Married By Incident

Married By Incident
Daddy and Mommy



Malam itu ketika semua orang telah tertidur lelap, Dev terbangun sendiri, gerakan bayi di perutnya dari tadi membuatnya sedikit kurang nyaman. Dia mengamati suaminya yang tidur di sampingnya, terlihat kerutan halus yang muncul di bawah kantong matanya.


Perlahan Dev menundukkan wajahnya dan mencium lembut kelopak mata suaminya tang tertutup. Tiba-tiba bulu mata Yudha terlihat bergerak, dan akhirnya membuka. Spontan Dev mengangkat wajahnya kembali, tetapi Yudha bergerak lebih cepat dengan menekan belakang kepala Dev dengan pelan ke wajahnya. Aroma manis saliva keduanya akhirnya bertemu dan saling terjalin untuk waktu yang lama. Setelah merasa Dev hampir kehabisan nafas, Yudha melepaskannya.


"Kenapa, kagum ya sama wajah tampanku," sapa Yudha dengan suara serak menyapa Dev, dan sukses menjadikan pipi Dev merah merona.


"Tidurlah lagi, maaf aku telah mengganggu tidurmu." kata Dev malu.


"Terganggu lagi ya dengan gerakan bayi di perutmu," tanya Yudha.


"Sedikit tidak nyaman, gerakannya sedikit keras," sahut Dev dan berusaha untuk memejamkan matanya lagi.


Yudha memasukkan tangannya ke dalam baju Dev, dan melakukan usapan di perut buncit istrinya. Mendapatkan usapan naik turun di kulitnya, tubuh Dev mendadak tegang dengan nafas memburu naik turun. Dev ingin menolak usapan itu, tapi tubuhnya merespon lain. Merasakan hembusan kasar nafas istrinya, Yudha tersenyum hangat, dia juga merasakan satu bagian tubuhnya mulai meronta-ronta ingin melepaskan diri.


"Yudh..," panggil Dev lembut di telinga suaminya.


"Hmmm...," sahut Yudha menahan dirinya.


"Ayolah," bisik Dev sambil tangannya membimbing tangan Yudha untuk memenuhi keinginannya.


"Jangan merayuku sayang, tidurlah lagi. Masih malam." kata Yudha dengan mata terpejam.


"Kamu tidak mau ya menyenangkan orang lagi ngidam," Dev menatap Yudha dengan tatapan memohon.


"Tidak boleh," Yudha berusaha menguatkan dirinya.


"Kenapa," tanya Dev dengan pandangan kecewa.


"Kata Dokter. tidak boleh.ayo tidur lagi." kata Yudha sambil memeluk erat tubuh istrinya. Perut besar agak mengganggunya untuk menekan lebih erat ke tubuh Dev. Merasa kecewa, kemudian Dev menggeser badannya dan tidur menyamping membelakangi Yudha di belakangnya.


Yudha merapatkan tubuhnya dan memeluk Dev dari belakang.


"Sayang, kamu yakin," tanya Yudha dengan suara serak. Dia juga sudah tidak dapat menguasai akal sehatnya, matanya mulai berkabut, dan telinga seperti berdengung.


Dev tidak menjawab, tapi meraih tangan Yudha yang ada di perutnya untuk menelusuri bagian tubuh yang lain. Tidak tahu siapa yang memulai, setelah sekian lama berpuasa, akhirnya malam ini mereka berdua melepaskan rasa dahaganya.


Setelah beberapa saat, dengan penuh kelembutan Yudha menyeka keringat yang ada di wajah Dev dengan mengganti tissue.


"Gimana, apakah aku menyakitimu," tanya Yudha dengan sedikit kekhawatiran.


Dev menggelengkan kepalanya dengan muka memerah. Ternyata keinginan untuk dipuaskan mengalahkan pikiran waras dan akal sehatnya.


"Kita mandi dulu, aku akan membantumu." ucap Yudha kemudian bangkit dari tempat tidur dan segera ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


Setelah bathtub terisi air, dan sudah dirasakan suhunya dengan telunjuk jari, Yudha kembali ke tempat tidur. Dev segera beranjak dari tempat tidur dengan dipegangi oleh Yudha.


"Ayo aku pegangi, hati-hati agak licin." kata Yudha sambil memegang lengan dan pundak istrinya.


Yudha membimbing pelan-pelan istrinya ke kamar mandi. Seperti biasanya, pasangan yang ditemukan oleh takdir tanpa pengenalan terlebih dulu itu saling membantu membersihkan diri. Ikatan dan simpul pernikahan mereka semakin terjalin erat dengan sentuhan-sentuhan sederhana di keseharian mereka. Quality time untuk mereka berdua, dapat mereka ciptakan tanpa meluangkan waktu khusus yang mengganggu kesibukan mereka.


******


Di meja makan pagi harinya, Dev sedang sarapan pagi sandwich tuna dan teh Nasgithel dengan ditemani Yudha. Sedangkan Yudha sarapan dengan seporsi nasi goreng ala kampung dengan irisan telur dadar di atasnya.


"Aku bingung sayang, aku belum siap gagal dan mempertanggung jawabkan. Kalau di PT. Kalingga, aku masih ada atasan yang akan mengambil alih kegagalanku. Aku hanya ingin bekerja bukan untuk yang lain." kata Dev yang belum bisa menetapkan keputusan.


"Aku tidak akan memaksa, terserah putusan apa yang akan kamu ambil. Tapi, dari penilaianku, kamu jauh lebih mampu untuk mengelola sebuah perusahaan." kata Yudha sambil memberikan suapan nasi goreng ke mulut istrinya. Tanpa sadar, Dev membuka mulut dan mengunyahnya.


"Kamu juga bisa membawa teman kerjamu yang dulu kita bantu untuk menikah. Katanya dia akan terkena aturan kepegawaian, yang tidak membolehkan dalam satu perusahaan terdapat hubungan pernikahan antar pegawai." lanjut Yudha lagi.


Tiba-tiba mata Dev berbinar. Kalimat suaminya barusan memberikan pencerahan padanya.


"Iya ya...kenapa aku tidak ingat ya. Lagian Icha akan butuh tambahan pendapatan, karena tambah kebutuhan tapi sumber keuangan mereka akan berkurang kalau dia diberhentikan." Dev tampak berpikir.


"Ajak dia bergabung, kamu akan memiliki teman diskusi dari tim lamamu, di sisi lain kamu juga bisa membantu keuangan keluarga mereka." Yudha memberikan ide.


"Terima kasih sayang, atas pencerahannya. Suamiku memang problem solver bagi masalah-masalahku." kata Dev bahagia mendapatkan partner yang selalu melengkapi kekurangannya.


"Iya , ucapan terima kasihnya dibayarkan nanti setelah kamu melahirkan saja." sahut Yudha dengan senyuman licik.


"Maksudmu," tanya Dev yang tidak dapat menangani maksud suaminya. Sedangkan yang ditanya hanya senyum-senyum sendiri.


"Apa sih maksudnya." kata Dev mengulang pertanyaan yang sama.


"Yah, nanti kalau si bayi sudah lahir. Kamu berhutang banyak atas kesepian yang aku derita sepanjang malam." jawab Yudha.


"Halah dasar mesum.... piktor... pikiran kotor." seru Dev sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.


"Ha...ha..ha..., tapi kamu juga suka kan. Melakukan Ibadah yang paling tidak memberatkan, buktinya tadi malam siapa yang minta duluan," kata Yudha menggoda Dev sambil tertawa lepas.


"Ah.. sudah, sudah, jangan diulang lagi. Kan yang mau bayi di perutku, bukan aku." Dev membela diri dengan muka merah.


"Iya..iya.. believe... Anakku tadi malam yang pingin berjumpa dengan Daddy nya." kata Yudha mengalah.


"He .he..he.. Daddy ya..., bagus panggilannya. aku suka sayang. Kalau Daddy berarti anak kita nanti memanggilku mommy... So sweet banget..," Dev membayangkan anaknya yang mungil memanggilnya dengan sebutan mommy dan menyebut Yudha dengan panggilan Daddy.


"Yap, berarti kita harus biasakan dari sekarang donk." kata Yudha punya usul.


"Biasakan apanya sayang," tanya Dev.


"Kenapa istriku hari ini sedikit Lola sih kalau diajak bicara." goda Yudha.


" Ya ini bisa jadi efek dikurung di rumah tidak diijinkan kemana-mana." jawab Dev sambil memanyunkan bibirnya.


"Ha..ha..ha.. mommy bisa saja. Kan Daddy jadi tidak enak hati." kata Yudha tiba-tiba.


"What??? Daddy..Mommy..." Kata Dev sambil menunjuk dirinya sendiri dan suaminya.


Perlahan Yudha mengangguk dan tersenyum.


"Oke sayang, mulai hari ini Call me Daddy ok. and I'll call you mommy." kata Yudha.


"Ok Daddy. Deal." seru Dev, yang kemudian diakhiri dengan tertawa bersama. Nota kesepahaman tentang panggilan mereka disahkan mulai pagi ini.


********