Married By Incident

Married By Incident
Surprise



Acara tasyakuran sederhana genap usia si kembar satu bulan, akhirnya diadakan pada hari Sabtu malam. Dengan alasan privacy dimana rumah sebagai private home, acara tidak diadakan di Hyatt Regency. Acara dilaksanakan di salah satu asset Baskara, yang kabarnya baru selesai dibangun satu Minggu yang lalu.


"Dad..., dimana sih sebenarnya acara tasyakuran si kembar diadakan." tanya Dev pada Yudha.


"Si kakek tua itu lagi main rahasia, aku juga tidak diberi tahu tempat apa dan dimana asset yang baru dibangun kakek." sahut Yudha yang juga bingung dengan pola pikir kakeknya.


"Rumah keluarga saja luas, dan hanya ditempati penjaga malam dan ART, malahan menambah pusing dengan membangun asset baru." Yudha tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Hush... tidak boleh memanggil kakek buyut dengan panggilan kakek tua. Beliau kakek buyut Vian dan Zidan." kata Dev menegur suaminya.


"Lha mau pergi ke New Zealand saja malah ninggal kerjaan. Dengan dibiarkan kosong, apa namanya tidak menambah kerjaan." protes Yudha.


"Sudah.., sudah...ayo segera berkemas, kita berangkat lebih awal saja. Mommy yakin, kakek punya alasan khusus dengan dibangunnya tempat baru itu" Dev memutus perdebatan dengan Yudha.


Yudha mengambil ponsel dan terlihat melakukan panggilan pada Pratama.


"Kamu dimana," tanya Yudha langsung ke poin pertanyaan.


"Sudah siap di ruang tengah dari tadi Boss." jawab Pratama.


"Yap, kita berangkat sekarang, ke kamar si kembar sekarang untuk membawa perlengkapannya" kata Yudha.


Dia lebih mempercayai Pratama yang masuk kamar mereka, daripada kedua baby sitter yang dipekerjakan Baskara untuk membantu merawat Vian dan Zidan. Tidak berapa lama, Pratama sudah berada di dalam kamar si kembar.


Yudha segera mengangkat Zidan dan menempatkan di lengan kanannya, kemudian meminta Dev untuk membawa Vian.


Di ruang tamu sudah siap dua baby sitter dengan membawa stroller di tangan masing-masing. Melihat bossnya yang sudah siap berangkat, dia bergegas meminta si kembar dari gendongan Yudha dan Dev. Tapi dengan halus Dev menolak mereka.


"Pak Sholeh bawa Bi Siti, dan baby sitter serta perlengkapan lainnya. Aku berangkat dengan Boss dan Nyonya Muda." Pratama mengatur keberangkatan mereka.


"Baik pak." sahut pak Sholeh. Kemudian mengajak Bibi Siti dan kedua baby sitter untuk berangkat bersama.


Akhirnya rombongan berangkat menuju lokasi asset baru Baskara. Terlihat empat pengawal ditugaskan untuk melakukan pengawalan ketat selama perjalanan.


**********


Sekitar 15 menit perjalanan, mobil yang membawa keluarga Yudha, sampai di daerah Cangkringan, kemudian memasuki sebuah gerbang dengan ornamen kayu dan berhenti di halaman luas. Begitu keluar dari mobil, Dev seperti mengalami Dejavu. Bangunan rumah dengan banyak open space, halaman luas yang banyak ditanami dengan tanaman buah-buahan. Dan begitu menengok ke sisi Utara, nampak view Gunung Merapi yang tampak kokoh dengan keindahannya. Semua yang terlihat di hadapannya adalah mimpi yang ingin dia wujudkan di masa tuanya. Sejenak dia terpaku dan terdiam di halaman.


"Sayang ada apa..," tanya Yudha lembut.


Kemudian dia memanggil baby sitter untuk mendekat kemudian menyerahkan Vian dan Zidan kepada keduanya.


Melihat ke arah istrinya yang tampak takjub dengan apa yang dia lihat, Yudha memeluknya dari belakang.


"Sayang..., mommy suka banget dengan pemandangan ini. Coba cubit mommy sayang, apakah saat ini aku sedang bermimpi." ucap Dev yang masih bingung dengan apa yang dia lihat.


Yudha yang merasa kebingungan dengan reaksi Dev,. hanya memeluknya dan mengajaknya segera masuk ke dalam. Baskara yang sedang mengarahkan tim Event Organizer, bergegas keluar begitu melihat rombongan cucunya datang.


"Mana buyut-buyutku Dev..," pertama kali Baskara menanyakan Zidan dan Vian.


"Sama Rani dan Fitri kek," jawab Dev yang masih terpana dengan interior maupun outdoor bangunan baru Baskara.


"Ada apa Dev, apakah kamu mengenali sesuatu." tanya Baskara yang dari tadi sudah mengamati reaksi dari cucu menantunya sejak dia datang.


"Benarkah kek apa yang Dev lihat sore ini, atau hanya perasaan GR Dev." tanya Dev pada Baskara.


Yudha yang tidak memahami apa yang mereka bicarakan, hanya mendengarkan pembicaraan mereka tanpa menyela.


"Dev..., ada kakek disini. Selama kakek masih ada di dunia ini, ceritakan semua mimpi, semua keinginanmu. Kakek akan mewujudkannya semua yang tidak dapat dipenuhi oleh suamimu." kata Baskara sambil melihat ke arah cucunya.


"Bahkan kakek yakin 100% Dev, apa mimpi, apa keinginanmu suamimu tidak tahu. Yang selalu ada di pikirannya adalah semua yang dianggap baik untuknya, dia selalu berpikir bahwa itu juga baik untukmu." Baskara melanjutkan lagi perkataannya yang jika dimaknai sangat nampak memojokkan Yudha.


"Apa yang kakek sampaikan ada benarnya tapi juga ada yang kurang tepat kek. Apa yang suami Dev inginkan selama untuk kebaikan kami, itu juga yang menjadi keinginan Dev. Iya kan sayang," kata Dev berusaha membela suaminya di depan Baskara.


"Tidak perlu membelaku sayang. Aku memang selalu memaksakan apa yang aku mau jika aku berpikir itu untuk kebaikanmu. Bahkan kakek yang bisa memahami apa yang kamu inginkan sayang. Maafkan Daddy sayang," ucap Yudha yang menyadari karakternya sendiri.


"Terima kasih kek atas semuanya untuk istri Yudha." ucap Yudha sambil memeluk kakeknya dengan penuh keharuan.


Baskara kemudian mengajak cucu dan cucu menantunya melihat-lihat lebih ke dalam isi rumah tersebut. Dev semakin tertegun tak percaya, tanpa sadar air mata mengalir deras dari matanya. Dia menyaksikan semua port folio karya online yang pernah diperlihatkan pada Baskara, semua tercetak dalam frame dan terpajang di ruangan yang menyerupai sebuah galeri.


"Jangan menangis sayang, kakek sangat memahami keinginanmu. Kakek mewujudkan mimpimu, yang bahkan aku suamimu tidak pernah tahu apa yang menjadi mimpi dan angan-anganmu." kata Yudha sambil memeluk erat Dev sambil mencium pucuk kepalanya.


Baskara menghampiri mereka.


"Dev .. galeri ini kakek bangun sama seperti keinginanmu yang pernah kamu ceritakan, pada saat aku belum tahu bahwa kamu adalah istri dari cucuku. Terima kasih sudah bersedia menjadi istri cucuku, dan menjadi ibu bagi buyutku." ucap Baskara yang kemudian memeluk mereka berdua.


Setelah mereka larut dalam keharuan, terdengar suara tangisan si kembar dari luar ruangan. Yudha langsung melepaskan pelukannya dan berlari mendatangi bayi-bayinya.


"Lihat kek, mungkin itu yang sudah jarang dilakukan oleh suami jaman sekarang. Dev bersyukur bisa mendapatkan paket komplit." ucap Dev sambil merangkul kakek dan mengajaknya mendatangi si kembar.


Mereka tersenyum melihat Yudha yang sangat piawai menenangkan Zidan yang sedang menangis karena berada di lingkungan baru.


********