Married By Incident

Married By Incident
Kembali



Hari Minggu pagi Dev sudah berada di rumah sakit untuk mengurus administrasi kepulangan papanya dari rumah sakit. Tekanan darah pak Burhanuddin sudah stabil 120/80 dengan detak jantung 95 per menit, yang mengindikasikan bahwa kesehatan sudah membaik.


Tepat pukul 10.30, akhirnya semua urusan administrasi rumah sakit sudah terselesaikan dengan lancar. Sampai waktu kepulangan, ibu dan adik tiri Dev belum muncul di rumah sakit. Tetapi mereka tidak mempedulikannya, dan tetap membawa pulang pak Burhanuddin. Setelah mereka masuk ke mobil untuk meninggalkan rumah sakit.


"Pa, kita langsung pulang ke rumah atau papa mau mampir dulu." Dev bertanya kepada papanya.


"Kita langsung pulang saja nak. Papa sudah kangen pingin pulang ke rumah." jawab pak Burhanuddin tersenyum.


"Atau ikut pulang ke tempat tinggal kami pa, ke kota "J"," Yudha menawarkan pada Burhanuddin untuk ikut pulang dan tinggal bersama di kota "J".


"Kapan-kapan nak, papa akan ke "J" kalau papa sudah benar-benar sehat. Sekarang kita pulang ke Centre Park. saja"


"Pak, Kita langsung ke Centre Park." perintah Yudha pada pengemudi mobil.


"Baik Tuan,"


"Pa...., sore hari ini kita harus kembali pulang ke "J", papa jaga kesehatan ya," ucap Dev.


"Kenapa cepat sekali," kata pak Burhanuddin masih enggan berpisah dengan mereka.


"Kita harus kembali beraktivitas pa. Dev harus kerja, demikian juga Yudha."


"Sewaktu-waktu papa merindukan kami, papa bisa menghubungi Dev, nanti kami akan usahakan untuk langsung menjenguk papa."


"Ya, benar juga. Kalian punya kesibukan dan rutinitas masing-masing,"


"Papa terlalu egois kalau harus menahan kalian untuk lebih lama menemani papa di sini."


"Dev janji pa, kami akan berusaha untuk sering-sering pulang ke sini untuk menjenguk papa." kata Dev sambil memeluk pria tua itu.


Tanpa mereka sadari, mobil sudah memasuki komplek perumahan Centre Park.


"Depan belok kanan, rumah ada di ujung gang ya pak." Dev memberitahu Pengemudi.


"Iya Nyonya Muda."


Tepat di depan rumah bercat kuning gading, pengemudi mengh menyiapkan kursi roda untuk mertuanya, dan mendorongnya memasuki teras rumah. Seorang asisten rumah tangga dari arah dapur tergesa-gesa membukakan pintu.


"Tuan sudah pulang," sapanya menyapa tuannya.


Pak Burhanuddin hanya tersenyum menjawab pertanyaan ART nya.


Penuh keharuan Dev mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah.


"Tidak banyak berubah, hanya sofa di sudut ruangan yang telah berganti." Dev membandingkan isi ruangan sekarang dengan saat terakhir dia kembali ke rumah ini.


"Lho, ini bukannya nona Dev, Alhamdulillah bibi bisa ketemu lagi sama non."


"Iya Bi, ini Dev. Tolong pindahkan dan sekalian dirapikan barang-barang yang baru diturunkan dari mobil ya Bi."


"Iya non," jawab Bi Parti ART yang sudah puluhan tahun mengabdi di keluarga pak Burhanuddin. Dia segera melaksanakan apa yang diminta majikannya.


"Papa....," dari tangga lantai atas, seorang anak berusia delapan tahun terlihat menuruni tangga dan menyambut pak Burhanuddin.


"Rendra..., Ayuk sini," pak Burhanuddin membuka kedua tangannya untuk memeluk putra bungsunya.


"Beri salam pada kakakmu."


Anak laki-laki yang dipanggil Rendra segera mendatangi Dev dan Yudha.


"Kak Dev...," ucapnya lirih.


Dev langsung memeluk adiknya erat.


"Rendra.., kamu sudah mulai tinggi. Kakak kangen sama Rendra."


"Ayuk kenalkan kakak ipar Rendra, namanya kak Yudha." kata Dev sambil memberi isyarat pada Yudha untuk mendekat.


"Hai jagoan, apa kabar, give me five," sapa Yudha ramah sambil mengajak TOS pada Rendra.


Rendra melakukan TOS dengan Yudha.


"Kalau mama Rendra tidak tahu pa, tapi kalau kak Tiara tadi pergi dijemput pacarnya." jawabnya polos.


"Ayuk bantu papa duduk di kursi itu,"


Rendra langsung memapah dan memegangi pak Burhanuddin untuk duduk di kursi di ruang keluarga.


"Non Dev sama tuan siang ini mau makan apa, biar Bibi siapkan." tanya Bu Parti sambil meletakkan teh panas di meja.


"Papa dibuatkan bubur saja Bi, karena papa belum boleh makan yang keras-keras." jawab Dev.


"Kami disiapkan tekwan ya Bu."


"Baik non."


Bi Parti segera kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang.


"Pa..., papa istirahat di kamar dulu ya. Dev sama Yudha masih nanti sore pulangnya."


"Iya nak, kamu juga istirahat dulu ya di kamarmu."


Yudha memapah mertuanya menuju kamar di lantai satu. Setelah pak Burhanuddin membaringkan badannya di tempat tidur, Yudha menyalakan AC dan mengatur suhu ruangan. Setelah memastikan mertuanya merasa nyaman, Yudha keluar dan menutup pintu kamar perlahan.


Dia menghampiri istrinya yang sedang mengobrol dengan adiknya di sofa.


"Rendra sudah kelas berapa."


"Kelas tiga SD kak."


"Sore ini kak Dev harus kembali ke Jogja. Nanti Rendra jagain papa ya."


Rendra menganggukkan kepala. Melihat Yudha sudah selesai mengantarkan papanya ke kamar, Dev mengajak Yudha untuk istirahat.


"Rendra lanjutkan mainnya ya, kakak mau istirahat di kamar."


"Ya kak," sahutnya kemudian kembali ke kamarnya di lantai atas.


Dev dan Yudha beristirahat di kamar Dev yang sudah dua tahun tidak ditempatinya. Meskipun tidak pernah ditempati, namun kamar itu selalu dibersihkan oleh Bu Parti. Perlahan Yudha mengunci pintu kamar, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Tangannya menarik Dev dan membawanya ke pelukan.


"Yudh..., jangan aneh-aneh di sini. Ada papa dan adikku." bisik Dev.


Dev berjaga-jaga atas kemungkinan terburuk warisan purba Yudha meronta keluar.


"Tidak sayang, aku hanya ingin memelukmu saja." kata Yudha masih berbisik dan tersenyum smirk.


Yudha langsung memeluk hangat tubuh Dev, mengunci tubuh Dev dengan kedua kakinya, dan seperti yang sudah di perkirakan Dev tangannya langsung bergerilya kemana-mana.


"Quickie play sayang." bisiknya lembut di telinga Dev, yang langsung membuat pipi ranum itu merona merah. Tanpa menunggu jawaban kesediaan istrinya, siang hari di kamar itu menghasilkan udara panas seperti suhu panas di luar rumah.


*****


Sore hari akhirnya Yudha dan Dev berpamitan untuk kembali ke kota "J". Setelah aktivitas mereka di siang hari, menjadikan tenaga mereka seperti di charge ulang.


"Kasih kabar ya kalau kalian sudah sampai di "J", kata pak Burhanuddin kepada putri dan menantunya.


"Iya pa, papa jaga diri baik-baik ya."


"Bulan depan kami usahakan untuk datang kembali menengok papa."


"Terima kasih nak Yudha, sekali lagi papa titip untuk menjaga putri papa ya."


"Iya pa, Yudha akan selalu menjaga Dev dengan segenap hati Yudha. Karena Yudha pun juga tidak bisa kehilangan istri Yudha terkasih." jawab Yudha, diikuti dengan mencium kening Dev di depan pak Burhanuddin.


"Dev, ingat selalu pesan papa ya nak. Taatlah selalu pada suamimu."


"Iya pa, Inshaa Allah."


Yudha melihat jam di tangannya, kemudian segera mengajak Dev untuk menuju bandara. Pak Burhanuddin terlihat menitikkan air di sudut matanya, beliau merasa terharu menyaksikan interaksi anak dan menantunya.


*****