
Merasa prihatin dengan apa yang dialami Bianca, Dev mengajak Sasa janjian ketemu Reno di sebuah working space. Jam 11.30 Dev sudah berada di tempat tersebut, menunggu kedatangan dua sahabatnya itu. Sambil menunggu Dev menikmati mix salad dan orange juice, karena kehamilannya Dev sangat hati-hati dalam memilih menu makanan.
"Hai Cint..., dah lama nunggunya?" tiba-tiba Sasa sudag berdiri di belakang Dev sambil menepuk bahunya. Di belakangnya ada Ivan yang sudah resmi menjadi suaminya.
"Yah, lumayanlah, biasa nunggu orang-orang yang hobby jam karet." Dev menerima ciuman pipi kanan kiri dari Sasa.
"Aku ga sekalian Dev cipika cipikinya?" tanya Ivan sambil cengar cengir.
"Berani?" tanya Sasa sambil mengacungkan kepalan tangan di depan mukanya.
"He..he..he.., tidak sayang, jangan khawatir."
Dev memanggil pelayan dengan melambaikan tangannya, dan setelah datang kemudian menawarkan pada Sasa dan Ivan menu pesanannya.
"Aku steak aja deh. Tenderloin, minumnya lemon squash. Sayang mau makan apa?" sahut Sasa dan menanyakan pada suaminya.
"Aku minum saja americano, sama sekalian toast saja."
Setelah pelayan pergi, sambil menunggu kedatangan Reno, Sasa menanyakan pada Dev untuk apa mengajak mereka ketemuan. Karena kemarin mereka berpisah, tidak ada janji ketemu dalam waktu dekat.
"Sebelum Reno datang, aku mau nanya tentang Reno pada kalian berdua. Apa yang dia ceritakan pada kalian tentang kondisi pernikahannya dengan Bianca?"
Sasa berpandangan dengan Ivan sejenak, dan Ivan terlihat menganggukkkan kepalanya.
"Okaylah Dev, aku cerita. Karena tidak mungkin kita semua bisa bohongin kamu. Sebenarnya Reno itu tidak ada apa-apa hanya baru ada gesekan sedikit dengan Bianca. Kami itu kan keluarga besar Dev, yang kamu tahu sendiri kan bagaimana kehidupan kami, rasa kekeluargaan kami sangat kental." Sasa mengambil nafas sebentar.
"Tetapi di mata keluarga, memang Bianca sepertinya kurang suka dengan kedekatan tersebut. Mereka sering terjadi konflik, bilang Reno kurang perhatian, lebih sayang keluarga daripada dengan istri. Dan puncaknya, saat mereka ribut hebat di Melbourne terdengar oleh Tante atau mamanya Reno. Disitu Tante mendengar, Bianca menantang Reno untuk memilih istri atau memilih mamanya. Yah, kamu tahulah bagaimana ending nya." imbuh Sasa.
"Sampai sebegitunya ya? Padahal setahuku Bianca di Melbourne, berarti kan baru awal-awal pernikahan mereka?" tanya Dev.
"Iya, itu 3 minggu setelah mereka menikah. Akhirnya sama keluarga waktu itu, kita mengabaikan perasaan Tante dan meminta Reno untuk tetap memperhatikan Bianca. Tapi yah, ga tahulah aku bagaimana akhirnya. karena berapa bulan setelah kembali ke kota ini, tiba-tiba Reno seringkali pulang ke Australia."
"Apa yang diceritakan Bianca ke kamu Dev?" tanya Ivan.
"Sebenarnya Bianca tidak pernah cerita apapun tentang rumah tangganya, bahkan sekitar 2 minggu yang lalu sempat kami berdua pergi ke dokter kandungan. Dia ingin ikut program hamil. Tetapi aku curiga Van, karena kemarin habis kita ketemu di **bon Ndalem Resto, dia kok tidak tahu jika Reno ada di kota ini. Terus aku curiga saja, baru dia cerita. Yah, seperti versi kalian tadilah."
"Permisi, mau mengantarkan pesanan." tiba-tiba pelayan datang membawakan pesanan Ivan dan Sasa.
Setelah pelayan pergi, Dev meminta mereka menikmati makannya dulu sambil menunggu kedatangan Reno.
"Atau coba aku tanya lagi pada Reno, sebenarnya yang dia maui dari pernikahannya sekarang apa. Harapanku sih mereka bisa kembali menyatukan perasaan mereka, dan nanti aku akan sampaikan pada Bianca agar dia meminta maaf pada mamanya Reno."
******************************
"Sorry guys..., aku terlambat. Ternyata jalan arah menuju kesini lumayan ramai!" dengan terengah-engah Reno mendatangi meja Dev dan Sasa.
"Yah, sudah biasa Ren. Sudah duduk gih, tuh aku pesenin kopi sama air mineral. Minum dulu!" sahut Dev.
"Tidak perlu lebay Ren, berapa hari memang kita kenalnya? Coba kamu hitung!"
"Ha.., ha..., ha.., ampun Dev. Aku minum dulu." Reno kemudian menyesap kopi, dan Sasa menyodorkan mie goreng seafood di hadapannya.
"Tak perlu protes, yang ada saja dinikmati! Kalau kurang cocok, sana pesen lagi!"
Mereka menunggu Reno menikmati mie goreng, sambil menyesap minuman mereka masing-masing. Tak berapa lama, Reno sudah menyelesaikan makannya, kemudian
"Silakan adili aku, karena sudah kenyang aku siap mendengarkan, dan jika bisa menjawab aku akan jawab." kata Reno yang sudah merasa, jika hari ini dia akan menjadi objek pertanyaan.
"Tenang brother, ada aku. ha..,ha., ha.., maksudnya aku siap mengangkatmu jika kamu pingsan diserbu dua perempuan ini." goda Ivan.
"Langsung saja Ren, ada apa antara kamu dengan Bianca? Sebagai orang yang saat ini ada di dekatnya, aku curiga kalian berdua menyembunyikan masalah padaku." tanya Dev langsung ke pokok permasalahan.
Reno tersenyum , kemudian memandang ke arah jendela sebentar.
"Jujur Dev, aku hanya menguji bagaimana Bianca. Apakah dia bisa bertahan dengan aku dan keluargaku, atau tetap bertahan sesuai dengan perkataannya dulu. Aku yakin, Sasa atau Ivan sudha menceritakan apa yang terjadi dengan kami pada saat di Melbourne."
"Okay Ren, tapi kalau pendapatku sih. Waktu itu kalian berdua baru saja menikah, jadi chemistry kalian dan keluarga belum begitu terbangun. Bianca itu putri satu-satunya Om Andrew, dan punya kakak satu cowok tetapi lebih lama tinggal di Amerika daripada di Indonesia. Bianca juga besar di negara tersebut, yang sangat erat dengan sisi kehidupan individualis. Jadi, menurutku cobalah tinggal dulu berdua saja untuk sementara waktu, dan kamu jangan malah meninggalkannya di kota ini sendirian." Dev bercerita tentang Bianca dan keluarganya.
"Aku sudah bicara dengan Bianca Ren, dia sangat menyayangimu. Datangilah dia, kami perempuan itu membutuhkan perhatian. Jangan dibiarkan saja, tidak akan ada jalan kalau kalian hanya saling diam. Pertahankan pernikahan kalian Ren, itu permintaanku."
Semua terdiam sejenak.
"Iya Ren, coba kamu ikuti usul Dev! Kita akan selalu mendukungmu, karena kalian kemarin pendekatan dan pacaran memang belum lama, jadi belum semua sifat kalian kenali dengan baik." kata Sasa.
"Aku dan Yudha malah sama sekali tidak ada pendekatan, karena kami dulu langsung menikah. Tetapi dalam keluarga itu, harus ada salah satu yang mau berbesar hati untuk mengalah dan mendengarkan. Itulah dalam rumah tanggaku, dan kami baik-baik saja, bahkan saat ini aku hamil lagi yang kedua."
"Iya Bro.., aku dengan Sasa saja sudah sangat lama sekali berpacaran sebelum menikah. Itu saja, konflik juga sering terjadi di antara kami. Lagian kamu tahu sendiri kan, bagaimana mulut cewek..," Ivan ikut menambahkan.
"Eits..., apa maksudnya membawa mulut cewek?" seru Sasa.
"Nha itu buktinya, belum apa-apa sudah nyolot duluan."
"Sudah.., sudah, kita mau bicara sama Reno. Tetapi kenapa malah kalian berdua yang bertengkar disini?"
"Yupz, ayo diam kak!" sahut Sasa tersenyum.
"Baiklah untuk kalian, nanti dari kantor aku akan pulang ke rumah Bianca. Semoga sudah tidak ada kemarahan di antara kita, dan kita bisa bicara dengan kepala dingin."
"100 for you Reno. Habis ini aku akan bicara dengan Bianca. Usulku kamu beri surprise bawa bunga, jemout dia ke kantor sore ini. Aku yakin, hatinya akan luluh Ren."
"Cocok aku. Apalagi ditambah dengan bunga bank." sahut Sasa.
"Ha..ha..ha.., bisa saja kamu Sa."
*****************************