Married By Incident

Married By Incident
Kerinduan



Dev berbaring dengan meletakkan kepalanya di dada suaminya. Posisi favorit yang selalu mereka lakukan berdua.


"Hari ini tidak banyak agenda kah," tanya Dev tersenyum bahagia, karena sejak siang Yudha sudah pulang untuk menemaninya.


"Semua urusan hari ini aku serahkan pada Pratama. Aku sengaja pulang, untuk menemanimu mandi. Kehamilanmu sudah mendekati HPL, kamu harus ekstra hati-hati jika terpaksa ke kamar mandi." kata Yudha.


Dev merasakan kehangatan di hatinya dengan perhatian Yudha yang sangat besar terhadapnya.


"Yudh ..., aku pingin ke mall boleh, aku ingin mempersiapkan baju bayi untuk anak-anak kita," tanya Dev.


"Tidak..., kamu boleh keluar saat ini jika sedang bersamaku. Sampai bayi ini lahir, kamu tidak boleh kemana-mana tanpa ada aku." sahut Yudha tegas.


Dia tidak akan lagi membiarkan istrinya mengalami kejadian seperti kemarin. Mungkin dia akan menghabisi semua orang yang terlibat, kemudian mengakhiri hidupnya sendiri jika terjadi sesuatu dengan Dev.


"Terus bagaimana dengan persiapan untuk anak kita nantinya. Tidak mungkin kan, mereka lahir, kita baru kebingungan menyiapkan perlengkapannya." kata Dev bingung.


"Aku akan menyiapkan semuanya segera. Kamu tidak perlu banyak berpikir. Sekarang saatnya kamu beristirahat. Aku tahu dari pagi, kamu belum istirahat gara-gara kedatangan pengisruh kan"


"Mereka teman-temanku sayang. Mereka bukan pengisruh, kedatangan mereka membantu aku mengurangi rasa bosanku." kata Dev memprotes suaminya.


Yudha kemudian mengangkat kepala Dev dan meletakkan di sampingnya. Kemudian dia memeluknya erat.


"Ayo tidurlah dulu, bayi kita juga butuh istirahat siang." bisiknya lembut.


Akhirnya di bawah pelukan suaminya, dengan cepat Dev tertidur dalam damai.


********


Yudha membantu Dev membersihkan badan sore itu. Tangannya membantu menggosok punggung istrinya dan memberikan busa yang banyak. Melihat perut istrinya, hatinya merasa hangat dan segera ingin merasakan kebahagiaan melihat anaknya. Tiba-tiba Dev membalikkan badannya dan menaruh kedua tangannya di leher Dev.


"Apa yang kamu lakukan sayang, jangan memancingku." kata Yudha tegas.


Dev tersenyum, kemudian menggoda suaminya dengan kedipan mata. Yudha segera memegang kedua pipi Dev dengan tangan yang penuh busa, kemudian tanpa bisa ditahan dia menekankan bibirnya ke bibir Dev. Cukup lama dia mempermainkan dan meng**sap manis aroma bibir itu, dan setelah mereka hampir kehabisan nafas maka baru Yudha melepaskan pagutannya.


"Kapan bayimu keluar sayang, aku sudah tidak bisa menunggu lagi lebih lama." bisik Yudha di telinga Dev, sambil menggosokkan hidungnya ke hidung Dev.


Suara serak suaminya sangat membangkitkan keinginan Dev untuk diperlakukan lebih.


"Aku tidak bilang kalau aku tidak mau saat ini sayang." sahut Dev manja, dan mempermainkan tangannya di dada bidang Yudha.


"Berhentilah menggodaku, dokter berpesan padaku agar menunda keinginanku. Kejadian terakhir menjadikan rahimmu sedikit lemah." kata Yudha menguatkan dirinya.


Dia memeluk erat Dev, dan menekankan sedikit badannya untuk mengurangi kerinduannya.


"Yudh..., sayang...," Dev masih mencoba merayu Yudha.


"Hmmm.hm.., tidak." kata Yudha tegas.


"Ayo, pelan jalannya. Lantainya licin." kata Yudha dan dengan hati-hati memegangi tangan istrinya dan membawanya keluar dari kamar mandi. Setelah menyiapkan perlengkapan baju ganti istrinya, Yudha kembali ke kamar mandi untuk merendam dirinya dengan air dingin.


*******


Sementara itu di meeting room PT. Kalingga, terdapat perdebatan seru yang terjadi di dalam. Beberapa Direksi ingin tetap mempertahankan Dev, tetapi beberapa ingin mengeluarkannya karena dianggap mangkir dari tanggung jawabnya. Pertemuan sudah berlangsung satu jam lebih, tetapi mereka belum mendapatkan titik temu.


"Saya tidak peduli hal apa yang melatarbelakangi mangkirnya ibu Devina. Tetapi perusahaan kita punya aturan." kata Ronald salah satu Direksi.


"Tetapi kita juga perlu flash back juga ke belakang. Bagaimana kinerja Bu Devina selama ini. Apalagi kejadian beliau dilarikan ke rumah sakit, karena ketidak becusan kita melindungi keamanan pegawai." Donna menyampaikan pembelaan.


"Seharusnya begitu dia diperbolehkan pulang dari rumah sakit, ada itikad baik dari Saudara Devina untuk melapor kepada Human Resource Department. Tapi ini apa," sahut yang lainnya lagi.


"Meskipun Bu Devina tidak datang ke kantor, sudah satu Minggu ini beliau tetap menyelesaikan tanggung jawab pekerjaannya. Dia tetap mengarahkan timnya menggunakan online meeting. Semua dead line juga diselesaikan dengan baik." Gunawan menyampaikan pembelaan.


"Hal yang perlu diingat adalah kita punya aturan kepegawaian yang sudah kita sosialisasikan kepada semua pegawai. Aturan bekerja secara virtual, belum kita tuliskan dalam aturan kepegawaian kita, sehingga aturan yang kita gunakan sebagai pedoman adalah aturan lama." tegas peserta rapat lainnya.


Perdebatan antara peserta rapat terjadi cukup lama, akhirnya diputuskan satu kesepakatan bersama.


"Baiklah, tidak ada manfaatnya kita bertahan dan keukeuh dengan pendapat kita masing-masing. Aturan kepegawaian kita harus kita junjung tinggi. HRD silakan mengirimkan surat Peringatan 1 pada Saudara Devina, jika tidak ada konfirmasi lanjut maka kirimkan SP langsung SP III." pimpinan sidang menyimpulkan hasil kesepakatan bersama.


"Bisa interupsi sebentar pak." Gunawan mengacungkan jari telunjuknya.


"Iya silakan pak Gunawan."


"Mohon dipertimbangkan juga anggota dari Web Designer & IT Division. Bersamaan dengan ibu Devina, terdapat satu anggota tim yang juga terpaksa harus resign dari perusahaan." kata Gunawan. Semua peserta rapat memperhatikannya dengan serius.


"Maksudnya apa, mohon diperjelas pak Gunawan," kata pimpinan sidang.


"Saudara Icha sudah menikah dengan Saudara Bertho, dimana mereka satu tim dalam perusahaan. Keduanya berada satu divisi dengan Bu Devina. Icha sudah menyetujui untuk resign dari perusahaan sebelum melahirkan."


"Jika kita kembalikan pada aturan kepegawaian, maka salah satu pegawai harus mengundurkan diri. Dan jika itu terjadi, maka dalam waktu bersamaan kita akan kehilangan dua tim kreatif kita."


"Mohon dipikirkan untuk keberlanjutan bagian Research and Development, siapa yang akan menanganinya nanti." panjang lebar Gunawan menyampaikan kondisi riil yang terjadi di PT. Kalingga.


Meeting room hening sejenak. Semuanya berpikir bagaimana mendapatkan solusi terbaik atas permasalahan SDM perusahaan.


"Mungkin saat ini, sudah waktunya kita melakukan peninjauan ulang aturan kepegawaian perusahaan kita. Jangan sampai aturan-aturan konvensional yang akhirnya malah menjerat kita sendiri. Kita perlu menyesuaikan dengan kondisi perubahan saat ini." kata Donna.


"Baik usulan Bu Donna nanti akan kita pikirkan kembali, keputusan kita tetap pada kesepakatan awal yaitu kirimkan SP I untuk Bu Devina. Kemudian masalah ke depannya termasuk status suami istri dalam satu perusahaan, nanti kita bicarakan pada rapat koordinasi berikutnya." kata pimpinan rapat mengakhiri proses diskusi.


Akhirnya Rapat koordinasi ditutup dengan menyisakan satu PR yang harus segera membutuhkan penyelesaian bersama.


********