
"Uncle.. uncle... catch me!" teriak Zidan meminta Rendra mengejarnya. Saat ini Rendra sedang berenang dengan kedua ponakannya di kolam renang belakang rumah.
"Okay... tunggu uncle ya!" Rendra langsung berenang mengejar keponakannya.
"Sudah yok... hari mulai panas. Istirahat dulu." seru Sonya yang melihat mereka dari pinggir kolam renang. Tampak satu buah catcher berisi orange Juice sudah disiapkan Sonya di atas meja besi.
"Sebentar lagi Oma.., Zidan belum capai."
"Baik.., tapi tidak boleh lama-lama ya. Nanti kulit kalian bisa gosong terkena sinar matahari."
"Ya Oma."
Burhanuddin tersenyum melihat kedua cucunya tampak senang, dengan cepat mereka bisa akrab dengan Uncle nya. Padahal, mereka jarang ketemu. Sebenarnya kemarin mereka hanya berencana berada di kota ini selama satu Minggu. Tetapi Dev melarang mereka untuk pulang, akhirnya mereka memperpanjang waktu berada di sini menjadi dua Minggu.
"Senang ya pa, melihat keriangan anak-anak. Andaikan dekat, tiap hari mama akan datang kesini. Kapan ya Tiara mau untuk segera menikah?" ucap Sonya sambil berjalan menghampiri suaminya.
"Lha sudah ada jodohnya belum? Besok kalau kita sudah sampai di Palembang, mama bisa menanyakan langsung pada Tiara."
"Mama belum pernah sih, menyinggung masalah ini dengan anak itu. Terus hubungannya dengan laki-laki yang dulu sempat mau menghancurkan keluarga Dev, mama juga tidak tahu kelanjutannya."
"Besok kita tanyakan langsung dengan baik-baik pada Tiara. Semoga kejadian dulu itu, betul-betul membawa pembelajaran untuk kita semua."
"Iya pa." sahut Sonya singkat, kemudian mereka berdua terdiam hanya melihat cucu dan putranya berenang.
"Nyonya.., Tuan.., ini ada Snack ringan untuk anak-anak." tiba-tiba lamunan papa dan mama Dev terganggu karena kedatangan Bibi. Dia membawa nampan berisi tempe mendoan dan brusceta panggang.
"Letakkan disini saja Bi. Wah mendoannya masih panas. Baru habis digoreng ya Bi?" tanya Sonya.
"Iya Nyonya. Kebetulan Tuan Zidan dan Vian sangat suka mendoan. Mungkin menurun dari Nyonya Muda, jadi setiap hari harus ada menu ini."
"Benar Bi, memang mamanya si kembar dari dia SMA sangat suka tempe goreng, apalagi jika dikasih tepung."
"Saya kembali ke dapur dulu ya Nyonya." Bibi berpamitan untuk melanjutkan aktivitasnya di dapur.
"Iya Bu.., terima kasih."
"Cucu-cucu opa, ayo segera naik! Siapa yang mau mendoan sama brusceta panggang?" Burhanuddin memanggil cucunya.
"Zidan mau opa." seru Zidan sambil berenang menuju tepi kolam renang.
"Tolong Zidan opa.., Zidan mau berhenti!. Sudah capai." teriak Zidan yang sudah sampai dike tepian, dia memanggil opanya dengan mengangkat tangannya.
Dengan cepat, Burhanuddin mengangkat cucunya dari dalam air. Sedangkan Vian langsung berenang menuju tangga naik ke atas kolam renang, dan diikuti oleh Rendra. Sonya membawa tiga buah handuk, dan memberikan pada ketiganya.
"Mau mandi langsung atau mau minum dulu?" tanya Burhanuddin.
"Mau makan mendoan dulu." kedua anak itu langsung berlari ke meja, dan dengan menggunakan tissue segera mengambil mendoan dan langsung memakannya.
Sonya dan Burhanuddin hanya geleng-geleng kepala melihat mereka.
"Rendra mau mandi sekalian saja ma." kata Rendra sambil berjalan ke tempat bilas sambil menggunakan handuk untuk menutup bagian kepalanya.
"Sudah menyiapkan baju ganti belum Rendra?"
"Sudah pa, tadi kebetulan sebelum mulai masuk kolam renang, Rendra sudah menggantungkan baju ganti di ruang bilas sekalian. Biar tidak basah kalau langsung masuk ke dalam rumah."
***************
Yudha tampak kesal segera masuk ke dalam kamar. Dia tidak menjumpai istrinya di kamar, dan karena baru merasa kesal, dia langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tidak berapa lama dia sudah tertidur.
"Rupanya Daddy sudah sampai rumah ya. Tapi.., tumben-tumbenan langsung tidur, tidak ganti baju lagi." gumam Dev.
"Berarti Daddy-nya anak-anak memang tidur beneran, aku pikir hanya ngerjain aku." Dev tersenyum kemudian duduk di samping suaminya tidur.
Tetapi tidak lama kemudian, Dev kemudian berdiri, dan berjalan meninggalkan suaminya. Dev yang sudah mandi, segera menuju dapur untuk mempersiapkan makanan untuk suaminya.
Dev merebus air dengan panci kecil dan memasukkan lasagna di aluminium foil ke microwave.
"Sedang masak apa Nyonya Muda?" tanya Bibi yang langsung ke dapur, karena mendengar suara kompor dinyalakan.
"Hanya mau bikin teh panas saja kok Bi. Untuk Daddy-nya anak-anak, sama sekalian manaskan lasagna di microwave. Vian sama Zidan kemana Bi, kok tidak ada suaranya?"
"Sepertinya jalan sama Tuan Rendra dan opanya Nyonya Muda. Atau Bibi cari dulu sebentar."
"Biarkan saja Bi. Mumpung uncle nya ada disini."
"Baik Nyonya Muda."
Setelah ketel untuk merebus air berbunyi, dengan cekatan Dev segera mematikan kompor. Dia segera menyiapkan dua cangkir teh panas manis, dan mengeluarkan lasagna dari microwave.
*********
"Minum dulu Dadd tehnya, mumpung masih panas!" Dev menawarkan teh yang baru selesai dia bawa ke kamar pada suaminya.
"Makasih sayang, dimana anak-anak?" tanya Yudha sambil mengambil cangkir dan menyesap minumannya.
"Si kembar lagi jalan sama Uncle dan Opanya. Aileen sedang sama baby sitter. Tumben Dadd, sepertinya papa kusut banget hari ini. Ada masalah?"
"Sedikit pusing saja Momm, makanya sepulang kerja lihat ranjang langsung berbaring."
"Momm antar ke dokter apa? Atau home visit saja, sekarang juga Dokternya Mommy telpon?"
"Tidak perlu, sudah lumayan banyak berkurang pusingnya."
"Ya sudah, Momm pijat saja kepalanya."
Dev segera mendekati suaminya, tangannya langsung memijat leher dan kepala suaminya.
"Sudah boleh Momm?" bisik Yudha.
"Maksud Dadd? Boleh apanya?" tanya Dev penasaran.
"Masak ga tanggap sih? Kasihani Daddy dong, sudah lebih satu bulan tidak pernah dikasih." ucap Yudha sambil mendudukkan istrinya di pangkuannya. Tangannya dengan erat memeluk istrinya, dan meletakkan kepala di punggung Dev.
"Ya Tuhan Daddy.., belum boleh sayang. Baru juga jalan ke tiga Minggu setelah melahirkan. Sabar..!" ucap Dev sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Tiga Minggu sih, tapi dari dua Minggu sebelum Aileen lahir, Mommy sudah melarang Daddy untuk mendekat." protes Yudha.
"Kan yang melarang Daddy bukan Mommy..., tapi Dokter kan yang melarang. Hi..hi..hi.."
"Beneran ini Momm.. tega biarkan Daddy seperti ini?" dengan tatapan redup, Yudha memandang Dev.
"Sabar sayang Mommy.. kata pepatah sih Semua akan indah pada waktunya. Masak Mommy melarang Daddy mendekat, jika memang sudah bersih." bisik Dev.
Yudha membalikkan tubuh Dev menjadi menghadapnya, kemudian dengan cepat Yudha menyambar bibir Dev dan **********. Lama tidak mendapatkan sentuhan, tubuh Dev bergetar dan sejenak terlelap dalam buaian suaminya. Tetapi saat tangan Yudha sudah mulai bergerilya ke balik bajunya, dengan cepat Dev berdiri.
"Sayang.. belum boleh. Sabarlah sebentar lagi."
*************