Married By Incident

Married By Incident
Kelembutan



Selesai mematut diri di depan cermin, Dev keluar kamar. Dia berjalan menuju dapur, bermaksud untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Tiba-tiba bel pintu berbunyi. "Tet...tet...,"


"Ah...paling bi Siti dan pak Ujang yang Dateng." pikirnya.


Dev bergegas untuk membukakan pintu. Setelah pintu terbuka, Dev langsung melengos melihat siapa yang datang. Seperti bertemu musuh bebuyutan, Dev berbalik arah menuju dapur tanpa menyapa dan mempersilakan Pratama masuk.


"Nyonya Muda tidak mempersilakan saya masuk." tanya Pratama cengar cengir melihat respon Dev.


"Memang kamu pernah mendengarkan aku, paling ga tak suruh masuk, kamu juga akan nyelonong masuk," sahut Dev ketus.


"He...he..., saya masuk ya. Dari perkataan Nyonya Muda, berarti saya masuk juga tidak masalah kan." jawabnya tanpa tahu malu.


"Sesukamu,"


"Wah pasti Nyonya Muda lagi kelaparan, buktinya Nyonya Muda ada di dapur."


"Kulkas masih kosong belum ada isinya, karena mendadak tadi siang Boss baru memberi tahu kami kalau akan pindah kesini."


"Saya kesini menjadi dewa penolong untuk menyelamatkan Nyonya Muda dan Boss dari bahaya kelaparan."


"Ini" kata Pratama sambil menaruh dua paper bag diatas meja makan. Dev melirik sekilas dan tetap pura-pura sibuk menyiapkan peralatan makan.


"Nyonya Muda sekarang bertugas menyiapkan peralatan dan menyajikan ke dalam piring saji."


"Kamu menyuruhku." sahut Dev melotot.


"Mana berani saya menyuruh Nyonya Muda, saya hanya menyarankan."


"Huh," Dev menanggapi Pratama dengan muka sebal, kemudian dia mengambil piring dan menata obat anti lapar ke dalam piring saji. Kemudian dia menyiapkan dua piring makan dan dua gelas air putih diatas meja makan


"Kok cuman dua," protes Pratama.


"Trus maumu berapa. Tiga??? Sadar diri donk, emang kamu siapa."


"Hadeh...kapan sih Nyonya Muda memiliki hati seluas samudera, sudah ditolong, tidak mengucapkan terimakasih, kejam lagi." ucapnya.


Dari tangga Yudha tersenyum menyaksikan interaksi asisten pribadinya Pratama dan istrinya.


"Kamu apakan istriku Tam, mulai berani ya kamu menindas istriku." serunya tiba-tiba.


"Rasain Loe." ledek Dev sambil cekikikan.


"Tidak boss, mana berani saya mengganggu Tuan Putri yang sedang kelaparan. Sama saja saya membangunkan ratu harimau." celetuk Pratama.


Dev melotot kemudian melempar sendok ke arah Pratama.


"Aduh," pekiknya.


"Boss, itu Nyonya Muda main kekerasan." adu Pratama kepada Yudha.


"Itu baru sendok, mau aku lempar pakai kursi." ancam Dev.


"Sudah.. sudah.. Pratama tinggalkan kami."


"Atur semua instruksi ku tadi, dan pastikan malam ini semua beres. BAwa kunci cadangan, jadi malam ini kamu tidak menggangu kami."


"Boss tidak mengajakku makan? Khan tadi saya belinya masing-masing tiga porsi, karena kebetulan saya juga belom makan dari tadi siang." protes Pratama dengan muka memelas.


"Sudah sana cari diluar. Kebetulan malam ini nafsu makanku meningkat, aku mau makan dua porsi." lanjut Yudha.


"Kan masih ada makanan yang lain boss, yang siap dan menanti untuk disantap." kata Pratama sambil dagunya diarahkan pada Dev. Sedangkan Dev matanya melotot dan menyiapkan garpu untuk dilempar ke arah Pratama.


"Sudah sudah, pergi sana." usir Yudha.


"Ya."


Akhirnya tinggal Dev dan Yudha berdua di ruang makan dalam keheningan menikmati makan malam.


*****


Malam itu Dev merasa sangat gugup, dia bingung serba salah mau melakukan apa. Berada dalam satu kamar dengan lain jenis betul-betul membuatnya mati gaya. Dia hanya duduk diam mematung di depan meja rias. Sedangkan Yudha masih asyik di depan laptopnya.


"Mengapa kamu bengong disitu? Kamu tidak mengantuk? tanya Yudha lembut. Dia merasakan ketegangan di diri Dev.


"Tidurlah sudah malam. Aku tidak akan mengganggumu malam ini. Bed ini luas, aku bisa tidur disini, dan kamu disisi sana. Kalau kamu khawatir, di tengah bed bisa kamu batasi dengan guling." saran Yudha.


"Atau saya tidur di kamar lain saja."


"Maksudmu?"


"Khan kamu masih sibuk bekerja, nanti saya mengganggu konsentrasimu. Saya kalau tidur mendengkur sangat keras lho." kata Dev mencoba mencari alasan untuk menghindar dari tidur bersama dalam satu ranjang yang sama.


"Kemarilah, aku tidak akan terganggu dengan suara dengkurmu." ucap Yudha sambil menepuk sisi kiri bed.


Dev akhirnya menghampiri bed di sisi kiri, dan mulai merebahkan badannya. Dia sangat berterimakasih kepada Yudha atas pengertiannya, tapi hatinya kembali gelisah. Mereka sudah menikah, ... dan dia berpikir sendiri, atas dasar apa dia tidak mengijinkan Yudha untuk menyentuhnya. Mereka sudah menikah, dan menaati suami adalah salah satu kewajibannya.


Dia menatap Yudha yang kembali fokus pada laptopnya. Sepertinya Yudha menyadari kalau Dev memandangnya.


"Ada apa. apa yang kamu pikirkan." tanyanya lembut kemudian melipat laptop dan meletakkan diatas meja.


"Apakah kamu tidak ingin menuntut hakmu." tanya Dev tegang.


"Hak apa? Apakah hak aku untuk menidurimu." ucap Yudha balik bertanya.


"Kalau memang kamu menginginkannya, sudah kewajibanku untuk melayani. Bagaimanapun aku tidak dapat menutup kenyataan kalau kita memang suami dan istri."


"Apakah kamu sudah mempersiapkan dirimu"


"Apa yang harus kupersiapkan,"


"Dev, aku laki-laki. Kalau aku sudah mulai menyentuhmu, aku tidak akan bisa berhenti dan kembali."


"Tidurlah dulu, aku masih memiliki banyak urusan yang akan kubereskan malam ini." kata Yudha lembut. Sejenak mereka terdiam.


"Yudh...., apakah besok aku masih bisa pergi untuk bekerja." tanya Dev tiba-tiba memecah keheningan. Dia betul-betul khawatir kalau tidak diijinkan Bekerja oleh suaminya, dan harus mendekam di dalam rumah.


Yudha tersenyum dan kembali melihat ke arah Dev. Perlahan dia berkata.


"Pergilah besok untuk bekerja, aku tidak akan membatasi aktivitasmu. Karena aku juga tahu kalau bekerja sebagai seorang creative designer adalah duniamu."


"Tapi hanya satu pesanku, kamu harus selalu menyadari sampai dimana batasanmu sebagai istriku."


"Keluarga Andhi Yudha Baskara tidak akan pernah mentolerir setiap pengkhianatan, siapapun itu."


"Terimakasih, Inshaa Allah aku akan selalu menjaga diri dan mengingat setiap pesanmu. Aku juga memahami posisiku saat ini adalah seorang istri."


"Jangan banyak berpikir, istirahatlah." sahut Yudha sambil berdiri dari tempat tidur. Dengan hati-hati, Yudha mengambil selimut dan menyelimuti Dev dengan tatapan dalam penuh misteri.


"Selamat malam, aku akan ke ruang kerja dulu. Masih banyak tanggungjawab yang harus kuselesaikan malam ini." Yudha melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Hati Dev serasa akan meloncat keluar, dan jantungnya berdebar tak karuan. Dia tidak menyangka Yudha yang terlihat garang dan mendominasi dengan kekuasaannya di luar, ternyata memiliki sisi-sisi kelembutan terhadap istrinya yang bahkan belum dikenalnya dengan baik. Kebahagiaan tiba-tiba sangat dirasakan Dev malam itu. Perlahan Dev menutup matanya, dan akhirnya tertidur denga tenang.


******