Married By Incident

Married By Incident
Feasibility Study



"Stop, saya turun disini saja pak." Dev meminta pak Sholeh untuk menurunkannya 100 meter jaraknya dari kantor.


"Masih lumayan jauh Nyonya Muda, nanti kalau kecapaian Tuan akan memarahi saya." pak Sholeh keberatan untuk menurunkan Dev di tengah jalan.


"Tuan Yudha tidak akan tahu kalau pak Sholeh sendiri tidak cerita, ada yang mau saya beli di warung itu." Dev menunjuk warung kecil di depannya untuk mencari alasan.


"Saya akan menunggu disini sampai Nyonya Muda selesai berbelanja." pak Sholeh tetap keukeuh untuk mengantarkan Dev sampai ke lobby kantor.


"Kalau pak Sholeh tetap ngeyel, mulai besok pagi saya akan bawa mobil sendiri. Saya akan minta suami saya untuk memecat pak Sholeh." lanjut Dev pura-pura marah.


" Waduh tolong jangan ancam saya. Baik, baik Nyonya Muda, saya akan menurunkan Nyonya Muda disini. Tolong jangan bilang Tuan ya, kalau saya menurunkan Nyonya Muda di tengah jalan."


"Iya pak Sholeh. Boss pak Sholeh saat ini adalah saya bukan Tuan Yudha. Maka bapak harus menurut pada perintah saya. Nanti sore kalau menjemput saya, tunggu disini juga. Saya tidak mau, pak Sholeh mengganggu interaksi saya dengan teman!-teman."


"Baik Nyonya Muda, nanti sore saya akan menunggu disini"


Dev tersenyum penuh kemenangan, hatinya merasa senang dapat menekan pak Sholeh, karena dia masih harus melindungi reputasinya sebagai seorang gadis lajang. Meskipun pada kenyataannya dia sudah memiliki suami.


Karena sudah ada komitmen dengan pak Sholeh terkait antar jemput, Dev tidak jadi mampir ke warung kecil untuk pura-pura mencari sesuatu. Dengan style seperti biasanya Dev memasuki kantor dengan ceria.


******


"Puji syukur atas karunia -Mu ya Allah, di saat kegentingan ini telah Engkau datangkan seorang Devina Renata sebagai Dewi penolongku." tiba-tiba Bertho dan Koko mencegat Dev dengan tatapan berbinar penuh kebahagiaan.


"Kesambet apa kalian berdua, teman baru datang tidak disambut dengan kasih sayang, malah dikasih sambutan Ngomyang gak karuan," sungut Dev tetap maju meninggalkan mereka berdua.


"Dev... tunggu kami to." Memang kamu tidak dihubungi pak Gunawan." tanya Koko.


"Ada urusan apa pak Gunawan dengan aku? Kerjaanku sudah beres kemarin siang, dan sudah kukirim ke email Team Project beserta draft ppt nya."


"Ini gawat Dev..., gawat... Darurat..."


"Halah lebay kalian semua... Ayuk masuk ruangan. Kerja..., kerja... jangan halangi aku." Dev menaruh tasnya di locker, dan mulai menyalakan komputer. Seperti biasa, sambil menunggu komputer selesai booting Dev menata dan memilah hard files diatas meja.


"Baru saja kemarin mejaku bersih, pagi ini sudah mulai penuh lagi dengan disposisi tugas baru." gumam Dev, tapi dengan sabar dia tetap melanjutkan kerjaannya.


Dev memang karyawan yang memiliki dedikasi tinggi, dan kompetensi yang tersertifikasi untuk bidang keahliannya. Perusahaan sangat hati-hati dalam memperlakukan Dev, karena dia merupakan asset yang sangat berharga dalam perusahaan. Dengan salary yang diberikan perusahaan sebagai kompensasi tiap bulannya, Dev tetap memilih bertahan di perusahaan itu.


Padahal dengan kompetensinya, dia bisa mendapatkan salary yang jauh lebih besar di perusahaan lain. Tapi bagi Dev, uang bukan semata-mata tujuannya dalam bekerja. Dukungan rekan kerja, lingkungan, suasana kerja lebih dia utamakan sebagai pertimbangan dalam memantapkan pilihan tempat bekerja.


Koko dan Bertho tetap mengejar Dev di kubiknya. Dengan tatapan memelas, mereka tidak menyerah untuk minta bantuan Dev.


"Kalian itu kenapa, menggangguku dari tadi. Duduk, ceritakan."


Koko dan Bertho mengambil kursi di kubiknya masing-masing kemudian meletakkan di depan meja kerja Dev.


"Kemaren sore ketika kamu sudah pulang, pak Gunawan memanggil aku dan Bertho ke ruangannya. " Koko memaparkan ceritanya.


" Beliau bercerita, kalau perusahaan ini akan mencari investor baru untuk mendapatkan fresh money untuk kepentingan ekspansi. Rencananya perusahaan akan membuka pasar baru di wilayah Indonesia Timur." lanjutnya.


"So... apa urusannya dengan kalian? Kalian akan dipindahkan ke cabang," sergah Dev.


"Bukan itu Dev. Mendadak pak Gunawan meminta aku dan Koko untuk membuat feasibility study, kemudian nanti malam minta untuk dipresentasikan dengan calon investor. Acaranya akan diadakan di ****lake Resort pukul 19.15." gantian Bertho yang menjelaskan.


"Dan masalahnya, kami berdua sampai pagi ini belum berhasil menyusunnya. Pikiran kami mampet."


"Please... bantu kami ya Dev." pinta mereka dengan tampang memelas.


Setelah menghela nafas, dan melihat kedua rekan kerjanya yang berantakan penampilannya, akhirnya Dev memutuskan.


"Baiklah Ayuk ke ruang discuss. Siapkan dulu projector dan laptopnya. Kalo dah siap, panggil aku." perintah Dev.


"Bertho, minta laporan bagian pemasaran dan keuangan tentang posisi keuangan, database pelanggan serta calon pembeli potensial." instruksi Dev selanjutnya.


"Baik, siap Tuan Putri."


Perusahaan ini memang belum mampu mendirikan divisi Research and Development, sehingga jika bertemu dengan calon investor harus menyiapkan materi secara mendadak.


"Keyakinan ku ternyata terbukti, dengan aku menyuruh Koko dan Bertho mengerjakan proposal itu, aku yakin Dev akan turun tangan membantunya. Dev sangat baik dan tidak mungkin akan membiarkan kedua rekan kerja dekatnya menderita." pikir pak Gunawan.


Tepat jam 14.30 akhirnya feasibility study yang mereka susun bertiga siap untuk dipresentasikan. Bertho dan Koko bersujud syukur dan mengucapkan terimakasihnya kepada Dev.


"Dev... dewiku... satu Minggu ini untuk makan siang, aku dan Koko yang akan mentraktirku. Kamu menyelamatkan kami untuk target kerja bulan ini." kata Bertho.


"Terserah kalian, atur aja. Sekarang processor otakku sudah panas. Aku akan memejamkan mata sebentar di kubikku." sahut Dev.


Dev beranjak meninggalkan Koko dan Bertho, sedangkan mereka bergegas menuju ruangan pak Gunawan untuk menyampaikan konsep.


*****


Dev bersyukur tidak ada tambahan pekerjaan urgent hari ini. Dia merasa sangat lelah setelah dari pagi menyusun feasibility study secara maraton. Dia berencana akan mendahului pulang sebelum jam kerja reguler selesai, karena hari ini dia akan melakukan orientasi pada rumah dan lingkungan sekitarnya. Tiba-tiba, Intercom berbunyi, dengan segera Dev mengangkatnya.


"Selamat siang, dengan Dev ICT Designer. Mungkin ada yang bisa saya bantu."


"Dev, ke ruanganku sekarang juga." pak Gunawan meminta Dev untuk datang ke ruangannya.


"Siap pak, sekalian saya hari ini ijin pulang lebih awal ya."


"Ke ruanganku dulu."


Dengan rasa malas Dev ke ruangan pak Gunawan. Dia mengetuk pintu sebelom masuk ke ruangannya.


"Masuklah."


Dev mendorong pintu ruangan Direksi, dan melihat dua rekan kerjanya duduk di depan meja pak Gunawan.


"Duduk Dev, ada yang mau Bapak sampaikan."


Dev duduk di kursi dan menggunakan isyarat mata dia bertanya pada Bertho. Bertho hanya mengangkat kedua bahunya.


Pak Gunawan beranjak dari kursinya, kemudian pindah ke sofa di depan Dev.


"Begini Dev, Bapak memanggil kamu karena bapak mau minta tolong."


"Bertho dan Koko dari kemaren sore sudah saya beri tugas untuk menyusun feasibility study secara mendadak. Dan syukur, baru saja mereka menyerahkan hasilnya dan saya akui analisisnya sangat tajam."


"Tadi mereka saya minta untuk latihan mempresentasikan di depan saya, tapi perform mereka kurang kalau untuk meyakinkan investor agar mau investasi uangnya ke perusahaan kita."


"Jadi nanti malam, Bapak minta kamu yang melakukan presentasi untuk meyakinkan investor ya." kata pak Gunawan yang seakan meluruhkan tulang-tulangnya.


Sontak Dev memelototi Bertho dan Koko. Keduanya hanya nyengir tidak bisa membantu banyak.


"Tapi pak, saya merasa tidak memiliki kemampuan public speaking. Apa tidak lebih baik, Bapak minta bagian Public Relation atau Sekretaris untuk presentasi." ucapnya memberi solusi.


"Bapak percaya sama kamu Dev. Tolong perusahaan ini ya." pinta pak Gunawan penuh harap.


"Baik pak, akan saya coba sesuai kapasitas saya. Semoga hasilnya tidak mengecewakan."


"Acara presentasi di ****lake Resort pukul 19.30. Bapak harap setengah jam sebelumnya kamu sudah siap di lokasi."


"Ya pak, saya usahakan. Sekalian saya ijin pulang untuk persiapan nanti malam ya pak."


"Ya ga pa pa, sekalian kamu bisa pakai fasilitas mobil kantor dan sopir untuk datang ke acara. Untuk pakaian, gunakan pakaian yang sesuai ya. Jangan berpenampilan seperti sekarang, bisa-bisa investornya lari." goda pak Gunawan.


"Permisi pak."


"Bro... soft file kirim email." kata Dev memerintah Bertho dan Koko.


Dev langsung bergegas meninggalkan ruangan Direksi.


*****