Married By Incident

Married By Incident
Extra Part 3 Makan Siang



Dev memandang kedua putranya yang sedang berada di kebun belakang rumah dengan opa buyutnya. Sesekali dia tersenyum melihat keakraban mereka. Tiba-tiba ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Dev menoleh dan melihat Yudha tersenyum menggodanya.


"Ayo Momm.., mumpung anak-anak baru sama opanya." bisik Yudha dengan senyum Smirk.


"Ih..., tidak boleh seperti itu. Lihat itu, opa saja sabar dan telaten menemani mereka." Dev menolak dengan halus ajakan suaminya.


"Halah..., itu sudah tugas opanya. Opa kangen sama si kembar Ayo sebentar saja, katanya mau ngajak jalan-jalan juga hari ini." Yudha tetap mengajak istrinya, kemudian dia mendirikan badan Dev dan merangkul untuk membawanya ke dalam.


"Mommy..., Daddy..., come here." Zidan memanggil mommy and Daddy untuk bergabung dengan mereka.


"Ok sayang, wait a minute." seru Dev, tetapi saat akan membalikkan badannya, Yudha sudah terlebih dulu menahannya.


"Sebentar saja, dosa lho menolak suami." bisik Yudha yang sukses membuat mukanya memerah.


"Boys....., Mommy and Daddy are on business for a while. You guys were with great-grandfathers first." Yudha sudah meminta anaknya menunggu mereka dulu.


Baskara yang sudah hafal dengan perilaku cucunya, hanya menggelengkan kepala. Kemudian dia mengalihkan perhatian si kembar.


"Ayo kita kesana, kita lihat tanaman yang lain ya." Baskara mengajak si kembar.


"Okay opa." sahut Zidan yang tampak senang sekali dengan aktivitas barunya. Sedangkan Vian, meskipun tidak bicara, tetapi melihat dari ekspresinya mukanya tampak bahagia.


Dengan penuh kemenangan, Yudha merangkul Dev dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dev akhirnya mengikuti kemauan suaminya. Selama mereka liburan di New Zealand, meskipun Yudha juga tetap koordinasi online terkait pekerjaan dengan Pratama dan beberapa mitra, tapi Dev harus ekstra memberikan pelayanan pribadi.


***************************


Vian membawa beberapa tangkai bunga lopin liar dari kebun. Melihat Mommy dan Daddy sedang melihat televisi di ruang keluarga, dia menghampiri mereka.


"Mommy...., Vian brought flowers for Mommy." dengan langkah mantap Vian menyerahkan bunga pada Dev.


Dengan senyum bahagia, Dev menerima bunga dari Vian. Dia memeluk Vian dan menghadiahkan ciuman di pipinya.


"Sangat cantik Vian, Mommy sangat senang sekali. Thank you."


"Zidan juga punya oleh-oleh untuk Mommy. Zidan membawa buah kiwi untuk Mommy." seru Zidan tidak mau kalah dengan Vian.


Dev segera melepaskan pelukan, dan gantian dia memeluk Zidan.


"Oh..., putra-putra Mommy hari ini sangat menggemaskan. Terima kasih Zidan sayang." Dev juga memberikan ciuman pada Zidan.


"Kok semua membawakan untuk Mommy..., mana nih oleh-oleh buat Daddy." Yudha menggoda si twins yang berlomba membawakan hadiah untuk Mommy nya.


Dia berusaha memeluk Vian, yang hanya menatapnya.


"No Dad," Vian menolak pelukan dari papanya.


"Ayo..., sekarang cuci tangan dan kaki dulu semua. Kita makan siang dulu semua. Lihat nih kakinya kotor." Dev menggandeng si twins menuju kamar mandi untuk membersihkan kaki dan tangan.


Yudha menuju ruang makan, kemudian ke dapur untuk meminta ART menyiapkan makan siang untuk mereka. Setelah membersihkan diri, Dev langsung mengajak putra-putranya ke meja makan.


"Ayo.., semua duduk manis. Mommy akan membantu Marry menyiapkan makanan kita." Dev membantu si twins duduk, kemudian menyiapkan menu membantu ART.


"Opa mau makan nasi, menu Indonesia? Kalau iya, biar Dev siapkan."


"Iya, kakek sudah lama tidak makan menu Indonesia."


********************


Pratama melakukan peninjauan di lapangan terkait proses produksinya. Meskipun tim yang menangani aktivitas tersebut sudah membuat laporan, tetapi seperti biasanya jika ada Yudha di tempat, dia akan melakukan pengecekan secara langsung.


"Wahyu..., bagaimana ketersediaan bahan baku. Tolong semua dicek, sehingga jika ada permintaan dari rekanan, kita akan langsung bisa memenuhinya." Pratama melakukan konfirmasi pada


"Masih cukup untuk kegiatan produksi standar boss, kecuali jika ada tambahan pesanan masuk. Dua hari yang lalu kita juga lakukan penghitungan manual, stock bahan baku kita pastikan masih cukup." Wahyu melaporkan ketersediaan bahan baku.


"Selain bahan baku, pastikan mesin untuk kegiatan produksi juga ter maintain dengan baik."


Setelah berada di pabrik untuk memastikan kegiatan produksi tetap berjalan, Pratama kembali menuju ke mobil. Di dalam mobil, tiba-tiba dia mengingat Kinanthi. Dia tersenyum sendiri sambil mengemudi mobil.


Baru saja tadi malam dia mengantar pulang Kinanthi ke rumahnya, tetapi dia sendiri merasa bingung karena dia sudah merasakan ingin berjumpa lagi dengannya saat ini. Tanpa sadar, Pratama mengarahkan mobilnya ke tempat kerja Kinanthi di daerah Jl. Solo. Kinanthi bekerja sebagai tenaga administrasi di Shopping Arcade yang ada di jalan tersebut.


"Hallo..., sudah makan siang?" Pratama melakukan panggilan pada Kinanthi.


Saat ini dia memarkir mobilnya di depan tempat Kinanthi bekerja.


"Hai ada Tuan Boss Pratama ya. Belom makan siang sih, kerjaanku banyak hari ini. Yah, lumayan untuk diet saja hari ini. Mengurangi makan siang. He..he..." sahut Kinanthi.


"Tapi sekarang sudah masuk waktu makan siang. Ini sudah jam 12.05 menit. Ayo keluar, temani aku makan siang. Aku parkir di depan kantormu."


"Loh..loh.., kok bisa mas Tama sampai kesitu. Bener mas, kerjaan Kinan banyak banget sekarang."


"Jangan khawatir, bossmu sudah aku mintain ijin. Sekarang keluarlah, aku masih menunggu."


"Waduh..., tapi bagaimana ya mas." Kinanthi masih terlihat bingung dengan kondisinya.


"Sudahlah, kalau kamu tidak segera keluar. Aku yang akan menjemputmu ke dalam." Pratama mengancam Kinanthi.


"Jangan mas, ya sudah tunggu sebentar. Mas Tama orangnya suka maksa." gerutu Kinanthi.


Pratama tersenyum mendengar perkataan Kinanthi. Tidak berapa lama, Pratama melihat kedatangan Kinanthi. Dia segera membukakan pintu mobil bagian depan untuk duduk gadis itu. Kinanthi langsung masuk dan duduk di samping Pratama. Perlahan Pratama kemudian menjalankan mobilnya.


"Senyum dong, masak cemberut." goda Pratama.


"Habis sebel sama mas Tama. Kan tadi Kinan sudah bilang kalau baru banyak kerjaan. Malah maksa ngajak makan siang."


"Ha...ha..ha..., terima kasih Kinan. Siang ini kamu memberiku hiburan yang lucu. Sudah, nanti aku bilang sama Bayu, untuk mengurangi kerjaanmu."


"Baru dibilang suka maksa, malah mau bilang sama pak Bayu lagi. Jangan mas, Kinan suka kok bekerja, tidak protes. Apapun akan Kinan kerjakan." Kinanthi mencegah Pratama untuk bicara sama bossnya.


"Sudah, kamu tidak perlu khawatir Kinan. Si Bayu itu dulu teman akrabku waktu SMA, teman bossku juga si Yudha."


"Oh ya, sekarang Kinan mau makan apa." lanjut Pratama.


"Terserah mas Tama saja. Kan tadi Kinan bilang tidak mau makan siang, jadi belum ada ide."


"Kita makan nasi uduk saja ya di depan sana. Sebelah kiri hotel, biar kamu tidak kelamaan keluarnya. Tapi nanti pulang kerja, aku jemput ya."


Kinanthi agak terkejut dengan perkataan Pratama, dia hanya menganggukkan kepala. Perlahan Kinanthi merasakan hatinya berdebar, tetapi dia redakan dengan mengambil nafas panjang. Sesekali sambil mengemudi, Pratama melirik ke arah Kinanthi.


*********************