
Satu tahun kemudian Zidan dan Vian sudah lancar berjalan. Kemanapun mereka berjalan, pandangan orang-orang akan jatuh padanya.Tetapi orang-orang hanya dapat melihat dan mengagumi mereka, karena begitu mereka mau memegangi nya akan ada orang yang memberhentikannya.
Sesuai janjinya Yudha sudah mengatur perjalanan mereka berempat ke Palembang, untuk mengunjungi kakek Burhanuddin. Kembalinya Bianca ke perusahaan, menjadikan Dev dengan mudah mengatur perjalanannya.
Sore itu Yudha sedang memandikan si kembar untuk bersiap ke bandara.
"Dad..dad...," panggilan pertama dari si twins muncul dan mereka memanggil Daddy-nya.
Dev agak kaget, padahal dia berdiri di belakang Yudha. Tapi bagaimanapun putra dan suaminya adalah orang-orang yang sangat dekat dan sangat dia cintai di dunia ini. Jadi diapun akhirnya ikut tertawa.
"Jangan khawatir Mommy..., nanti mereka juga akan memanggil Mommy-nya." sahut Yudha yang memahami kekagetan Dev.
"Iya....aku paham sayang. Daddy lebih sering bersama mereka daripada Mommy. He...he.., ayo sudah cukup main airnya. Keburu dingin airnya." dengan cepat Dev kembali menyesuaikan keadaan.
Yudha dengan kuat, segera membungkus mereka dengan handuk dan mengangkat kedua nya di masing-masing tangannya. Dev segera mengambil baju ganti untuk mereka berdua. Begitulah suasana mereka berempat dengan privasinya. Mereka berdua yang dengan mudah mempengaruhi orang lain dengan kharismanya, tetapi sesampainya di rumah, keadaan seperti sore ini yang akan banyak mereka tunjukkan.
"Dad..., dad..," kembali si Zidan memanggil Daddy-nya. Sedangkan seperti biasanya, Vian hanya menatap Daddy kemudian melihat ke arah Mommy mereka.
Dengan sigap, Yudha dan Dev memasangkan baju mereka. Setelah selesai, Yudha memanggil baby sitter untuk membawa mereka keluar.
"Ayo satu kali dulu sebelum kita berangkat." bisik Yudha di telinga Dev.
Mulut Dev ingin berbicara tidak, tetapi anggota badannya menjawab hal lain. Dengan cepat dia mengimbangi gerakan badan yang dilakukan suaminya. 30 menit mereka menghabiskan waktu untuk melakukan penyatuan mereka, dan akhirnya mereka segera membersihkan diri.
**************
Di dalam jet pribadi menuju bandara Sultan Mahmud Badaruddin, Dev berusaha menenangkan Zidan yang maunya bergerak terus. Sedangkan Vian dengan tenang duduk di kursinya sendiri, meskipun dalam keadaan terjaga.
"Sudahlah duduk saja. Temani Vian, Daddy yang akan mengawasi Zidan." Yudha mengambil alih pengawasan Zidan.
Akhirnya Dev duduk di samping Vian, dia tersenyum melihat putra yang terlahir pertama diam hanya menatapnya.
"Vian mau minum sayang," tanya Dev lembut.
Vian tidak menjawab, tapi menggelengkan kepala.
Melihat sikapnya, Dev menjadi gemas. Akhirnya Dev mengangkat Vian kemudian mendudukkan di pangkuannya. Vian tampak bahagia duduk dekat Mommy-nya, dan dengan cekatan, Dev memasang sabuk pengaman untuk mereka berdua.
Tidak berapa lama, Zidan karena kecapaian akhirnya diam di pangkuan Yudha.
******************
Hari berikutnya pukul sepuluh pagi, Yudha dan keluarga tanpa menginformasikan terlebih dahulu sudah datang di rumah keluarga Burhanuddin. Memasuki pagar rumah, Dev seperti teringat kembali kenangan saat ibunya Larasati masih ada.
Tapi dengan lembut, sambil menggendong Zidan, Yudha langsung menggunakan tangan kanannya untuk merangkul Dev. Dev merasa tersentak, kemudian sambil menggandeng Vian mereka menuju ke arah pintu masuk.
"Permisi, saudara sedang mencari siapa?" tanya seorang yang datang dari pintu samping. Karena merasa tidak kenal, Dev juga bersikap seperti seorang tamu.
"Mau bertemu dengan Bapak Burhanuddin , apakah bisa membantu kami untuk bertemu dengan beliau." dengan sopan Dev menempatkan dirinya sebagai tamu di rumah ini.
"Atau mungkin mbaknya bisa telpon bapak dulu menginformasikan jika saat ini ada Devina Renata dan keluarga sedang ada di rumah. Tapi kalau tidak bisa, kami bisa kembali ke hotel terlebih dahulu." sahut Dev. tidak mau merepotkan orang tersebut.
Yudha tersenyum melihat sikap Dev, dia hanya mengawal hari ini. Semua putusan diserahkan pada istrinya.
"Baik.., silakan duduk sebentar. Saya akan mencoba menghubungi bapak terlebih dahulu." Orang tersebut kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah lewat 10 menit kemudian, pintu rumah bagian depan dibuka dari dalam.
"Mohon maaf Non Dev, saya tidak tahu kalau Non adalah putri pertama dari Bapak. Ayo pada masuk dulu Non." orang tadi merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, siapa namamu, dan ada hubungan apa dengan keluarga papa." tanya Dev sambil tersenyum.
"Saya ART disini baru 10 bulan Non. Nama saya Darmi. Saya minta ijin ke dapur sebentar ya, mari semuanya masuk dulu." Darmi mempersilakan mereka masuk.
Dev kemudian mengangkat Vian dan membawanya masuk ke dalam rumah. Yudha dan Zidan juga ikut masuk ke dalam rumah. Tidak berapa lama, Darmi kembali membawa minuman untuk mereka.
"Bagaimana kabar papa mbak?" tanya Dev.
"Sehat Non, kalaupun sakit yah, paling hanya karena kecapaian. Tadi Bapak bilang, Non diminta untuk menunggu sebentar. Beliau langsung akan pulang ke rumah." kata Darmi.
"Non mau dimasakkan apa, biar Darmi masakkan."
"Apa saja mbak, kami tidak pilih-pilih makanan."
"Baik Non, saya bersihkan kamar dulu jika Non mau istirahat. Baru saya masakkan. Saya tinggal dulu ya Non,"
Vian dan Zidan bermain berdua di lantai, Yudha tersenyum dan duduk di samping Dev.
"Bagaimana perasaanmu, ambil nafas panjang kemudian keluarkan. Hari ini semua aku serahkan padamu. Asalkan istri dan anakku aman, aku tidak akan bersikap." dengan lirih Yudha berbicara pada Dev.
"Jujur aku khawatir sayang." ucap Dev sambil menyandarkan kepalanya di atas bahu Yudha.
"Tidak akan terjadi apa-apa, papa sangat merindukan putri pertamanya. Hari ini bersikaplah sebagai seorang putri yang sudah lama tidak bertemu papanya. Tidak usah mengungkit semua yang pernah terjadi di antara kita." Yudha memberikan saran.
Satu jam kemudian, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah Burhanuddin. Tidak lama kemudian, Burhanuddin dan Sonya sudah memasuki rumah.
Melihat kedatangan kedua orangtuanya, Dev langsung menghampiri Burhanuddin dan akan bersimpuh di kakinya. Tapi Burhanuddin dengan cepat menahan tubuh Dev, kemudian mendirikan dan memberinya pelukan erat.
"Dev.., putri papa." ucap lirih Burhanuddin.
"Papa.., maafkan Dev pa." sahut Dev sambil mengalirkan air matanya.
Yudha dan kedua putranya menyusul dan berdiri di belakang Dev. Tidak berapa lama, Burhanuddin menghapus air mata di pipi dan mata putrinya. Burhanuddin melepaskan Dev, kemudian memeluk Yudha dan kedua cucunya.Dev kemudian memeluk Sonya, dan sepertinya Sonya sudah melupakan kejadian yang terjadi 1,5 tahun yang lalu.
"Ayo kita duduk dulu. Ini cucu-cucu nenek. Namanya siapa?" tanya Sonya sambil memeluk Vian dan Zidan. Tapi keduanya hanya mau bersalaman, dan giliran mau dipeluk langsung berlari memeluk kaki Yudha.
Yudha langsung mengangkat keduanya, kemudian membawanya duduk di kursi. Akhirnya semua duduk di kursi ruang tamu.
****************