
Pratama dengan kesal menendang kerikil yang ada di depannya. Mood nya tiba-tiba menghilang setelah mendapat panggilan telepon dari beberapa mitra polisi yang bertugas Kepolisian Daerah. Mereka memberikan informasi bahwa Berkas BAP Bukman yang sudah disidangkan, dilakukan peninjauan kembali. Sebelum Pratama dapat mencegahnya, Bukman sudah ditarik dan dipindahkan ke lembaga permasyarakatan di daerah Musi Rawas Sumatera Selatan.
"Permainan siapa lagi ini," Pratama berbicara pada dirinya sendiri.
"Wuih ganteng-ganteng kok bicara sendiri," tiba-tiba terdengar suara perempuan di belakangnya.
Pratama menoleh ke belakang, dan melihat Cinthya si gadis nenek lampir sedang terkekeh sambil menutup mulutnya. Lagi sedang tidak mau berdebat, Pratama membalikkan badan kemudian tanpa melihat depan, kanan, kiri tiba-tiba dia mendengar teriakan kesakitan seorang gadis.
"Auww....," seorang gadis menjerit dan badannya kehilangan keseimbangan, sehingga dia hampir terjatuh ke belakang. Seketika dengan reflek yang bagus, Pratama menangkap tubuh seorang gadis yang baru saja dia tabrak karena keteledorannya.
"Dasar modus...," seru Cinthya tiba-tiba saat melihat tangan Pratama sedang memegangi pinggang seorang gadis di hadapannya.
Mendengar seruan Cinthya, sontak Pratama dan gadis itu menengok secara bersamaan ke arah Cinthya. Untuk beberapa waktu yang lumayan lama, Pratama tidak sadar jika tangannya masih berada di pinggang gadis itu, sehingga jika orang tidak mengetahui awal permulaannya mereka akan mengira bahwa Pratama sedang memeluk seorang gadis di tempat umum. Cinthya semakin geram melihat keeratan dan kedekatan tubuh Pratama dan gadis itu, tapi untungnya gadis itu segera tersadar dengan apa yang terjadi. Tangannya menyentakkan tangan Pratama untuk melepaskan dari pinggangnya.
"Maaf mbak, saya tidak sengaja," dengan sikap ksatria Pratama meminta maaf dengan menangkupkan dua telapak tangannya di depan dada.
"Tidak apa mas, namanya juga ketidak sengajaan. Tapi saya tidak mau, pacar mas menjadi salah paham terhadap saya, Dari tadi tatapan matanya seperti ingin menguliti kulit saya." ucap gadis itu lirih kemudian menundukkan kepala.
"Pacar, pacar yang mana" Pratama menggumam lirih, merasa bingung dengan perkataan gadis itu.
"Itu mbaknya," jawab gadis itu sambil menunjuk ke arah Cinthya.
"Ha..ha...ha...haa," tanpa bisa ditahan, Pratama yang biasanya cool, calm tiba-tiba tertawa keras. Gadis itu memandang keheranan dengan sikap Pratama, sedangkan Cinthya tambah geram karena merasa ditertawakan Pratama.
"Hey...., bujang lapuk kenapa mentertawakan aku. Dan kamu, siapa kamu berani menunjuk-nunjuk ke arahku," teriak Cinthya tersulut emosi melihat Pratama dan gadis itu berbicara sambil bisik-bisik di depannya.
Tidak mau memancing keributan di tempat umum, Pratama memilih untuk mengalah, kemudian tanpa sadar dia menarik gadis itu dan membawanya pergi dari hadapan Cinthya. Cinthya semakin mengomel kemana-mana karena merasa diabaikan oleh Pratama. Setelah lima menit mereka berjalan, gadis itu baru sadar jika tangan Pratama sudah menggandengnya dari tadi.
"Mohon maaf, apakah mas bisa melepaskan tangan saya," tanya gadis itu polos tak berdaya.
Mendengar ucapan gadis itu tanpa daya, sontak Pratama melepaskan tangannya.
"Maaf ya mbak saya terbawa suasana karena gangguan nenek lampir tadi. Dia bukan pacar saya, tetapi berkali-kali kalau ketemu selalu memancing keributan" kata Pratama sambil jarinya menunjuk ke arah mereka bertemu dengan Cinthya.
"Tapi biasanya kalau sering ribut itu akhirnya malah jadian lho mas, bisa-bisa kalian berjodoh," kata gadis itu dengan lugunya.
Pratama tidak menanggapi omongan gadis itu, tetapi malah melihat ke sekelilingnya, dan menemukan outlet donuts dengan kafe kecil di depannya. Pratama kemudian menawari gadis itu untuk istirahat sebentar sekedar untuk minum-minum.
"Mbak sedang terburu-buru tidak. Jika tidak bagaimana kalau kita minum di tempat itu sebentar." tanya Pratama.
"Oh kebetulan sekali mas, tadi tujuan saya ke daerah sini karena mau membeli donut disitu, Adik saya sangat menyukai donut Kal**." kata gadis itu dengan sinar mata bahagia.
Pratama berjalan beriringan dengan gadis itu menuju outlet Kal** Donuts and Coffee.
Mereka memilih tempat duduk di teras sisi utara agar terhindar dari lalu lalang orang yang masuk. Pratama memanggil pelayan outlet dengan lambaian tangannya. Tidak berapa lama seorang pelayan wanita menghampiri mereka sambil membawa menu book.
" Hot Arabica dan satu sandwich," Pratama menyampaikan pesanannya.
"Saya, 1/2 dosin donut premium, lemon tea satu, beef burger satu," sahut gadis itu.
Sambil menunggu, Pratama mengajak berbincang gadis itu. Dia yang biasanya dingin terhadap perempuan, tidak tahu kenapa hari ini dia bisa membuka diri pada perempuan di depannya. Atau mungkin karena kemunculan Cinthya yang telah mengacaukan moodnya. sehingga membuatnya mencari penghibut=ran.
"Oh ya mbak dari tadi kita belum saling mengenalkan diri. Kenalkan saya Pratama, dan sering dipanggil Tama," kata Pratama sambil mengulurkan tangan mengajak jabat tangan gadis di depannya.
"Saya Kinanthi, biasa dipanggil Kinan," gadis yang bernama Kinanthi menerima jabat tangan Pratama.
Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Mari diminum Kinan," dengan sopan Pratama menawari Kinan, kemudian dia memasukkan brown sugar ke dalam cangkir, dan mengaduknya perlahan.
Setelah dirasa sudah agak dingin, Pratama mengangkat cangkir beserta alas, dan mulai menyesap kopinya. Merasa lapar dari pagi belum makan apapun, dia mulai mengambil sandwich dan memakannya sedikit demi sedikit. baru mendapatkan empat gigitan, tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar. Dia meletakkan kembali pisau dan garpu, kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku. Terlihat nama Tuan Boss sedang melakukan panggilan.
"Selamat siang Boss," sapa Pratama.
"Kamu dimana posisi," tanya Yudha to the point.
"Masih di daerah Terban Boss, lagi makan siang. Ada instruksi." Pratama balik bertanya, dan tangan satunya mengambil sandwich dengan garpu sambil memasukkan ke mulutnya.
"Selesaikan dulu makanmu, setelah selesai langsung balik perusahaan," instruksi Yudha tegas.
"Siap Boss," jawab Pratama cepat.
Kinanthi dari tadi mencuri pandang pada Pratama dan memperhatikan dia berinteraksi dengan Yudha. Setelah meletakkan ponsel di meja, Pratama dengan cepat menghabiskan sandwich dan kopinya tanpa mengajak Kinanthi bicara. Dia seperti lupa, bahwa dia yang mengajak Kinanthi untuk duduk dan minum bersama. Tetapi gadis itu sama sekali tidak protes, dan sepertinya dia memaklumi sikap yang dilakukan Pratama.
"Maaf ya Kinan, aku harus kembali ke perusahaan. Terima kasih sudah menemaniku makan siang," tanpa basa basi, Pratama langsung pamit meninggalkan Kinanthi di caffee.
"Ya, pergilah," sahut Kinanthi sambil tersenyum kecut.
Sepeninggalan Pratama, Kinanthi segera menyelesaikan makanannya, kemudian ikut meninggalkan kafe. Dengan menenteng tas plastik berisi donuts untuk oleh-oleh adiknya, Kinanthi menuju Jalan Jendral Sudirman dengan berjalan kaki. Setelah sampai di tujuan awal, dia menyebrangi jalan dan perlahan dia menghilang masuk ke dalam rumah sakit.
***************************