Married By Incident

Married By Incident
Masuk Kerja



Satu Minggu setelah acara syukuran, Baskara jadi bertolak ke New Zealand. Semenjak Baskara pergi hari-hari sibuk Dev dimulai, karena dia harus mempersiapkan diri untuk kembali masuk ke perusahaan lagi. Hanya bedanya, perusahaan yang dia masuki saat ini melibatkan dia sendiri sebagai pemegang saham. Sehingga tanggung jawab yang dia pegang jauh lebih berat daripada saat dia menjadi pegawai di PT. Kalingga.


Sore itu, Dev mempelajari laporan beberapa bulan terakhir yang dikirimkan oleh beberapa manajer divisi PT. Diamond. Sebenarnya dia berbagi tugas dengan Bianca untuk monitoring dan evaluasi internal perusahaan. Bianca menangani keuangan dan produksi, sedangkan Dev menangani marketing dan human resource. Tapi agar bisa mengintegrasikan semua divisi sebagai satu kesatuan, dan menemukan kohesivitas antara berbagai bidang maka Dev memutuskan untuk mempelajari semuanya.


Setelah memandikan si kembar, Yudha melihat kesibukan istrinya mempelajari dokumen perusahaan. Dia segeralah pergi ke dapur untuk menyiapkan teh Nasgithel untuk istrinya.


"Minumlah dulu selagi panas, baru nanti dibaca lagi." Yudha mengambil dokumen di tangan Dev, dan meletakkannya di atas meja.


"Terima kasih," ucap Dev sambil mengambil cangkir teh yang disodorkan oleh Yudha.


Dev meneguk teh beberapa kali, kemudian meletakkan kembali cangkir di atas meja.


" Kapan rencanamu akan mulai berangkat ke PT. Diamond." tanya Yudha


"Mungkin Senin, aku akan mencoba orientasi dengan timku. Bertho juga sudah aku informasikan untuk mempersiapkan segalanya, karena Icha sudah aku minta untuk masuk kerja." Dev merebahkan badannya di dada suaminya. Posisi paling favorit dan menyenangkan saat mereka berbincang berdua.


"Kamu bisa membuat pengaturan teman-temanmu, terus bagaimana dengan dirimu sendiri. Apakah istriku juga sudah menyiapkan segalanya." tanya Yudha.


Dev membalikkan badannya menjadi tengkurap di atas dada suaminya.


"Dengan hadirnya suamiku yang perfect, apalagi yang akan aku siapkan sayang. Suamiku tidak akan pernah membiarkan istrinya sengsara kan." kata Dev sambil meletakkan Pipinya di dada Yudha.


"Dev.., bagaimana dengan si kembar. Bagaimana kalau mulai besok kamu belajar untuk menyapih dia. Karena aku yakin, kamu akan sangat kerepotan jika kamu masih memberinya ASI." kata Yudha memberikan saran.


"Tidak sayang, aku akan memberikan ASI eksklusif untuk si kembar. Aku ingin menjalin ikatan batin yang erat dengan anak-anak." Dev mencoba bertahan untuk memberikan ASI eksklusif untuk buah hatinya.


"Tapi bagaimana kamu nanti akan bekerja sayang, di sisi lain kamu harus tetapi memberi ASI pada mereka." Yudha tetap menginginkan agar Dev segera menyapih di kembar.


"Aku bisa melakukan pumping jika produksi ASI sudah penuh sayang, dan menyimpannya di freezer. Baby sitter tinggal menghangatkan kembali untuk mereka. Teknologi saat ini sudah meringankan para pejuang ASI ekslusif." Dev menjelaskan pada suaminya.


"Dan sebagainya ibu mereka, Mommy ingin memberikan selalu yang terbaik untuk putra-putra mommy." lanjut Dev dengan senyum keibuan yang sangat bangga bisa memberikan yang terbaik untuk putra-putranya.


" Sangat beruntung sekali kedua Mucil itu mendapatkan manfaat yang terbaik darimu." terdengar Yudha menggerutu merasa tak berdaya, karena merasa sebagai pihak yang dirugikan.


"Hush... sayang. Mereka anak-anak kita. apakah Daddy mau anak-anak kita tahu kalau Daddy nya berusaha untuk merebut miliknya yang paling berharga. Daddy berusaha untuk merebut jatah makannya." Dev menggoda Yudha.


Menghadapi godaan mulut istrinya, Yudha membalasnya dengan anggota tubuhnya dan Dev menjadikan pihak yang tidak pernah berkutik. Dalam waktu sebentar, obrolan itu berubah menjadi sebuah pergulatan dan jalinan dua raga yang saling melepaskan dahaga panjang.


********


Menggunakan setelan rok batik selutut dengan kemeja putih, dan menambahkannya scarf di lehernya, Dev hari ini mulai untuk mengenal lingkungan barunya di PT. Diamond. Kaki jenjang dan tas tangan melengkapi out of the day hari pertamanya. Yudha tampak terpana tanpa lepas pandangan dari istrinya. Riasan dengan Bedak tipis, lipstik nude warna coral menambah flawless, dan membuat wajah istrinya semakin ranum dan segar.


"Hmmm....," Yudha berdehem. Istrinya seperti melakukan metamorfosis, dari penampilan seadanya saat berada di behind screen berubah menjadi tampilan gaya eksekutif.


"Sejak kapan istriku tertarik pada penampilan seperti ini." tanya Yudha agak kurang berkenan dengan penampilan istrinya tanpa ada dia di samping.


Dengan tersenyum, Dev memang mendekat Yudha.


"Dad .., aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Bagaimana bisa meyakinkan client, jika penampilanku saja tidak meyakinkan mereka," sahut Dev.


"Apakah penampilanku terlalu vulgar atau bagaimana Daddy." lanjut Dev dengan pertanyaan.


Setelah menghela nafas berat, Yudha setuju dengan pemikiran istrinya.


"Untuk vulgar, tidak. Masih sopan, tapi dengan penampilan kali ini aku melihat istriku lebih mempesona. Aku khawatir akan banyak laki-laki yang memandang penuh minat terhadap istriku." Yudha menyampaikan alasan keberatannya.


"Trust me, Daddy. Tidak ada laki-laki yang akan mampu memenuhi dan memberikan semuanya hanya untuk seorang istri. Aku tidak akan menyia-nyiakan anugerah yang sudah diberikan Tuhan padaku. Aku menyayangi keluarga ini sayang. Kalian semua adalah hidupku." ucap Dev sambil memeluk suaminya.


Perlahan Yudha membalas pelukan Dev, kemudian mencium pucuk kepalanya.


"Aku sebenarnya iri Dev, harusnya penampilan ini yang aku lihat setiap saat, tapi istriku malah memilih bekerja di tempat lain. kata Yudha.


"Daddy...., kita sudah pernah membicarakan masalah ini. Apakah suamiku akan mengingkari janjinya padaku." tanya Dev sambil menatap mata Yudha.


"Iya... iya, selagi istriku bahagia, maka aku pasti akan bahagia. Ayo kita berangkat, aku akan mengantarmu." Yudha merangkul bahu istrinya, kemudian keluar bersama-sama.


Dua babi sitter terlihat sedang mengajak si kembar berjemur matahari pagi, di taman belakang. Yudha dan Dev mendatangi putranya, dan mereka akan mulai membiasakan diri, untuk berpamitan dengan putranya jika hendak pergi keluar rumah. Melihat Tuan dan Nyonya Muda menghampiri, baby sitter mendorong stroller mendekat.


"Zidan, Vian ... Mom and Dad berangkat kerja dulu ya sayang. Jangan rewel...," Dev mengajak komunikasi si kembar, kemudian dengan gemas mencium pipi si kembar. Tanpa bicara, Yudha melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Dev.


"Mbak... jaga baik-baik si kembar ya. Mereka jangan sampai ditinggal sendiri. Jika ada keperluan, gantian salah satu dulu."Dev memberi pesan pada baby sitter.


'Baik, Nyonya Muda. Kami akan berusaha menjaga si kembar dengan baik-baik." jawab baby sitter.


Setelah pamitan, mereka segera bergegas keluar untuk berangkat kerja. Di depan rumah, mereka berjumpa dengan Bi Siti yang baru pulang dari pasar dengan diantar pak Sholeh.


"Nyonya Muda dan Tuan sudah akan berangkat?" tanya Bi Siti dengan sopan.


"Iya Bi, nitip anak-anak ya Bi? Sekalian diawasi." kata Dev.


"Iya Nyonya Muda, selesai masak nanti Bibi ikut awasi si kembar." sahut Bi Siti.


"Sudah ayo, keburu ramai jalannya."Yudha menggandeng tangan Dev kemudian segera masuk ke dalam mobil.


*********