
"Ladies and gentleman, the time has come for the event we are waiting for is the signing of the MOU between PT. Kalingga with PT. Hendarta Putra." ("Bapak-bapak dan ibu-ibu, waktu yang kita tunggu untuk penandatanganan MOU antara PT. Kalingga dan PT. Hendarta Putra akan segera tiba").
MC membacakan acara inti yaitu penandatanganan MOU.
Tuan Hendarto dan pak Gunawan menuju panggung untuk melakukan penandatanganan bersama.
"We ask Mr. Andhi Yudha Baskara, Ms. Donna Arkana, Mr. Irwansyah, Ms. Galuh to come forward, to act as witness." ("Kami mohon Tuan Andhi Yudha Baskara, Ibu Donna Arkana, Tuan Irwansyah, dan Ibu Galuh berkenan maju ke depan untuk dapat bertindak sebagai saksi,").
Keempat nama yang dipanggil MC, segera maju ke stage untuk bertindak sebagai saksi.
"Dev..., lihat arah stage. Ternyata cantik juga Putri pak Hendarto yang akan gabung di perusahaan kita." seru Icha.
"Wow suami impianku tampak semakin bercahaya di depan." ucap Icha melihat Yudha di atas stage.
Dev mengarahkan pandangannya ke stage, dan terbelalak matanya melihat putri pak Hendarto yang disebutkan Icha.
"Shit..., ternyata yang dari tadi disebut Donna Arkana adalah Donna teman seranjang Andre." batin Dev emosional. Aura ketegangan dan kemarahan tiba-tiba tampak muncul di matanya. Seketika senyumannya menghilang dari wajahnya.
"Permainan apa ini, siapa yang membuat skenario ini." tanyanya dalam hati.
"Aku akan ikuti akan kemana arah permainan kalian. Aku bukan Dev yang bisa seenaknya kalian tindas,"
Meskipun saat ini Dev sudah menikah dengan Yudha yang memiliki segalanya, tetapi hubungannya dengan Andre bukan seumur jagung. Waktu satu bulan sejak kejadian terakhir, masih sangat pendek jika dibandingkan dengan delapan tahun dia menaruh harapan besar terhadap mantan kekasihnya. Rasa perih seakan kembali menyayat hatinya.
"Ada Donna, aku yakin ada Andre juga disini," batin Dev sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ballroom. Tapi sayangnya dia tidak berhasil menemukan posisi Andre.
Icha yang melihat perubahan raut muka Dev.
"Dev are you fine?" tanya Icha khawatir.
"Aku ga pa pa Cha," jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan ke arah panggung. Dev sampai lupa memperhatikan bahwa ada Yudha suaminya di atas stage bersama dengan Donna.
Semua ekspresi Dev tidak luput dari perhatian Yudha, dan seketika Yudha memiliki rasa cemburu di hatinya, saat melihat ekspresi Dev yang nampak tegang dan emosional.
"Ternyata Dev belum sepenuhnya bisa menerimaku dan melupakan mantannya," batin Yudha sedikit kecewa.
Yudha mengarahkan pandangannya ke Pratama, dan setelah mata mereka bertemu, Yudha memberi isyarat melalui dagu yang digerakkan ke arah Dev. Pratama langsung menebak situasi yang terjadi, kemudian dia beranjak meninggalkan kursinya dan melangkah mendekat ke arah Dev. Melihat ekspresi bengong Dev, Pratama berdiri di samping Dev.
"Nyonya Muda, ada yang bisa saya bantu." tanya Pratama dengan suara pelan.
Dev seakan tersadar siapa dirinya setelah melihat Pratama berdiri di sampingnya. Dia hanya sekilas melihat Pratama, kemudian kembali memandang arah stage. Pratama mencoba memahami perasaan istri bossnya, sehingga dia ikut terdiam dan mundur beberapa langkah kemudian menyandarkan badannya ke tembok di belakangnya.
Icha dan Cory saling berpandangan merasa bingung dengan interaksi Dev dan Pratama. Dengan isyarat mata Icha mencoba bertanya pada Cory, dan Cory hanya mengangkat kedua bahunya.
Dev tiba-tiba bangkit dari kursinya.
"Dev, mau kemana?" tanya Cory.
"Mau ke toilet sebentar," jawabnya tanpa menoleh.
"Aku temani,"
"Ga usah, aku sendiri saja."
Pratama mengikuti Dev dari belakang untuk memastikan keamanannya.
******
Setelah penandatanganan MOU selesai, dilanjutkan dengan sesi foto bersama, kemudian MC mempersilakan para saksi untuk kembali ke kursinya masing-masing.
Tuan Hendarto selaku pihak investor masih berada di stage, untuk menyampaikan beberapa informasi terkait keberlanjutan dari MOU.
Semua tamu undangan memberikan tepuk tangan yang meriah. Setelah acara penandatanganan selesai, dilanjut dengan penampilan live music dan ramah tamah.
"Cory..., mau minum apa, aku ambilkan." Bertho menawari Cory untuk mengambilkan minuman.
"Teh panas saja ya kalau ada, sekalian empek-empek."
"Satu-satu donk, kan tanganku cuman ada dua."
"Iya..iya..,"
Mereka merasa plong, karena acara utama sudah terlewati dengan lancar hanya menyisakan acara party untuk menjamu tamu. Tetapi mereka memiliki pertanyaan besar akan perubahan mendadak dari sikap Dev.
******
Melihat Dev berjalan menuju toilet sendirian, Wijaya bergegas mendatangi Dev. Dia tidak menyadari jika laki-laki di belakang Dev sedang mengawasinya.
"Hai Dev... selamat malam, sangat senang malam ini kita bisa bertemu lagi." Jay menyapa Dev dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Dev.
Dev menyambut uluran tangan dari Jay.
"Selamat malam Jay, maaf ya aku harus segera ke kamar mandi. Aku kebelet nih." ucap Dev menolak basa-basi Wijaya.
Kemudian Dev kembali bergegas menuju toilet.
"Awas jaga pandangan anda terhadap sesuatu yang bukan milik anda." Pratama mengikuti Dev, dan membisikkan kalimat ke telinga Wijaya.
"Siapa kamu, dan apa urusanmu."
Tapi Pratama tidak menjawab, dan berjalan menuju arah toilet wanita mengikuti Dev. Di depan pintu toilet wanita, dia menunggu sambil kembali bersandar di tembok.
Sesampainya di dalam toilet wanita, Dev langsung memasuki kamar mandi. Tanpa berhasil ditahan, air bening tampak menghiasi sudut matanya. Segera Dev mengambil air dan sedikit digunakan untuk membasahi mukanya. Air yang dingin, sedikit membantunya memberi rasa segar.
Setelah beberapa saat di kamar mandi, Dev membenahi riasannya dan berjalan keluar toilet. Belum sampai mencapai pintu keluar, tiba-tiba ada yang menarik Dev ke dalam kamar mandi dan membekap mulutnya. Dev berusaha melepaskan diri, tetapi orang itu malah memeluk dan mendekap Dev dengan erat.
"Tolong jangan bergerak sayang, peluk aku sebentar saja." bisik orang itu di telinga Dev.
Seperti tersengat aliran listrik mendengar suara Andre di telinganya, Dev semakin meronta untuk melepaskan diri. Tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan laki-laki kalap yang ada di depannya.
"Lepaskan aku Ndre," Dev memohon kepada Andre lewat matanya.
Tapi Andre malah semakin erat memeluk Dev. Tiba-tiba ada suara menggedor pintu dari luar kamar mandi.
"Buka pintu atau aku dobrak dan aku seret ke kantor polisi." terdengar suara laki-laki berteriak dari luar.
Mendengar suara suaminya, Dev mencoba memanggilnya.
"Yudha, tolong aku," teriak Dev dari dalam kamar mandi meskipun dengan suara yang kurang jelas.
Mendengar suara istrinya, Yudha menjadi kalap. Tangannya menggedor pintu kamar mandi, dan Pratama mendobrak pintu kamar mandi dengan kakinya. Mendengar suara keributan di toilet wanita, petugas banquet segera menghubungi security. Seketika suara kegaduhan terjadi di toilet menyaingi suara live music di ballroom.
Setelah puas memeluk Dev yang nampak menangis ketakutan, Andre membuka pintu kamar mandi. Tanpa ampun Yudha menghadiahkan bogem mentah ke muka Andre. Darah tampak mengucur dari sudut bibir Andre. Pratama ikut mengayunkan kakinya ke perut Andre. Andre menerima semua pukulan itu tanpa membalasnya.
"Sudah pak, tolong jangan main hakim sendiri," security kemudian menarik Andre yang penampilannya berantakan dan menggelandangnya keluar toilet.
Melihat istrinya ketakutan, hati Yudha merasa sakit. Tanpa berpikir ulang, Yudha mengangkat Dev dengan bridal style dan membawanya keluar toilet. Dev mencari rasa aman dengan menyembunyikan muka di dada suaminya. Pratama dengan sigap langsung berjalan di depannya untuk membuka jalan karena banyak kerumunan di depan pintu. Mereka tidak mempedulikan tatapan orang yang kepo ingin tahu, kemudian keluar meninggalkan ballroom dan membawa Dev kembali ke kamar.
******