
Malam itu Yudha pulang agak malam, dan dia lupa memberi tahu Dev kalau akan pulang terlambat. Ada sedikit kekacauan yang harus dia bereskan di kantor, dimana manajer project di cabang PT. Globe, Tbk Samarinda melarikan uang perusahaan. Akibatnya pelaksanaan pekerjaan project menjadi terganggu. Mitra perusahaan mengajukan somasi secara hukum dan menganggap PT. Globe Tbk mengalami wan prestaso.
Sampai di rumah, Yudha menjumpai Dev sedang tertidur di sofa ruang tamu. Hatinya menjadi hangat, dan merasakan keharuan memiliki istri yang setia menantinya pulang. Yudha bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah mandi dan mengganti bajunya, Yudha kembali turun ke bawah untuk memindahkan istrinya.
Kecupan manis dengan penuh kelembutan di kening Dev dihadiahkan Yudha untuk istrinya. Seperti merasakan kehadiran suaminya, Dev tanpa sadar langsung memeluk erat tubuh Yudha.
"Sayang.., kalau kamu peluk begini, bagaimana aku akan memindahkan kamu ke kamar." tanya Yudha lembut kepada Dev.
"Ehm..hmm.," Dev tidak menjawab. Dia malah merapatkan badannya seolah dia tidur di atas ranjang. Akhirnya dengan susah payah, Yudha berhasil mengangkat dan membawanya ke kamar atas.
Perlahan dia membaringkan tubuh Dev dengan penuh kasih sayang, kemudian menyelimutinya. Yudha tidak langsung istirahat, sebaliknya dia masih harus lembur menyelesaikan pekerjaan kantor yang tadi harus dibawa pulang. Dia tidak ingin membuat Dev khawatir, sehingga dia harus merelakan pekerjaan untuk diselesaikan di rumah.
*****
Pukul tiga pagi Dev terbangun kemudian menengok sebelahnya, dan tidak menemukan Yudha di sampingnya.
"Kemana Yudha, apakah sampai jam segini dia belum pulang."
Dev meraba sisi ranjang sebelahnya.
"Dingin, berarti Yudha memang belum tidur." Dev membatin sendiri.
Akhirnya Dev bangun dari ranjang, kemudian berjalan turun ke Lantai satu. Dev melihat lampu di kamar tamu menyala, dan dia segera mengeceknya. Di depan pintu Dev melihat Yudha masih terjaga, dan sedang serius membaca sesuatu dari laptopnya. Perlahan Dev menghampiri dan memeluk suaminya dari belakang.
Yudha menengadahkan mukanya, dan menatap mata istrinya.
"Yudh...ini sudah jam tiga. Kamu belum tidur ya." Dev bertanya dan melihat mata Yudha memerah.
"Iya, masih ada yang harus aku kerjakan. Tidurlah lagi, ini masih jam tiga pagi," kata Yudha.
"Masak aku tidur, sementara suamiku jam segini masih banting tulang mencari nafkah. Ada masalah apa."
"Tidak ada apa-apa sayang, kembalilah istirahat."
"Tidak mungkin kalau tidak ada masalah apa-apa. Ini sudah mau menjelang subuh, tapi sedikitpun kamu belum beristirahat." kata Dev khawatir.
"Percayalah sayang, ini masalah biasa." Yudha tetap menutup rapat masalahnya.
Tiba-tiba tangan Dev dengan cekatan melepas kancing piyama Yudha. Kemudian tangannya dengan jari-jari rampingnya mulai menyusuri roti kotak tubuh suaminya. Bahkan, Bibir Dev ikut berkarya dengan menyusuri punggung suaminya, bergerak dari bawah sampai ke atas.
"Dev .., " suara serak mulai terdengar sexy di telinga Dev. Mata Yudha mulai berkabut dan meredup.
"Aku menginginkanmu malam ini Yudh. Layani aku." bisik Dev merayu suaminya.
Dev seperti tidak mendengar suara berat penuh testoteron dari mulut suaminya. Dia terus bergerilya tanpa jeda menginvasi setiap jengkal tubuh suaminya untuk menantang peperangan. Hembusan nafas kasar, seperti lari terengah-engah tetap tidak dia pedulikan. Sampai akhirnya, tangan Yudha menutup laptop di depannya. Dia mulai rakus menghirup aroma manis dari Dev yang seperti candu baginya. Candu yang ingin dihisapnya lagi, lagi dan lagi.
Dengan lembut Yudha membalikkan badan Dev, kemudian menggendong Dev dan merebahkannya di ranjang kamar tamu. Dev semakin erat memeluk pinggang Yudha dan menempelkan tubuhnya ke tubuh Yudha.
"Kamu berhasil menggodaku sayang, kamu lulus." bisik Yudha mesra di telinga Dev.
"""""""
Pagi hari berikutnya, Yudha dan Dev duduk berhadapan di meja dapur menikmati nasi goreng kampung. Telur ceplok dan kerupuk udang, dengan lalapan irisan timun tampak menemani nasi goreng dan menambah kelezatan masakan Dev. Meskipun sebagai seorang CEO dengan tampilan kemegahan, kesederhanaan dan kepraktisan selalu ditunjukkan pasangan ini tatkala berdua di rumah.
"Sayang, bukannya aku tidak mau berbagi, tentang masalahku. Tapi ini adalah masalah perusahaan. Percayalah aku dan Pratama tidak butuh waktu lama untuk menyelidiki masalah ini."
"Baiklah, tapi Yudh... aku tidak menginginkan waktu suamiku habis tersita untuk masalah itu. Berbagilah bebanmu Yudh, aku istrimu."
Yudha menganggukkan kepala. Tiba-tiba Pratama muncul dari ruang tamu.
"Pagi boss, ijin melapor."
"Tidak bisakah kamu menelpon dulu kalau mencariku di rumah. Kalau aku dan istriku sedang ingin, dan melakukannya di ruang tamu bagaimana." kata Yudha memarahi Pratama.
"Maksud boss, ingin apa." tanya Pratama benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud Yudha.
"Makanya kamu segera menikah, biar kamu tahu apa artinya kata "Ingin". Jangan terus menjadi jomblo." ejek Yudha pada Pratama.
"Yudh...," Dev memanggil Yudha agar berhenti bicara yang tidak-tidak pada Pratama. Mukanya tersipu mendengar Yudha begitu vulgar.
"Tenang sayang, sudah saatnya Pratama mendengar cerita tentang kasih sayang kita, biar dia tidak menjadi bujang lapuk yang sudah bangkotan."
Pratama hanya tersenyum miris melihat bossnya yang garang, tetapi akan berubah menjadi Bucin jik sedang di rumah dengan istrinya.
"Laporkan, apa yang kamu temukan."
"Tapi saya lapar boss, dari semalam belum makan. Sepertinya nasi goreng masakan Nyonya Muda sangat menggiurkan." kata Pratama sambil matanya melirik nasi goreng yang terhidang di atas meja makan.
"Sana beli di warteg."
kata Yudha ketus.
"Duduklah disini dulu Pratama, mengobrolah sambil duduk, temani Yudha. Aku akan menyiapkan sarapan pagi untukmu." kata Dev sambil tersenyum.
"Dev.., duduklah nanti kamu capek. Kalau capek nanti malam kamu tidak kuat untuk melayaniku." kata Yudha yang bermaksud untuk membully Pratama yang masih Jomblo.
Dev tersenyum melihat Yudha yang lama-lama menjadi seperti anak kecil. Dia tetap menyalakan kompor membuat telur ceplok untuk Pratama. Tak perlu menunggu lama, Dev segera menyiapkan sarapan pagi untuk Pratama.
Sepuluh menit waktu mereka habiskan untuk menikmati sarapan bersama.
"Nyonya Muda... masakan Nyonya Muda melebihi taste nasi goreng ***aria." kata Pratama memuji masakan Dev.
"Tidak perlu memuji, aku tahu modusmu untuk datang kesini tiap pagi untuk sarapan kan.' suara Yudha memotong pembicaraan Dev dan Pratama
"Mana berani saya boss." sahut Pratama.
"Sudah lanjutkan ceritamu."
"Prahyudi sudah ditemukan boss. Dia dari kemaren melarikan diri ke pulau Derawan. Tapi orang-orang kita di Samarinda sudah gerak cepat untuk menangkapnya."
"Bagus, ceritakan apa rencana kita selanjutnya."
Pratama menceritakan tentang skenario lanjutan dalam memperlakukan Prahyudi. Dev hanya diam menjadi seorang pendengar yang baik.
""""""*