Married By Incident

Married By Incident
Cemburu



Setelah menyelesaikan semua urusan di PT. Kalingga, Dev langsung meminta pak Sholeh untuk membawanya pulang. Lama istirahat di rumah, tanpa aktivitas fisik dan usia kehamilan yang mendekati HPL, menjadikannya mudah merasakan kelelahan.


Sesampainya di halaman, Dev melihat mobil suaminya terparkir di garasi. Segera Dev masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke lantai atas untuk menemui suaminya.


"Assalamualaikum sayang..., mommy pulang." sapa Dev langsung menghampiri Yudha yang sedang membaca sesuatu dari laptop yang ada di depannya.


"Wa Alaikum salam," Yudha menjawab salam dari Dev, dan kehangatan mengalir di hatinya saat mendengar Dev memanggilnya dirinya dengan sebutan mommy.


Dia mengangkat laptop dari pangkuannya dan meletakkannya diatas meja kecil samping bed. Kemudian dia berdiri menyambut istrinya.


"Ayo Daddy temani cuci tangan dan kaki dulu, agar debu yang menempel hilang." kata Yudha sambil merangkul bahu Dev dan membawanya ke kamar mandi.


Setelah membersihkan kaki dan tangan, Yudha kembali membawa istrinya dengan hati-hati ke arah bed. Pasangan suami istri itu selalu melakukan hal-hal kecil yang semakin mempererat relationship di antara mereka.


"Sayang, jam segini kok sudah ada di rumah." tanya Dev dengan menggelayut manja di leher Yudha.


"Aduh .., ahhhh...," teriak Dev sambil meringis merasakan tendangan dari dalam perut.


Yudha menyipitkan mata, ikut merasa nyeri di ulu hatinya.


"Aku sengaja pulang siang ini. Aku tahu kamu sering mengalami kejang perut di waktu siang, sehingga menganggu istirahat siangmu." kata Yudha penuh rasa khawatir.


"Duduklah dulu disini, luruskan kaki, aku akan memijit kakimu." Yudha mendudukkan Dev di atas ranjang, kemudian mengangkat kaki dan meluruskannya.


Setelah itu dia mengambil bantal untuk mengganjal punggung istrinya. Semuanya dilakukan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Perlahan rasa pegal di kaki Dev sedikit pudar, kemudian mereka mulai berbincang.


"Dad...., Bi Siti dan tukang kebun pada bergosip tentang kakek. Kata mereka, apa kakek mau menikah lagi ya, karena kakek sepertinya sedang membangun rumah di samping rumah ini." tanya Dev pada suaminya.


"Istriku ikut termakan gosip jugakah," Yudha balik bertanya.


Dev tersenyum menjawab pertanyaan suaminya.


"Oh tentu tidak..., rasionalku akan lebih dulu maju daripada emosional." sahut Dev cepat.


"Kalau kakek menikah lagi, tidak bakalan kan membangun rumah pas di samping rumah ini. Mesti kakek membangunnya jauh dari tempat kita." lanjut Dev lagi.


"Daddy memang tidak salah memilih mommy menjadi pendamping hidup, dan mommy bagi anak-anak kita nanti."


"Rumah sebelah itu dibangun untuk pelebaran rumah ini. Kata relasi-relasi, saat istrinya melahirkan anak, dia akan lebih mengutamakan bayinya dan menelantarkan suaminya. Aku tidak mau, kehadiran bayi kita akan mengurangi porsi perhatianmu padaku." kata Yudha pelan, dan terlihat sekilas rasa cemburu di matanya.


"Ha...ha...ha..ha...," spontan Dev tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata.


"Hai..., kenapa malah mentertawaiku." protes Devan kemudian menutup bibir Dev dengan bibirnya, mengeksplorasi bagian dalam sampai Dev gelagapan. Melihat Dev hampir kehabisan nafas, barulah dia melepaskan lumatannya.


Setelah bisa menguasai nafasnya, Dev berbicara dengan masih tidak bisa menahan tawa.


"Jangan bilang suamiku cemburu dengan si kecil yang ada di dalam perut." kata Dev.


Dev memberikan ciuman dalam di dahi suaminya.


"Mommy janji akan berlaku adil sayang." katanya dengan tatapan lembut.


"Meskipun begitu, setiap malam kamu adalah milikku. Anak itu akan diurus oleh pengasuh, dan tinggal di rumah sebelah. Aku akan memberi connecting door untuk akses ke kamar kita" kata Yudha tegas.


"Terserah Daddy..., yang penting suamiku merasakan kedamaian." kata Dev akhirnya, karena malas berdebat dengan orang yang berpendirian keras.


"Aaaahhh." tiba-tiba Dev berteriak lagi, karena merasakan gerakan keras dari dalam perut.


Dengan cepat Yudha mengambil aromatherapy dan menuangkan di tangannya. Aroma lembut aromatherapy menyeruak di hidung Dev. Perlahan Yudha mengusap perut Dev, sebentar berhenti untuk merasakan denyut dan gerakan dari dalam sana. Senyum bahagia yang terlukis dari wajahnya tampak dengan jelas.


"Nyaman mom...," tanya Yudha dengan tatapan makna dalam yang terpancar dari matanya.


"Panggilanmu meluruhkan kekuatanku sayang..," bisik Dev malu-malu.


Meskipun sudah sekian lama mereka menikah, tapi Dev masih sering merasa malu mengungkapkan perasaannya. Melihat istrinya dengan pipi merah malu-malu, terdapat desakan hebat dan sesak dari bagian bawah Yudha. Tapi sekuat mungkin Yudha bertahan untuk mengendalikannya.


Yudha menjentik hidung istrinya, kemudian ikut menaikkan tubuhnya ke atas ranjang. Perlahan dia mulai membaringkan badannya di samping Dev. Seperti biasanya, dia mengangkat kepala Dev dan meletakkan diatas dadanya. Dengan elusan dan usapan lembut, tidak menunggu lama akhirnya Dev tertidur. Melihat istrinya tertidur begitu pulas, Yudha tersenyum kecut dan menahan desakan rasa sakit dari bawah perutnya.


*********


Keesokan paginya, Dev berniat untuk mengurus beberapa administrasi di PT. Diamond dengan ditemani pak Sholeh. Bianca meminta beberapa persyaratan, untuk pendaftaran balik nama kepemilikan saham, atas nama Baskara menjadi atas nama Devina Renata.


Tapi baru memasuki Jalan Kaliurang, Dev merasakan ketidak nyamanan di perutnya. Dev merasakan tiba-tiba perutnya mendadak kencang dengan nyeri yang timbul hilang.


"Pak Sholeh..., kenapa perutku terasa seperti kejang-kejang ya. Muncul rasa sedikit nyeri, tapi rasanya timbul hilang." kata Dev mengeluhkan keadaannya pada pak Sholeh.


"Waduh, Nyonya Muda tidak bohong kan." tanya pak Sholeh dengan nada khawatir.


"Iya pak Sholeh, masak aku berbohong sakit." seru Dev sewot.


"Sepertinya Itu tanda-tandanya mau melahirkan Nyonya Muda, dulu istri saya juga begitu. Kalau begitu, saya akan langsung bawa Nyonya Muda ke rumah sakit ya.," jawab pak Sholeh gugup.


Tanpa menunggu jawaban iya dari Dev, pak Sholeh berniat langsung membawa Dev ke RSKIA di daerah situ. Sambil mengemudi pak Sholeh menggunakan earphone dan langsung menghubungi Pratama.


"Dimana posisi sekarang pak Sholeh. saya akan langsung menuju lokasi." tanya Pratama cepat.


"Kok Bapak yang akan ke lokasi. apakah tidak lebih tepatnya pak Yudha yang ke lokasi untuk menunggu kelahiran anaknya." kata pak Sholeh mengingatkan.


"Oh iya ya, kenapa saya jadi ikutan panik dan latah. Secepatnya saya akan bawa Boss Yudha ke rumah sakit segera." sahut Pratama kemudian mengalah panggilan telpon secara sepihak.


Setelah memberikan informasi pada Pratama, pak Sholeh merasa sedikit tenang. Kemudian dia melakukan mobilnya dan berhenti di rumah sakit yang berada di depan salah satu kampus negeri di kawasan Utara.


******"