
Dev merasakan gelisah tidak bisa tidur, berkali-kali dia melihat ke arah jarum jam. Dia sudah berusaha memejamkan mata, tapi sepertinya mata tetap terjaga tidak mau berkompromi. Malam ini sudah jam sebelas malam, tetapi Yudha juga belum pulang ke rumah, sedangkan ponselnya sudah dihubungi tetapi berada di luar jangkauan. Dev juga sudah mencoba menghubungi Pratama, tetapi nomornya juga memberikan jawaban yang sama. Untuk mengusir kegelisahan, Dev bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan ke kamar anaknya. Memandangi kedua putra kembarnya, rasa hangat dan ketenangan sedikit memenuhi rongga paru-parunya. Perlahan Dev menghampiri mereka, dan memberikan ciuman di kening masing-masing. Pada saat Dev mencium kening Vian, tiba-tiba mata anak itu terbuka. Dia tidak menangis, tetapi melihat matanya, Dev merasakan isyarat padanya untuk bersikap tenang.
"Daddy baik-baik saja Mommy, tidak perlu khawatir," Dev seperti membaca pikiran Vian yang seperti berusaha menenangkannya. Matanya sangat teduh dan menenangkan hati siapapun yang melihatnya.
Untuk meredakan kegelisahannya, Dev mengangkat Vian ke dalam gendongannya, kemudian memindahkannya ke ranjang tempat tidurnya. Dev juga melakukan hal yang sama pada Zidan. Setelah semuanya selesai, Dev merebahkan tubuhnya dengan mengapit keduanya. Tidak menunggu lama kemudian Dev sudah bisa tertidur.
Pukul 12.30, Yudha baru memasuki halaman rumahnya dan memarkir mobil langsung di depan teras pintu masuk. Dari tadi dia sudah memendam rasa kerinduan yang teramat sangat,akan gesekan dan sentuhan halus lembut kulit istrinya. Setelah satu minggu mereka melangsungkan pernikahan dan memtuskan untuk tinggal bersama, belum pernah mereka tidur terpisah. Terjadi atau tidak penyatuan dan pelepasan di antara mereka, keduanya memiliki hubungan saling ketergantungan yang sulit untuk dipisahkan.
Begitu Yudha membuka pintu, rasa sakit dan nyeri seperti menusuk ulu hatinya. Dev tidur dengan diapit oleh kedua putra kembarnya yang berada di sisi liri dan kanannya.
"Maafkan aku Dev, aku tahu bagaimana tersiksanya kamu melewati malam ini." Yudha berbisik pada dirinya sendiri.
Merasa tubuhnya lengket dan bau karena debu atau keringat, Yudha langsung menuju kamar mandi. Tidak lama sekitar lima menit kemudian, Yudha sudah selesai membersihkan dirinya. Dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya, Yudha melangkah ke walk in closed untuk mengambil piyama. Setelah mengenakan piyama, Yudha siap bergabung dengan putra dan istrinya di tempat tidur. Baru saja Yudha akan memindahkan si kembar ke kamarnya, seperti merasakan kehadiran Daddy nya, Vian tiba-tiba membuka matanya tetapi tidak menangis. Mata itu seperti memberikan penghakiman karena teleh membuat gelisah dan khawatir Mommy nya.
"Maafkan Daddy sayang," Yudha menyapa Vian putra kembarnya yang lahir lebih awal daripada Zidan.
Dengan penuh kehangatan, Yudha mengangkat Vian kemudian mendekapnya di pelukan dan membawanya ke tempat tidurnya. Setelah menepuk-nepuk sebentar, perlahan Vian tertidur kembali. Yudha juga memindahkan Zidan yang tetap tertidur meskipun badannya dipindahkan dan diberikan ciuman oleh Daddy-nya.
Merasakan kehadiran tungku kehangatan di sampingnya, Dev merapatkan tubuhnya ke arah suaminya. Kepalanya bergerak-gerak seperti anak ayam yang mencari perlindungan, dan tidak lama sudah meringkuk di dada Yudha. Dengan satu tangan mempelajari dokumen penyelidikan kasus yang menimpa perusahaan cabang Palembang, tangan satunya meraih kepala istrinya dan meletakkan di atas dadanya. Meskipun setelah beberapa lama Yudha merasa kebas pada tangan kanannya, tetapi khawatir membangunkan Dev, dia tidak merasakan rasa tersebut sampai dia tertidur.
Dev tersentak saat dia terbangun, dan melihat satu tangan suaminya dengan kokoh menahan beban tubuhnya. Rasa nyeri seperti menusuk hatinya, perlahan dia meluruskan tubuh suaminya. Dengan rasa pengabdian dalam, Dev memberikan kecupan hangat di kening Yudha. Tapi saat Dev akan bangkit dari tempat tidur, bibir hangat Yudha tiba-tiba menyergapnya dan meraup manis keduanya.Untuk menebus rasa bersalah karena pengorbanan suaminya, Dev memiliki alternatif untuk memberikan service padanya. Tanpa ada yang meminta, si mungil pink melakukan penjelajahan dan petualangan tanpa meninggalkan jejak di sepanjang lembah dan ngarai di tubuh suaminya.
"Ahhhh.... Dev...., istriku sayang... ehm...," kata-kata yang terdengar seksi keluar dari mulut Yudha, yang seakan menjadi penyemangat dan pembangkit Dev, untuk semakin menanamkan jejak petualang di setiap lokasi yang dijelajahinya. Suasana pagi hari ditambah dinginnya kamar karena pendingin ruangan menjadi daya dukung hubungan intim pagi keduanya. Beberapa saat terlewati, akhirnya Yudha dan Dev tersenyum manis saling menatap penuh makna saat jalinan dan belitan tubuh mereka mendapatkan pelepasan bersama.
"Ayo Daddy mandikan dulu Mommy...," bisik seksi Yudha di telinga Dev.
"Dadd..., tolong beri kesempatan Mommy sebentar saja untuk menikmatinya kali ini." Dev menolak ajakan Yudha yang akan memberikan sajian penutup dengan mandi bersama.
Seakan paham dengan keinginan istrinya, Yudha membiarkan mereka tetap berada pada posisi yang sama.
*********************
Yudha menghentikan aktivitasnya yang sedang mengaduk gula, kemudian menatap Dev dengan rasa bersalah.
"Ada sedikit guncangan pada salah satu perusahaan cabang. Bukan guncangan permasalahan keuangan, yang dapat mudah ditutup oleh profit dari cabang lainnya. Tetapi sepertinya ada pihak-pihak yang coba secara proaktif melakukan serangan pada perusahaan. Mereka tidak bermain secara gentle, tetapi dengan menghancurkan rasa trust perusahaan mitra dan retailer yang selama ini berhubungan dengan perusahaan kita." Yudha akhirnya menceritakan permasalahan yang sedang dialami oleh PT. Globe Tbk.
"Apakah perusahaan sudah menurunkan Tim investigasi," tanya Dev yang ikut prihatin dengan permasalahan yang menimpa suaminya.
"Sudah, tadi malam kami sedang berdiskusi dan mengundang beberapa orang kepercayaanku dan kakek, untuk kita terjunkan langsung di lapangan." sahut Yudha.
Pasangan suami istri saling memberikan masukan dan saran untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi pasangan masing-masing. Putusan yang mereka ambil untuk tidak menutupi setiap masalah yang dihadapi pasangan, menjadi reinforcement bagi mereka, untuk menghindari kesalah pahaman di masa depan.
"Daddy sayang...., selalu ingat dan bayangkan wajah Mommy, Vian dan Zidan sebelum mengambil keputusan manajerial. Jadikan kami sebagai ritual untuk penyemangat dalam menghadapi hari-hari sayang. Demikian pula, dalam setiap aktivitas Mommy, selalu aku awali dengan senyum Daddy dan si kembar," ucap Dev pada suaminya.
"I will do it baby....., I.m sure." kata Yudha sambil menatap istrinya.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, kembali mereka melakukan ritual pagi dengan berpamitan pada si kembar. Diskusi kecil mereka berdua dilanjutkan di dalam mobil. Rutinitas berangkat kerja bersama, menjadi quality time yang mereka nikmati setiap paginya.
*******************************