
Bianca dan Dev ditemani pak Sholeh jam 10 pagi menuju ke rumah sakit bersalin, untuk memenuhi panggilan dokter kandungan. Bianca agak tertekan saat dengan lembut tangannya digandeng oleh Dev.
"Bia.., tenanglah. Nanti kita dengarkan dulu ya, apa yang tidak boleh dan apa yang harus dilakukan."
"Aku takut Dev, bingung."
"Makanya untuk menghilangkan ketakutanmu kita datang kesini. Teknologi sekarang sudah demikian majunya, bahkan bisa program bayi tabung, atau dengan cara inseminasi buatan. Bahkan aku baca artikel, di luar negeri seorang wanita membeli ****** secara online, kemudian dia masukkan ke rahimnya. Dia bisa melahirkan seorang bayi."
"Peluk aku Dev."
Dev memeluk Bianca sebentar, kemudian melepaskannya. Dengan senyum manisnya, dia menggandeng Bianca untuk menemui dokter. Setelah mereka duduk sebentar, seorang perawat keluar dan memanggil nomor antrian Bianca.
"Masuk sendiri, atau aku temani Bia?"
"Temani aku ya, biar kalau terjadi sesuatu padaku, kamu juga bisa ikut menjelaskan pada Reno nantinya."
Dev menganggukkan kepala, kemudian dia berdiri menemani Bianca melakukan pemeriksaan pada dokter.
"Silakan duduk mama-mama cantik." seorang dokter laki-laki Dr. Irvan tersenyum menyapa mereka.
"Terima kasih Dokter. Maaf ya, kami datang berdua. Nomor antrian saya setelah Bianca." kata Dev yang kemudian duduk di depan dokter tersebut.
"Tidak masalah. Sekalian bisa saling support nantinya. Untuk Bu Bia.., kira-kira apa yang mau dikonsultasikan?"
Bianca tertunduk malu tidak mampu keluar kata-kata dari mulutnya, kemudian Dev menggenggam tangan Bianca.
"Begini Dokter, ijin saya mewakili sahabat saya boleh?" ucap Dev.
Dokter menganggukkan kepala dengan ramah.
"Begini Dokter, sahabat saya sudah menikah lebih dari satu tahun. Tetapi sampai saat ini, dia belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan. Makanya saya membawanya kesini. untuk dilakukan pengecekan."
"Bu Bianca.., sebenarnya masalah kehamilan itu bukan hanya tanggungjawab dan peran dari seorang wanita atau istri. Seorang laki-laki atau suami juga memiliki peran yang penting untuk adanya janin dalam perut seorang istri. Mungkin hari ini, kita akan memulainya dengan melakukan pengecekan dan pemeriksaan terhadap itu. Tetapi saya juga ingin mengetahui bagaimana kondisi suami Ibu." panjang lebar DR, Irvan berbicara pada Bianca.
"Iya Dok, nanti kalau suami saya pas kebetulan ada di kota ini." akhirnya Bianca berbicar.
"Oh, ternyata Ibu tidak tinggal satu lokasi dengan suami? Itu juga bisa menjadi salah satu penyebabnya Ibu, ayo coba berbaring dulu di ranjang itu. Kita periksa dulu saluran tuba falopinya."
Bianca melihat ke arah Dev, dan sahabatnya itu menganggukkan kepalanya. Kemudian Bianca mengikuti perintah dokter, dan perawat kemudian melakukan pemeriksaan USG terlebih dahulu. Setelah melakukan pengamatan sebentar..
"Rahim ibu sehat tidak ada masalah. Saluran tuba falopi ibu Juga normal. Silakan kembali duduk dulu di kursi."
Setelah Bianca kembali duduk di kursi.
"Terima kasih Dokter, terus apa yang harus saya lakukan selanjutnya Dokter?"
"Nanti saya periksa suami Ibu dulu ya. Karena sebelum saya melihat apa yang terjadi pada pasangan, saya belum bisa memberikan tanggapan. Untuk saat ini jaga pola makan, hindari kopi, makanan beralkohol, rokok."
"Iya Dok, terima kasih."
"Okay..., saya rasa untuk Bu Bianca cukup dulu sampai disini. Nanti jika ada apa-apa bisa kirim chat via whattsapps. Sekarang untuk Bu Devina, apa yang mau ditanyakan?"
"Terima kasih Dokter. Kalau saya ingin punya anak kedua dokter, anak pertama saya kembar laki-laki semua. Saya ingin memiliki anak perempuan Dok." dengan cepat Dev menyampaikan keinginannya konsultasi disini.
"Anda sudah punya anak? Luar biasa, anda bisa mempertahankan bentuk tubuh seperti belum pernah melahirkan. Sekarang seperti Bu Bianca tadi, silakan rebahan di bed itu." Dokter Irvan malah tidak percaya jika Dev sudah memiliki putra.
Dev melakukan hal yang sama dengan berbaring di ranjang. Perawat seegra melakukan test USG pada perut Dev. Kening Dokter Irvan berkerut, kemudian tersenyum pada Dev.
"Bu Devina, kapan terakhir kali Ibu mendapat menstruasi?"
Dev mencoba mengingat kapan terakhir kali dia mendapatkan menstruasi, dan dia mengingat sebelum melakukan perjalanan ke New Zealand, dia sudah tidak mengalami menstruasi.
"Dokter, sekitar dua bulan Dok, apa saya saat ini sudah hamil Dokter?" tanya Dev tidak percaya.
"Suster, ambilkan test pack untuk Bu Dev melakukan pengecekan mandiri."
"Iya Dokter."
"Dari hasil USG, saya melihat Ibu saat ini sedang mengalami kehamilan. Tetapi agar ibu merasa mantap, nanti Ibu bisa lakukan sendiri ya agar merasa lebih yakin. Usia kehamilan Bu Dev sekitar 9 minggu, jadi seperti yang tadi saya sampaikan pada Bu Bianca, Ibu juga harus melakukannya."
********************************
Tutik mempersilakan Tommy menunggu di ruang tunggu untuk tamu perusahaan. Dia sudah menyampaikan untuk membuat janji terlebih dahulu jika ingin menemui Dev, tetapi Tommy malah marah-marah padanya. Akhirnya dengan senyum yang dia paksakan meminta Tommy untuk menunggu. Untungnya tidak berapa lama, Tutik melihat Dev dan Bianca bergandengan tangan memasuki lobby. Dia langsung bergegas keluar dari mejanya dan mencegat Dev.
"Selamat siang Bu Dev, Bu Bianca.., ijin menyampaikan pada Ibu Dev. Pak Tommy sudah ada 30 menit menunggu kedatangan Bu Dev."
Bianca tersenyum sambil menutup mulutnya, segera ijin meninggalkan Dev.
"Ya Tut, saya akan langsung temui di ruang tamu saja. Tolong sampaikan bagian pantry ya, saya ingin teh manis panas, antarkan kesana."
"Siap Ibu."
Dev langsung menuju ruang tamu perusahaan, dan melihat Tommy dengan ditemani satu orang tersenyum menyambutnya.
"Maaf sudah lama menunggu ya pak Tommy." sapa Dev ramah sambil mengulurkan tangan mengajak Tommy dan rekannya berjabat tangan.
"Belum lama Bu Dev, baru 30 menit kok. Lagian kita juga yang keliru, mau ketemu tapi tidak membuat janji dulu pada Ibu."
"No problem, terus ada angin apa kira-kira? Jika ada yang bisa saya bantu, saya akan bantu."
"Ini kebetulan pas jam makan siang. Bagaimana kalau kita keluar Bu Dev, yah sekaligus kita makan siang bersama?"
"Mohon maaf pak Tommy dan pak Febri, kebetulan saya habis periksa dari Dokter kandungan, dan baru saja mendapatkan kabar jika saya saat ini sedang hamil 2 bulan. Jadi mohon maaf, saya tidak bisa untuk menemani Bapak-bapak keluar dari perusahaan ini." ucap Dev yang langsung mengejutkan Tommy. Dev memang sengaja untuk menjawab Tommy seperti itu, agar tidak terjadi miss komunikasi di belakang.
"Bu Dev sudah menikah?" tanya Febri.
"Sudah pak Febri, dan kebetulan ini kehamilan saya yang kedua. Anak pertama saya ada dua putra, mereka kembar Bapak."
Tommy dengan cepat bisa menyesuaikan ekspresinya, kemudian tersenyum dan kembali bergabung dalam pembicaraan, dan saat petugas pantry mengantarkan teh manis panas,
"Jono..., siapkan makan siang untuk kami ya, Segera."
"Siap Bu Dev, sudah kita siapkan tinggal mengantarkannya kesini."
**********************************************
BANTU AUTHOR YUKK
Author ikut Misi Kepenulisan
REVENGE: Terlahir Kembali
Tolong dibaca ya, dan tinggalkan Like kalian disana!!!
Terima kasih