Married By Incident

Married By Incident
Aileen



Kebahagiaan menyelimuti keluarga Dev dan Yudha, kehadiran baby girl ikut melengkapi kebahagiaan mereka bersama dengan dua putra dari kelahirannya terdahulu. Setelah Dev berada di rumah sakit 3 hari setelah kelahirannya, Yudha mengajaknya segera pulang ke rumah.


"Momm..., aku ingin mengadakan pesta sekaligus acara aqiqah untuk putri kita. Sekalian kita umumkan pada khalayak yang belum tahu tentang keluarga kita. Bagaimana, apakah kamu setuju sayang?" Yudha menyampaikan maksud untuk menyelenggarakan acara aqiqah sekaligus publikasi keluarga mereka.


Memahami bagaimana posisi yang disandang suaminya di depan relasi bisnis, mau tidak mau Dev menyetujui rencana yang dimaksudkan suaminya.


"Momm setuju Dadd, karena yakin jika impact baik buruknya sudah Daddy pikirkan. Kira-kira kapan akan kita selenggarakan, dan jangan lupa nama untuk putri kita."


"Jika tujuh hari dari kelahiran kita adakan, kira-kira stamina Momm sudah pulih belum?" Yudha berjalan menghampiri Dev, dengan lembut memberikan kecupan di kening istrinya.


"Jika hanya duduk, Mommy kuat Dadd. Tapi jika sampai jalan-jalan menyapa tamu undangan, itu belum bisa Mommy lakukan. Kira-kira berapa banyak tamu yang akan kita undang ke rumah?"


"Kalau begitu nanti di minggu kedua saja, Daddy juga belum tega melihat Mommy masih tampak lelah. Nanti hanya relasi terdekat saja yang kita undang, dan sekaligus jangan lupa Opa Burhanudin dan Oma Sonya kita kasih kabar. Jika mereka berdua ada waktu, bisa kita jemput kesini."


"Benar Dadd.., papa dan mama serta adik Mommy kita undang kesini. Terima kasih sayang, atau bisa kita barengkan dengan Direksi dari cabang perusahaan kita yang di Palembang kesininya."


"Sudahlah.., itu biar menjadi pikiran Pratama. Kita tidak perlu menghabiskan energi kita, bagaimana keadaan putri Daddy? Kenapa belum bisa diajak bicara ya?" Yudha berdiri dan melihati box baby, yang di dalamnya ada putri cantiknya yang tidur terlelap.


"Ya belumlah.., baru juga 3 hari. Daddy persis kayak kakak-kakaknya, dari tadi kesini. Selalu saja pertanyaan yang mereka katakan, Mommy kenapa adik belum mau melihat kita? Apa belum tahu ya kita ini kakak-kakaknya? Jadi pingin tepuk jidat sekarang, ternyata like son like Dad. ha..ha..ha.."


Tiba-tiba Yudha memberikan kecupan di kening Dev lagi.


"He.., kok dari tadi ciumi kening Momm sih?" protes Dev sambil menghapus bekas kecupan Yudha di keningnya.


"Daripada ditepuk jidatnya kan mending aku beri ciuman saja. Lagian mau cium yang lain, kira-kira sudah boleh apa, belum kan?" jawab Yudha sambil menaik turunkan alisnya.


"Mesti pikiran Daddi larinya kesitu, PIKTOR... pikiran kotor. Gimana tadi, kan Mommy tanya, nama untuk putri kita sudah disiapkan belum?"


"Aileen Putri Yudha..., Aileen itu memiliki arti cahaya, dimana kehadirannya di dunia ini cahaya itu menjadi penerang kehidupan kita... Mommy setuju tidak?" ucap Yudha sambil tersenyum dan duduk di  samping Dev.


"Berarti Mommy sekarang sudah gelap ya, kalah saing dong sama Aileen?" Dev pura-pura cemberut, dan melihat istrinya memonyongkan bibirnya menjadikan laki-laki itu menjadi gemas.


Yudha dengan cepat menempelkan bibirnya yang kenyal ke bibir istrinya, dan ******* demi ******* terjadi untuk beberapa saat. Dev tersipu malu, saat Yudha melepaskan ciumannya.


"Jangan gerakkan bibirmu sayang, akan membangkitkan duniaku!" dengan suara serak Yudha mengatur nafasnya kembali.


"Makanya ga usah aneh-aneh, masih lama puasanya. Jaga diri, hi..hi..hi..!" Dev menggoda Yudha, dan suaminya hanya cengar-cengir sambil memijat kepalanya.


 


 


******************************


 


"Ma..ma....," Burhanudin memanggil istrinya, karena barusan menerima panggilan telpon dari Pratama. Setelah diperintah Yudha untuk mengatur penjemputan mertuanya, Pratama dengan sigap segera memeprsiapkan semua.


"Ada apa pa? Kenapa teriak-teriak?" dengan membawa nampan berisi cangkir teh dan camilan sore, Sonya berjalan menghampiri suaminya.


"Iyakah.., kapan papa akan mengajak mama untuk menengok cucu ke Yogyakarta pa?" Sonya duduk di depan suaminya.


"Nak Pratama sudah menyiapkan penjemputan kita ma. Besok jam 7 kita berangkat ke airport, beri tahu anak-anak, biar mereka juga ketemu dengan keponakan mereka. Yudha mengirimkan jet pribadi untuk menjemput kita besok pagi."


"Bentar pa.., mama hubungi Tiara dan Rendra dulu. Semoga Tiara tidak ada acara dan mau bersama kita menengok keponakannya."


"Bi..bibi..." Sonya memanggil ART yang sudah dari Dev kecil sudah berada di rumah itu.


"Iya Nyonya..., ada apa?"


"Panggilkan Tiara dan Rendra dari kamarnya ya Bi! Minta mereka sekarang ke ruang sini, ada yang ingin kami sampaikan!"


"Baik Nyonya.." tergopoh-gopoh Bibi ke kamar Rendra dan Tiara yang berada di lantai dua.


Burhanuddin dan Sonya meminum teh dan menikmati camilan, tidak berapa lama Tiara dan Sonya sudah turun yang langsung duduk sambil mencomot pisang goreng.


"Ada apa ma? Kata Bibi kami berdua diminta turun kesini segera?" tanya Tiara.


"Makan dulu dan ditelan, apalagi kamu itu anak perempuan. Bagaimana kalau tersedak?" Burhanuddin menegur Tiara.


"Kakakmu Yudha besok pagi mengirimkan jet pribadi kesini untuk menjemput kita. Kakak Dev kalian sudah melahirkan putrinya, dan akan menyelenggarakan aqiqah dan secara resmi akan mengumumkan ke publik tentang keluarga mereka." lanjut Burhanuddin.


"Benar pa, jet pribadi? Wowww..., akhirnya Rendra besok punya cerita sama teman-teman jika sudah pernah naik jet pribadi."


Sonya tersenyum kemudian menganggukkan kepala.


"Iya Rendr..., makanya papa memberi tahu kalian. Segera packing..., karena besok jam 6 pagi paling lambat, kita sudah harus berangkat dari rumah." sahut Burhanuddin.


'Siap pa.., sekarang juga Rendra packing. Rendra ke kamar dulu ya pa, ma.., mau packing." Rendra langsung berdiri dan langsung pamit kembali ke kamar. Burhanuddin dan Sonya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat putra laki-lakinya semangat.


Sedangkan Tiara hanya terdiam, tidak bicara apa-apa. Melihat putri keduanya, Sonya mendekatinya.


"Kamu kenapa sayang? Apakah kamu tidak bahagia mendengar kakakmu Dev melahirkan lagi?" dengan lembut Sonya bertanya pada putrinya.


Tiara menggelengkan kepala, kemudian melihat ke papa dan mamanya secara bergantian.


"Maafkan Tiara pa.., ma.., sepertinya Tiara tidak bisa ikut ke tempat kak Dev dan Kak Yudha. Bukan karena apa-apa, terlalu banyak kenangan akan sikap buruk Tiara di kota itu. Tiara tidak kuat pa.., ma.." Tiara mulai menangis, dan dengan cepat Sonya memeluk putrinya.


Burhanuddin mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya kembali.


"Sudah Tiara.., hentikan tangismu! Tidak apa-apa jika kamu belum siap ketemu dengan kedua kakakmu lagi, nanti papa akan buat alasan agar bisa diterima oleh mereka. Sekarang istirahatlah.., dan jangan buat ulah selama mama dan papa tidak ada di kota ini."


"Terima kasih pa, nitip salam Tiara untuk kak Dev dan kak Yudha. Tiara juga menyayangi mereka, tapi keadaan hati Tiara yang belum siap pa." Tiara memeluk papanya.


 


**********************************