Married By Incident

Married By Incident
Make Over



"Tengok arah jam pukul sembilan, siapa gadis itu."


"Buset..., cantik banget...., undangan dari perusahaan mana itu,"


"Tapi dari matanya, seperti tidak asing aku merasa pernah melihatnya."


"Halah dalam mimpimu broo, lihat baju dan semua yang dia kenakan, takkan cukup gaji kita setahun untuk membelinya."


"Iya, putri Tuan Hendarto saja kalah penampilannya. Padahal ratu malam gala dinner ini artis utamanya adalah ibu Donna."


Karyawan laki-laki PT. Kalingga tidak ada yang mengenali Dev dalam make up dan penampilannya malam ini. Semua bisik-bisik membicarakan di belakangnya. Tapi meski Dev mendengarnya, berhari-hari dia merasa dipergunjingkan di perusahaan menjadikan Dev mati rasa untuk menyapa mereka. Fokus dia adalah mencari rekan-rekan satu timnya.


Di pintu sisi dalam ballroom, Dev tidak sengaja menginjak kaki seseorang.


"Mohon maaf, saya tidak sengaja karena sedang tergesa-gesa. Permisi," Dev mengungkapkan permintaan maaf sambil menangkupkan dua tangan di dada. Tanpa melihat orang yang dia injak kakinya, Dev bergegas mendatangi rekan-rekan satu timnya. Dia tidak memperhatikan bagaimana orang-orang terpukau dan tidak mengenali penampilannya malam ini.


"Aku mengenal suaranya, itu Dev. Tapi penampilannya?" gumam laki-laki yang terinjak kakinya oleh Dev.


Ternyata laki-laki itu adalah Andre. Begitu menyadari bahwa gadis yang baru saja menginjak kakinya adalah Dev, Andre bermaksud mengejar Dev. Tapi Donna sudah terlebih dahulu melambaikan tangannya memanggil Andre untuk duduk di sampingnya. Andre bergegas melangkah menuju meja paling depan yang dikhususkan untuk tamu VIP.


Sedangkan Dev setelah mengetahui posisi duduk rekan-rekan kerjanya, dia langsung bergegas ke arahnya. Tempat duduk di pojok depan sebelah kanan dekat dengan stage naik ke panggung acara.


Icha selaku koordinator sie tamu melihat ada wanita berkelas yang salah tempat menuju ke arahnya, langsung berdiri menyambutnya.


"Selamat malam, anda bisa melihat nomor meja di undangan yang telah kami kirimkan. Semua tamu VIP kita tempatkan di bagian depan, apa perlu saya antar kan." sapa Icha ramah.


"Apa-apaan kamu Cha, ini aku," bisik Dev lirih.


Icha sontak kaget mendengar suara Dev, kemudian memberanikan diri memegang dua sisi pundak Dev.


"Dev..., benarkah ini kamu," katanya tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Dev ...," sontak rekan-rekan satu timnya yang duduk pada satu round table yang sama berseru.


"Hush... keep silent." bisik Dev sambil menaruh satu jari di depan mulutnya. Kemudian dia langsung duduk di kursi yang telah disiapkan rekan-rekan untuknya.


Koko langsung mendekati Dev, dan menarik kursi untuk duduk di sampingnya.


"Somplak kamu Ko, itu tempatku." protes Cory.


"Kita penanggung jawab acara, jangan berisik." ucap Dev.


Kemudian lima orang satu tim di bagian desainer itu berbicara dengan bisik-bisik.


"Dev .., Ayuk ikut pulang denganku, malam ini juga aku akan melamarmu." Koko merayu Dev


"Mimpi loe, bangun." Cory memukul lengan Koko.


"Berth... bisa on time acara malam ini.' tanya Dev.


"Semua tamu sudah pada Dateng, di meja VIP juga sudah terisi. Tinggal dua kursi VIP untuk CEO dari PT. Globe Tbk dan asisten pribadinya yang masih kosong."


"Cha, kamu sudah konfirmasi kehadirannya."


"Sudah, kemaren kita sudah confirm pada sekretaris PY. Globe Tbk. dan mereka sudah konfirmasi kalau akan datang berdua."


"Kalau mereka datang, kita dapat rejeki nomplok malam ini." sahut Cory.


"Rejeki apaan," tanya Koko.


"Tapi mereka berdua terkenal sangat sadis menghabisi psikologi gadis-gadis yang akan mengejarnya. Tidak segan-segan mereka menggertak dan mempermalukan mereka di depan umum."


Dev terdiam tidak menimpali obrolan teman-temannya. Begitu sadis omongan orang tentang suaminya, hanya di depannya Yudha akan menunjukkan sisi kepasrahan dan kelembutan.


"Icha..., Beri kode pada MC, untuk segera membuka acara." perintahnya.


"Aku akan menemui pak Gunawan, sudah bisa belum acara kita mulai."


"Ok," jawab Cory sambil membuat lingkaran dengan mengangkat tangan kanannya sambil menautkan ibu jari dan jari telunjuknya.


Dev segera mendatangi pak Gunawan di meja VIP. Seperti merasakan aura kehadiran Dev, Andre reflek melihat ke meja pak Gunawan. Tapi karena ada Donna di sampingnya, Andre tidak dapat berbuat banyak. Dia hanya bisa memandangi punggung Dev dari belakang. Salah satu alasan dia mendampingi Donna dalam acara ini adalah karena ingin bertemu dengan mantan kekasihnya.


"Selamat malam pak Gunawan, apakah Acara sudah bisa kita mulai," tanya Dev kepada pak Gunawan.


Pak Gunawan terkejut mendengar suara Dev, dan memperhatikan Dev dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tapi untung beliau segera bisa menguasai dirinya dengan segera.


"Wow Dev... penampilan mu excellent, tidak heran kamu bisa menaklukkan CEO PT. Global Tbk." bisik pak Gunawan. Dev hanya tersipu malu.


"Karena tamu sudah pada datang, silakan mulai dulu dari acara pembukaan."


"Siap pak,"


Pak Gunawan tersenyum bahagia melihat kinerja cepat dari Dev beserta timnya. Dev kemudian memberi kode kepada Cory untuk segera mengkondisikan acara.


*****


"Dear invited guests, since the time is already ten minutes past seven, we will start the event soon, we ask all guests to take their seats," MC memberikan pengumuman bahwa acara akan segera dimulai.


Ballroom menjadi hening sejenak, dan semua tamu memperhatikan MC di stage.


"I'm Harry, and I'm Sita as MC tonight, will read the schedule of the program."


"Today's first event is the Opening. Let's start today's program by praying together according to our respective religions and beliefs." jeda sejenak untuk berdoa.


"Enough."


"Now we will continue with the welcoming ceremony by the Chairman of the Board of Directors of PT. Kalingga. To him, Mr. Gunawan, we ask you to come forward to give a welcome,"


Gunawan selaku perwakilan direksi PT. Kalingga segera menuju stage untuk menyampaikan ucapan selamat datang.


Acara demi acara berjalan dengan lancar, tapi dari pintu lobby terdengar suara kegaduhan. Terlihat dua laki-laki tampan memasuki ballroom dibawah tatapan iri dan kekaguman dari para tamu undangan. Kedatangan Pratama dan Yudha tampak menghipnotis para tamu undangan lainnya. Balutan jas warna grey tampak serasi dan match dengan kulit dan badannya yang tegap. Keduanya langsung menduduki kursi VIP di bagian meja paling depan. Setelah duduk, mata kedua tamu VIP itu terlihat mengedarkan pandangannya dan mencari seseorang.


Donna selaku pelaku utama malam ini, segera menghampiri Yudha dan Pratama untuk memberikan ucapan selamat datang. Tapi seperti biasa, Yudha langsung melengos melihat ada wanita yang mendekatinya, dan langsung menyenggol lengan Pratama untuk mengkondisikannya.


"Selamat datang Bapak-bapak, terima kasih atas kedatangannya," sapa Donna ramah.


Tapi Yudha mengabaikannya, akhirnya Pratama yang bertindak.


"Mohon maaf ibu..., bisa tinggalkan kami sendiri."


Donna langsung menunjukkan ekspresi tidak senang, karena ada tamu yang menolak keramahannya. Sedangkan Yudha, tetap tidak bisa fokus karena dari tadi belum menemukan posisi duduk istrinya.


Dev memang sengaja malam ini duduk di pada round table pojok kiri menghadap ke depan sehingga tamu hanya bisa melihat punggungnya, dengan pandangan fokus pada MC yang ada di stage.


*****