Married By Incident

Married By Incident
Desas desus



Dev melaporkan hasil pertemuan awal dengan PT. Diamond pada Pak Gunawan.


"Tidak salah saya menugaskan kamu kesana Dev. Kamu memang tim saya yang bisa diandalkan."


"Bapak terlalu membesar-besarkan, jadi sesak baju saya ga muat pak." sahut Dev.


"Kamu Dev, seperti biasanya selalu merendah."


"Dev..., jawab jujur pertanyaan Bapak ya, biar tidak miss komunikasi di antara para karyawan perusahaan,"


"Tentang apa, kalau bisa Inshaa Allah saya akan jawab pak."


"Mengenai desas desus yang beredar Dev, sebenarnya Bapak maunya tidak mendengarkan. Tapi di telinga, lama-lama pedas juga karena bukan hanya satu orang yang membuat asumsi. Tapi hampir semua memiliki asumsi sendiri-sendiri tentang kamu."


"Sudah kebal pak Gun, saya mending menutup telinga saya."


"Dev..., dengarkan saya ya. Kamu adalah karyawan yang selalu saya andalkan di garda depan. Jika asumsi yang berkembang tidak dipadamkan, maka akan berdampak pada potensi konflik di perusahaan ini."


Dev hanya diam mendengarkan. Kemudian..


"Lalu apa yang harus saya jelaskan pak. bisa mohon arahan."


"Besok siang ada pertemuan pleno yang menghadirkan seluruh karyawan di perusahaan ini. Mungkin forum itu akan bagus untuk menyampaikan klarifikasi."


"Apa tidak lucu pak, pertemuan pleno kok jadi forum untuk menyampaikan sesuatu yang bagi saya tidak penting."


"Ya sudah, dalam pleno biasanya banyak karyawan yang akan menyampaikan aspirasi. Jika ada yang menyinggung tentang permasalahanmu, kamu wajib klarifikasi di situ."


"Ya pak, tapi jika aman berarti saya tidak harus bicara. Karena saya merasa semua adalah privacy saya."


Dev dan pak Gunawan akhirnya mendapatkan satu kesepakatan bersama.


"Sekarang kembalilah ke kubik, lanjutkan pekerjaanmu."


"Ya pak, permisi."


*****


Baru saja Dev akan duduk di kursi, matanya melihat ada satu kertas memo di atas meja. Perlahan dia mengambil dan membacanya.


"Dear Dev


Mohon beri aku waktu untuk bicara empat mata. Jangan khawatir, aku akan tetap bersikap profesional.


Temui aku di My Kopi "*" Sagan jam 13.00, aku akan minta pak Gunawan mengijinkanmu keluar.


"Best regard


Wijaya


Dev meremas kertas memo dari Wijaya dan membuangnya ke tempat sampah. Terdapat perdebatan panjang di dalam hatinya.


"Apa maunya, kenapa aku terjerat dalam semua lingkaran kekacauan ini. Tidak bisakah aku tenang sebentar saja." Dev menggerutu dalam hatinya.


Dev menengok jam tangan di pergelangan tangannya.


'Jam 11.30, tinggal 1,5 jam lagi. Apakah aku harus kesana?"


"Tapi kalau tidak, kapan kesalahpahaman ini berakhir, apalagi besok pleno perusahaan."


Akhirnya Dev memutuskan untuk membuka semuanya pada Wijaya, terlepas dia berpikiran subjektif atau objektif. Setelah memberi tahu kepada rekan satu timnya tentang rapat terbatas dengan Direksi, Dev siap-siap untuk berangkat.


Pukul 12.30 Dev berangkat dari kantor menuju My Kopi "*" Sagan dengan diantar oleh sopir perusahaan. Wijaya sudah mengatur skenario untuk menjaga Dev dari gunjingan teman-temannya di perusahaan. Dia memberi tahu pak Gunawan secara resmi, dan mengatur sopir perusahaan untuk mengantarkan Dev ke lokasi.


****


Setengah jam perjalanan Dev sampai di lokasi pertemuan.


"Ditunggu atau ditinggal mbak," tanya sopir perusahaan.


"Ditinggal saja pak, karena tidak tahu lama atau tidak. Nanti pulangnya saya bisa sendiri."


"Baik mbak,"


Dev memasuki kafe dari pintu depan.


"Permisi sudah pesan atau belom'" tanya waiters di depan pintu masuk.


"Reservasi atas nama PT. Kalingga."


"Mari saya antar mbak, tempatnya sudah kami siapkan di private room."


Dev mengikuti waiters menuju ruangan yang sudah dipesan oleh Wijaya sebelumnya.


"Mari mbak silakan masuk. Sambil menunggu, mbak mau disiapkan minuman apa."


"Hot Americano dengan gula dipisah ya. Sama tahu asin cabe garam satu."


"Baik mbak, sementara saya siapkan dulu pesanannya."


Ruangan itu masih kosong, tapi Dev melihat ada satu cangkir dan sandwich di meja. Dev kemudian duduk di kursi, dan sambil menunggu dia memainkan ponsel di tangannya.


"Dev, sudah lama di sini. Maaf ya, aku barusan dari rest room."


"Baru saja Jay."


"Sudah pesan,"


"Ya, baru mau disiapkan."


Waiters datang mengantarkan pesanan Dev.


"Selamat menikmati,"


"Ya, makasih."


Dev menuangkan satu sachet brown sugar di cangkir kemudian mengaduknya perlahan. Dengan menggunakan sendok teh, Dev menikmati Americano nya. Wijaya juga menyeruput minuman di cangkirnya.


"Dev... mungkin kamu sudah tahu, kenapa aku mengajakmu bicara."


"Maaf Jay.. my life Is simple (hidupku sederhana), jadi aku tidak menebak-nebak arah pembicaraan kita hari ini." kata Dev sambil tersenyum.


"Baiklah aku akan menyampaikan maksudku mengundangmu kesini. Aku mau menanyakan sedikit tentang kejadian Jum.at malam di hotel Phoenix."


"Apakah kamu akan interogasi aku Jay."


"Tidak Dev, aku hanya ingin tahu siapa kamu, Andre dan Tuan Yudha. Karena ini semua menyangkut adikku Donna, adikku satu-satunya yang sangat aku sayangi."


"Donna sangat terpukul, karena dia sangat mencintai Andre tunangannya."


"Ya aku tahu Jay, kalau tidak mencintai tidak mungkin kan mereka dalam satu ranjang berdua." sahut Dev ketus.


"Beda dengan aku, aku tidak menyerahkan diriku kepada laki-laki yang katanya mencintaiku tapi aku lebih suka memberikan pada orang lain yang tidak mencintaiku tapi mau menikahiku." kata Dev sarkasme.


"Maksudmu apa Dev, jangan fitnah adikku." Jay mulai bersuara tinggi.


"Jay...ha...ha.. kamu marah padaku? Aku disini korban yang sebenarnya, tapi hari ini malahan aku yang kamu adili." kata Dev sinis.


Mereka berdua terdiam, akhirnya Wijaya mulai melunakkan hatinya.


"Maafkan aku Dev, aku terbawa emosi. Ceritakan padaku semuanya."


"Jay..., terkait perkataanku tadi, silakan tanyakan pada Donna dan Andre kejadian sekitar dua bulan yang lalu di hotel """cure. Bukan kapasitasku untuk menjawabnya, karena aku tidak tahu kejadiannya."


"Aku hanya tahu ada seorang gadis yang pagi-pagi mau memberikan surprise pada kekasihnya, tiba-tiba malah mendapatkan prank di kamar hotel. Kekasihnya dalam keadaan telanjang berada dalam satu kamar dengan perempuan yang bukan muhrimnya."


"Kamu akan bisa menyimpulkan. Aku, Donna atau Andre yang jadi korban disini."


Wijaya menatap Dev dengan penuh tanda tanya. Terlihat di matanya, ada rasa sakit yang melukai hatinya. Akhirnya keduanya terdiam cukup lama, tidak ada yang bicara.


Dev mengangkat cangkir di depannya dan meminumnya perlahan. Kemudian dia mengambil tahu cabe garam dengan sendok garpu, dan memasukkan ke mulutnya.


"Aku akan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya." ucap Wijaya perlahan.


"Terus bagaimana dengan kejadian di Jum.at kemarin, CCTV hotel tidak menjangkau di area toilet." Kata Wijaya.


"Jay..., gunakan logikamu. Aku tahu dari gosip yang beredar, aku merayu Andre dan menariknya ke toilet wanita untuk.. yah kamu tahu sendiri lah endingnya."


"Apakah perlu aku mengorbankan diriku untuk laki-laki brengsek seperti itu."


"Jay ... aku punya segalanya. Aku punya laki-laki yang jauh lebih dari segalanya melebihi Andre yang siap kapan saja untuk menghangatkan ranjangku."


"Bahkan hanya dengan satu lambaian tangan, dia siap melakukan apa saja untukku."


"Sekarang jawab pertanyaanku, masih pentingkah seorang Andre untuk hidupku." kata Dev emosional.


Wijaya kaget dengan semua perkataan Dev. Dev yang selama ini dia tahu sebagai pribadi yang sopan, santun, tapi siang ini bisa menyampaikan perkataan yang sangat vulgar.


"Andhi Yudha Baskara kah yang kamu maksud?"


Dev tidak menjawab pertanyaan Wijaya. Sebaliknya dia malah menggeser piring di depannya dan mulai menikmati tahu. Wijaya hanya menatap Dev dengan pandangan yang penuh makna. Sesaat kemudian,


"Jay, masihkah ada yang perlu aku jelaskan."


Wijaya menggelengkan kepalanya, karena tidak ada gunanya dia terus menekan gadis rumit yang ada di depannya.


"Baiklah kalau sudah cukup, aku akan langsung pulang. Terima kasih ya Jay sudah traktir aku dan bersedia menjadi trash bag (plastik sampah) mendengarkan uneg-unegku."


Jay menganggukkan kepala dan membiarkan Dev keluar dari ruangan. Di depan kafe, Dev bermaksud menyalakan aplikasi Ojol untuk memesan ojek untuk mengantarkan pulang. Tetapi tiba-tiba


"Tin...tin...." suara klakson mobil terdengar di sebelahnya dan seorang pria tampan sudah menunggunya di Porsche dengan tersenyum manis. Yudha membuka pintu mobil, menyambut istrinya dengan kecupan lembut di keningnya. Kemudian merangkul istrinya dan membawanya pulang.


Dari kejauhan Wijaya berdiri mematung dalam diam memandang keduanya.


*****


TOLONG MAMPIR DI NOVELKU SATUNYA YA


JODOHKU DI TANGAN KAKEK