
Setelah lima hari di Sydney, akhirnya mereka kembali ke Indonesia. Dev sangat menikmati perjalanan berempat dengan keluarga kecilnya, tampak kebahagiaan tercetak pada wajahnya.
"Daddy...., tunggu Vian dan Zidan bisa berjalan ya. Mommy ingin mengajak mereka ke tempat kakek di New Zealand." kata Dev pada Yudha. Hari ini mereka sedang dalam perjalanan dari bandara YIA menuju ke rumah.
"Iya, nanti kita siapkan semua. Ingat juga untuk mengajak anak-anak berkunjung ke tempat kakek Burhanuddin di Palembang. Mommy belum lupa kan akan janji itu." Yudha mengingatkan kembali janji mereka.
"Terima kasih sayang." Dev memberikan ciuman di pipi suaminya.
"Ini baru permulaan kan ucapan terima kasihnya. Ucapan terima kasih yang utama masih Daddy tunggu nanti setelah kita sampai di rumah." bisik Yudha di telinga Dev.
Seperti biasanya muka Dev langsung memerah. Akhirnya untuk mengendalikan debaran di jantungnya Dev pura-pura memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil.
Melihat sikap malu-malu istrinya Yudha meraih kepala Dev, dan menyandarkan di pundaknya. Untungnya si kembar tetap diam dalam pelukan mereka masing-masing.
"Tidak perlu malu, melihat muka Mommy merah, Daddy pingin segera sampai di kamar." Yudha semakin menggoda Dev.
"Ayolah, bicara yang lainnya lagi dong." Dev mengajak suaminya untuk mengalihkan pembicaraan ke topik yang lainnya.
"Daddy hari ini kehabisan ide bicarakan hal lain, karena yang duduk di samping itu ini sudah paket komplit. Daddy tidak ingin lainnya, cukup yang ada di sebelah ini saja." jawab Yudha.
"Aw..aw..," tiba-tiba Zidan terbangun dari tidurnya.
"Ih .anak Mommy sudah bangun. Ayo sama Mommy." Dev mengajak tukaran dengan Yudha.
Dengan penuh hati-hati, Dev menukar Vian yang ada di gendongannya dengan Zidan di gendongan Yudha.
"Pak Sholeh, turunkan penyekat." Yudha memerintah pak Sholeh untuk menurunkan penyekat mobil. Setelah penyekat diturunkan, Dev memberi ASI langsung pada Zidan.
"Terima kasih istriku. Sekarang Vian dan Zidan dituntaskan dulu ya, nanti sampai di rumah giliran Daddy." bisik Yudha tanpa mengenal rasa malu di telinga Dev.
"Ini orang dari tadi kesitu terus pikirannya. Ganti topik dong." sahut Dev sambil mendorong kepala Yudha ke samping.
"He ..he..he.., ayo dituntaskan dulu minumnya di Zidan. Daddy ga akan ganggu deh." akhirnya Yudha mengalah.
Sambil tertawa kecil dia agak menggeser duduknya ke samping. Melihat suaminya sudah bergeser, Dev meluruskan badan Zidan dan melanjutkan pemberian ASI nya.
*******************
Setelah beristirahat satu hari di rumah, Yudha dan Dev kembali menjalankan rutinitas kegiatan operasional di Perusahaan. Semua disposisi pekerjaan yang diberikan Dev pada beberapa anak buahnya dapat mereka jalankan dengan sangat baik.
"Terima kasih cindera mata untuk anakku ya Dev. Bagus sekali," Icha mengucapkan terima kasih atas cindera mata yang dibeli Dev untuk keluarganya.
"Sudah cuman barang kecil seperti itu. Bagaimana kabar Bertho, dia masih di posisi yang sama atau sudah naik saat ini." tanya Dev.
"Masih sama Dev. Karena kami gantian menjaga si kecil, terkadang Bertho ijin kalau pengasuh tidak datang, yah ternyata berdampak pada karirnya di perusahaan." ucap Icha sambil tertunduk.
"Pengasuh anakmu orang mana. Jadi kalau sore dia pulang." tanya Dev.
"Iya Dev, alasan utama karena kami masih menyewa tempat yang hanya ada satu kamar. Jadi tidak mungkin ada orang luar yang tinggal bersama kami." sahut Icha.
"Tidak apa-apa Cha, yang penting anak-anak sehat. Salam untuk Bertho ya, sudah lama aku tidak ketemu dengannya. Kamu sendiri naga dengan Bertho, sudah saling bisa menerima kan."
"Yah, kunci dalam mempertahankan hubungan sebenarnya adalah bagaimana kita bisa memaklumi dan menerima kekurangan pasangan kita. Selamat ya Cha, akhirnya kalian berdua bisa saling menerima dan mengisi." Dev ikut merasa senang akan akhir dari kedua sahabatnya.
"Sudahlah, sekarang kamu bisa melanjutkan aktivitasmu kembali. Sekalian kamu keluar, aku minta tolong satu jam lagi panggilkan dari unit sarana prasarana ya." Dev mempersilakan Icha untuk kembali ke unit kerjanya.
"Bye...Dev, sekali lagi makasih ya untuk semuanya. Aku akan panggilkan tim sarana dan prasarana kesini." ucap Icha sambil tersenyum dan meninggalkan ruangan.
Setelah Icha pergi, Dev melakukan panggilan pada Bianca yang masih berada di Australia.
"Hey .., tumben-tumbenan ingat aku disini. Ada apa Dev," kata Bianca dari seberang telepon.
Dev kemudian menceritakan pada Bianca, tentang permasalahan yang bisa dihadapi oleh karyawan perempuan yang sedang memiliki anak kecil. Dev mengusulkan untuk mendirikan Baby Care di lingkungan perusahaan.
"Wuah aku setuju banget Dev. Besok-besok aku mungkin juga bisa memanfaatkannya. Sudah aku ok." sahut Bianca yang sangat setuju dengan usulan yang dibuat oleh Dev.
"Kalau dirimu sudah ok, aku langsung panggil Tim sarpras untuk segera action ya. Jadi dikau pulang dari Aussie, baby care sudah tersedia, para karyawan perempuan juga merasa nyaman tidak terpisah lama dengan putra putri mereka." kata Dev menekankan kembali.
"Sudah langsung realisasikan saja. Aku setuju pokoknya."
"Okay..., terima kasih Bianca. Bahagia selalu ya, jangan lupa segera balik kesini. Bye...," akhirnya Dev berpameran.
"Okay.., bye juga Dev."
Selesai melakukan panggilan telepon, tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar.
"Ya, masuk." sahut Dev cepat.
Tidak menunggu lama, seorang laki-laki dari Tim Sarpras masuk ke ruangan.
"Silakan langsung duduk di sofa ya." Dev mempersilakan duduk, kemudian dia langsung menghampiri dan duduk di depannya.
"Jono..., langsung ke pokok masalah ya." kata Dev
"Iya Bu, siap." jawab Jono.
"Apakah di perusahaan ini, masih ada space kosong untuk disiapkan sebagai baby care " tanya Dev langsung.
"Untuk ukuran berapa dulu Ibu. Kalau tidak luas amat, mungkin bisa dimanfaatkan ruangan depan di samping lobby. Tapi konsekuensinya, setiap tamu diterima di masing-masing ruangan karyawan." jawab Jono.
"Yah, paling tidak ada space untuk mereka bermain. Kemudian space untuk anak-anak tidur, dan mini pantry. Kalau permasalahan tamu yang langsung diterima di ruangan karyawan langsung, nanti bisa kita pikirkan lagi solusinya." Dev memberikan masukan pada Jono.
"Nanti coba kita buatkan lay out 3 dimensi dulu Ibu. Nanti kita haturkan ke Ibu, jika okay, Minggu depan mungkin sudah bisa kita siapkan semua."
"Baik, kerjakan dulu ya. Saya tunggu realisasinya." sahut Dev cepat.
"Baik Bu Dev, saya permisi dulu." Jono langsung berpamitan untuk segera membuat lay out baby care room.
*****************