
Jet pribadi yang membawa Yudha, Pratama dan lima orang tim IT dan Investigasi pilihan dan kepercayaan perusahaan mendarat di Bandara Sultan Mahmud Baddaruddin, tepat pada pukul 16.00. Setelah berhasil keluar dari areal bandara melalui lounge eksekutif, Yudha langsung mengarahkan rombongannya untuk menuju hotel bintang lima. Sesampainya di hotel, beberapa orang kepercayaan Yudha yang melakukan pengawasan di cabang kota ini, segera bergerak cepat, melihat pemimpinnya sudah memasuki drop out penumpang di depan pintu lobby.
Yudha langsung ke kamar untuk menyiapkan hasil analisisnya dalam powerpoint, untuk nanti disampaikan pada rapat terbatas penyelidikan para anggotanya yang sudah melakukan suatu kecurangan. Satu jam dihabiskan Yudha untuk menyusun hasil analisisnya, kemudian dia bergegas untuk membersihkan dirinya.
"Segera kumpulkan nama-nama yang saya tuliskan disini. Pukul 18.30 kalian harus sudah sampai di meeting room bersama orang-orang tersebut." Pratama memberikan instruksi dengan memberikan secarik kertas bertuliskan nama-nama yang diidentifikasi Boss dan Asisten Bossnya.
Mata beberapa orang kepercayaan hampir melotot keluar ketika membaca hasil identifikasi dari Tim Pusat atas kecurigaan dari pihak-pihak yang terlibat dalam praktik kecurangan dan keteledoran, sehingga kasus sabotase, penjarahan dapat menimpa mereka. Seketika badan mereka hampir berkeringat, karena meskipun nama mereka tidak tertulis di atas kertas tersebut, tapi tulisan yang menunjuk 15 nama orang dari cabang disini sangat mengagetkan mereka.
"Rico..., bagaimana boss bisa mendapatkan data orang-orang ini ya. Padahal mereka kan ada di kantor pusat." bisik salah satu orang kepercayaan Yudha dan Pratama yang bernama Wandi.
"Aku juga berpikir pertanyaan yang sama Wan. Ke-15 orang itu persis dari hasil evaluasi selama ini, dimana mereka memiliki gerak gerik mencurigakan. dan setiap ada rapat koordinasi di tingkat cabang, kata cemooh, hujatan, sibuk selalu menjadi senjata ampuh untuk melepaskan diri dari tanggung jawab mereka." sahut Rico,
"Sudah sebelum kedua Boss itu marah, ayok kita sebar untuk membawa ke 15 orang ini pada pukul 18.30." kata Wandi yang segera mengumpulkan kelima orang yang saat ini berada di lobby hotel untuk menyambut kedatangan Boss mereka dari kantor pusat.
Akhirnya dari 15 orang daftar yang dicurigai, dibagi untuk 5 orang dimana masing-masing kelompok akan membawa tiga orang masing-masing. Setelah mendapatkan pembagian tugas, kelima orang itu segera melesat keluar untuk melakukan jemput paksa pada tiga orang yang menjadi tanggung jawabnya.
***********************
Selesai mandi dan makan malam, Yudha dan Pratama sudah standby di meeting room yang mereka adakan di hotel ini juga. Berkali-kali mereka melihat jam yang melingkar ditangannya tatkala sudah sesuai undangan, belum ada satupun yang terkumpul.
"Maaf Boss kami terlambat," kata Rico yang sudah menggiring ada 4 orang di depannya. Di belakang Rico, juga terlihat Wandi juga membawa 3 orang. Satu persatu lima orang kepercayaan Yudha sudah memenuhi tugas mereka dengan menghadirkan target operasi mereka.
"Duduk," teriak Pratama keras untuk memberikan shock theraphy mereka.
Mendengar teriakan keras Pratama, mereka segera duduk di kursi. Ke 15 orang yang terindikasi melakukan penyelewengan dan sabotase di tengah hutan, hanya bisa tertunduk tanpa berani memandang apalagi menyapa Boss mereka dari kantor pusat. Dari awal teman-teman mereka memaksanya kesini, mereka sudah merasakan ketakutan karena mendengar kekejaman Yudha dan Pratama dalam menghukum orang-orang yang bersalah padanya.
"Katakan..., apa yang membuat kalian berani-beraninya membangunkan macan pada kami. Kami terkenal tidak akan memberi ampun pada semua orang yang terbukti berkhianat pada kami. Anda Jual saya akan beli, adalah tagline kami. Mata bayar mata, gigi bayar gigi. Jangan sampai ada yang kalian tutupi dari kami. Kami akan kejar kalian ke ujung dunia sekalipun, jika kalian berbohong dan mengkhianati kami." sahut Pratama masih dengan nada yang tinggi.
"Maafkan kami pak Tama, kami tidak dapat mengerti apa yang dimaksud Bapak." sahut salah satu tersangka yang mencoba memecah fokus penyelidikan.
Sebelum Pratama memberikan jawaban, salah satu orang kepercayaan Yudha memberikan tendangan ke dada pria itu.
"Ach...," teriak tersangka dengan memegangi dadanya.
Teman-teman mereka tidak ada yang berani bergerak untuk menolongnya.
"Ingat jangan coba-coba kalian mengalihkanku, mengelabuiku, bahkan membohongiku. Karena kalian akan hancur di tanganku." masih dengan menggunakan nada ancaman, Pratama terus menekan ke 15 orang tersangka tersebut.
"Atas perintah siapa kalian berani melakukan hal yang merugikan perusahaan." kata Pratama.
Ke 15 orang tersebut menundukkan kepala tidak ada yang berani menjawab pertanyaan dari Pratama. Tapi orang-orang yang dibawa Pratama dengan cepat meminta mereka untuk berbicara.
"Maafkan saya pak, saya betul-betul tidak tahu. Saya hanya diminta oleh pak Jaka untuk memberikan hasil pemetaan tim kami pada beliau." kata Gunawan manajer produksi di cabang Palembang.
"Dimana Jaka?" teriak Yudha yang sudah tidak sabar.
Tidak ada satupun dari 15 orang yang dibawa ke meeting room bicara. Wandi kemudian datang menghampiri Yudha.
"Tidak ada satupun dari mereka yang namanya Jaka boss, dia adalah pemimpin cabang sini." Wandi memberikan informasi.
"Baiklah..., tanyai mereka semua. Aku akan kembali ke kamar, besok pagi aku harapkan semua sudah ada gambarannya." kata Yudha sambil melangkah ke luar dari meeting room untuk kembali ke kamarnya.
Dari meeting room Yudha langsung kembali ke kamarnya, dan melakukan panggilan pada istrinya.
"Assalamu alaikum." sapa Dev pada Yudha.
"Wa alaikum salam, malam ini aku tidak pulang. Saat ini masih ada di hotel, mencari titik awal kejadian." Yudha menjawab salam dari istrinya.
"Iya, yang sabar Dadd. Tidak selalu cara keras akan memberikan hasil yang baik. Ini anak-anak juga tidak ada yang rewel."
"Iya, sudah ya. Daddy akan membuka dan mempelajari softfile dokumen yang tadi dikirimkan oleh orang-orang kakek yang ada disini. Daddy yakin, tidak butuh waktu yang lama untuk mencari tahu permasalahan yang sebenarnya."
"Okay, bye Daddy... ." Dev mulai pamitan pada suaminya.
Setelah melakukan sapaan pada istrinya, Yudha membuka softfile di laptop. Soft file tersebut berisi tentang dokumen invoice barang, delivery dan pembayaran. Dia melakukan pengecekan satu demi satu, yang masih ada permasalahan, dia coretkan pada kertas yang dia pegang. Sampai pukul 12 malam, Yudha masih memelototi soft file tersebut.
Tepat pukul 02 pagi, Yudha baru selesai melakukan pengecekan dokumen-dokumen kemudian mengirimkan kembali soft file ke Pratama. Setelah mencuci muka kemudian dia berangkat ke tempat tidur.
******************************