." kata mereka sambil menunduk malu.


"Iya Nyonya Muda. Kebetulan kerjaan Bibi juga sudah selesai dari tadi. Nyonya Muda mau Bibi buatkan teh Nasgithel," tanya Bi Siti.


"Makasih Bi Siti, nanti tolong langsung dibawakan di kamar ya. Aku ke kamar dulu," Dev kemudian melangkah menuju kamar.


Membuka pintu kamar, hati Dev tiba-tiba merasa hangat sekaligus sakit di ulu hatinya. Dia melihat Yudha yang tertidur di kamar si kembar, dengan memeluk Zidan di tangan kanan, dan Vian di tangan kirinya. Tidak mau kehilangan momen, Dev mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, kemudian mengambil gambar mereka bertiga.


Dev kemudian meninggalkan mereka untuk berganti pakaian di walk in closed.


Sepeninggalan Dev, terlihat seulas senyum menghiasi bibir Yudha. Pada saat istrinya membuka pintu kamar, sebenarnya dia langsung terjaga dan pura-pura masih tertidur. Dengan pelan dan hati-hati, Yudha memindahkan Vian dan Zidan ke box mereka masing-masing, kemudian memutuskan untuk menyusul Dev ke kamar.


 


 


***********