
Keesokan harinya Pratama dan Yudha pergi ke kantor PT. Globe, Tbk Cabang Palembang, untuk melakukan pengamatan lebih dekat. Pukul 09.00 mereka mengundang beberapa petinggi di perusahaan tersebut, dan undangan diberikan secara mendadak di pagi hari itu juga. Pukul 08.00 pagi mereka sudah sampai di lobby, dan beberapa orang yang sudah mengenalnya segera membawa mereka ke ruang meeting room.
"Bapak menghendaki minuman apa," tanya Bobby petugas bagian front line.
"Teh manis panas," sahut Pratama.
"Baik, akan segera kami siapkan."
Yudha membuka laptop, kemudian mengkoneksikan dengan LCD Projector di meeting room. Selamat Datang Orang-orang Penting, tertulis di tampilan layar. Pukul 09.00, para petinggi di cabang Palembang mulai memasuki meeting room. Melihat pemimpin pusat sudah hadir di dalam, mereka tidak berani bertanya perihal apapun.
"Selamat pagi semuanya, karena sudah satu jam waktu saya terbuang percuma untuk menanti kedatangan kalian, maka rapat koordinasi pagi ini langsung akan kita mulai. Semua manajer divisi silakan mengumpulkan laporan terakhir bulan ini. Pertama dimulai dari divisi Pemasaran" Yudha langsung memulai rapat.
"Terima kasih untuk kesempatan pertama. Tim Pemasaran sudah meningkatkan market share untuk wilayah Sumatera, beberapa dicapai melalui promosi dari pusat dan beberapa model promosi yang diinisiasi dari daerah. Untuk target pasar pada masa sekarang kita akan masuk ke pulau Natuna, dimana masyarakat disana masih banyak konsumsi produk dari luar negeri. Untuk kejelasan secara kuantitatif, Bapak bisa melihat dari laporan yang sudah disiapkan oleh tim kami secara print out." manajer pemasaran menyampaikan laporan singkat sambil menyerahkan capaian kinerja serara print out pada Pratama.
"Okay, sekarang lanjutkan dari divisi human resource. Setelah selesai ambil alih dari divisi-divisi lainnya." tegas Yudha.
Masing-masing manajer divisi melaporkan capaian kinerja yang sudah mereka raih. Tetapi pada divisi operasional dan logistic, mereka agak kacau dalam menyampaikan laporan mereka. Beberapa pengiriman barang akhir-akhir ini tidak sampai ke tujuan, sehingga banyak complain dari para user.
"Mendengarkan laporan dari kalian semua menandakan bahwa kegiatan operasional perusahaan berjalan secara baik-baik saja. Tetapi dari laporan yang terintegrasi dengan pusat, beberapa bulan terakhir dari cabang ini penjualan mengalami decline, dan bahkan tiga bulan terakhir, tidak ada laporan profit yang masuk. Apakah dengan kejadian sabotase dan penjarahan delivery barang ke tujuan bisa berdampak pada menurunnya profit sampai berbulan-bulan." tanya Yudha sarkasme.
"Bisa jadi Bapak. Karena barang yang kita kirimkan lewat jalur darat terdiri dari lima kontainer, dimana satu kontainer berisi 20 ton. Tetapi perampasan kiriman baru terjadi pada bulan ini, berarti ada sebab lain dengan adanya menurunnya profit perusahaan ini pada bulan-bulan sebelumnya." divisi operasional memberikan tanggapan atas pernyataan Yudha.
"Terkait dengan perampasan barang-barang kita, apakah sebelumnya pernah terjadi. Bagaimana dengan Tim Security?" Pratama mengajukan pertanyaan.
"Terkait perampasan barang baru kali ini kita alami. Kita juga bekerjasama dengan pihak penyedia jasa keamanan pengantaran barang, tetapi semua terjadi di luar batas kewenangan kami untuk masuk kesana." perwakilan divisi operasional menyampaikan pembelaannya.
Diskusi antar peserta rapat koordinasi berlangsung secara ketat dan terus menerus, Tetapi Pratama dan Yudha yang sudah melengkapi kedatangannya dengan data yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Investigasi, beberapa perwakilan dari berbagai divisi tidak banyak berkutik. Akhirnya rapat koordinasi diakhiri sepihak oleh Yudha, dengan adanya pengumuman bahwa dalam waktu cepat akan diadakan pergantian para petinggi baru yang ada di cabang Palembang.
Tim Investigasi melakukan penyelidikan dengan ketat tentang penyebab turunnya penerimaan di cabang Palembang, termasuk terampasnya beberapa kiriman barang ke berbagai kota yang berada di Pulau Sumatera.
Dari penyelidikan dapat disimpulkan bahwa beberapa petinggi tergiur mendapatkan penerimaan lain dari luar organisasinya, tetapi juga masih ada yang tetap bertahan hanya dari dalam perusahaan. Pratama segera menerbitkan SK penggantian para pejabat yang terbukti menduakan perusahaan. Meskipun dengan siapa mereka melakukan kerjasama yang dapat merugikan perusahaan belum dapat ditemukan, tetapi Yudha sudah bertindak tegas dengan memberikan shock theraphy bagi pengkhianat perusahaan.
"Boss, kita menunggu sampai diketemukan dengan siapa mereka bekerja sama atau pulang dulu?" tanya Pratama pada Yudha di sore hari.
"Malam ini aku langsung pulang, kalau kamu masih mau menunggu disini, tunggulah." jawab Yudha cepat dengan mata tetap berfokus pada tumpukan dokumen di depannya.
"Baik, nanti aku siapkan penerbangan. Aku masih akan disini mendampingi Tim Investigasi mencari orang yang bermain di belakang layar." sahut Pratama.
Pukul 21.00 Yudha sudah kembali pulang ke kota tempat anak istrinya. Tanpa memberi tahu Dev akan kepulangannya, Yudha langsung menuju kamar tamu untuk membersihkan dirinya sebelum menemui anak dan istrinya. Setelah bersih, Yudha baru berani memasuki kamar, dan pertama kali dia lihat adalah Dev yang menggendong Zidan yang sedang rewel.
"Kenapa Zidan sayang," tanya Yudha sambil mengambil Zidan dari tangan Dev.
"Biasalah suka begini, apalagi kalau Daddy ga ada." Dev tersenyum bahagia, kemudian segera bergegas untuk meninggalkan Yudha, tapi tangan Yudha yang satunya sudah menahannya.
"Tetaplah disisiku, jangan tinggalkan aku," bisik Yudha pelan sambil memandang istrinya.
Dev tersenyum kemudian duduk di sisi ranjang tempat tidur Zidan dan Vian, menunggu suaminya menenangkan Zidan. Tidak berapa lama, Zidan tertidur kemudian dibaringkan di tempat tidurnya. Setelah mendiamkan sebentar, Zidan tetap pulas tertidur, Yudha membawa Dev menuju kamar mereka.
"Mau minum panas," tanya Dev pelan.
"Tidak perlu, tadi sudah minum dan makan di pesawat," jawab Yudha sambil membaringkan badannya di atas ranjang.
"Temani aku disini saja. Aku lelah," kata Yudha sambil meletakkan kepala Dev di atas dadanya. Dev mengikut apa yang diinginkan suaminya, dia menaruh kepala di atas dadanya.
"Bagaimana keadaan di Palembang," tanya Dev.
"Hari ini Pratama sudah mengganti beberapa petinggi, yang menduakan perusahaan dengan perintah lain dari luar. Saat ini dia masih tinggal disana, untuk menyelidiki siapa pelaku utama yang bergerak di belakang layar. Aku yakin tidak akan butuh waktu lama, masalah di Palembang akan segera terselesaikan." kata Yudha sambil memainkan rambut di kepala istrinya.
"Maafkan aku, aku tidak sempat mengunjungi papa dan memberi tahu beliau jika aku ada disana." lanjutnya lagi.
Dev mengangkat tubuhnya kemudian memberikan ciuman lembut di bibir Yudha. Sebelum Yudha merespon, Dev sudah melepaskan dan menarik bibirnya kembali.
"Aku tahu suamiku tidak ada waktu, bahkan untuk istirahat juga. Nanti kalau anak-anak sudah agak besar, kita berempat kesana." ucap Dev sambil menatap mata suaminya.
"Kita perlu mendekatkan lagi pada mereka, karena sejak kehamilan dan Tiara membuat ulah, aku belum menyapa lagi pada papa. Aku tahu papa serba salah, karena aku dan Tiara sama-sama anak kandung papa." lanjut Dev.
Tanpa kata, Yudha memeluk erat tubuh Dev.
*********************************************