
Usia kehamilan Dev sudah jalan di usia 7 bulan, dan untuk kehamilan ini masih sama dengan kehamilannya yang pertama. Dimana Dev dapat melaluinya dengan santai, dan dari hasil USG sudah diperkirakan bahwa bayi yang kandungnya memiliki jenis kelamin perempuan. Yudha sangat memperhatikan sekali kesehatan istrinya, setiap minggu dia akan mendatangkan dokter ke rumah untuk memantau kesehatan istri dan bayi yang dikandungnya.
"Daddy..., lucu sekali adik Zidan, kapan adik keluar dari perut Mommy?" Zidan dan Vian sedang melihat-lihat hasil print out dari USG 3 dimensi kehamilan Mommy nya.
"Dua bulan lagi sayang, ayo ada berapa hari 2 bulan itu?" tanya Dev lembut, sambil mengelus kepala Zidan.
"1 bulan ada 30 hari, jika 2 bulan berarti ada 60 hari Mommy. Ternyata masih lama sekali, Zidan bisa berjumpa dengan adik." dengan ekspresi lucu, Zidan menaruh dua telapak tangannya di bawah dagunya, matanya tidak mau lepas dari foto adiknya yang masih meringkuk di perut Mommy nya.
Vian hanya melihat ke arah adik kembarnya itu sekilas, dan kembali melanjutkan aktivitasnya menyusun lego dengan Daddy nya.
"Sabar sayang.., karena adik butuh stamina kuat agar bisa keluar dari perut Mommy. Makanya Mommy makan terus kan, karena nutrisinya sekalian diambil adik."
Vian manggut-manggut menganggukkan kepala, kemudian menyusul kakaknya Vian bermain lego.
"Kalian main berdua ya, Daddy akan menemani Mommy istirahat dulu. Jangan capai-capai kalian mainnya, jika merasa lelah langsung istirahat." Yudha menasehati kedua putranya.
"Ya Dadd..., nanti setelah tersusun bentengnya, kami langsung istirahat siang."
"Mommy ke kamar dulu sayang, jika ada apa-apa ke kamar Mommy ya." Dev meninggalkan pesan untuk kedua putranya.
Yudha langsung mengambil tangan istrinya, membantu Dev berdiri dan merangkul istrinya menuju kamarnya.
"Mau kemana kalian?" tiba-tiba mereka berpapasan dengan Baskara yang baru saja masuk rumah.
"Mau ke kamar kek, pinggang Dev tiba-tiba terasa pegal. Dari mana kek?"
"Ini tadi diajak Andrew main Golf, terus mampir ke galery kamu di Cangkringan. Anak-anak ada dimana?"
"Itu di kamarnya kek, sedang membuat benteng peperangan katanya dari lego. Dev ke kamar dulu ya kek?"
"Ya, kakek setelah mandi, nanti tak nyusul ke kamar Zidan dan Vian."
Dev dan Yudha melanjutkan menuju kamar, sedangkan Baskara langsung meletakkan peralatan golf nya di gudang.
"Dadd.., Mommy langsung rebahan dulu ya? Pinggangnya tidak tahu kenapa, tiba-tiba rasanya pegal."
"Atau sudah mendekati keluar putriku? Atau aku antarkan sekarang juga ke dokter, siapa tahu putri kita akan lahir hari ini." mendengar pinggang Dev pegal, pikiran Yudha sudah pada kelahiran bayi yang dikandung istrinya.
"Tadi Daddy tidak mendengar jawaban Zidan, jika kelahiran putri kita masih kurang 60 hari. Masih lama Dadd.., ini mungkin kebanyakan duduk. Sudah Daddy tidaa perlu bingung, Mommy istirahat sebentar saja, pasti nanti segera hilang rasa pegalnya."
"Ya sudah, sekarang Mommy baringan dulu. Posisikan miring, Daddy ambil minyak aroma theraphy saja. Nanti pinggang Mommy, aku balur dengan minyak, biar berkurang rasa pegalnya."
Dev mengikuti pesan dari suaminya, segera dia naik ke ranjang kemudian merebahkan tubuhnya. Yudha mengambil satu buah bantal untuk mengganjal kaki Dev yang ditekuk satu, kemudian memposisikan tubuh Dev miring. Tidak berapa lama, laki-laki itu sudah mengoles dan memijat pinggang istrinya dengan lembut.
"Bagaimana sayang, enak tidak pijitan Daddy?" tanya Yudha, tetapi tidak ada jawaban dari istrinya. Perlahan Yudha menengok ke muka Dev, akhirnya dia tersenyum ternyata istrinya sudah cepat tertidur. Dengan penuh kasih, Yudha mengambil selimut kemudian menyelimuti istrinya, dan menghadiahkan sebuah kecupan di kening Dev.
***************************
Yudha tampak tegang menunggui istrinya berjuang untuk melahirkan bayi dari dalam perutnya. Sudah dari jam 14.00, Dev sudah mengalami kontraksi dan saat dibawa ke rumah sakit sudah terjadi pembukaan 2. Dan malam ini sudah jam 21.00 tetapi bayi yang ditunggu belum mau lahir ke dunia. Bahu dan lengan Yudha sudah penuh tanda merah, karena cubitan dan pegangan keras dari istrinya saat rasa mulas dan kejang menghampiri Dev.
"Bagaimana ini Dokter.., kira-kira jam berapa bayi kami akan segera hadir di dunia ini? Saya tidak tega melihat rasa sakit yang dialami istri saya?" Yudha menanyakan kepastian lahirnya bayi mereka pada Dokter yang juga setia duduk menunggui proses kontraksi pasien istimewa ini.
"Sabar Tuan Yudha, kita tunggu satu jam lagi. Kalau sampai jam 22.00, bayi juga belum mau keluar secara normal, mohon maaf saya harus melakukan tindakan operasi Tuan. Karena tadi kita tanya proses awal nyeri sudah dialami Nona Dev dari siang hari."
Yudha menganggukkan kepala menyetujui rencana yang disampaikan Dokter. Dari awal sebenarnya Yudha menginginkan Dev menjalani operasi caesar untuk melahirkan putrinya, tetapi Dev tetap ngotot minta melahirkan secara normal. Akhirnya dengan sangat keberatan, Yudha mengabulkan keinginan istrinya.
"Dev todak mau operasi.., pokoknya Dev mau melahirkan secara normal. Aaaww..." ucap Dev sambil menahan nyeri dan kembali mencubit bahu Yudha.
"Iya sayang.., makanya segera dilahirkan putra kita. Tidak ada yang akan melakukan operasi padamu."
"Dokter..., kenapa seperti ada yang mau keluar Dok?" tiba-tiba Dev menjerit memanggil Dokter
Dua perawat yang ikut mendampingi Dokter langsung mendekat ke arah Dev.
"Dokter.., sudah terlihat ketubannya Dok? Kita tunggu pecah sendiri atau kita tusuk dan kita tarik keluar?" tanya perawat yang ternyata sudah melihat bulatan ketuban utuh yang akan keluar.
"Tusuk pakai jarum, dan secepatnya tarik keluar." Dokter langsung memberikan instruksi.
Perawat langsung melaksanakan perintah Dokter, dan satu perawat sudha melihat kepala bayi ekluar
"Non Dev... ayo yang kuat mengejannya Ibu. Adik baby sudah kelihatan kepalanya, ayuk ambil nafas panjang dan hembuskan. Ayo Non... , anda pasti bisa."
Yudha mengelap keringat di dahi istrinya, darahnya berdesir saat melihat istrinya berjuang keras untuk mengejan. Tidak lama kemudian, Dokter sudah menarik keluar seorang bayi mungil dengan tali usus yang masih menempel di pusarnya.
"Selamat Non Dev, utuh.. perempuan." Dokter tersenyum.
Tubuh Dev langsung terkulai seperti kehilangan tenaga, kemudian perawat segera memotong tali pusar bayi.
"Langsung adzan atau kita bersihkan dulu Tuan?" tanya perawat dengan hati-hati.
"Langsung saja." Yudha dengan tangan gemetar memegang bayi yang masih banyak darah menempel di tubuhnya. Dengan suara serak dan bergetar, Yudha membacakan adzan dan iqamah di kedua telinga putrinya. Dengan takjub Dev yang masih lemah, meneteskan air mata bahagia. Setelah selesai, Yudha menyerahkan putrinya pada perawat untuk segera dibersihkan.
"Terima kasih sayang, kamu tidak ada hentinya selalu memberi aku kepuasan." tanpa peduli dengan darah yang masih banyak di tubuh Dev, Yudha memeluk erat dan kembali mencium kening istrinya sambil menangis.
******************************