
Setelah menyelesaikan berbagai perjanjian perusahaan, dan menunda beberapa hal yang dirasa penting sambil menunggu persetujuan Yudha, Pratama segera keluar dari perusahaan. Dia turun menggunakan lift yang memang dikhususkan untuk Direksi, dan langsung menuju ke basement tempat parkir mobil.
Pratama langsung membawa mobilnya menyusuri sepanjang jalan. Dia sendiri merasa bingung, karena biasanya banyak waktu dihabiskan untuk melayani Yudha. Tetapi karena Yudha dan keluarganya sedang berjalan-jalan ke New Zealand, dia banyak memiliki waktu luang. Apalagi setiap komunikasi dengan Tuannya, selalu menjawab, jika tidak tahu kapan dia akan segera balik ke Indonesia. Saat ini dia hanya berputar-putar menyusuri jalanan yang mulai macet. Tiba-tiba matanya menangkap ada seorang gadis yang sedang menunggu di halte bis Trans. Dia segera memundurkan mobilnya, dan menghentikan di depan halte.
"Kinan..., ayo masuk." teriak Pratama memanggil gadis yang sedang duduk di halte bis.
Semula Kinan hanya cuek mengabaikannya, tetapi Pratama menyalakan klakson mobil dan membuka pintu mobil sebelah kiri. Akhirnya Kinan bisa melihat laki-laki yang sedang berada di dalam mobil, dan dia melangkah masuk dan duduk di kursi depan.
"Maaf mas, Kinan pikir tadi siapa. Jadi tadi sempat Kinan cuekin." Kinanthi menyampaikan permintaan maaf pada Pratama.
"Kamu mau kemana, daripada naik bis mendingan bareng aku saja. Nanti aku antarkan kamu." ucap Pratama. Dia sendiri juga bingung, kenapa hari ini dia bertindak grusa-grusu.
"Kinan mau pulang mas, tapi barusan kerja ngeles di bimbel. Sekarang sudah selesai, dan tinggal pulang ke rumah saja." Kinanthi menjawab pertanyaan yang diajukan Pratama.
"Berarti sekarang free ya Kinan. Kalau begitu temani aku ya, lagi gabut nih."
"Temani kemana mas, boleh sih. Karena kebetulan adik Kinan tadi juga pamitan ada acara dengan teman-temannya."
Pratama tersenyum, kemudian menginjak gas mobilnya. Merasa jika laki-laki yang duduk di sampingnya mengemudi mob terlalu kencang, Kinanthi berteriak.
"Mas, jangan kencang-kencang dong. Kinan takut mas."
"Ha ..ha .ha ., siapa yang ngebut Kinan. Lihat nih ga nyampe 100 kecepatannya." Pratama membela diri.
"Iya ., tapi turunkan lagi ya. Bener mas, Kinan takut. By the way..., mas Tama mau membawa Kinan kemana mas," tanya Kinanthi.
"Jujur Kinan, mas saat ini lagi gabut. Tidak punya tujuan, karena aku memang selama ini juga tidak pernah punya tujuan sendiri."
"Atau Kinanthi yang punya tujuan, aku siap mengantarkan." Pratama ternyata juga tidak memiliki tujuan.
"Hadeh .., Kinan pikir mas Tama punya tujuan mau kemana. Kinanthi pingin ke suatu tempat sih, tapi kata orang-orang disana mahal sih. Ga jadi saja." ucap Kinanthi.
"Sebutkan saja, aku antar langsung kesana saat ini. Jangan khawatir, aku yang akan membayarnya."
"Tapi, disana mahal mas. Sayang duitnya, mending untuk biaya yang lain." Kinanthi yang di kota ini hanya tinggal berdua dengan adiknya, dia memang selalu berpikir bagaimana menghemat uang.
"Sudah Kinan, uangku banyak. He..he.., ayo dimana, aku antar."
"Di ujung timur kota ini mas. Ada rumah makan yang juga sekaligus untuk Resort, namanya **Aya Giri. Terletak di sebelah Candi Boko kalau ga salah." kata Kinanthi menjelaskan.
"Okay Kinan. Pejamkan matamu, tidak sampai 30 menit, kita akan sampai di lokasi." sahut Pratama sambil tersenyum.
Pratama kemudian mengambil Jalan menuju arah Jalan Solo. Tanpa banyak bicara, dia langsung menuju ke **Aya Giri.
*****************
Sesampainya di lokasi, Pratama langsung memberikan kartu namanya. Membaca kartu nama tersebut, waiters terlihat langsung menghormati Pratama, kemudian memilihkan tempat dengan privacy yang bagus, tetapi view di depannya juga tampak terlihat bagus.
Sedangkan Kinanthi yang tidak pernah menyangka, akan dapat sampai ke lokasi itu terlihat sembunyi-sembunyi melakukan foto secara Selfi. Pratama tersenyum melihat tingkah gadis di depannya itu
"Kinan.., ayo menengok kesini." panggil Pratama.
"He..he.., cek di ponselmu. Bagus mana, hasil foto ini atau hasil foto Selfie mu."
Kinanthi membuka ponselnya, dan dia tersenyum malu melihat foto yang dikirimkan Pratama.
"Bagus yang mas Tama kirimkan. Mungkin karena ponsel mas Tama bagus, jadi Kinanthi jadi terlihat cantik di foto ini."
"He..he.., tidak Kinanthi memang cantik kok, tidak hanya di foto ini. Aslinya malah lebih terlihat cantik." sahut Pratama, yang menjadikan dianya sendiri menjadi malu, karena tanpa dia sadari, dia telah memuji Kinanthi cantik.
Untungnya bersamaan itu, waiters mengantarkan Wellcome drink. dan membawakan buku menu.
"Beef black pepper 1 ya mbak, lemon tea panas 1. Kinanthi mau makan apa?" tanya Pratama pada Kinanthi.
Kinanthi memerah pipinya, karena dia baru pertama kali kesini dia bingung mau pesan apa. Dan melihat harga menunya, membuatnya panas dingin.
"Kinan pesan sama dengan mas Tama saja." akhirnya Kinanthi memesan menu yang sama dengan yang dipesan Pratama.
"Okay, mbak jadi pesenan yang tadi 2 ya. Itu saja dulu." Pratama bicara sama waiters.
"Iya kak, tunggu sebentar ya. Permisi selamat sore."
"Mas Tama sering kesini ya. Kalau Kinan baru sekali ini mas kesini. Terima kasih ya sudah mengajak Kinan kesini, senang banget rasanya." ucap Kinanthi.
"Urusan kerjaan Kinan, kalau jamu tamu atau calon rekanan terkadang kita bawa kesini. Atau Kinan mau nginep disini apa, sekalian mas booking." tanya Pratama.
"Ah jangan mas, habis ini kita langsung pulang saja. Kasihan adik Kinan, kalau pulang ke rumah tidak ada temannya."
Pratama hanya tersenyum menanggapi kepolosan Kinanthi.
"Adik Kinan, sudah kuliah atau masih SMA."
"Sudah kuliah mas, tapi baru semester 3. Yah, semenjak bapak dan ibu meninggal, kami hidup berdua mas. Untungnya bapak dulu PNS mas, jadi masih ada yang pensiun untuk biaya adik kuliah." kata Kinanthi sambil tersenyum kecut.
"Yang sabar Kinan, ingat kata pepatah. Semua kan indah pada waktunya. Masih ada dukungan rejeki dari orang tua, meskipun beliau sudah tiada." ucap Pratama menghibur Kinanthi.
"Iya sih mas, Kinanthi dan adik juga selalu bersyukur masih bisa bertahan sampai sekarang. Kinan bisa bekerja sambil menemani adik lulus kuliah."
"Terus kapan Kinan akan menikah." kalimat pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Pratama. Dia sendiri merasa kaget, kenapa bisa menanyakan hal itu pada Kinanthi.
Kinanthi tersenyum malu, kemudian menggelengkan kepala. Keduanya akhirnya terdiam, menatap ke depan melihat sunset di ufuk barat.
"Kinan menunggu adik selesai mas. Kalau dia sudah menyelesaikan semua, mungkin Kinan lagi berpikir untuk mencari suami. Karena tidak mudah mendapatkan suami yang mau mengerti latar belakang kita." Kinan berbicara panjang.
"Ya sudahlah Kinan, kamu tidak perlu memikirkan perkataanku. Tadi aku cuma mau nanya, jika aku mengajak kamu keluar, kira-kira ada yang akan marah tidak."
Kinanthi tersenyum, kemudian melihat ke arah Pratama.
"Tidak ada mas. Paling Kinan hanya ditanya sama adik saja, kalau pulangnya telat sampai rumah."
*************************