
Selama empat jam Dev tertidur pulas, Yudha tidak sampai hati membangunkan istrinya. Dengan setia Yudha duduk di sisi ranjang dengan punggung ada di sandaran bed. Tangannya terlihat menggerakkan mouse, sedangkan matanya berada di layar laptop.
Tiba-tiba Dev terbangun dan membuka matanya. Dia melihat suaminya sedang fokus bekerja di sampingnya. Dengan lembut Yudha menatap istrinya kemudian meletakkan laptop di meja yang ada di sebelahnya.
"Kamu dah bangun." tanyanya lembut.
"Aku lapar," ucap Dev spontan.
"Bangunlah dulu, di meja depan sofa sudah tersedia makanan. Mari kita makan dulu, aku sengaja menunggumu bangun agar kita bisa makan bersama," ajak Yudha sambil berdiri untuk menemani Dev makan malam.
Kemudian Dev bangun dan beranjak dari tempat tidur, dan dia tidak menyadari bahwa tidak ada selembar benangpun yang menutupi bagian dari tubuhnya. Selimut itu meluncur indah dari tubuhnya. Mata Yudha tidak berkedip melihat pemandangan indah yang tersaji di depannya, dan mata itu kemudian meredup, dengan nafas yang mulai memburu kembali.
"Dev, apakah kamu sengaja memancingku." ucap Yudha dengan suara serak.
Yudha melangkah mendekat dan menghampiri istrinya dengan mata redup.
Seketika Dev baru tersadar,
"Awww...."Dev berteriak malu sambil meraih selimutnya kembali. Tetapi tangan Yudha lebih cepat untuk membuang selimut ke sisi ranjang.
"Tidak perlu ditutupi. Ijinkan aku menikmati keindahan ini." bisik Yudha sambil meraih Dev di pelukannya.
"Aku jadi lapar kembali. Ayuk temani suamimu makan."
"Baik... mari kita makan dulu," sahut Dev sambil menghentikan tangan Yudha yang sudah tidak dapat dikondisikan.
"Aku ingin memakanmu lagi malam ini sayang." kata-kata Yudha sudah tak terkendali. Bibir Yudha sudah bergerilya kemana-mana.
Mendengar desahan suara Yudha di telinganya, tubuh Dev menjadi lemas dan bergetar. Ribuan tawon seperti berdengung di sekitar telinganya. Akhirnya dia seperti kehilangan kekuatan untuk menolak Yudha, dan hanya pasrah kelelahan di bawah intimidasi Yudha suaminya. Yudha seperti memiliki banyak cara untuk menaklukkan istrinya.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka menyatu dan melepaskan kembali secara bersama-sama. Yudha tersenyum puas dan dengan penuh kasih mencium kening istrinya.
Setelah quickie play berakhir, Yudha mengangkat kembali tubuh Dev yang nampak sangat kelelahan dan membawanya ke kamar mandi.
Selesai memandikan istrinya, Yudha mengambil baju tidur yang dibawakan Pratama, kemudian dengan penuh kasih sayang, memasangkan baju Dev dan kemudian memakai bajunya sendiri.
"Aku tidak kuat lagi Yudh, jangan intimidasi aku lagi." kata Dev cemberut.
"Jangan khawatir, aku akan melayani semua kebutuhan mu malam ini tuan putriku."
Yudha membawa makanan ke sisi ranjang, kemudian perlahan dia menyuapi istrinya. Dev dengan rasa lelah bersandar di atas ranjang.
"Yudh, aku seperti melihat orang lain di dirimu. Kamu terlihat berbeda dengan Yudha yang dengan arogan menawariku untuk menikah." ucap Dev tiba-tiba.
"Bedanya ada dimana sayang? Dimana letak perbedaannya, dapatkah istriku menunjukkan pada suamimu."
"Yudha yang dulu adalah sosok yang arogan, sombong, dan keras hati."
"Tapi Yudha yang saat ini aku kenal sangat bertolak belakang." kata Dev menyampaikan letak perbedaan seorang Yudha.
"Aku akan tetap keras, tetap arogan dan tetap sombong untuk semua orang di luaran sana."
"Tapi di depan istriku, setelah penyatuan kita, aku Yudha yang lemah, yang tidak akan bisa menahan pesona istriku. Apalagi kalau istriku sedang tidak mengenakan baju." bisik Yudha.
"Dasar mesum." kata Dev sambil memukul suaminya. Malam itu menjadi berlalu sangat panjang.
*****
Pagi hari Dev berjalan-jalan sebentar di rooftop sambil menikmati pemandangan kota "J", sedangkan Yudha masih berendam di kamar mandi. Dari rooftop Dev menuju lantai empat untuk menikmati breakfast, kemudian memilih tempat duduk di pojok sembari menunggu suaminya turun.
"Drttt...drttt...," ponsel Dev bergetar, dan dilihatnya di layar "Bertho is calling." Dev menerima panggilan dari teman kerjanya itu.
"Selamat pagi Bertho, ada angin apa pagi-pagi sudah menggetarkan duniaku."
"Sebentar lagi aku akan berangkat ke kantor, tidak sabarkah ingin rumpi denganku." sapa Dev menyambut panggilan Bertho.
"Dev..., aku sudah ada di kantor dari jam tujuh. Aku sengaja datang pagi untuk meminta penjelasanmu."
"Penjelasan tentang apa Berth..., tunggu saja aku datang, jam delapan aku usahakan sudah berada di kantor."
"Sekarang aku baru sarapan pagi, perjalanan ke kantor cukup lima belas menit."
"Kemaren sore hampir satu kantor sedang membicarakan kamu."
"Aku sebenarnya menolak untuk percaya, tapi ada yang mengambil rekaman CCTV. Tadi malam rekaman itu sudah beredar secara berantai di kalangan rekan-rekan kantor."
"Hampir semua menghujatmu Dev, tolong jelaskan padaku."
"Bertho..., aku harus menjelaskan apa kepadamu? Kamu dari tadi bicara minta aku untuk menjelaskan tentang sesuatu."
"Tetapi aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku jelaskan."
"Sudah, nanti saja kita bicarakan di kantor." potong Dev cepat. Kemudian dia menutup panggilan dari Bertho.
"Ada apa sayang, kenapa marah-marah?" tiba-tiba Yudha sudah berdiri di samping Dev sambil membawa pancake dan secangkir kopi.
"Itu rekan kerjaku di kantor barusan nelpon, minta penjelasan dariku. Bilang ada rekaman CCTV segala, memang aku melakukan sesuatu yang ilegal apa?" sahut Dev kesal.
"Sudah tidak perlu dipikirkan. Sekarang sarapan dulu, toh sebentar lagi kamu juga akan sampai di kantor." kata Yudha menenangkan hati istrinya.
"Yudh..., btw...pak Sholeh sudah dihubungi belom."
"Pak Sholeh? Untuk apa mencari pak Sholeh."
"Ya untuk mengantarkan aku kerjalah." sahut Dev.
"Ya Allah istriku, di sebelahmu ada pria yang sangat tampan yang siap membawamu kemanapun. Ternyata aku kalah dengan seorang sopir yang sudah tua." ucap Yudha sambil pura-pura merajuk.
"Lebay...," kata Dev jengkel sambil memukul lengan suaminya.
"Aduh ... sakit. Ampun tuan putri."
Orang-orang di restoran hotel sontak melihat ke arah pasangan itu, kemudian tersenyum seperti ikut merasakan kebahagiaan mereka.
"Ssttt..., udah Yudh malu. Lihat sekitar kita melihat ke arah kita."
Yudha masih tergelak, dan tanpa bisa dicegah tiba-tiba Yudha berdiri, kemudian menarik Dev untuk berdiri bersamanya, dan menghadap ke arah tamu hotel yang sedang menikmati sarapan pagi.
"Permisi selamat pagi semuanya.... Saya mohon maaf kepada semua tamu yang merasa terganggu dengan suara kami berdua. Kami adalah sepasang pengantin baru yang baru memiliki waktu untuk berbulan madu. Kami mohon anda semua memiliki kelonggaran hati untuk memaafkan kami, dan mendoakan agar pernikahan kami bisa langgeng sampai kaki Nini. Terimakasih." ucap Yudha sambil mengangkat kedua tangannya dan menangkupkan sebagai tanda permintaan maaf. Sedangkan muka Dev merah padam menahan malu.
"Plok...plok..plok...." terdengar applaus tepuk tangan dari semua tamu hotel.
"Selamat, selamat atas kebahagiaan kalian." seru salah satu pengunjung.
Dev segera menarik tangan Yudha untuk segera keluar dari restoran. Jika bisa, Dev ingin membenamkan mukanya di kolam renang. Yudha merasa sangat bahagia, meskipun Dev masih melarang untuk mempublikasikan pernikahan mereka, hari ini dia bisa menyampaikan perasaannya kepada orang-orang.
******