
Pratama memang asisten pribadi dan wakil CEO yang betul-betul bisa diandalkan dalam bekerja. Instruksi dalam jangka waktu dua hari berhasil dipersiapkan Pratama dengan sempurna. Dua panti asuhan di daerah Rongkop Gunung Kidul menjadi tujuan penyaluran aqiqah dan sedekah keluarga Yudha. Selain itu lebih dari 10 panti asuhan di wilayah DIY juga menjadi tujuan donasi dalam rangka tasyakuran kelahiran Favian dan Zaidan.
Untuk melindungi keamanan anak-anak dan bayinya, acara tasyakuran dan aqiqah dilaksanakan tanpa mendatangkan Dev dan kedua anaknya. Bahkan secara khusus, perawatan si kembar dilakukan oleh Yudha dan Dev sendiri. Rencana untuk mendatangkan baby sitter dari yayasan yang sudah terpercaya ditolak mentah-mentah oleh mereka berdua.
Seperti sore itu, Yudha baru selesai memandikan si kembar, dan dengan penuh kelembutan dia memasangkan baju pada kedua bayinya. Dari belakang, Dev berpikir tentang suaminya. Yudha yang terkenal arogan dan tidak memberikan kesempatan bernafas pada lawan-lawannya, saat ini bertindak sebagai pria yang penuh kasih dan lembut pada keluarganya. Dev ingin membantu, tetapi akan selalu berakhir dengan penolakan.
"Ada apa sayang, apa yang kamu lakukan." tanya Yudha lembut, saat tiba-tiba istrinya memeluk dari belakang dan meletakkan kepalanya di punggung Yudha. Saat ini dia sedang merapikan baju Vian dan Zidan.
"Bukan apa-apa sayang, mommy sangat terharu dengan perhatian Daddy. Ternyata mommy tidak salah mengambil keputusan, saat menerima lamaran Daddy waktu itu. Mommy mendapatkan suami yang sangat komplit." ucap Dev emosional.
"Apakah mommy baru menyadari semuanya sekarang, setelah sekian lama," sahut Yudha kemudian membalik badannya menghadap ke arah Dev.
Merasa gemas dengan suaminya, Dev menggigit dada Yudha dengan lembut.
"Nyonya..., apakah anda sadar dengan tindakan yang baru saja anda lakukan." tanya Yudha menggoda Dev. Meskipun begitu saat si pink warna mungil menyentuh dadanya, gelora magma dalam perut Yudha langsung bergemuruh.
"He...he..he aku hanya ingin menguji Daddy. Seberapa kuat pertahanan suamiku menghadapi godaan perempuan." ucap Dev sambil menutup mulutnya.
Yudha menjawab perkataan Dev dengan tindakan nyata. Secara tiba-tiba, dia mengangkat tubuh istrinya dan membawakan ke tempat tidur.
"Kami tidak perlu mengujiku sayang. Melihatmu dari kejauhan saja, Daddy sudah merasakan horn*, apalagi menyentuh lembut kulitmu. Hal ini tidak akan berlaku bagi perempuan lain." bisik Yudha lembut sambil mengeksplorasi mulut Dev.
Dan ketika tangannya yang sedang terbebas, melakukan penjelajahan untuk memulai petualangan yang sudah lama tidak dia lakukan, sentilan lembut di kening Yudha menyadarkannya.
"Ingat Daddy..., masih belom boleh." ucap Dev lirih yang berakhir dengan Yudha mengacak-acak rambutnya.
"Sampai kapan hal ini akan terus menyiksaku. Kalau aku harus seperti ini, tidak perlu menambah bayi lagi setelah ini," sahut Yudha merasa putus asa.
Pasangan itu selalu begitu, mereka selalu berusaha untuk selalu perfect di luar dalam kesempatan apapun. Tetapi jika mereka sedang berdua, mereka tidak akan berdaya menghadapi gelora dan gelombang dahsyat dari dalam perutnya.
**********
Hari itu Bianca berada di Hyatt Regency, dia merasa jatuh hati dengan si kembar identik yang imut.
"Dev..., bolehkah aku menggendong si kembar, mumpung Daddy nya tidak ada" Bianca meminta ijin Dev untuk menggendong si kembar.
"Boleh, tapi satu saja ya. Kamu boleh gendong Vian, dia lebih bersahabat dengan orang asing daripada Zidan." kata Dev. Kemudian dia mengajarkan cara menggendong bayi pada Bianca.
"Aku their auntie bukan orang lain." protes Bianca.
"Ha..ha..ha.., iya Bia kamu aunty mereka. Tapi Zidan biasa rewel kalau dipegang bukan aku atau Daddy-nya. Coba saja," sahut Dev sambil menyerahkan Zidan ke tangan Bianca.
Dengan mata berbinar, Bianca memindahkan Zidan dari gendongan Dev ke tangannya. Begitu berpindah tangan, Zidan menggeliat, kemudian..
"Owwwwkkk..." tangisan melengking Zidan tiba-tiba terdengar.
"Aduh Dev ....., genap sebulan kayak gini bisa kurus kering aku. Apalagi kamu, yang belum memakai jasa baby sitter," ucap Bianca pelan.
Dev tersenyum melihat Bianca yang belum merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu.
"Kan tadi aku sudah bilang. Vian sedikit lebih dewasa daripada Zidan, kamu sendiri yang ingin mencobanya." kata Dev.
"Penasaran sih, tapi ajaib ya Dev. Begitu kamu pegang, Zidan langsung terdiam." Bianca mengangkat Vian yang sudah kembali tertidur.
Dev tersenyum memperhatikan Bianca yang tampak sangat bahagia menggendong bayi di tangannya.
"Bia..., aku amati sepertinya kamu sudah piawai lho menggendong bayi. Om Andrew juga sudah pingin punya cucu, terlihat dari tatapan iri beliau sama kakek Cokro." kata Dev menggoda Bianca.
"Iya Dev, jujur aku juga pingin cepat menikah seperti kamu. Tapi tahu sendiri kan Reno bagaimana." ucap Bianca pelan kemudian melamun.
Dev pelan-pelan menidurkan Zidan ke box, dan dengan hati-hati mengambil Vian dari tangan Bianca, kemudian menempatkannya kembali ke box bayi.
"Begini kan lebih enak ngobrolnya." kata Dev, kemudian mengajak Bianca duduk.
"Bianca..., Reno itu laki-laki yang bertanggung jawab dengan apa yang telah dia katakan. Kita semua sudah mendengar kan, bagaimana Reno sudah memintamu menjadi istrinya." Dev mengingatkan pada Bianca tentang perkataan Reno saat di rumah sakit.
"Tapi kenapa aku ragu dengan ketulusan Reno ya Dev," tanya Bianca.
Dev memegang tangan Bianca.
"Percayalah Bia, aku mengenal Reno sudah 10 tahun lebih. Sebelum secara resmi dia mengetuk pintu rumahmu, dia membutuhkan waktu untuk meyakinkan keluarganya. Apalagi ekonomi keluarganya sedang terganggu akhir-akhir ini." Kata Dev menjelaskan situasi yang baru dihadapi oleh Reno.
"Semoga apa yang kamu sampaikan benar Dev, bukan hanya sekedar janji Reno untuk membahagiakan aku." sahut Bianca yang masih merasa belum yakin dengan perasaan Reno sebenarnya.
"Atau mungkin kamu mau menikah dengan gaya cow boy seperti pernikahan antara aku dan Yudha." tanya Dev tiba-tiba.
"Kenapa aku tidak punya ide itu ya. Hemat dan tidak memberatkan, tapi akan sangat sulit untuk meyakinkan papa."
"Kalau belum mencoba bicara dengan Om Andrew, bagaimana kamu bisa tahu jawabannya Bianca." sahut Dev memberikan semangat pada Bianca
"Iya juga sih. Dev, tapi bolehkah aku minta tolong. Coba kamu menanyakan perasaan dia yang sebenarnya padaku, aku yakin kalau denganmu, Reno pasti akan bicara jujur." kata Bianca yang minta tolong pada Dev untuk berbicara dengan Reno.
"Bianca...., apakah kamu mau si Reno tiba-tiba luka-luka dihajar sama Pratama dan Yudha, kalau mereka tahu kami ngobrol berdua." tanya Dev.
"Waduh.., kalau itu aku menyerah kalah Dev. Mendingan aku kabur." jawab Bianca yang sudah merasa keder membayangkan ekspresi Yudha dan Pratama.
"Makanya Bia.., percayalah pada Reno. Trust him...., kata pepatah Dalam Cinta ada Kepercayaan." Dev tersenyum dan tetap berusaha meyakinkan Bianca.
*********