
Pratama meringis cengar-cengir karena baru pertama kali ada gadis yang berani memukulnya secara langsung. Apalagi dia dipukul di depan Yudha. Sedangkan Yudha menahan senyumnya melihat asisten pribadinya kehilangan muka.
"Siapa gadis itu Tam, kenapa dia bisa berkeliaran di area ini." Yudha menanyakan tentang Cinthya pada Pratama.
"Nenek sihir yang tidak punya sopan santun itu boss. Di halaman depan, dia menabrakku malah dia yang marah-marahnya. Sekarang dia ketahuan menyelinap di sini malah dia yang membuat onar." Pratama menjelaskan sikap Cinthya pada malam ini.
"Untungnya boss tidak jadi menikah dengan nenek sihir itu, kalau jadi saya tidak bisa membayangkan akan bagaimana putra keturunan boss," lanjut Pratama sambil tersenyum pahit.
"Maksudmu." tanya Yudha sambil mengarahkan pandangannya pada Pratama.
"Wanita itu putri pewaris keturunan Indie Group Bapak Hendrawan kolega Tuan Besar. Dia yang kemarin secara acak saya pilih dan saya hubungi untuk menikah dengan boss. Tapi ternyata Tuhan menyelamatkan boss, dia datang terlambat ke lokasi akad nikah." sahut Pratama.
"Oh itu, kenapa tidak kamu dekati dia saja Tam. Apakah kamu mau jomblo seumur hidup, dan sepertinya dari gerak geriknya, dia masih jomblo sepertimu. Lagian alamat, dan nomor ponsel serta data lain tentangnya sudah kamu pegang kan." tiba-tiba muncul ide di otak Yudha.
Yudha memberikan usul pada Pratama untuk mencoba mendekati Cinthya. Kemudian dia berjalan meninggalkan Pratama sendirian untuk mencari istrinya.
Pratama diam tidak menanggapinya pernyataan Yudha. Setelah berpikir sebentar, dia menggumamkan sesuatu.
" Rumah tanggaku setiap hari pasti akan diwarnai pertengkaran kalau Tuhan menjodohkanku dengan wanita sihir itu." gumamnya sambil kembali melangkah keluar, dan duduk di depan teras paviliun untuk menenangkannya dirinya.
*********
Yudha mencari Dev dan akhirnya menemukannya sedang keluar dari toilet. Melihat istrinya, Yudha langsung menghampiri Dev kemudian memeluk dan memberikan ciuman di keningnya.
"Ada apa, tiba-tiba datang dan memelukku. Apakah untuk menebus kesalahan, membuat pengakuan atau apa Tuan Andhi Yudha Baskara." Dev memberondong Yudha dengan beberapa kata.
Merasa bingung dengan sikap dan pertanyaan yang dilontarkan istrinya, Yudha semakin erat memeluk Dev.
"Ada apa dengan pertanyaan istriku malam ini, tidak biasanya bertanya seperti mengandung rasa cemburu." ucap Yudha menggoda istrinya. Tangannya merapikan rambut Dev.
"Ayo kita kembali ke depan, mencari si kembar. Tidak enak meninggalkan para tamu, padahal kakek menyelenggarakan acara ini untuk kita." Dev berusaha melepaskan pelukan Yudha, tapi yang memiliki tangan tidak mau melepaskannya.
"Aku tidak akan melepaskan, sebelum istriku bercerita ada apa yang membuat moodnya hari ini menjadi bad," dengan tersenyum Yudha tetap memeluk erat tubuh istrinya.
Setelah berpikir sejenak, Dev mengutarakan kekesalannya.
"Tuan Yudha..., untuk memulai sesuatu yang baru itu, usahakan untuk menyelesaikan dengan baik-baik sesuatu yang ditinggalkan. Jadi tidak menimbulkan masalah untuk diriku." sahut Dev, dan Yudha semakin bingung dengan sikap istrinya.
"Sayang..., aku akan mengurungmu disini. Dan sepertinya masa nifasmu sudah berakhir, iya kan." bisik Yudha di telinga Dev yang direspon dengan bahasa tubuhnya. Seketika badannya merinding.
"Mesum," teriak Dev sambil mendorong dan memukul dada suaminya. Yudha terkekeh melihat reaksi Dev, kemudian melepaskan istrinya.
"Apakah hari ini ada yang sudah berani memprovokasi istriku," tanya Yudha dengan mata menyipit. Akhirnya Yudha teringat dengan perkataan Pratama.
"Oh I see..," seru Yudha sambil menjentikkan jempol dan telunjuknya bersamaan. Dev menatap suaminya sekilas, kemudian membenahi sisiran rambutnya.
"Tadi aku ketemu Pratama sedang bertengkar dengan wanita yang dia sebut sebagai nenek sihir. Wanita itu sudah memasuki privat area sehingga berurusan dengan Pratama. Perempuan itukah yang telah berani memprovokasi istriku hari ini." kata Yudha lembut dengan ekspresi senang.
Dia merasa bangga dan senang, hari ini bisa melihat dan merasakan dicemburui Dev.
"Kalau wanita itu yang kamu maksud, dia adalah wanita acak yang pernah dipilih Pratama untuk menikah denganku. Karena dia terlambat datang, akhirnya Tuhan mempunyai cara untuk menemukan jodohku. Benarkah dia yang kamu maksud sayang." tanya Yudha.
Dev berhenti dari aktivitasnya, kemudian menoleh ke arah suaminya.
"Aku tidak tahu, yang pasti ada perempuan yang mengejarku masuk ke sini dan memberi tahuku kalau dia adalah mantanmu." akhirnya Dev mengeluarkan perkataan yang dia pendam dari tadi.
"Sayang..., sini lebih dekat ke Daddy." Yudha langsung merengkuh Dev kemudian membawanya ke kursi, dan meletakkan Dev di pangkuannya.
"Nanti kamu bisa menanyakan pada Pratama langsung. Wajah perempuan itu aku baru melihatnya dari tadi pada saat dia sedang bertengkar dengan Pratama."
"Belum pernah sekalipun aku bertemu dengannya, bahkan gambarnya pun aku juga belum pernah melihat. Pratama yang melakukan seleksi dan memilihnya untukku." Yudha memegang wajah Dev dan menghadapkan ke wajahnya. Dev melihat sorot mata Yudha yang mengisyaratkan kejujuran.
"Percayalah padaku sayang, dan melihat interaksi Pratama dengan gadis itu, aku memiliki ide untuk mendekatkannya dengan Pratama." kata Yudha tiba-tiba.
Dev tersenyum dan sepertinya dia sudah mulai mempercayai perkataan suaminya, karena diapun dipilih secara acak oleh Yudha untuk dijadikan istri waktu itu. Dia mulai teringat kejadian lucu dan menegangkan sekitar satu tahun yang lalu.
Melihat mood istrinya sudah mulai bagus, Yudha memegang dagu Dev kemudian mengarahkan ke bawah. Dengan lembut Yudha melum** bibir istrinya dengan penuh perasaan. Tiba-tiba dia merindukan hasratnya yang sudah lebih dua bulan tidak dia keluarkan. Mungkin karena pasangan itu sama-sama menginginkannya, cium** itu berlangsung sangat lama. Mereka berhenti hanya untuk mengambil nafas, kemudian akan saling mereguk manis dari aroma masing-masing. Saat kendali mereka sudah lepas, dan tangan masing-masing sudah mendapatkan pegangannya tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar, dan terdengar tangisan kencang dari Zidan.
"Tok..tok..tok..," Dev langsung tersadar dan mendorong dada suaminya, sedangkan Yudha mukanya mulai merah menahan perasaan dan emosi.
Setelah membetulkan baju, Dev bergegas membukakan pintu kamar. Di depan kamar terlihat baby sitter yang ketakutan, sedang kesulitan menenangkan Zidan yang sedang menangis kencang.
Tanpa banyak bertanya Dev langsung mengambil Zidan dan menggendongnya kemudian membawanya masuk ke dalam kamar. Dia kemudian duduk di pinggir ranjang, kemudian menyusui Zidan dan mengabaikan suaminya. Dengan muka tertekuk menahan keinginan, Yudha berjalan ke arah wastafel untuk mencuci muka. Kemudian dia menghampiri baby sitter satunya untuk mengambil Vian, dan ikut membawanya ke dalam kamar.
"Istirahatlah dulu dan makanlah." kata Baskara pada dua baby sitter yang sejak tadi menjaga buyutnya. Dengan tersenyum penuh makna, Baskara menutup pintu kamar anaknya, kemudian kembali ke depan untuk menemani para tamu.
*******